ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 41, Rasa yang ada


__ADS_3

Bu Fia tampak berpikir keras, logikanya dengan mudah dijungkirbalikan sama Iyus.


"Atau jangan-jangan Pak Dzul didukunin kali Bu, jadi bisa diam dan nurut sama keinginan Ibunya Qeena itu. Saya mau tanya nih Bu .. Pak Dzul pernah ngajak ibu ke tempatnya tinggal sekarang ga?" tanya Iyus.


"Pernah sih waktu awal-awal, tiap pindah daerah pasti diajak, tapi males ah, rata-rata kompleksnya sepi, lagi saya punya kerjaan di Jakarta yang ga mungkin ditinggal. Paling mampir aja kalo pas lagi dinas deket-deket situ" jawab Bu Fia.


"Nah fix Bu .. Pak Dzul menyimpan rahasia tuh. Pepet terus Bu jangan kasih kendor, masa kalah sama pelakor" kata Iyus menyemangati.


"Iya lah, masa saya kalah sama perempuan kampungan itu" kata Bu Fia sombong.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Nuha lagi nyari angin di bale depan rumah, ada tetangga menghampiri.


"Mba Nuha sudah enak di Jakarta kenapa bertani lagi di desa?" tanya tetangga samping rumah yang baru sebulan pulang kerja dari Hongkong.


"Ngurus orang tua" jawab Nuha singkat.


"Sebulan hidup di desa rasane mumet aku Mba, liat aja kita sibuk kondangan kawinan, sunatan, tingkeban (7 bulanan), tilik bayi, orang sakit atau melayat ntah itu yang baru meninggal, 7 hari, 40 hari,100 hari atau 1.000 hari. Belum lagi bila dapat undangan pertunangan, yang baru bangun rumah .. semua kayanya harus dihadiri, kalo ga datang dibilang sombong" kata tetangga.


"Ya kalo desa kan guyub lebih terasa Mba" jawab Nuha lagi.


"Mana pekerjaan di desa kan kebanyakan pedagang, petani atau buruh tani yang penghasilannya ga seberapa" lanjut si tetangga.


"Ya mau gimana lagi Mba ... nikmati aja jalan takdir kita" ucap Nuha.


"Saya cari uang dua tahun di negeri orang, eh baru sebulan disini pengeluaran jadi boros" tambah tetangga.


"Di kota juga ga seenak bayangan Mba, kalo kita ga punya keahlian yang mumpuni, sama aja Mba disana jadi pekerja kasar" jawab Nuha.


"Kamu ga tertarik jadi TKI di Hongkong? tiga bulan lagi saya berangkat kesana, kalo mau nanti saya daftarin ke Agen yang bawa saya kesana. Enak kok disana aturan kerjanya jelas, uangnya juga lumayan" tawar tetangga.

__ADS_1


"Ga Mba ... saya urus orang tua aja" jawab Nuha pada pendiriannya.


"Emang cukup dari bertani?" tanya tetangganya yang bikin Nuha ga bisa menjawab.


Setelah kepergian Qeena ke Jakarta, Nuha kerja serabutan di Puskesmas. Pinggangnya sakit kalo kerja di sawah. Kebetulan ada tetangganya yang menawarkan pekerjaan itu sama Nuha. Masuk dari Senin sampai Sabtu, jam enam pagi dan pulang jam dua siang.


Namanya kerja serabutan, ya apa aja dilakuin. Mulai dari bersih-bersih di Puskesmas, kalo ada obat-obatan atau alat medis datang, ia akan ikut menurunkan dan meletakkannya ke gudang. Bantu cek antara surat jalan sama barang yang diterima. Kalo lagi beruntung, dokter dan para perawat yang kerja di Puskesmas minta dibelikan sesuatu, Nuha akan dapat uang lebihannya.


