
"Om Dzul minta jawabannya nanti saat usia Qeena udah tujuh belas tahun, masih ada waktu dua tahun lagi ... Waktu yang panjang untuk berpikir dan meminta petunjuk Allah kan" jawab Qeena pasrah.
"Kamu tau kan kondisi Rian.. kenapa ga ada kaget, marah, kecewa terhadap permintaan Ayah?" tanya Dafi yang gemes sendiri karena melihat video yang sengaja Pak Dzul rekam agar kedua anaknya tau bagaimana reaksi Qeena.
"Mas Dafi udah diceritain ya sama Om Dzul?" kata Qeena sambil memandang bulan purnama lagi.
"Ya ... Ayah memperlihatkan video kamu ngobrol sama Ayah dan Mas merasa ga adil buat kamu Qeena. Jauh-jauh hari sebelum Ayah ngomong ke kamu, Mas dan Fajar udah berusaha menolak. Kami sangat kecewa kalo sampe dibicarakan terlalu dini sama kamu. Harusnya Ayah ngomong dulu ke Mak Nuha" ungkap Dafi.
"Bisa apa kita jika sudah suratan takdir Mas? Qeena bukan menjual diri dan perasaan ke Om Dzul karena alasan balas budi, tapi penjelasan Om Dzul cukup beralasan. Orang tua pasti ingin anak-anaknya bisa ada yang menjaga kelak jika beliau sudah ga ada. Anak-anak Om Dzul yang lain kan terlahir normal dan bisa mandiri, tapi Mas Rian berbeda, dia istimewa. Kasian kalo liat kondisi Mas Rian sebenarnya. Dia kan juga manusia seperti kita, layak hidup normal dan mendapatkan kebahagiaan" jelas Qeena.
"Tapi Qeena ... kamu korbankan masa depan hanya sekedar buat Rian? Sanggup kamu jalani hidup seperti itu nantinya? Dia ga bisa menjadi suami normal seperti layaknya suami yang lain. Dia dengan segala keistimewaannya malah hanya akan membuat kamu ga bisa terbang tinggi. Katanya mau jadi perawat ... ingin mengubah nasib Emak dan Mbah. Bukan Mas mengecilkan Rian, tapi hidup dengannya, artinya kamu hanya akan hidup dari subsidi Ayah aja" ucap Dafi.
"Mas ... please .. yang mas ajak ngomong sekarang tuh Qeena yang masih berusia belum genap lima belas tahun .. kenapa pembahasannya seserius itu sih. Toh Qeena juga akan membicarakan dulu ke Emak. Semua keputusan akan berpulang ke Emak" kata Qeena.
"Sorry ... Mas hanya..." jawab Dafi ga mampu meneruskan perkataannya.
"Kasian sama Qeena?" tanya Qeena yang mendapat anggukan dari Dafi.
"Pernah dengar kan ungkapan Every new day is another chance to change your life (Setiap hari baru adalah kesempatan buat mengubah hidupmu). The future is always beginning now (Masa depan selalu dimulai dari saat ini)" ucap Dafi. Qeena melihat wajah Dafi yang tampak tulus menasehati dirinya.
HP Dafi berbunyi dari Sania, anak dokter tumbuh kembangnya Rian. Dafi sekalian pamit, ijin buat masuk ke kamarnya buat membersihkan diri. Qeena masih merenung ditempat duduknya sambil masih memandang bulan purnama yang bulat sempurna. Sungguh indah ciptaan Allah, semakin dipandang ... sinarnya makin meneduhkan.
__ADS_1
"Qeena...kami tidur dulu ya" ucap Mba Mini yang udah selesai membongkar bawaan Dafi.
"Hati-hati, jangan bengong malam-malam dipinggir kolam" tambah Mba Tinah.
"Ya Mba..." Jawab Qeena pelan.
Qeena menyenderkan kepalanya dikursi santai.
