
"Orang ini Qeena kenal A' .. namanya Mas Fajar, anak dari orang yang banyak membantu keluarga Qeena" kata Qeena buat menenangkan Aa' Zay.
Keluarganya Aa' Zay mulai berdatangan. Karena khawatir malah menimbulkan keramaian, akhirnya Aa' Zay memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan di rumah Abahnya. Sekaligus Fajar ketemu sama Mak Nuha.
Erin dan anak-anak diantar pulang sama supirnya Pak Shaka menuju rumahnya. Aa' Zay, Damar, Qeena dan Fajar jalan kaki. Motor Damar dibawa sama Kang Maman menuju Villa.
Sesampainya di rumah, Qeena membuka pintu yang kuncinya dia bawa. Yang lelaki duduk di teras.
"Mak ... Mak ... bangun Mak ... ada Mas Fajar" ucap Qeena ketika menghampiri Mak Nuha di kamar.
Mak Nuha langsung bangun terduduk karena kaget.
"Kok bisa dia disini?" tanya Mak Nuha bingung.
"Dia jadi tamu di Villanya Pak Shaka Mak" jawab Qeena.
"Maksudnya tamu undangannya Pak Shaka yang lagi ulang tahun? kok dia kenal sama Pak Shaka?" cecar Mak Nuha.
"Qeena juga ga tau Mak dia datang atas undangan Pak Shaka atau ngga, tadi Qeena udah coba kabur dari Villa secara diam-diam, eh ga taunya Mas Fajar liat Qeena" jelas Qeena sedikit berbohong tentang keberadaan Fajar di Villa tersebut.
Mak Nuha memakai jilbab instan dan outer rajut untuk menutupi dasternya. Begitu Mak Nuha muncul didepan pintu Fajar langsung menghampiri.
"Mak ... Ya Allah... dicari-cari sampe hampir dua tahunan, ga taunya Emak sama Qeena ada disini" ucap Fajar sambil memeluk Mak Nuha seperti biasa.
"Mas makin gede aja badannya" kata Mak Nuha haru.
"Mak sehat?" tanya Fajar sambil melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah .. Mas udah jadi dokter kalinya sekarang?" tanya Mak Nuha.
"Masih Koas Mak .. biar dapetin gelar dokter, ya masih kurang setahun deh koasnya" jelas Fajar.
Qeena mengeluarkan empat cangkir teh tawar hangat buat para tamu.
"Jadi Emak dan Qeena kenal sama lelaki ini?" tanya Aa' Zay meyakinkan.
"Iya A' ... kami kenal" jawab Mak Nuha.
"Damar juga kenal kok A' .. Mas ini anaknya teman Papa di kantor" tambah Damar.
"Kenapa Mas Fajar mau nyakitin Qeena ya tadi? kalo kenal kan bisa ngomong baik-baik, ga perlu pake kekerasan kaya tadi. Untung ketemunya sama kami, coba kalo ada warga yang liat terus pada main hakim sendiri, ga salah kan mereka" ujar Aa' Zay.
"Ya Pak ... mohon maaf" jawab Fajar.
"Panggil Aa' Zay aja" pinta Aa' Zay.
"Iya ..." jawab Fajar.
"Sekarang kamu pulang sana, udah malam. Nginep di Villa kan?" tanya Aa' Zay lagi.
"Iya A' ... ga boleh ya saya ngobrol sama Qeena dulu? kangen udah lama ga ketemu. Qeena ini kan calon istri saya" kata Fajar tanpa beban.
Aa' Zay jelas aja kaget mendengar pernyataan dari Fajar, dia kemudian memandang kearah Damar yang mukanya kaya orang kesel.
"Ga bolehlah kamu lama-lama disini, kan yang tinggal disini perempuan semua, kamu kan juga baru calon suami, bukan suaminya Qeena. Lagipula disini kampung Mas, beda sama Jakarta yang ga masalah hal-hal kaya gini" ingat Aa' Zay.
"Tapi saya mau ngobrol sama Qeena A' .. diluar aja kok, kan semua orang bisa liat. Lagipula saya takut mereka kabur lagi" nego Fajar.
"Mas .. baiknya besok pagi aja ya kesini lagi. Sekarang Mas balik lagi ke Villa, saya jamin kalo Qeena sama Mak Nuha akan tetap berada disini sampai besok pagi" saran Aa' Zay.
"Iya Mas Fajar, besok lagi aja kesininya, udah malam juga, Emak mau istirahat" kata Mak Nuha.
"Ya .. besok Fajar kesini lagi. Emak sama Qeena jangan pergi lagi ya" harap Fajar.
Aa' Zay dan Damar memperhatikan Fajar yang lagi pamitan sama Qeena.
"Makin cantik aja kamu, udah mau tujuh belas tahun ya .." goda Fajar.
