
Pesenan roti dan bakpau bulan ini mengalami penurunan, mungkin karena kebiasaan orang Indonesia kalo belum makan nasi maka dianggap belum makan walaupun sudah makan roti. Ditambah pula banyak pengagum Qeena yang sudah ga ada asa karena mereka merasa kalah saing sama Damar, seorang mahasiswa yang orang tuanya sedang membangun villa dan mengambil alih Edufarm milik Aa' Zay.
Damar pun makin santer meyakinkan Qeena buat menerima cintanya. Makin sering Damar mengutarakan, maka makin sering Qeena menghindar.
Kini deretan gambaran laki-laki hanya menjadi sumber penderitaan wanita pun makin bertambah setelah Qeena tau kisah tentang Bapaknya yang menyakiti dua wanita sekaligus tanpa perasaan. Makinlah Qeena takut buat membuka hati dan menjalin hubungan dengan laki-laki. Di usianya yang akan menginjak tujuh belas tahun, biasanya ada rasa ketertarikan terhadap lawan jenis, tapi tidak dengan Qeena. Sebentar lagi dia akan lulus dari Home schooling dan akan mengikuti ujian paket C untuk mendapatkan ijazah setingkat SMA.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Fajar pun masih berjibaku dengan kegiatan Koas (biasa juga dikenal dengan istilah dokter muda). Banyak pengalaman yang ia dapatkan ketika mulai terjun langsung ke setiap stase (bagian dari tiap spesialisasi dalam bidang kedokteran yang harus dilalui oleh para dokter muda, misalnya stase anak, berarti bertugas dibagian anak).
Dari segi usia, anak koas cenderung berada pada fase labil, masih dibawa emosi (bisa marah atau ikutan mellow bareng pasien), jadi akan banyak mempengaruhi tingkat stress. Bisa jadi ketemu kasus dengan pasien yang gawat sedikit, udah ga tau mau ngapain. Ditambah selama Koas, banyak dibumbui kisah asmara bertabur korban cinta lokasi di Rumah Sakit dengan judul hubungan anak koas dan pegawai Rumah Sakit. Bahkan sesama Koas pun bisa terjadi, selain intensitas pertemuan yang sering, jarang ada Rumah Sakit yang menyediakan ruangan koas perempuan dan laki-laki secara terpisah, banyaknya hanya satu ruangan. Jadi kalau jaga shift semua numpuk disitu. Gak cewe, gak cowo, tidur gelepar aja tanpa sekat.
Belum lagi tugas mengisi status pasien (rekam medis) itu harus ditulis tangan secara lengkap, minimal sekitar lima sampe enam lembar halaman untuk satu pasiennya. Bisa kebayang kan kalo hari itu megang sampe dua puluh pasien, alamat kudu siap pulpen yang banyak karena khawatir pas nulis tinta pulpennya habis. Makanya jangan protes kalo tulisan dokter kesannya jelek, mereka banyak yang harus ditulis direkam medik pasien.
Untuk kampus swasta seperti kampusnya Fajar, rata-rata ga mempunyai Rumah Sakit pendidikan sendiri, jadi harus mengantri buat bisa masuk Koas ke salah satu Rumah Sakit.
Ada pengalaman menarik saat Fajar Koas di stase penyakit kejiwaan (jiwa). Bisa dibilang jadi sebuah kenangan yang sulit terlupakan. Minggu pertama, pagi Fajar jaga di bangsal perawatan, malamnya ia tidur di kamar para Koas, menjadi Minggu yang menguras tenaga karena jadwalnya padat akibat banyak pasien setelah pemilihan para caleg (calon legislatif) yang gagal terpilih. Fajar dapat tugas dari dokter penanggung jawab buat mewawancarai seorang pasien dibalik teralis besi. Karena mau simple, dia pakai HP buat merekam pembicaraan. Masih sambil nyodorin HP dan memperhatikan apa saja yang dirasakan pasien, tiba-tiba tangannya ditarik sama pasien dengan kerasnya. Akhirnya Fajar berteriak minta tolong dan petugas ruangan pun datang buat membantu.
Lumayan bikin kaget dan kondisi pasien banyak mengeluarkan air liur dan mengeram seperti binatang yang mau menerkam mangsanya.
Pasien itu berteriak kearah Fajar persis didepan mukanya.
