ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 144, Supriyadi


__ADS_3

Sepulang sholat Subuh jadi momen yang mengharukan buat Dafi, dia pamit ke para jama'ah Mesjid yang sering bertemu sama dia saat sholat. Kepribadian Dafi yang baik, sangat membekas dibenak mereka semua.


Semua mendo'akan agar Dafi lebih sukses kedepannya dan bisa datang lagi ke tempat ini walaupun sekedar untuk berlibur. Semalam juga Dafi sudah pamit sama Bapaknya Zahwa dan Pak RW.


Dua koper besar udah siap dibawanya menuju Bandara Kerinci. Dafi akan terbang ke Jambi jam delapan pagi dan lanjut ke Jakarta jam sebelas siang, diperkirakan jam dua siang udah sampe di rumah Pak Dzul.


Rasa sedih, haru dan bahagia menyelimuti hatinya saat ini. Tempat penuh kenangan dalam hidupnya.


"Akhirnya ... tibalah waktunya untuk pamit dari tempat ini, dua tahun lebih disini, banyak kenangan. Ada cinta yang kutemukan tapi kemudian kuhempaskan karena kejadian malam itu. Maafin Mas ya Zahwa, semoga kamu menemukan lelaki yang lebih baik dari Mas. Maafin kalo Mas menyakiti hati kamu. Tapi inilah pilihan yang paling baik. Paling baik buat kita. Semua tetangga dan rekan kerja, terimakasih selalu mendampingi selama ini seperti keluarga. Semoga kedepannya kita bisa ketemu lagi dalam suasana yang berbeda" kata Dafi sambil melihat ke arah luar jendela dari pesawat.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Tadinya Izma dan Fajar akan menjemput Qeena dan Mak Nuha pagi hari Tapi dadakan ada karyawan Bakulan Bunda yang sakit dan orderan lagi lumayan banyak buat pengiriman hari ini. Akhirnya mereka bantuin dulu di Bakulan Bunda dari pagi sampe siang.


Qeena udah hubungin Fajar dan akan dijemput sore hari di Tebet. Qeena udah share locationnya karena Fajar belum tau tempat tinggal mereka. Fajar udah dikasih tau sama Dafi kalo mereka pindah ke Tebet jadi ga kaget lagi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


"Assalamualaikum" sapa Qeena dan Mak Nuha ketika memasuki rumah Pak Dzul.


Sudah jam lima sore, keluarga Pak Dzul kumpul di ruang keluarga.


"Waalaikumsalam .." jawab semua.


"Apa kabar?" sapa Pak Dzul hangat.


"Alhamdulillah sehat Om" jawab Qeena sambil mencium tangan Pak Dzul.


Pak Dzul langsung memeluknya dengan hangat, bersamaan dengan itu pula Dafi turun dari tangga, dia baru keluar dari kamarnya selepas mandi karena baru bangun tidur.


Pak Dzul melirik kearah Dafi seakan lagi meledek Dafi yang belum pernah memeluk Qeena. Dafi hanya senyum aja karena paham arti lirikan Ayahnya.


Saat Qeena akan bersalaman sama Bu Fia, Bu Fia menolak. Demikian pula saat Mak Nuha ingin bersalaman.


Dafi turun dan mencium tangan Mak Nuha serta memeluknya juga.


"Kok Mas disini?" tanya Mak Nuha, Qeena langsung membalikkan tubuhnya karena ga liat ada Dafi.


"Supriyadiiii" jawab Dafi sambil ketawa.


"Ada juga surprise Mas ... masa Supriyadi" kata Qeena.


"Ya kan Supriyadi itu Surprise yang ngadi ngadi ... kaget kan?" ucap Dafi.


"Jadi bohong ya, semalam nelpon udah ada sini?" tanya Qeena.


"Beneran deh semalam masih diseberang pulau, pagi ini berangkat dari sana, baru sampe rumah jam tigaan, terus sholat, karena ngantuk lanjut tidur deh" jelas Dafi.


"Kok ga cium tangan suaminya sih Qeena? ga boleh begitu, Mas Dafi ini kan suami kamu, harus dibiasakan tiap dia pergi atau datang dari manapun ya kamu cium tangannya" saran Pak Dzul.


Agak ragu-ragu Qeena mencium tangan Dafi, apalagi dihadapan keluarganya Dafi. Dafinya mah keliatan santai aja.


