
Fajar dan Dafi sampe di halaman depan rumah yang ditempati sama Mak Nuha dan Qeena.
Rumah tampak kosong, teras rumah juga berdebu, lampu teras masih nyala.
"A' ... nyari Qeena sama Mak Nuha ya?" tanya tetangga sebelah rumah.
"Iya Kang ... kemana ya mereka? apa belum pulang dari Rumah Sakit?" tanya Dafi.
"Siapa yang ke Rumah Sakit? mereka itu udah pindah dadakan, kalo kata Aa' Zay ada peluang usaha bagus ditempat lain buat mereka. Coba deh tanya ke Aa' Zay pindah kemana mereka, soalnya kita ga dikasih tau sama Aa' Zay. Aa' balik kearah jalan besar, nanti didepan jalan sebelum Mesjid ada rumah yang bagus, itu rumah Aa' Zay" ujar tetangga.
"Makasih Kang, kebetulan saya kenal kok sama Aa' Zay" jawab Dafi.
Dafi dan Fajar masuk kembali kedalam mobil dan menuju rumah Aa' Zay.
Baru aja Aa' Zay mau jalan liat kolam pancingnya, mobil Dafi udah berhenti didepan gerbang rumahnya. Fajar turun duluan.
"Assalamualaikum A' .. udah mau jalan aja nih" sapa Fajar sambil berjabat tangan sama Aa' Zay.
"Waalaikumsalam .. eh Fajar ... sama siapa kesini?" tanya Aa' Zay.
"Mas Dafi" jawab Fajar.
Mereka bertiga duduk di teras rumah. Erin lagi ke sekolah anak-anak. Jadi para tamu hanya disediakan air mineral gelas yang selalu ada di meja teras.
"Mak Nuha sama Qeena belum pulang dari Rumah Sakit ya A'?" tanya Dafi.
"Katanya hari ini mau keluar, tapi belum tau kapannya, masih tunggu dokter visit kata Erin tadi pagi" jawab Aa' Zay.
"Di Rumah Sakit mana ya Mak Nuha dirawatnya?" tanya Dafi lagi.
"Qeena ga ngomong dia ada dimana?" terka Aa' Zay ga enak hati.
"Kenapa ya A'? ada masalah?" duga Dafi.
"Kayanya coba hubungin Qeena langsung aja ya, daripada nanti malah saya salah ngomong" kata Aa' Zay mencoba netral.
Dafi menelpon Qeena, sengaja dia loud speaker.
"Assalamualaikum Mas .." jawab Qeena buru-buru.
"Waalaikumsalam ... kok kaya abis lari suaranya" kata Dafi.
"Ya ... abis dari apotek" ujar Qeena.
"Ngapain ke apotek? ada obat yang ga ada?" tanya Dafi.
"Nebus obat" jawab Qeena sambil ngatur nafas.
"Kok nebus? kan rawat inap" ucap Dafi.
"Ada apa ya Mas?" tanya Qeena buat alihin pembicaraan karena khawatir Dafi curiga.
"Sekarang di Rumah Sakit mana? Mas ada di rumah Aa' Zay nih. Mumpung lagi ke pusat jadi bisa jenguk Mak Nuha" jelas Dafi.
Qeena terdiam, Dafi paham, dia menonaktifkan speaker dan agak menjauh dari Fajar dan Aa' Zay. Dafi memilih masuk kedalam mobil buat meneruskan pembicaraan.
"Mak Nuha dikelas tiga ya A'?" tanya Fajar.
Aa' Zay hanya tersenyum.
"Soalnya kebijakan banyak Rumah Sakit swasta itu kalo kelas tiga non asuransi dan BPJS pasti obat diminta tebus sendiri di instalasi farmasi mereka" kata Fajar.
"Ya kan kamu dokter, pasti pahamlah. Saya ga mau jawab ya, balik lagi ... biar Qeena yang ngomong, saya ga mau kesalahan. Ini kan urusan keluarga kalian, saya ga bisa ikut campur. Dulu waktu Qeena belum nikah, saya masih bisa ikut campur, sekarang kan udah ada Dafi, jadi biar Dafi aja yang nanya" jawab Aa' Zay.
Dafi menyalakan mesin mobil dan menyalakan AC mobil.
"Kamu udah pindah ya dari Ciloto?" tembak Dafi langsung.
"Hhmmm ... gimana ya jelasinnya" jawab Qeena bingung sendiri.
Qeena pun bergegas keluar ke koridor depan kamar, dia ga mau Mak Nuha jadi tambah kepikiran tentang banyak hal.
"Ini hanya yes no question ya ... jadi jawab aja... yes or no" kata Dafi mulai tegas.
"Yes" jawab Qeena buru-buru.