"Mak ... Qeena kangen sama Emak .. Mak baik-baik aja? Setiap Qeena telepon Emak selalu terdengar bahagia nada bicaranya, Qeena tau Emak menahan kesedihan yang sama. Qeena disini bisa makan enak, tidur nyenyak, sekolah ga ada beban ... tapi apa Emak disana juga merasakan hal yang sama? Berat Mak .. ketika beban masalah datang, bingung mau berbagi air mata sama siapa. Menceritakan ke Emak sama aja membuat Mak sedih ... Mak .. Qeena Rindu setiap hari ... Qeena hanya bisa membalut rasa ini lewat sebuah do'a kecil. Mak ... Qeena janji ... semua dunia harus tahu, kalo Emak ga sia-sia punya Qeena. Tapi sekarang diusia belum matang, seharusnya belum saatnya terjebak diperjodohan seperti ini. Qeena belum dewasa Mak, belum bisa berpikir panjang dan belum kenal dunia. Tapi permintaan Om Dzul sulit buat ditolak. Mas Rian butuh Qeena Mak.. " gumam Qeena dalam hati, tak terasa lelehan air mata sudah membanjiri jilbabnya.
Dari lantai dua, Dafi yang baru selesai mandi melihat Qeena tampak menunduk dan bergetar tubuhnya, salah satu tanda kalo Qeena sedang menangis tapi dicobanya buat menahan agar ga terdengar siapapun.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡🏡
"Qeena ... udah malam .. masuk sana ke kamar, kalo kangen sama Emak .. nanti libur semesteran kamu bisa balik jenguk Emak di Kampung, nanti Mas kasih ongkosnya" kata Dafi dari belakang tubuh Qeena. Secepat kilat Qeena menghapus air matanya pake ujung jilbab dan berjalan menuju kamarnya.
Dafi gantian duduk di bangku, memandang bulan yang tadi dipandangi Qeena yang membuatnya menangis.
Dafi masih berpikir gimana caranya dia harus mengungkap misteri tentang video porno yang ditonton sama Rian serta ketidaksetujuannya dengan rencana Pak Dzul. Belum juga semua terselesaikan, kisahnya dengan Rahma yang lagi banyak kesalahpahaman. Eh sekarang malah muncul Sania, putri dokternya Rian.
__ADS_1
Dafi memang menghadiri perayaan sweet seventeen Sania, kebetulan saat itu dua hari sebelum keberangkatannya menuju ke pulau Sumatera, pertimbangannya karena Dafi ingin menitipkan Rian buat dipantau dan jika ada perkembangan bisa dilaporkan ke Dafi langsung. Tapi rupanya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
Rupanya Sania sudah jatuh cinta pada Dafi jauh sebelum mereka bertemu. Dari foto dan cerita Mamanya, cukup menggambarkan bagaimana sosok Dafi dimata Sania. Secara logika lelaki, siapa yang mampu menolak pesona Sania. Wanita berwajah cantik, badannya tinggi langsing, rambutnya hitam panjang nan berkilau, kulitnya putih bersih (kayanya kalo dia minum minuman berwarna bakalan keliatan tuh saat warna minumannya saat masuk ke tenggorokannya saking putihnya), ditambah dia putri dari seorang dokter dan Bankir yang tersohor di negeri ini. Ga cuma kecantikan wajah, sejak usia lima belas tahun, Sania sudah duduk disebuah Universitas Negeri double degree di Jakarta dan jurusannya kedokteran pula. Karena kecerdasan otaknya, dia ikut kelas akselerasi sehingga tingkat SD sampe SMA hanya ditamatkan selama 8 tahun. Menurut sang Mama, baru Dafi lah yang membuat Sania tertarik dengan pria, selama ini dunianya hanya berkutat di akademis, mengejar sebuah kata ... prestasi.
Sejak kenal secara langsung sama Dafi, hampir tiap hari Sania berbagi cerita sama Dafi melalui pesan di medsos atau chat ke nomer HP.
