
Akhirnya dengan terpaksa Pak Dzul hanya jalan bertiga sama Nuha dan Qeena. Mak Leha ga bisa ikut karena kakinya sedang diurut, tadi terpleset saat mau turun dari bale tempat beliau tidur.
Sambil menunggu dokter yang katanya belum selesai praktek di Rumah Sakit lainnya. Pak Dzul berbincang sama Nuha di cafe dalam Rumah Sakit. Qeena tertidur dalam dekapan Pak Dzul.
Kasih sayang seorang Ayah ga pernah Qeena dapat sedari dia lahir. Dari Pak Dzul lah, selama dua bulan terakhir ini kasih sayang itu dia dapatkan. Pak Dzul orang yang sangat tulus, jadinya Qeena pun mudah akrab sama Pak Dzul. Padahal tipe Qeena itu ga bisa cepat akrab sama orang kecuali sama Fajar.
"Maaf Nuha ... saya boleh tanya sesuatu?" tanya Pak Dzul hati-hati.
"Tanya apa ya Mas ?" tanya Nuha.
"Kemarin sempat Mak Leha cerita tentang kamu dan Qeena. Saya kaget sama cerita itu. Kok bisa ya, kamu ikhlas ngerawat anak dari istri muda suami kamu? padahal anak ini kan hasil pengkhianatan suami kamu. Biasanya seorang wanita yang dikhianati suaminya pasti akan membenci semua hal yang berkaitan sama pengkhianatan. Tapi kamu bisa berdamai sama semua itu. Pantes saya ga pernah liat Ayahnya Qeena" buka Pak Dzul.
"Sudah takdir saya Mas" ucap Nuha.
"Tapi ga keliatan sih kalo kamu bukan ibu kandungnya Qeena" kata Pak Dzul lagi.
"Mungkin karena dari bayi, Qeena saya urus jadinya orang bilang mirip mukanya sama saya" ucap Nuha.
"Nuha .. jika suatu waktu, Qeena diambil dari kamu gimana? mungkin aja kan ayah atau ibunya mencari dia" tanya Pak Dzul.
"Entahlah Mas ... saya belum kepikiran sama sekali kalo mereka akan mencari Qeena. Keberadaan mereka dan kami pun sama-sama ga ada yang tau. Mungkin aja kans ketemu pasti ada karena kami sama-sama di Jakarta" jawab Nuha dengan muka yang sedih.
"Kamu harus siap kalo suatu saat hari itu akan tiba Nuha ... kamu bukan ibu kandungnya. Walaupun kamu yang merawat dan membesarkannya. Saran saya, Qeena pun harus tau cerita sebenarnya, tapi nanti aja kalo dia udah cukup umur" nasehat Pak Dzul.
"Ya Mas ... tapi kalo boleh meminta, lebih baik saya dan bapaknya Qeena ga pernah ketemu lagi" jawab Nuha.
"Apapun cerita kamu sama Ayahnya Qeena, anak ini berhak tau. Apalagi Qeena anak perempuan, dia memerlukan wali jika akan menikah kelak" ujar Pak Dzul.
"Masih lama Mas ... nanti aja itu dipikirkannya" sahut Nuha.
"Kamu harus segera urus perceraian kamu Nuha, Qeena semakin besar, kamu harus nyiapin data kependudukan juga buat Qeena. Ada kan aktenya Qeena?" tanya Pak Dzul.
"Kalo akte dan kartu keluarga Qeena itu yang asli ada di saya. Saat saya pergi dari rumah, ntah kenapa saya ingin bawa surat itu. Buku nikah pun saya bawa. Nanti kalo saya ada biaya, saya memang mau urus Mas. Mak Leha juga udah bilang buat pakai uangnya, tapi saya ga mau Mas merepotkan beliau lagi. Biarlah saya kumpulin uang dulu buat urus surat-surat di kampung, kan dulu kami menikah di Wonogiri" jelas Nuha.
__ADS_1
"Kamu urus aja, nanti saya bantu semua biayanya, kalo kamu mau memulai hidup baru, kamu pun harus punya identitas baru. Lepas dari bayang-bayang suami kamu dari dokumen negara yang kamu miliki Nuha" saran Pak Dzul.