"Mas juga harus dibiasain, kalo istri cium tangan tuh diusap kepalanya, terus dicium keningnya. Itu pertanda Mas sebagai suami bisa memberikan perlindungan dan menjauhkan keinginan dekat dengan wanita lain, kan pasti ingat dong masa abis nyium kening istri masih mau nyari yang lain" tambah Pak Dzul.


Dafi memang belum pernah mencium keningnya Qeena karena dia emang ga melakukannya saat mereka menikah kemarin, Dafi hanya mengusap kepalanya Qeena.

__ADS_1


"Ayo nunggu apalagi Mas?" tanya Pak Dzul.


"Ga usah segala malu-malu gitu deh, udah pernah tidur bareng kan? Mas kalo mau cium ya tinggal cium aja deh, wong kalian juga udah melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman. Ayah juga nih ... ribet amat sih segala pake filosofi kalo suami harus ini itu" kata Bu Fia jengkel.


Sebenarnya Pak Dzul ini menyindir keras kelakuan Bu Fia terhadap dirinya.


Dafi mendekati Qeena, Qeena udah memejamkan matanya karena malu. Tapi ternyata Dafi hanya mengusap kepalanya Qeena aja.


"Mas do'akan biar kamu sehat, bisa tercapai apa yang jadi impian kamu dan tetap menjadi Qeena yang baik sampai kapanpun" kata Dafi sambil tangannya mengusap kepala Qeena dengan lembut.


Qeena membuka matanya dan melihat Dafi tengah tersenyum dihadapannya.


"Duduk sini Qeena .. Nuha" ajak Pak Dzul.


"Saya mau taro ini dulu ke Dapur" jawab Qeena sambil membawa makanan.


Fajar membantu membawakan sampai ke dapur. Dafi hanya memperhatikan dua insan yang sedang berjalan beriringan dan tampak akrab seperti biasa.


"Mmmhhh... bau mangut nih" kata Mba Parti.


Qeena mencium tangannya Mba Parti.


"Ya Lek ... Emak yang buat" jawab Qeena.


"Wah ... harumnya udah menggoda nih ... buatan Mak Nuha pasti ini, kalo kakak ipar pasti belum bisa masak kaya gini .. Mba Parti ..tolong ambilin nasi dong" pinta Fajar yang udah duduk di meja dapur.


"Wah menyepelekan" ujar Qeena sambil nyubit tangannya Fajar karena mereka udah biasa becanda kaya gitu.


"Makin pedes aja tuh cubitan, kebayang ga kalo Mas Dafi yang cool kaya gitu dicubit kaya gini, pasti kesakitannya malah jadi uwu banget kali ya" lanjut Fajar.


Qeena tetaplah menjadi sosok yang dicintai oleh Fajar. Bagaimana pun Fajar mencoba menerima kenyataan, tetap dia masih belum bisa move on. Berdekatan, becanda dan mendapat senyuman Qeena adalah sebuah semangat tersendiri buatnya.


Ketika Fajar dan Qeena becanda, saling cubit-cubitan, Dafi nongol di pintu dapur. Fajar dan Qeena langsung berhenti becandanya.


"Tolong bikinin kopi ya" pinta Dafi datar sambil ikutan duduk di kursi.


"Qeena nya juga baru sampe Mas .. dia aja belum minum masa udah diminta bikinin kopi" protes Fajar.


Dafi ga menunjukkan ekspresi apapun. Mba Parti menghangatkan sayur mangut buat Fajar. Qeena juga lagi mengeluarkan bawaannya yang lain keatas meja.


"Baru Mas bilang mau pindah ke Semarang, udah bikin aja nih masakan khas Semarangan" ledek Dafi.


"Kebetulan Qeena pas ke pasar ketemu sama ikan asap itu, ya udah beli aja, ingat-ingat kayanya Om Dzul suka, jadi bikin deh" cerita Qeena sambil menyeduh kopi.


"Om Dzul? panggil Ayah dong .. masa Om" protes Fajar.


"Biarin aja dia belum biasa, ga usah protes" kata Dafi.


"Ya harus dibiasakan Mas" jawab Fajar.


Qeena datang membawakan secangkir kopi dan memotong brownies kukus yang dia bawa, kemudian diletakkan didepannya Dafi.


"Enak banget ya punya istri, bangun tidur udah ada yang nyiapin kopi" kata Fajar ngiri.