Qeena ga bisa melarang Nuha kerja, karena dia juga belum mampu menyukupi Emaknya. Memang dia selalu kirim uang lewat kantor pos ke Nuha, dia sisihkan dari uang jajan yang diberikan Pak Dzul. Qeena bisa irit karena rutin diantar jemput sama Fajar, kalo pun ga dijemput maka dia akan jalan kaki menuju rumah.


Qeena pun ga perlu memikirkan makanan apapun, semua ga perlu beli, udah tersedia di rumah Pak Dzul. Walau Bu Fia ga suka sama dia, tapi ga pernah ambil pusing masalah makanan, bahkan keperluan mandi pun sudah tersedia.


Fajar dan Dafi kalo punya uang lebih juga memberikan uang jajan buat Qeena serta selalu aman kuota HP nya.


Sepatu-sepatu dan baju-baju Izma yang masih bagus tapi Izma udah bosan, dikasih ke Qeena jadi ga perlu beli baju dan sepatu lagi, bisa dibilang Qeena ga keluar uang buat hidup di Jakarta, semua udah dijamin keluarga Pak Dzul, bahkan Pak Dzul juga memberikan uang saku layaknya seorang anak. Makanya dia bisa kirim ke Nuha.


Bulan pertama di Jakarta, Qeena bisa mengirim dua ratus ribu rupiah, bulan selanjutnya bisa sampe tiga ratus ribu rupiah. Biasanya kiriman uang dari Qeena akan langsung dibelikan beras sekarung, bagi Nuha asal punya beras maka aman, nanti lauk seadanya bisa ketemu.


Penghasilannya dari kerja di Puskesmas biasanya buat bayar listrik dan beli lauk harian yang sangat-sangat sederhana. Pulsa HP Nuha juga sudah diisikan sama Fajar atau Dafi.


Nuha sadar sepenuhnya kalo Qeena lambat laun akan tumbuh makin besar dan dewasa, dia akan berada di fase memasuki gerbang rumah tangga. Nuha hanya mau Qeena ga salah langkah dalam memilih pasangan. Sekarang yang bisa Nuha lakukan hanya bisa berdo'a agar Qeena ga mengalami seperti yang ia dan orang tuanya alami.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Ketika merapihkan baju di lemari, foto pernikahannya dengan Iyus jatuh ke lantai. Foto dalam yang sudah ia lepaskan dari framenya, foto ini dulu dipajang di rumah orang tuanya, tapi sejak dia bermasalah sama Iyus, langsung dicopot.


Nuha hanya ga mau foto itu dilihat sama Qeena. Apalagi kedua orang tua Nuha sudah cukup kecewa sama Iyus yang ga pernah menunjukkan batang hidungnya ke Wonogiri. Diambilnya perlahan foto tersebut, Nuha duduk ditepian ranjang sambil melihat foto tersebut.


Meski sudah lama bercerai dari Iyus, selalu ada aja yang mengingatkan Nuha padanya, sehingga Nuha bisa dibilang jadi susah buat move on. Bayangan Iyus masih menghantui benaknya dan masih asyik menari-nati di otaknya, inilah yang membuat Nuha sulit mencari pasangan baru, walaupun dia sendiri udah bersumpah ga akan jatuh cinta lagi. Walaupun dia disakiti, rasanya ga ada yang bisa menggantikan apa yang pernah dia bersama Iyus dulu. Iyus adalah cinta pertamanya sekaligus menjadi cinta terakhirnya. Cinta itu memang akhirnya hanya memberikan luka dan air mata, tapi dari kisahnya pun, dia sudah memiliki Qeena, permata hatinya sekaligus harta paling berharga yang ia punya.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Fajar membaca surat sang ketua OSIS buat Qeena. Sambil tiduran di kasurnya yang empuk. Memang saat pengenalan siswa baru, Qeena dapat tugas membuat surat cinta buat salah satu pengurus OSIS dan harus berlawanan jenis. Karena saat itu bingung harus kirim ke siapa, maka Qeena menulis buat ketua OSIS yang lazim dipilih buat dikirimi surat.