"Satu milyarrrr... satu milyar kemana? semua cuma laporan beres aja ... mana buktinya suara ga ada" teriak pasien tersebut.
Ternyata setelah membaca rekam medis sang pasien, pahamlah Fajar kalo caleg gagal ini udah keluar uang banyak buat mendapatkan suara. Selama ini dia mendapatkan laporan dari tim suksesnya via telepon, jadi rada antusias kalo melihat HP atau telepon didepan matanya .
"Makanya .. jangan memperlihatkan HP didepan pasien, mereka bisa jadi lebih agresif, jangan pula makan cemilan didepan pasien karena mereka ga akan segan buat memintanya" ingat dokter penanggung jawab.
"Kalo minta sedikit kan gapapa dok" ujar Fajar.
"Ya ga masalah kalo cuma seorang, tapi kebanyakan kasus, pasien yang lain ikutan pada datang dan saling berebut dan jadilah perang, bisa sampe pukul-pukulan loh" jawab dokter penanggung jawab.
__ADS_1
Setelah hampir dua Minggu di bangsal, hari ini Fajar ikut di Poli rawat jalan. Pasien di Poli beraneka macam, mulai dari gangguan psikotik, depresi, anxietas, insomnia, gangguan kepribadian, gelisah dan sebagainya. Fajar mendapatkan tugas untuk membantu menanyakan keluhan ke pasien. Berbagai hal penyebab guncangan jiwa, ada yang ga dibeliin HP jadi stress karena jadi bulan-bulanan temannya yang HP nya selalu keluaran terbaru, ada yang gagal menikah karena pasangannya kabur, bahkan ada pasien yang dibawa keluarganya berobat karena tiba-tiba linglung ga ingat orang sekitar.
Minggu selanjutnya masih di stase jiwa, giliran berada di IGD sebuah Rumah Sakit Jiwa. Fajar mulai merasa jenuh karena
nggak ada pergantian shift. Setelah sebulan di stase ini ada pengujian dari pembimbing. Fajar dapat penguji yang tipenya semua obat psikotropika wajib dihapal plus sediaan dan dosis anjurannya serta efek sampingnya. Ditambah pula Fajar dapat pasien yang tipenya diam, ditanya apapun ga menjawab hanya menoleh aja terus tidur. Sampe dihari selanjutnya sang pasien ditanya lagi dan malah menangis. Memang menguji mental dan kesabarannya Fajar pasien ini.
"Pak ... mohon kerjasamanya ya, saya mau ujian, kalo Bapak ga bisa saya tanya, gimana saya tau pengobatan buat Bapak" kata Fajar pada sang pasien.
"Pak dokter banyak tanya" ucap pasien yang kemudian tidur lagi.
Fajar menunggu sampe lima belas menit, pasien sudah bangun dan nampak segar. Dihampirinya sekali lagi dan walhasil pasien ngomel dan tidur kembali. Fajar nunggu sampe dua jam ga kunjung bangun.
"Ya ampun ... mana besok ujian, belum bikin status pasien, belum belajar pula .. lama-lama gw jadi pasien di stase ini nih" kata Fajar sambil mengacak-acak rambutnya.
Yang konyolnya pas hari ujian, Fajar udah mendiagnosa pasien dengan catatan pasien marah dan banyak tidur, ternyata pas didepan dokter penguji, pasien tersebut ga emosional, manis banget kalo ditanya pun menjawab, rasanya Fajar pengen masukin kepalanya ke kolam biar segar.
"Beneran gw dikerjain sama orang yang punya gangguan jiwa ... apa gw kali ya yang udah mulai rada-rada oleng karena sebulan ini ada di stase ini? Au ahhhh" kata Fajar ngomong dalam hati setelah dia mendapatkan teguran dari penguji untuk lebih baik lagi dalam menggali apa yang pasien rasakan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dafi juga rutin video call ke keluarganya, apalagi ke Rian, hampir setiap hari dia menelpon Rian via Mas Narko.
"Baik-baik disana ya Rian ... besok main-main lagi sama Mas Narko sama Bu dokter ya" ingat Dafi.
Rian memang taunya terapi itu adalah main, karena disana dia banyak bermain alat-alat yang berguna untuk melatih motoriknya.