__ADS_1
"Mas tuh masih aja sukanya ngeledekin Qeena. Udah mau jadi dokter, lebih dewasa dikit dong" jawab Qeena.
"Udah pinter ngomong sekarang" lanjut Fajar penuh dengan senyuman.
"Udah sana pulang, kan ada yang nungguin di Villa" kata Qeena setengah mengusir.
"Kok tau sih ada yang nungguin, jangan-jangan nguping yaaaa ... wah Qeena yang sekarang udah bisa baca situasi" ujar Fajar.
"Qeena masuk dulu ya" pamit Qeena sambil menggandeng Mak Nuha masuk ke rumah.
Fajar masih aja berdiri terpaku didepan pintu rumah.
"Ehem .. ehem .. mau jadi satpam atau centeng nih segala berdiri didepan rumah orang ga mau pergi juga" ingat Aa' Zay.
"Oh iya A' .. maaf ya .. saya terpesona sama Qeena. Lama ga ketemu, eh pas ketemu kok pangling banget, makin cantikkkk" ungkap Fajar.
Aa' Zay meminta Damar mengawal Fajar sampe ke Villa, ia khawatir Fajar berbuat nekat dengan memaksa masuk ke rumah Mak Nuha.
"Kok Lo disini sih?" tanya Fajar penasaran sambil jalan pulang menuju ke Villa.
"Emang tinggal disini, ada masalah?" jawab Damar sewot.
"Lo kan suka sama Qeena, jangan-jangan Lo tau mereka disini dari dulu tapi ngumpetin, bahkan Lo yang bantu mereka tinggal disini .. ya kan?" duga Fajar.
"Saya juga baru ketemu enam bulan ini Mas, pas Izma tanya emang saya ga tau apa-apa" jawab Damar.
"Kok begitu tau mereka disini ga bilang lagi ke Izma, sengaja ya mau nikung Qeena? melanjutkan kisah kasih jaman SMA dulu? Lo kan tau kalo Qeena milik gw" selidik Fajar.
"Qeena kan wanita yang ga terikat dengan siapapun, saya rasa ga masalah kan kalo saya suka sama dia? Kalo Mas juga suka, bersaing yang sehatlah. Kita kan sama-sama lelaki, tau dong harus gimana?" ujar Damar dengan beraninya.
"Wah bocah kemarin sore aja mau nantangin gw, mending Lo cuci kaki terus tidur deh, mimpi lagi aja bisa jadi pacarnya Qeena. Gw tuh udah suka sama dia sejak dia kecil ... ingat ... sejak dia kecil. Jadi gw berhak milikin dia dibanding siapapun" tegas Fajar.
"Tanya aja ke Qeena, siapa yang dia suka, saya atau Mas?" tantang Damar.
"Oke .. besok kita tanya dia" jawab Fajar ga mau kalah.
Jam dua dinihari selepas sholat, Dafi kegerahan, kipas angin udah terpasang tapi masih aja gerah. Akhirnya dia memutuskan buat membuka pintu depan rumah kontrakannya.
Dafi duduk dekat pintu sambil membaca Al Qur'an. Ada sebuah kelegaan didalam hatinya. Setelah selesai membaca, dia berniat buat menutup pintu dan melanjutkan tidurnya lagi.
Letak kontrakannya tidak di jalan utama, bisa dibilang dibelakang jalan utama, daerah sini walaupun jalan utama pun tidak seramai jalan di Jakarta, apalagi tempatnya Dafi yang depannya masih kebun kosong dengan ilalang yang lumayan tinggi, jam delapan malam aja udah sepi.
Matanya Dafi tertuju ke sebuah mobil. Merasa ada yang tidak wajar sama mobil yang terparkir diantara ilalang dan dalam kondisi gelap, Dafi pun tergerak buat mendekat dan melihat dari dekat mobil bergoyang. Kaca mobil memang gelap dan tidak tampak dari luar. Tapi terdengar ada suara dari dalam mobil.
Dafi mengetuk kaca mobil beberapa kali, sepertinya orang yang berada didalam mobil panik sehingga mobil pun kembali bergoyang. Temannya Dafi ikut mendekat karena tadi dia mau ke kamar mandi dan melihat pintu terbuka, begitu mau nutup melihat Dafi tengah berada diantara ilalang.
"Nish ... ngapain malam-malam ditengah ilalang gini?" tanya temannya sambil menepuk bahunya Dafi.
Jelas aja Dafi kaget dan agak loncat saat bahunya ditepuk.
"Bikin kaget aja" kata Dafi.
"Ngintip apaan sih?" tanya temannya lagi.
"Fenomena gempa lokal" jawab Dafi.
"Widih lagi ajeb-ajeb nih kayanya" ledek temannya Dafi.
Dafi kembali mengetuk kaca mobil. Selang beberapa menit kemudian keluar seorang lelaki kira-kira berusia kepala empat.
"Ada apa ya Bang?" tanya Lelaki tersebut.