Tapi rupanya, sang Ketos benar-benar baper sama surat yang Qeena kirim. Sejak melihat Qeena pertama kali, sang Ketos merasakan sebuah getaran yang ga biasa. Dia bukan playboy di sekolah, dengan jabatannya, bisa aja cewek-cewek takluk dengan mudahnya. Tapi dia ga pernah menggubris hingga Qeena hadir memporak-porandakan hatinya. Karena penasaran dan masih jaim buat nyari nomer HP Qeena, sang Ketos pun mengirimkan surat ke Qeena. Dia alamatkan ke sekolah via ekspedisi, jadi ga ada yang curiga kalo dia sedang mengejar Qeena.


Sampul merah jambu dan kertas surat bergambar bunga sudah dibuka sama Fajar.


#Salam manis buat adek kelasku yang baru....


Pertama-tama, aku memohon maaf atas kelancanganku menulis surat ini untukmu, tapi aku juga berharap semoga kamu menyadari bahwa surat ini bertujuan menyambung perkenalan kita tempo hari.


Masih ingatkan waktu MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah)? kamu mengirimkan surat untukku serta meminta tanda tangan karena itu menjadi bagian acara bagi semua adik kelas, lagipula diwajibkan buat mendapatkan tanda tangan ketua OSIS. Pertemuan itu sungguh mengesankan bagiku.


Ku tulis surat ini karena kenangan itu sungguh manis untuk diingat. Kelembutan suaramu, menariknya penampilanmu dan kehalusan sikapmu, membuat aku sungguh jadi ingin mengenal lebih dari sekedar Kakak kelas.


Matamu teduh jika memandangku, senyumanmu merekah bagaikan delima yang ditimpa sinar matahari, gayamu mempesona anggun dan tampak menyenangkan.


Setiap lewat depan kelasmu atau berpas-pasan di koridor sekolah, hatiku berdebar. Walaupun mungkin kamu tersenyum sebagai sebuah sapaan terhadap Kakak kelas.


Kiranya sampai disini suratku, aku berharap kau mau menulis balasannya. Meskipun hanya sepatah kata, tetapi bagiku sangat berharga sekali.


ps. Alamat sudah kutulis di amplop balasan yang kusediakan.


Dari orang yang ingin mengenalmu lebih jauh.


Damar#


Fajar menutup surat tersebut dan meletakkannya disamping bantal.


"Walah abege sekarang masih aja jaman surat-suratan, kaya jaman Nenek pacaran ini mah. Sekarang kan jaman digital, semua bisa pake chat HP atau media sosial. Segala aku kamu lagi bahasanya. Kaku amat kaya kanebo kering. Gw dulu juga jatuh cinta, tapi ga surat-suratan. Gentle dong ngomong face to face .. ampun deh gw kudu gw pepet nih Qeena. Ga bisa gw kasih celah. Tapi gimana caranya ya? jadwal kuliah gw tuh susah buat anter jemput Qeena tiap hari .. hadehhhh ancaman banget nih Ketos" ucap Fajar cemburu.


Fajar udah mulai mikir gimana bisa mengikat hati Qeena agar tetap seperti sekarang. Qeena memang sudah menganggapnya seperti kakak, ga ada yang dia tutupi dari Fajar. Qeena udah sangat nyaman mengadukan apapun ke Fajar. Sama halnya sama Fajar, apapun semua dibicarakan ke Qeena. Bahkan pernah Fajar membuat cerita seakan dia jatuh cinta pada seorang wanita dan respon Qeena sangat mendukungnya. Bagi Qeena melihat orang-orang yang dia cintai bahagia adalah kebahagiaan buatnya juga.

__ADS_1


Fajar pun pernah mancing-mancing perasaan Qeena terhadapnya. Tapi memang Qeena masih polos diurusan percintaan, masih ga paham maksud Fajar.


"Gw harus ungkapin perasaan gw ke Qeena, gw rasa sekarang udah saatnya, Qeena udah SMA dan pastinya paham tentang cinta" tekad Fajar.


__ADS_2