Keluarga Dafi pun sudah tau hubungannya dengan Raisha ga bisa dilanjutkan kejenjang berikutnya. Semua mensupport Dafi dan memberikan suntikan semangat. Bahkan Fajar secara khusus menelponnya.
"Mas bro gapapa kan?" tanya Fajar meyakinkan.
"Ya gapapa... biasa aja" jawab Dafi.
__ADS_1
"Ngerasa sakit kepala, ga ***** makan, susah tidur, mata kaya panda?" cecar Fajar lagi.
"Ini kaya nanya ke pasien aja" ucap Dafi.
"Biasanya akibat putus cinta bisa kaya gitu Mas" ujar Fajar yang masih ingat banget pengalaman di stase jiwa.
"Emangnya anak abege, Mas mah udah dewasa kali, udah pernah ngalamin juga. Putus cinta bukan akhir dunia kan?" kata Dafi mencoba santai.
"Tapi yakin nih ya Mas ga ngalamin galau, sedih, sakit hati, menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga, hilang semangat, stamina berkurang, penurunan berat badan, tidur ga nyenyak, sulit konsentrasi bahkan berniat bunuh diri?" selidik Fajar lagi.
"Please deh Jar, abis ujian ya semua masih nempel bagus tuh hapalannya di otak" ledek Dafi.
"Ya kan cuma memastikan kalo Mas ga mengalami depresi" kata Fajar.
"I'm okay .. kamu tuh yang gimana, masih gagal move on dari Qeena? udah hampir dua tahun berlalu tanpa kabar loh Jar" tembak Dafi.
"Sulit emang Mas ... tapi Fajar lagi belajar membuka hati buat yang lain. Bukan ga ngarepin dia balik, tapi pusing juga ya nyari kesana-kemari ga ada rimbanya" jawab Fajar pasrah.
"Ada dong yang lagi dekat sekarang ini? kenalin lah sama Mas" selidik Dafi.
"Ada Mas, teman Koas dari kampus lain. Ya imut-imut anaknya kaya Qeena, tapi ga secantik Qeena lah" ujar Fajar.
"Kalo kamu pasang standar seperti Qeena, pasti akan susah dapatnya Jar. Mas akui kalo Qeena tuh cantik, anteng juga anaknya, keliatan masih nurut dan polos. Tapi semua kan bisa berubah dalam dua tahun ini. Lagipula kita kan tau masa lalu dia, belum tentu orang tua kita bisa menerima masa lalunya. Jadi sekarang bukan saatnya Mas bilang harus memantaskan diri buat calon pendamping, tapi kamu harus bisa memaksakan diri. Ya memaksakan diri buat keluar dari bayang-bayang Qeena. Kamu harus bisa bedain dimana cinta dan hanya terpesona belaka Jar. Mungkin kebersamaan kalian diwaktu kecil kan sebatas sahabat, dia ga tau maksud hati kamu, dia belum paham arti sayang seorang laki-laki terhadap wanita. Ya kaya Mas sekarang, trauma sih engga, tapi ya harus memaksakan diri buat membuka hati lagi. Tau kan kalo Mas emang berniat nikah muda" ujar Dafi.
"Mas .. kenapa sih kok semua hubungan Mas bisa gagal dalam waktu yang singkat? tipenya Mas itu kan bucin ya, kenapa malah mereka menolak?" tanya Fajar yang penasaran karena Dafi ga pernah mau bilang alasannya.
"Ya ga jodoh aja" kelit Dafi.
"Selain ga jodoh pasti ada suatu hal pastinya Mas. Apa Mas ga normal? ya maksudnya Mas hanya tipe yang ngejar tapi kalo udah dapat ditinggal, atau pihak wanitanya yang ga mau ikut penempatan Mas ke daerah?" timpal Fajar lagi.
"Kalo normal ya Mas rasa masih normal seperti lelaki lain yang berniat serius. Kalo masalah penempatan juga dari awal Mas udah bilang, kemungkinan dalam sepuluh tahun pertama pengangkatan Mas jadi abdi negara, akan bersedia ditempatkan dimana aja" jawab Dafi.
__ADS_1
"Apa ga repot kalo punya anak terus masuk usia sekolah? masa harus pindah-pindah sekolahnya" ucap Fajar.
"Ngayalnya kejauhan Jar ... calon Ibu anak-anaknya Mas aja belum ada .. kok mikirin anak sekolah ... hahaha" canda Dafi.