"Maaf Bapak orang sini?" kata Dafi.
"Apa urusanmu?" jawab Bapak tersebut marah dan tampak ga suka.
"Ini kenapa markir mobil disini, udah malam pula" lanjut Dafi sambil masih celingukan.
__ADS_1
"Kenapa mata kau, lirik sana sini mencari sesuatu, jangan-jangan mau merampok ya?" ujar lelaki tersebut.
"Itu yang didalam mobil siapa?" tanya Dafi santai.
Akibat teriakan lelaki tersebut, mulai ada tetangga sebelah kontrakan Dafi yang keluar. Maklumlah masih jarang rumah disana, jadinya suara sendok jatuh pun bisa kedengeran sama tetangga.
"Ada apa Mas Danish?" tanya tetangganya.
"Ini sepertinya ada sesuatu di mobil. Tolong keluar aja lah Pak yang ada didalam" perintah Dafi.
"Itu anak saya lagi sakit" jawab sang lelaki.
"Ga jauh dari sini ada Rumah Sakit, bisa dibawa kesana kalo sakit, lagipula kalo di padang ilalang seperti ini bukannya yang sakit akan sembuh malah tambah kerasukan setan" timpal Dafi lagi.
"Tak usah ikut campur" bentak lelaki tersebut.
"Mau keluar sendiri atau saya paksa keluar orang yang ada didalam mobil?" tanya Dafi lagi.
Karena Dafi rada teriak, akhirnya seorang wanita keluar dari dalam mobil.
"Huuuhhhhh .... berbuat zina kok disini ... bikin sial" teriak warga yang mulai geram.
"Ini mah Pak bukannya sakit, tapi nyari penyakit. Lagian anak sendiri masih juga dimakan .. " ujar Dafi sambil geleng-geleng kepala.
"Jangan banyak cakap ya kau" Lelaki itu siap melayangkan bogem mentahnya kearah wajah Dafi. Tapi tangan Dafi sudah lebih cepat menangkapnya.
Para warga membantu mengamankan lelaki tersebut.
"Pak .. itu celananya sletingin dulu, nanti keliatan Ibu-ibu yang ada disini bisa tambah malu" ingat Dafi.
Para warga malah ketawa melihat lelaki tersebut merapihkan celananya.
Dafi mendekati sang wanita yang tertunduk malu dan menangis. Rambutnya pun acak-acakan.
"Masuk lagi kedalam mobil ... pakai baju yang benar, saya tau kamu buru-buru pake bajunya, belum pakai pakaian dalam dan bajunya kebalik tuh" ujar Dafi serius sambil membalikkan tubuhnya.
Wanita tersebut langsung kembali masuk kedalam mobil.
"Gila Lo Nish ... gelap kaya gini masih keliatan cewe ga pake daleman, udah gitu tau lagi bajunya kebalik" puji temannya sambil nyengir.
"Lah gimana ga tau, tuh perabotan kewanitaannya tadi kejepit pintu jadi keliatan sebagian, udah gitu juga kemeja masa kancingnya dibelakang" papar Dafi.
"Wahhh .. bener-bener ya spesialisasinya dibagian analis jadi apa-apa dianalisa dengan cermat banget" sahut temannya Dafi.
Kedua pelaku tindakan yang melanggar asusila dibawa ke rumah Pak RT yang ga jauh dari sana.
Dafi menceritakan kronologisnya ke Pak RT, semua mendengarkan.
"Anak mana kau? tak dicari orang tua kau malam masih diluar rumah?" tanya Pak RT ke sang wanita.
Wanita itu hanya menunduk.
"Sudahlah Pak .. kita damai saja, kami akan pergi beres kan?" ucap lelaki hidung belang itu.
"Kamu dibayar atau dipaksa?" tanya Dafi ikut turun tangan.
"Bukan urusan kau lah" omel lelaki itu.
"Demi cinta?" lanjut Dafi mencecar.
Wanita itu mengangguk sambil menangis.
"Dek ... saya tau usia kamu masih muda, kalo lelaki ini merusak artinya dia ga cinta, tapi cuma ***** belaka. Kalo kamu hamil apa dia mau tanggung jawab? kalian pasti bukan suami istri kan?" ujar Dafi.
"Bukan Bang ... saya bohong ke orang tua, bilang mau nginap di rumah teman. Tapi saya diajak pacar saya jalan-jalan. Katanya kalau cinta saya harus turuti apa maunya" jawab wanita itu terbata-bata.
"Panggil orang tua kamu, jelaskan semuanya. Semoga ada jalan terbaik ya, yang sudah terjadi mungkin ga bisa kembali seperti semula, tapi bisa diperbaiki. Jika kalian saling cinta, menikah lebih baik daripada berzina seperti ini" nasehat Dafi yang kemudian pamit karena sebentar lagi akan masuk waktu subuh.
__ADS_1