
Tiga bulan berlalu dari kepergian Qeena dari kost annya. Keluarga Pak Dzul masih berharap Qeena dan Mak Nuha akan kembali. Tadinya Pak Dzul ingin melaporkan ke pihak berwajib, tapi Bu Fia menentangnya, karena selain mereka bukan keluarga, juga ga mau direpotkan dengan segala panggilan dan laporan pihak berwajib.
Ada surat yang dikirim oleh Qeena, ditujukan untuk Pak Dzul. Surat yang dikirim ke rumah dengan memakai sebuah ekspedisi.
Setelah makan malam, Pak Dzul meminta anak-anak dan istrinya buat kumpul. Beliau memang belum baca surat itu, tapi jelas pengirimnya tertulis Qeena, tanpa alamat kirim atau nomor HP.
"Tadi pulang kerja, Anto kasih ini ke Ayah" ucap Pak Dzul sambil mengeluarkan surat dari saku celananya.
"Surat apa Yah?" tanya Fajar.
"Dari Qeena ..." jawab Pak Dzul.
"Coba Yah ... Fajar yang buka" ucap Fajar antusias mendekati Ayahnya.
"Ayah yang akan baca, kalian dengar aja. Ini surat kan ditujukan ke Ayah" saran Pak Dzul.
Pak Dzul membuka surat yang diketik rapih dan diprint beberapa lembar. Semua duduk di ruang keluarga, hanya Rian yang ga mau duduk dan kembali ke kamar karena mau nonton film kartun.
Diawal surat, Qeena menanyakan kabar semua anggota keluarga Pak Dzul serta mendo'akan semua senantiasa didalam perlindungan Allah SWT.
Pak Dzul masih meneruskan membaca lembaran berikutnya.
"Saya atas nama pribadi dan mewakili orang tua, memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Keluarga Om Dzul karena datang tampak muka tapi pergi ga tampak punggung. Saat itu saya tidak punya pilihan kecuali mengikuti keinginan Emak. Sekarang kondisi saya dan Emak baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan keadaan kami karena disini banyak orang-orang baik yang mengulurkan tangannya untuk kami" lanjut Pak Dzul yang tampak mulai merasa sedih membaca kalimat demi kalimat.
Fajar meneruskan untuk membaca surat tersebut karena tampaknya Pak Dzul mulai berkaca-kaca. Membayangkan dua wanita berjuang diluar sana tanpa ada arah tujuan dan pegangan uang.
"Om Dzul .. saya pernah menjanjikan akan menjawab permintaan Om Dzul setelah saya berusia tujuh belas tahun. Walaupun sekarang belum cukup usia, tapi cukuplah bagi saya menjawab permintaan tersebut. Setelah saya berbicara ke Emak serta meminta petunjuk Allah, saya putuskan menolak untuk menikah sama Mas Rian. Biarlah saya dan Emak melangkah ke kehidupan baru tanpa terbebani kisah masa lalu. Kami berdua tau, ga akan bisa membalas semua kebaikan yang telah Om Dzul berikan, tapi kami selalu mengingat dan mendo'akan yang terbaik buat semua keluarga Om Dzul" baca Fajar penuh semangat.
"Udah dua lembar tuh surat dibaca, kenapa dia ga kasih tau sedang dimana atau bagaimana mereka bisa survive sampe sekarang" potong Dafi merasa aneh.
"Ya karena mereka ga mau ketauan ada dimana" ucap Fajar.
"Seorang Qeena mampu menulis surat ke Ayah? tujuannya?" kata Dafi masih ga percaya.
__ADS_1
"Lanjutin dulu Jar" pinta Pak Dzul.
Fajar kembali membaca surat yang ada ditangannya.
"Bersama surat ini, saya mengirimkan voucher belanja yang jumlahnya belum sebanding sama uang yang telah dikeluarkan oleh Om Dzul. Tapi lihatlah niat baik saya untuk mengembalikan apa yang telah Om Dzul berikan, jika ada rejeki lagi, maka saya akan kirim kembali voucher belanja untuk Om Dzul, maaf saya ga tau nomer rekening keluarga Om Dzul" lanjut Fajar membaca. Dia mengeluarkan tumpukan voucher senilai lima ratus ribu rupiah.
