
Di kecamatan Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh ada sebuah Mesjid dengan arsitektur modern perpaduan arsitektur Eropa dan Persia, sebelumnya Mesjid ini merupakan sarana ibadah dengan arsitektur khas Kerinci, pada tahun 1938 mesjid yang sederhana itu dibangun secara permanen.
Arsitektur bangunan Mesjid Raya Rawang merupakan Mesjid paling megah dan menjadi kebanggaan masyarakat Kerinci.
Disana sedang ada acara Tabligh Akbar, karena hari Sabtu, Dafi dan teman-teman kantornya bisa hadir kesana. Selepas acara, ada Bazaar makanan dan pakaian dipelataran Mesjid. Semua menuju kesana. Riuh ramai para peserta Tabligh Akbar berburu barang atau makanan yang hanya didapatkan jika ada Bazaar seperti ini
Karena sudah masuk waktu makan siang (selepas sholat Dzuhur), Dafi dan teman-teman mencari sajian khas daerah. Mereka berpisah karena perbedaan selera.
Pilihan Dafi jatuh ke gulai ikan semah, kuliner khas yang berbahan baku ikan tawar ini menjadi rekomendasi dari para warga setempat yang ikut Tabligh Akbar.
Dafi mengantri disebuah lapak yang menjual gulai ikan semah.
Pas banget dia masih dapat seporsi gulai ikan semah.
"Pas ini Mas .. masih ada satu porsi, pakai nasinya habisin aja ya, agak banyak sedikit gapapa kan? lagipula ada potongan ikan juga .. lumayan lebih dari seporsi" kata Ibu penjual.
"Ya Bu gapapa, memang saya makannya banyak" jawab Dafi sopan.
"Ini Mas nya yang ketemu kita pas kondangan Sabtu kemarin ya? yang nolongin Zahwa anak Ibu" ucap Ibunya Zahwa.
"Oh iya ... pantes kayanya saya familier sama wajah Ibu" jawab Dafi.
"Ma ... gantian sholatnya" kata seorang wanita sambil meletakkan tas mukena dibangku.
Pas balik badan, Dafi dan Zahwa saling terpaku melihat satu sama lain.
"Zahwa ... Mama mau sholat dulu, nanti Mas ini dikasih aja nasinya semua sama gulainya yang potongan dikasih sekalian" info Ibunya Zahwa.
Ibunya Zahwa segera masuk kedalam Mesjid. Yang bantuin Ibunya dilapak ini juga baru selesai sholat dan langsung merapihkan wadah-wadah yang sudah kosong.
"Ini Mas..." kata Zahwa sambil menyerahkan sepiring nasi dan semangkok gulai.
"Makan di meja ini boleh ya? udah habis ini kan dagangannya" pinta Dafi.
"Boleh Mas, saya ambilkan bangku plastiknya dulu" jawab Zahwa.
Dafi tampak sangat menikmati makan siangnya. Gulai ini rasanya lezat, teksturnya yang padat dan renyah, ditambah racikan bumbu rempah, gulai ikan semah semakin nikmat memanjakan lidah Dafi.
"Ini ikan apa ya?" tanya Dafi basa basi.
"Ikan semah kita bilangnya, biasanya hanya hidup di Danau Kerinci dan sungai berarus deras" jelas Zahwa.
"Ini nasinya apa? beda begini, ga kaya nasi yang biasa saya makan" tanya Dafi lagi.
"Oh itu nasi dari beras Payo namanya, padi lokal daerah Kerinci, pulen dan bulirnya besar-besar" jawab Zahwa.
"Orang asli sini ya? paham banget kayanya" tanya Dafi.
"Bukan Mas, saya dari Jakarta juga, sama seperti Mas Dafi, saya lahir disana, tapi tinggal berpindah-pindah mengikuti Papa tugas, tapi Mama saya asli orang sini, jadinya seperti pulang kampung" jelas Zahwa.
"Oh gitu .. Pak Buyung kesini juga ga?" tanya Dafi.
"Pak Buyung sedang sama Papa, saya sama Mama dan karyawan Mama aja yang ke Bazaar ini" lanjut Zahwa.
Ibunya Zahwa selesai sholat kembali menuju lapaknya.
"Enak ini Bu ... Maknyusss" puji Dafi.
"Makasih pujiannya" jawab Ibunya Zahwa.