"Mas Dzul baik banget sama kami, ga tau dengan cara apa nanti Nuha bisa membalasnya" ucap Nuha ga enak hati.
"Nuha ... saya ikhlas nolong kamu, ga perlu mikir gimana balas budinya, cukup kamu berniat dalam hati kalo kelak kamu berhasil, ingatlah buat membantu Nuha-Nuha lainnya diluar sana yang mempunyai nasib sama seperti yang kamu alami" ungkap Pak Dzul.
"Insyaa Allah Mas ... Saya akan ingat nasehat Mas Dzul hari ini. Do'akan saya bisa menjadi seperti Mas Dzul yang bisa membantu orang lain. Beruntungnya istri Mas yang dapat suami seperti Mas. Sampaikan salam hormat saya buat beliau, semoga ga ada kesalahpahaman nantinya kalo Mas Dzul menolong saya dan Qeena" pinta Nuha.
"Saya akan ngomong ke istri tentang ini" jawab Pak Dzul.
"Saya juga berharap, segala bantuan Mas ini tidak ada ujungnya berupa kisah asmara. Maaf Mas Dzul kalo saya lancang, tapi saya hanya melindungi diri saya sendiri dari laki-laki. Jangan sampai Mas Dzul suka sama saya dan berniat lebih, karena saya sudah memasang garis yang jelas, kalo saya ga akan menikah lagi dan ga akan membuka hati saya buat lelaki manapun" ujar Nuha tegas.
"Kamu jangan salah duga sama saya Nuha. Ga ada niat saya mengkhianati pernikahan saya dan istri. Kami sudah cukup berbahagia dengan kondisi sekarang, ditambah empat orang anak yang makin melengkapi kebahagiaan keluarga kami" kata Pak Dzul ga kalah tegas.
Dokter memeriksa Qeena secara seksama, hampir satu jam pemeriksaannya termasuk Rontgen dan laboratorium. Minggu depan juga kembali harus balik ke dokter lagi untuk dibacakan hasil pemeriksaan hari ini. Selain itu, dokter menyarankan pola makan yang seimbang untuk Qeena (Nuha dikasih selebaran contoh makanan yang dikonsumsi tiap hari). Sementara ini, dokter hanya memberikan vitamin aja buat Qeena.
Pak Dzul hanya mengantar pulang, tidak mampir lagi ke kios Mak Leha. Tadi di jalan sudah memberikan uang satu juta rupiah ke Nuha untuk memenuhi gizinya Qeena sesuai anjuran dokter tadi.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Ya Allah ... Ayah lupa bilang ya, Bunda juga baru pulang sih habis gathering kantor. Maaf ya... " kata Pak Dzul sambil tepok jidat.
"Ada apa Yah?" tanya Bu Fia penasaran sama ekspresinya Pak Dzul.
"Gini Bun .. Ibu kan punya teman. Cucunya itu serba terlambat perkembangannya dan ga bisa berobat, jadi tadi Ayah antar anak itu ke Rumah Sakit, sampe sore deh karena banyak yang diperiksa" jawab Pak Dzul.
"Orang miskin emangnya?" tanya Bu Fia.
"Jangan begitu Bun ... mereka sebenarnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi ini kan penyakit yang banyak terjadi dikalangan ekonomi lemah. Anak ini seusia sama Izma, tapi badannya kecil dan kurus banget, kasian liatnya. Dugaan sementara anak ini kena malabsorpsi, ada masalah diususnya. Belum banyak bicara dan asyik dengan dirinya sendiri" jelas Pak Dzul dengan tenang.
"Pergi sama suaminya?" tanya Bu Fia lagi.
"Dia single parent Bun, tinggal sama Mak Leha di kios yang jadi tempat produksi dan jualan roti bakar" tambah Pak Dzul.
__ADS_1
"Mak Leha yang Ibu bilang dulu punya pabrik roti dan keluarga Ayah sering dikasih roti itu? Yang dagang roti didepan sekolah Fajar?" tanya Bu Fia meyakinkan.