"Mak Nuha dikelas tiga ya dirawatnya?" lanjut Dafi.
__ADS_1
"Yes" jawab Qeena.
"Pulang hari ini?" tanya Dafi.
"No" jawab Qeena.
"Kalo masih lama rencana dirawatnya, minta pindah kamar aja" pinta Dafi.
"No" jawab Qeena.
"Dari tadi ditanya jawabnya yes no yes no aja, emang ga bisa jawab yang panjangan dikit" protes Dafi.
"Kan tadi Mas bilang yes no question, sekarang dijawab yes dan no malah salah" kata Qeena.
Dafi sampe garuk-garuk kepala, kadang otak encernya selalu kalah sama isi kepala seorang wanita.
Sebenarnya pengen ketawa rasanya mendengar jawaban Qeena, tapi Dafi harus tetap jaim didepan Qeena.
"Sekarang share location dimana Rumah Sakitnya. Mas mau kesana" ujar Dafi.
"Gapapa Mas ... kami baru besok boleh pulangnya, nunggu Mak benar-benar fit, cek lab belum bagus" jawab Qeena.
"Sekarang!!!!" kata Dafi malas basa basi.
"Kami emang baru pindah, tapi ga usah tau dimana kami tinggal sekarang ya Mas, nanti kalo Qeena punya uang, akan ditransfer ke rekening Mas, jangan takut Qeena ga bayar Mas" ucap Qeena.
"Ngomong apa sih? Mas cuma minta sekarang kamu ada di Rumah Sakit mana, bukannya mau nagih uang. Ini Aa' Zay udah ga buka mulut, nunggu kamu yang ngomong. Jangan lupa ya kalo kamu itu istri saya, jadi saya berhak tau kamu ada dimana, paham?" jelas Dafi masih dengan kesabaran full.
"Maaf Mas .. tapi kami butuh waktu buat berdua aja" ujar Qeena ragu.
"Terus ... " pancing Dafi.
"Kami merasa nyaman begini" jawab Qeena.
"Mau kabur kemana lagi? yakin selalu ketemu dengan orang-orang yang baik nantinya? selama ini kamu dan Mak Nuha selalu beruntung, ketemu sama Mak Leha .. sama kami sekeluarga .. terakhir sama Aa' Zay. Mau sampai kapan hidup seperti ini Qeena? nanti aja kita bahasnya, kasian ini Fajar cape abis Koas. Mas juga hanya di Jakarta sampe besok aja, please kasih tau dimana kamu sekarang" tegas Dafi yang membuat Qeena ga bisa nolak.
Qeena belum pernah mendengar nada bicara Dafi setegas tadi, jadi muncul rasa takut dalam diri Qeena. Buru-buru dia kirim nama Rumah Sakit beserta share locationnya.
Dafi dan Fajar pamit sama Aa' Zay. Mereka kemudian menuju Rumah Sakit yang diinfo sama Qeena.
Sambil melihat mobil Dafi bergerak meninggalkan rumahnya, Aa' Zay berkali-kali menarik nafas panjang.
Didalam mobil....
"Ga paham sama Qeena deh ... maunya apa sih? segala main rahasia-rahasia an sama kita. Kalo kita tau kan semata-mata buat menjaga dia juga" umpat Fajar kesal.
"Udah ... mending kamu tidur aja, kan dari berangkat juga Mas yang nyupirin. Ga usah mikir jalan pikiran orang lain" perintah Dafi.
Fajar langsung terlelap karena ngantuk. Dafi mendengarkan lagu sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit buat menaikkan moodnya yang berantakan karena Qeena bisa-bisanya menyembunyikan hal penting dari dia.
"Mas hanya manusia biasa yang ga bisa menjanjikan banyak hal ke kamu Qeena, tapi Mas akan berusaha, berusaha membuat kamu dan Mak Nuha selalu bahagia. Meskipun Mas ga bisa seratus persen menjamin buat ga nyakitin hati kamu, tapi Mas akan selalu berusaha ga membuat kamu tambah terluka karena kisah masa lalu Mak Nuha. Kecewa sih kamu ga kasih tau udah pindah, apalagi ga berbincang masalah kamar rawat Mak Nuha. Ya Allah ... berikan kesabaran padaku, ga perlu seluas samudera, yang penting cukup buat menghadapi persoalan-persoalan ini" harap Dafi dalam hatinya.
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
"Mak ... Mas Dafi mau datang" lapor Qeena.
"Dia ada di Jakarta?" tanya Mak Nuha.
"Iya, tapi besok pulang" jawab Qeena.
"Udah tau kalo kita disini?" ucap Mak Nuha.
"Iya Mak .. tadi Mas Dafi dan Mas Fajar ke Ciloto, ketemu sama Aa' Zay, sama Aa' Zay disuruh telpon Qeena" jelas Qeena.