"Tiga bulan berlalu tanpa kabar, tiba-tiba ada surat dan memberikan voucher belanja? Apa hidupnya udah ga sesusah dulu? Tetep aneh kalo menurut Mas. Kita kan tau kalo Qeena ga banyak ngomong, tapi ketikan ini menyiratkan dia pandai bicara ... sorry ... ini ga Qeena banget, ga seperti Qeena yang kita kenal" ujar Dafi.
Fajar melanjutkan membaca surat hingga selesai kemudian diletakkan di meja dekat duduknya Pak Dzul.
"Maksudnya Mas Dafi, ini bukan Qeena yang kirim?" tanya Fajar meyakinkan.
"Ya ... ini terlalu lancar buat seorang Qeena. Sorry, Mas tetap ga percaya" ucap Qeena.
"Itu mah mau menarik simpati kita aja, cari perhatian" timpal Bu Fia.
"Ga juga Bun, kalo dia menarik simpati kita, pasti dia ga akan bilang baik-baik aja. Pasti akan menulis sesuatu yang buat kita kasian. Lagi pula .. Qeena itu penuh pertimbangan, buat apa kirim voucher ke kita kalo kondisi keluarga di kampungnya masih kekurangan, adanya dia ngirim kesana, bukan kirim ke kita yang kondisi ekonominya lebih baik dari kita" lanjut Dafi lagi.
"Ya kan tujuannya dikit-dikit mau mengembalikan uang ke Ayah" sahut Izma.
"Makanya ... nolong orang tuh seperlunya aja, kaya gini baru deh tau rasa. Udah keluar banyak tapi ga dapat kan apa yang Ayah mau" kata Bu Fia nyinyir.
"Apa maksudnya Bun?" tanya Fajar kesal.
"Ya kan Ayah mau Qeena jadi istrinya Rian, makanya disekolahin dulu, eh ga taunya malah kabur. Kalo dia ga siap jadi istrinya Rian harusnya jangan gini dong caranya" ucap Bu Fia.
"Jangan negative thinking aja sama Qeena dan Nuha" saran Pak Dzul.
"Ini bukan negative thinking, tapi kenyataan. Anak tuh kalo ga ada pendidikannya ya gitu, seenaknya pergi gitu aja. Ga ada terima kasihnya" cerocos Bu Fia.
"Udah Bun .. mending ga usah dibahas lagi. Malah nanti Bunda emosi dan buat dosa aja mengumpat orang, khawatir jadinya fitnah. Kan kita ga tau dengan pasti alasan mereka pergi dari sini. Tapi mereka kan sudah dewasa dan bisa berpikir akan segala konsekuensinya, jadi bisa ga kita tutup pembahasan tentang Qeena?" Dafi angkat bicara.
"Mas bisa ngomong kaya gitu karena Mas ga diposisi Fajar, Mas tau kan rasanya perpisahan? sakit kan Mas?" kata Fajar yang ga terima omongannya Dafi.
__ADS_1
"Sebesar apapun kamu mau mencari dia dan tetap berharap dia bisa jadi milik kamu, tapi kalo Allah bilang ngga ... mau protes?" ucap Dafi santai.
"Pantes Mas ditinggal sama Rahma ... Mas dingin begini" lanjut Fajar.
"Menerima sesuatu dengan hati ikhlas memang bukan perkara mudah, tapi bukan berarti ga bisa kan? Kita pasrahkan aja, kita terima segala hal dengan perasaan yang tulus dan pengharapan besar bahwa apa yang kita alami adalah kehendak terbaik dariNya. Toh kita udah ikhtiar nyari mereka" lanjut Dafi.
"Kayanya benar saran Mas Dafi .. toh kita harus melanjutkan hidup, Qeena juga bukan bagian keluarga inti kita yang sampe harus banget kita cari. Ya kalo dia datang lagi kita terima, ga datang ya gapapa. Apa yang udah Ayah keluarkan emang niatnya membantu mereka, ya udah ga perlu diungkit-ungkit lagi" akhirnya Pak Dzul menengahi.
"Semua boleh nyerah buat cari Qeena, tapi Fajar ngga. Fajar akan cari dia sampe ketemu" ngotot Fajar.
"Jar ... saat kita begitu menginginkan sesuatu, hingga kita lupa bahwa apa yang kita inginkan bisa aja bukan yang terbaik buat kita. Seolah kita akan melakukan berbagai cara dan terlalu memaksakan kehendak. Kalau udah sampe memaksakan kehendak, perasaan jadi semakin gak tenang, selalu merasa kurang dan sama sekali tak nyaman. Hal ini yang nantinya mendorong kita salah dalam bertindak. Misalnya kamu mau terus cari Qeena dan fokus belajar jadi keganggu, pelajaran keteter ... siapa yang rugi? Mungkin nun jauh disana, Qeena tengah berdo'a biar kamu sukses jadi seorang dokter dan bisa ketemu lagi nanti" nasehat Dafi.