"Bukan sekedar roti, kami juga dikasih beras dan uang sama Mak Leha. Keluarga kami berhutang budi sama Mak Leha, jadi ga ada salahnya sekarang kami membalasnya, toh kita ada kemampuan buat nolong kan" kata Pak Dzul menambahi.
"Ayah jangan macam-macam ya sama dia, masih muda wanitanya?" selidik Bu Fia mulai cemburu.
"Siapa? Nuha? Umurnya sama kaya Febri, adik bungsu Ayah" jawab Pak Dzul.
"Masih muda itu sih, paling baru dua puluh tahunan" sahut Bu Fia sewot.
"Bun ... Jangan mikir aneh-aneh, Ayah cuma kasian liat anak itu, biasanya kesana juga sama Ibu kok. Ini juga semua atas saran Ibu yang meminta Ayah buat bantu mereka. Tadi Ibu kan kurang enak badan jadi ga bisa ikut anter ke Rumah Sakit, Mak Leha juga ga bisa ikut karena terkilir" terang Pak Dzul mencoba menenangkan.
"Kadang kasih bantuan ke orang seperti itu bisa jadi seperti dua sisi mata uang Yah. Bisa aja salah satu pihak yang akan tertarik duluan, ujung-ujungnya jadi pelakor" ucap Bu Fia cemburu.
"Bun ... udahlah.. Ayah udah tua kali, udah mau kepala empat sebentar lagi" kata Pak Dzul.
"Justru laki-laki tuh life begin forty Yah. Awas aja kalo Ayah main gila sama anaknya Mak Leha" jawab Bu Fia lagi.
"Hahaha ... Bunda lucu kalo cemburu. Nanti Ayah kenalin deh sama Nuha ya, kami hanya berteman biasa, ga ada yang spesial. Ya kaya kakak adik aja. Kalo Ayah mau macam-macam mah Bun, kapan aja dan dimana aja bisa. Posisi Ayah yang bagus, harta ada dan tinggal lebih banyak di Gresik sendirian, itu gampang buat berbuat curang sama Bunda. Tapi Ayah memilih setia dan ga mengkhianati pernikahan kita. Lagi pula buat apa Ayah terbuka seperti ini, kalo emang Ayah ada niat mau selingkuh sama dia, ya mending diam ga cerita sama Bunda" kata Pak Dzul sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Benar ga nih? jangan sekedar merayu buat menenangkan tapi akhirnya menyakitkan" ucap Bu Fia.
"Udah dong sayang .. Ayah kan pulang dua Minggu sekali, mana pas Ayah pulang kamu lagi gathering. Kangen kan" rayu Pak Dzul.
"Yah ... ini masih jam delapan malam, anak-anak masih bangun" jawab Bu Fia.
"Kuncilah kamarnya" saran Pak Dzul.
"Nantilah Yah ... kalo anak-anak udah tidur semua" ujar Bu Fia.
"Keburu Ayah ngantuk nanti" sahut Pak Dzul yang sudah mengunci kamar dan bersiap untuk bermesraan sama istri tercintanya.
Baru aja mereka mulai saling menatap, pintu kamar diketuk sama Dafi.
__ADS_1
"Bunda ... Ayah ... Rian ngamuk" teriak Dafi.
Pak Dzul dan Bu Fia buru-buru merapihkan bajunya dan keluar kamar. Mereka menuju kamarnya Rian. Pengasuhnya Rian sedang memegangi tangan Rian yang sedang berusaha kembali membanting mainannya lagi. Di usia dua setengah tahun ini Rian memang emosinya berbeda dari anak lainnya. Sudah dilakukan pemeriksaan sejak Rian berusia enam bulan, perkembangan semua motorik halus dan kasarnya memang ga sesuai sama anak seusianya. Apalagi kadar emosinya sangat parah sekali. Seperti malam ini yang marah sama mobil-mobilan miliknya yang ga bunyi karena baterainya habis. Pengasuhnya Rian sedang membelikan baterai karena stok di rumah sedang habis. Rupanya Rian udah keburu marah dan membanting mainannya hingga hancur. Ga cukup mainan itu, lemari mainannya pun jadi sasaran untuk dirusak.