"Ini beda ya Bu sama gulai Padang" ujar Dafi lagi.
__ADS_1
"Basicnya gulai sama aja Mas, mungkin yang bikin beda itu ikannya. Bumbunya sama seperti yang lain, ada cabai rawit, garam, jahe, laos, kunyit, bawang merah dan bawang putih serta santan kelapa" jelas Ibunya Zahwa.
"Tapi ini sisiknya bisa dimakan ya Bu? Mirip Ikan mas modelnya" tanya Dafi.
"Ya .. ikan semah masih satu jenis dengan ikanas dan ikan nila, tapi memasak ikan semah ini ga perlu membuang sisiknya. Sisiknya memiliki tekstur yang kenyal jadi enak buat dimakan. Memang terdengar aneh, tapi gurih kan? seperti menggigit tulang muda pada ayam" lanjut Ibunya Zahwa.
"Iya Bu... Alhamdulillah saya disini banyak mencicipi kuliner daerah dan selalu cocok sama lidah saya" kata Dafi.
"Mainlah ke rumah Mas, kita masih daerah sini kok tinggalnya, di Hamparan Rawang. Mas dimana?" tanya Ibunya Zahwa lagi.
"Saya di Sungai Penuhnya Bu, ga jauh dari kantor saya" jelas Dafi.
"Cuma sekitar lima belas menit itu dari sini" kata Ibunya Zahwa.
"Itulah Bu, disini lima belas menit termasuk jauh, karena jalan ga seramai Jakarta" ucap Dafi.
"Mas ini kata Pak Buyung anaknya Pak Dzul ya? masih satu Departemen sama Papanya Zahwa" ujar Ibunya Zahwa.
"Iya Bu, dulu Pak Buyung yang suka antar Ayah saya kalo dinas luar kantor" jawab Dafi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sudah hampir dekat kontrakannya Niar, tapi karena ga masuk mobil, jadi mobil parkir di pom bensin.
Iyus sudah menunggu didepan kontrakannya Niar karena tadi Niar menelpon untuk menunggu disana.
Rombongan Aa' Zay jalan kaki menuju kontrakan. Ketika baru mau jalan menuju gang, Qeena kebelet pipis.
"A' ... nanti Qeena susul ya, pengen pipis nih" ujar Qeena.
"Rumah kontrakan saya gampang kok, lurus aja, nanti ada salon warna ungu belok kanan, lima rumah dari salon itu kontrakan saya" jelas Niar.
"Ya Mba... nanti saya kesana" ucap Qeena.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Iyus sudah menunggu didepan kontrakan.
Kemudian rombongan masuk bersama.
"Baik Mba Niar ... udah sampe kita dengan selamat disini, sekarang kami mau pamit pulang dulu" buka Aa' Zay.
"Makasih udah antar saya kesini" jawab Niar.
"Lagian ngapain sih pada repot kaya gini, udah sana pulang" usir Iyus.
Aa' Zay yang sudah berdiri kemudian membalikkan tubuhnya.
"Oh ya Pak ... Anda sebagai orang yang lebih tua, saya rasa paham kan kalo apa yang Bapak lakukan itu salah" ucap Aa' Zay.
"Kan udah dibilang ga usah ikut campur, dosa kan dosa gw, bukan dosa elo semua" ujar Iyus.
"Betul ... tapi jangan ngajak orang lain dong. Udah dua tahun Mba Niar hanya jadi budak ***** tanpa dinikahi, lelaki sejati itu yang berani datengin wali bukan malah asyik menikmati tubuh tanpa dinikahi" nasehat Aa' Zay.
"Jangan belagak kaya ustadz ya" omel Iyus.
Iyus merasa tersinggung udah dinasehatin sama anak kemarin sore seperti Aa' Zay. Akhirnya dia pergi meninggalkan rumah kontrakan Niar. Seling 3 menit kemudian, Qeena sampe di kontrakan Niar.
"Makasih ya Jo ... Qeena ..." ucap Niar.
"Sama-sama Mba, semoga semua bisa berakhir dengan baik ya, yang kuat ya Mba, jangan melakukan kesalahan lagi" ujar Qeena.
__ADS_1
"Ya..." jawab Niar.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Kenapa mobilnya?" tanya Dafi saat melihat Zahwa kesulitan menyalakan mobilnya.