"Mas Dafi marah?" Mak Nuha mulai khawatir.
"Kayanya iya" jawab Qeena.
"Ya udah nanti Mak bantu ngomong ke Mas Dafi" kata Mak Nuha menenangkan.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Damar datang membawakan buah dan makanan buat Mak Nuha dan Qeena.
"Katanya besok baru pulang ke Bogor Kak?" tanya Qeena.
"Rencananya begitu, tapi udah kelar acara pentingnya jadi ya kita balik aja" jawab Damar.
__ADS_1
"Makasih ya Damar .. capek-capek datang kesini" ucap Mak Nuha.
"Santai aja Mak .. Jadi besok ya Mak pulangnya? kalo besok kayanya saya ga bisa jemput nih, soalnya ada presentasi di kampus" kata Damar.
"Gapapa ... bisa naik taksi" jawab Mak Nuha.
"Assalamualaikum ..." sapa Dafi dan Fajar.
"Waalaikumsalam" jawab Qeena.
Dafi dan Fajar langsung mencium tangan Mak Nuha. Bahkan Mak Nuha memeluk Dafi sambil nangis.
"Udah Mak ... jangan nangis, masa ketemu Mas malah nangis" kata Dafi sambil mengusap air matanya Mak Nuha.
"Maaf ya Mas" ujar Mak Nuha.
"Maaf buat apa Mak? kan ga ada yang salah" ucap Dafi.
"Ya semua hal" jawab Mak Nuha.
Dafi cuma tersenyum.
"Qeena ... kita ngobrol dulu yuk, ada yang penting" ajak Dafi.
Qeena cuma mengangguk, ga berani memandang Dafi, hanya mengikuti langkah Dafi dari belakang.
Damar udah siap ikut sama Qeena, tapi buru-buru Fajar menahan laju jalannya Damar.
"Denger kan tadi Mas Dafi bilang ada hal yang penting, namanya penting ya ga boleh ada yang ikut campur" ingat Fajar.
"Tapi kan Qeena itu calon istri saya" ujar Damar ngotot.
"Baru calon istri kan?" kata Fajar.
"Qeena tuh paling ga nyaman kalo harus ngobrol berduaan sama lelaki yang ga akrab sama dia" bahas Damar.
"Sebelum kenal sama Lo ... Qeena udah lebih dulu kenal sama kita daripada Lo .. catet ya" ingat Fajar.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Mau minum dan makan apa?" tawar Dafi saat udah duduk di kantin sama Qeena.
"Jus jambu biji aja Mas" jawab Dafi.
Dafi memesan makanan dan minuman kemudian duduk dihadapan Qeena.
"Kenapa sih sampe ga jujur?" buka Dafi.
"Cuma ga mau aja ribet kedepannya" jawab Qeena.
"Ribet? maksudnya apa?" tanya Dafi.
"Mas ga paham sih situasi yang Qeena hadapin" lanjut Qeena.
"Ga ngerti gimana coba? tiap hari Mas telpon nanya tentang kondisi kamu dan Mak Nuha, kamu butuh buat Rumah Sakit ya Mas kirim, kemarin Mas tambahin karena kamu ga jawab berapa kurangnya biaya Rumah Sakit" papar Dafi.
"Bukan itu" jawab Qeena.
"Ya terus apa? Mas ini ga punya indera keenam yang bisa terawang apa yang kamu rasain" ucap Dafi.
"Mas sih ga peka jadi orang" tukas Qeena.
"Ga peka? ini arah omongan kemana sih? Mas padahal mau ngomong serius loh tentang hubungan kita" kata Dafi.
"Mas ... Qeena tuh udah milih Kak Damar kan buat jadi pendamping, tiba-tiba harus nikah sama Mas. Gimana cara jelasinnya sama Kak Damar coba?" tanya Qeena.
"Astaghfirullah .... " ucap Dafi sambil mengusap dadanya agar bisa bersabar.
❤️FYI
jadi bagi yang belum tau tentang up di NT, sedikit pencerahan ya.
Para author akan mengirimkan naskah ke NT, ada proses review oleh pihak NT. Jika lulus review baru pihak NT akan meng-upload karya author (proses up nya kapan ya mungkin menunggu antrian).
Jadi ... bagi yang minta up, itu prosesnya panjang ya. Bukan author yang up ke NT. Tugas authornya hanya sampe menyerahkan karya.
Makasih udah memberikan support. walaupun karya saya masih sepi yang baca, tetap ga putus asa. Karena apa yang saya dapatkan jauh lebih berharga, yaitu untaian do'a, perhatian, semangat ... yang mungkin ga semua author dapatkan.
__ADS_1
spread love buat semua pembaca setia❤️