"Maaf Mas Fajar ..lupa tawarin minum... mau minum apa?" ucap Qeena yang baru ngeh.

__ADS_1


"Teh yang dikasih irisan lemon boleh" kata Fajar bahagia.


"Katanya mau bikinin makanan buat Mas, dibawa ga?" tanya Dafi ke Qeena


"Ya ngga lah, kan Mas ga bilang ada disini" jawab Qeena.


Rian langsung berhamburan memeluk Qeena saat melihat sosok Qeena. Dafi dan Fajar siaga, tapi rupanya Rian cuma sebentar memeluk dan meminta disuapin sama Qeena. Qeena masakin telur dadar pakai sayuran mirip omelet dulu buat Rian.


"Bau mangut nih ... wah udah lama ga makan ini" kata Pak Dzul antusias.


"Sama Yah, kayanya Mas juga udah lama ga makan ini" jawab Dafi.


"Nah, jajalin deh. Ini maknyus banget kalo Mak Nuha yang bikin. Ikannya ikan asap jenis manyung apa ya namanya kalo ga salah, susah dapetnya disini" jelas Fajar.


Mangut adalah kuliner khas Semarang. Aroma dan cita rasa kuahnya begitu menggoda, apalagi penggemar makanan pedas. Kuahnya terbuat dari santan yang diberi bumbu cabe Jawa/rawit setan, duo bawang, garam, rempah-rempah dan merica. Isiannya potongan ikan manyung asap. Tekstur ikan manyung tebal dan kenyal. Ikan yang diasap akan menghasilkan aroma yang khas. Kata mereka yang sudah makan mangut, aroma ikan asap bikin pengen nambah lagi dan nambah lagi.


"Ini bisa diganti selain ikan asap?" tanya Pak Dzul dan langsung minum karena merasa mulai kepedesan.


"Kurang tau saya .. tapi ya ciri khasnya dari aroma ikan asapnya itu, sekarang yang lagi lumayan rame tuh mangut tapi pake belut asap, belum coba sih, abis geli ya liat belutnya" jawab Qeena.


"Harus pedas kaya gini ya?" tanya Izma yang ikutan jajalin dari piringnya Fajar.


"Selera sih, tapi kalo ga pedes banyak orang bilang malah eneg karena kan ikan asap beda cita rasanya dimulut" jelas Qeena.


Semua akhirnya makan sore dengan lahapnya, kecuali Bu Fia yang memilih masuk kamar. Pas dilidah keluarga ini yang memang penggemar cita rasa masakan pedas. Qeena masih nyuapin Rian sambil ngejar-ngejar Rian yang lari sana sini.


"Nek durung kringeten ngene (kalau belum berkeringat begini) ya ra marem" kata Dafi sambil menyeka peluh diwajahnya.


"Enak Mas?" ucap Fajar.


"Maknyus ki .." sahut Dafi sambil mengacungkan dua jempolnya buat Mak Nuha.


"Parti sama Mini bisa ga ya bikin kaya gini?" tanya Pak Dzul.


"Bisa kali Om, kan orang Jawa juga. Kalo mau nanti bisa dibawain ikannya pas ketemu lagi di Pasar" jawab Qeena.


"Ga bisa ... beda tangan pasti beda rasa biar resepnya sama" potong Mba Parti.


"Kamu ga makan?" tanya Dafi.


"Masih kenyang" jawab Qeena.


Ga lama kemudian ada telpon dari Damar, Qeena pamit kearah kolam renang buat nerima telepon.


Qeena tampak agak bingung menerima telepon dari Damar, tapi kalo ga diangkat akan lebih panjang lagi urusannya.


Dafi memperhatikan gerak-gerik Qeena dari meja makan. Dafi masih meneruskan makannya, setelah selesai dia langsung mencuci piring bekas dia makan.


"Mas ... udah biarin saya aja yang ngerjain" kata Mini yang masih makan dengan lahapnya.


"Gapapa ... kebiasaan anak kost tahunan ya gini, abis makan dicuci, kalo numpuk adanya males dikerjain" jawab Dafi.


Begitu selesai nyuci piring, Dafi menghampiri Qeena yang masih mandangin HP sambil membalas chat.


"Damar masih belum tau?" tanya Dafi yang membuat Qeena kaget.

__ADS_1


__ADS_2