"Ga tau ini Mas, tadi bisa, sekarang malah ngadat" jawab Zahwa.
"Tolong buka dulu kap depannya" pinta Dafi.
Dafi dan temannya melihat isi kap depan mobil. Mereka mengecek aki dulu, kemudian melihat karburator, karena dilihatnya kotor maka dibersihkan dulu. Setelah itu Zahwa diminta buat starter mobil lagi.
"Makasih ya Mas, udah dua kali nih nolongin saya" ucap Zahwa.
"Santai ajalah, oh ya besok kalo bisa ke bengkel, ganti karburator aja biar aman" saran Dafi.
"Ya Mas, nanti minta tolong Pak Buyung buat urus" jawab Zahwa.
"Mas Dafi, ayo mampir dulu ke rumah, nanti pulang bisa diantar sama Pak Buyung" ajak Ibunya Zahwa.
"Mohon maaf sekali ya Bu, saya masih ada keperluan lain sama teman saya" ujar Dafi.
"Ini kartu nama Ibu, kalo perlu katering di kantor bolehlah pesan ke Ibu" promo Ibunya Zahwa.
"Insyaa Allah Bu" jawab Dafi sekaligus pamit.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Didalam mobil menuju pulang ke Ciloto, Jovita memilih tidur, Aa' Zay dan Bowo lagi berbincang ngalor ngidul. Qeena merenung sambil melihat jalanan.
"Ya Allah ... terjadi lagi wanita menjadi korban. Kenapa ya semudah itu menyerahkan diri ke lelaki? apa ga mikir kalo kita yang jelas rugi banyak. Kenapa dunia terasa ga adil bagi wanita?" tanya Qeena dalam hatinya.
"Qeena ... Qeena ... woyyy .. mikirin apa sih?" tanya Bowo.
"Oh ... ada apa Mas Bowo?" kata Qeena gelagapan.
"Anak gadis jangan bengong... kenapa?" ujar Bowo.
"Kepikiran tentang Mba Niar ya?" sahut Aa' Zay.
"Iya .. kenapa sekarang jamannya pacaran rasa suami istri ya, semudah itu menyerahkan kehormatan dan rela bergelimang dosa atas sebuah nama cinta" kata Qeena serius.
"Bahasanya tinggi bener deh, segala bergelimang dosa atas nama cinta .. sebenarnya balik ke orangnya sih, kalo Mba Niar ini tipe gampang dikadalin, nah lakinya juga buaya, jadilah ini semua tersaji" papar Aa' Zay.
"Ya Qeena .. ga semua lelaki buaya kaya gitu, berdo'alah kamu ketemu lelaki kaya kami ini" sahut Bowo.
"Itu kasih saran apa masarin diri sendiri?" ledek Aa' Zay.
"Ya kan boleh dong sekali-kali membanggakan diri sendiri" kata Bowo.
"Kenapa harus wanita yang selalu dirugikan dalam hubungan?" ucap Qeena.
"Hubungan bukan kalah atau menang, tapi bagaimana mereka bersatu padu saling menguatkan dan tetap bergandengan tangan walau apapun yang terjadi" lanjut Aa' Zay.
"Tapi kan lelaki juga ga bisa menjanjikan tidak menyakiti atau mengkhianati kan?" tanya Qeena.
"Qeena ... kalo seorang lelaki sudah berjanji dihadapan Allah dan wali, maka lelaki itu akan berusaha sekuat tenaga buat membahagiakan wanitanya. Kami kaum lelaki ga bisa selalu menjanjikan pelangi, tapi kami siap berkorban demi pasangan kita agar bisa tersenyum. Mana ada manusia yang ga diuji Qeena? bahkan para Nabi dan Rosul aja menghadapi ujian yang sangat dahsyat, yang penting kalo berpasangan ada rasa percaya dan kasih sayang, jangan pernah meragukan" ujar Aa' Zay.
"Tapi kebanyakan janji dimulut aja A' ... kalo ada badai, lelaki malah pergi meninggalkan perahu yang lama dan mencari perahu baru buat melanjutkan perjalanan" kata Qeena.
"Picik sekali pandangan kami terhadap laki-laki... pernah ada luka ya?" tanya Aa' Zay.
__ADS_1
Qeena ga mampu menjawab pertanyaan Aa' Zay.
"Ya ... dan luka itu akan terus ada selamanya" jawab Qeena dalam hatinya.