Fajar mulai mencerna kalimat kakak sulungnya.
"Ingatkan kamu Jar kalo Allah ga akan memberikan kita sesuatu yang kita inginkan, melainkan sesuatu yang kita butuhkan. Semua yang akan menjadi milik kamu akan kembali sama kamu, ga perlu memaksakan semuanya. Kalau Qeena memang tercipta dan digariskan buat kamu, Allah akan punya jutaan cara buat mempersatukan kalian. Mas sayang sama kamu Jar ... beberapa bulan ini terpuruk ga bersemangat, mana Fajar yang Mas kenal sangat ceria dan selalu santai menghadapi apapun?" ujar Dafi.
"Tapi Mas ... Fajar benar-benar kehilangan motivasi hidup tanpa Qeena" ucap Fajar.
"Kamu coba buka hati kamu ... kalo emang kamu bisa jatuh cinta lagi, berarti Qeena hanya sebuah obsesi masa kecil dan kamu hanya fokus suka sama dia aja. Kalo hati kamu ga bisa menerima cinta yang baru, mohon sama Allah untuk Allah pertemukan lagi sama Qeena. Tapi sekarang, benahi dulu hidup kamu yang udah berantakan ini. Anggap aja semua kamu lakukan buat Qeena ... sampai nanti kamu akan paham, apa yang kamu lakukan sekarang akan berguna buat masa depan kamu" lanjut Dafi sambil menepuk bahu adiknya kemudian masuk kamar.
🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞
Bakpau buatan Qeena pun mulai banyak yang pesan, bahkan orderan dari Erin aja bisa masuk sampai lima puluh pieces per harinya. Makanya Qeena mundur dari Klinik karena ga bisa membagi waktunya lagi, dia udah mulai sekolah homeschooling dan bikin bakpau serta roti yang dititip ke warung.
"Mak ... Alhamdulillah ya, pelan-pelan kita bisa memperbaiki kondisi ekonomi kita. Bisa kirim uang ke Mbah di Kampung. Kita juga udah bisa mandiri tanpa bantuan Aa' Zay dan Teh Erin" kata Qeena bersyukur.
"Iya Qeena ... kaya mimpi ya .. tapi kamu emang ga cape, dari abis subuh udah bikin orderan bakpau dan roti, terus muter ke warung bawa roti, bantuin Erin sampe Dzuhur, abis itu lanjut sekolah. Abis sekolah sorenya bantuin lagi Erin sampe Maghrib, abis Isya mulai bikin selai sampe tengah malam. Begitu aja terusm Mak liat kayanya kamu tidur sehari paling tiga jam. Ga kenal hari libur. Emak juga cuma boleh bantuin dikit aja. Emak ga boleh capek-capek sama kamu" ujar Nuha.
"Emak kan udah dari Qeena bayi tuh cape ngurusin Qeena. Terus Emak juga udah nyari uang buat Qeena sampe gede. Sekarang gantian Mak ... pokoknya suatu saat nanti Qeena akan punya toko roti Mak .. toko roti khusus resep dari Mak Nuha dan Kakek Naim ... resep yang sekarang kita manfaatin buat lanjutin hidup kita sekarang. Qeena mau kaya Aa' Zay dan Teh Erin .. bisa membantu menciptakan lapangan pekerjaan. Biar nanti ga ada lagi orang yang susah kaya kita Mak. Qeena mau nanti karyawannya semua wanita, kita tunjukkan ke dunia kalo wanita punya kekuatan luar biasa buat bertahan hidup" ujar Qeena bersemangat.
"Kenapa semua wanita? pasti butuh lelaki kan dalam setiap usaha, mereka kan tenaganya juga diperlukan" jawab Nuha.
"Lelaki hanya akan membuat wanita sengsara Mak ... sama aja kaya di bisnis, malah bikin ribet" ujar Qeena.
__ADS_1
"Itu Aa' Zay dan para asistennya ga ribet, malah sangat berguna dalam masyarakat" bela Nuha.
"Itu hanya segelintir Mak .. kalo anak sekarang bilangnya limited edition" ucap Qeena.