Selama ini, Dafi mencoba melayani chat Sania karena dia merasa Sania seperti adiknya aja, yang butuh dukungan dan tempat berkeluh kesah. Karena Dafi anak pertama pastinya dia punya sifat mengayomi, inilah yang membuat nyaman Sania ngobrol banyak sama dia. Sania seperti ketemu dengan orang yang tepat, yang mampu mengalihkan dunianya, yang tadinya dia sangat berobsesi dibidang akademis, sekarang menjadi sedikit berubah, orang tuanya senang dengan perubahannya, mereka baru melihat anaknya berwujud manusia seutuhnya, tadinya Sania seperti robot, kaku dan ga ada empatinya terhadap orang lain. Makanya orang tua sangat mendukung hubungannya sama Dafi.
Tapi tadi pagi, saat Dafi lagi di kapal laut buat menyebrang Merak Bakauheni, terjadi keributan besar antara dirinya dan Sania. Tanpa ada persetujuannya, Sania memajang foto Dafi saat menghadiri ulang tahunnya sebulan yang lalu serta men tag medsosnya (ada foto mereka berdua didepan kue ulang tahun, hal ini karena Mamanya Sania yang minta, serta foto saat Dafi makan semeja sama Sania dan orang tuanya). Yang bikin tambah Dafi ngamuk adalah captionnya #my lovely fiance#.
Ramai teman dan saudaranya Dafi yang ikut komen dikolom komentar, bahkan ada yang menghubunginya sedari pagi, ada yang menyampaikan selamat, ada pula yang marah karena ga diundang saat acara pertunangan Dafi dan Sania. Bukan sekedar teman dan saudaranya aja, tapi kecemburuan Rahma yang bikin dia tambah senewen.
Sepanjang perjalanan pulang Dafi udah berusaha menghubungi Rahma buat menjelaskan semua, tapi telepon darinya ga kunjung diangkat. Chat yang dikirimnya pun ga dibaca.
"Begini banget ya kalo berani main cinta. Ga bisa salah sedikit, gw tau ada perasaan Rahma yang harus dijaga, tapi kan waktu diajak ke acara dia menolak ikut. Lagian ya ... itu kan foto biasa aja, ga saling berpelukan bahkan berdirinya ada jarak. Sania juga segala rese pake caption fiance ... sakit mental tuh orang kayanya. Ini nih yang bikin serba salah, baik sama orang malah bikin orang salah sangka. Jangan-jangan gw perhatian sama Qeena, dia juga bakalan salah duga lagi. Hadehhh jangan sampe deh nambah cewe yang bikin kepala pusing. Mending disuruh survei ke daerah terpencil daripada ngadepin cewe" rutuk Dafi sendirian.
HP nya berbunyi, tanda ada chat masuk. Dilihatnya HP keluaran terbaru yang baru dua bulan dibelinya. Ada chat dari Rahma.
# Kita putus #
"Apaan sih ini, makanya kalo ditelpon tuh diangkat" ujar Dafi ngomel sendiri sambil mencoba menelpon Rahma tapi ga kunjung diangkat. Akhirnya Dafi kembali mengirim pesan ke Rahma.
__ADS_1
# Makanya angkat dulu teleponnya, biar Kakak bisa jelasin semua. Udah baca kan semua chat penjelasan yang Kakak kirim? semoga kamu bisa lebih dewasa menyikapi hal ini. Buat apa mengutarakan perasaan Kakak ke kamu kalo Kakak udah bertunangan dengan orang lain. Kakak itu tipe setia ... ga akan bisa mendua. Apalagi kamu adalah cinta pertama, wanita yang mampu menembus dimensi hati Kakak yang rasanya sulit terbuka. Please Rahma .. dengar dulu semuanya# rayu Dafi dalam pesannya.
Semenit .... sepuluh menit ... tiga puluh menit .... Ga kunjung ada balasan pesan dari Rahma. Dafi memutuskan buat istirahat di kamarnya. Mematikan handphonenya karena kesal.