
"Enak juga nih tangan, kirain kecil kaya gini ga ada tenaganya ... eh tapi kan tukang roti .. pasti sekel tangannya, kan biasa banting adonan .. hehehe" puji Dafi sambil megang tangannya Qeena yang masih ada dipundaknya Dafi.
Qeena langsung menarik tangannya dan keluar kamar buat menyiapkan teh manis hangat buat Dafi.
"Ini Mas .. diminum tehnya" kata Qeena sambil menyodorkan mug berisi teh hangat. Dia juga mengeluarkan jamu cair sachet dan diberikan ke Dafi.
"Makasih ya Neng ..." ujar Dafi sambil tersenyum manis.
"Udahan kan ya?" tanya Qeena.
"Badan udah entengan, kepala sama bahu rasanya udah ga berat. Ini kaki sama tangan kayanya belum seimbang nih. Ntar Mas jalannya miring-miring nih kalo belum diurut juga. Mau ga sekalian gitu ngurutinnya?" tanya Dafi meminta persetujuan.
Dafi naik ke ranjang. Posisinya duduk selonjoran.
"Kalo mijitin tuh harus sekalian, jangan separo-separo, tenaga masih kuat kan???" goda Dafi.
Qeena dengan ragu, duduk disampingnya Dafi, tangannya mulai memijit tangannya Dafi, dia fokus melihat tangannya Dafi aja.
"Ini tangan kaya jahe, gede-gede banget" kata Qeena mencoba memecah rasa canggungnya.
"Ya gimana ga gede ini tangan. Tiap hari bawa berkas tebel, abis gitu nekan keyboard laptop ... belum lagi kalo di lapangan, pasti cape bawa banyak alat tempur. Jaman masih di pesantren nimba kalo mau mandi, itu belum kalo dihukum, ya makin aja lama nimbanya. Jadi di Pesantren biar kata modern juga sengaja masih pake alat timba, buat mendisiplinkan santri" papar Dafi.
"Mas ... berat ga sih jadi memainkan peran sebagai seorang Mas Dafi?" tanya Qeena serius.
"Maksudnya gimana ya?" tanya Dafi ga paham.
"Mas kan anak pertama, punya Ayah dan Bunda yang punya dua sifat yang jauh berbeda, punya tiga adik yang unik. Belum lagi kisah asmara yang selalu berantakan. Ditambah lagi sekarang sama kasus kita" ujar Qeena.
"Kan Allah ga akan menguji diluar kemampuan HambaNya. Jadi yakin aja semua itu udah sesuai kapasitas kemampuan Mas. Sekarang Mas tanya balik, berat ga sih jadi seorang Qeena?" tanya Dafi sambil memperhatikan wajahnya Qeena yang selalu menunduk.
Qeena menarik nafasnya agak panjang, sebenarnya sudah cukup jawaban seperti itu, pertanda Qeena lelah dengan semua hal yang menimpanya.
"Begini kali ya Mas nasib anak haram seperti Qeena" buka Qeena.
"Jangan ngomong gitu ah, ga ada anak haram ... semua anak dilahirkan dalam keadaan suci, yang salah orang tuanya, bukan anaknya" potong Dafi yang ga suka mendengar Qeena berkata seperti itu.
"Semoga Qeena ga hamil ya Mas, Qeena ga mau punya anak sebelum terikat pernikahan. Berat Mas ... harus menanggung dosa orang tuanya" kata Qeena, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hei ... jangan gitu .. wake up ... kita lalui bersama ya .. Mas janji" ucap Dafi sambil menggenggam tangan Qeena.
"Orang memandang jadi anak tunggal tuh menyenangkan, identik dengan kemanjaan mau ini itu diturutin... tapi ga berlaku buat Qeena. Lahir ditengah keluarga yang broken home, dari Ibu dan Ayah yang ga jelas kemana saat masih kecil, kemudian dirawat sama Emak dengan segala kisahnya, nyaris dalam perjalanan masa kecil gak dapet sosok Ayah. Sampe hadirnya Om Dzul, tapi kan ga lama. Sempat iri saat ada anak jalan sama Ayahnya, tapi Qeena hanya sama Emak doang. Atau disaat perpisahan sekolah, yang lain foto bareng orang tuanya, ini berdua sama Emak aja. Mungkin itu kali ya Mas .. yang ngebuat jadi agak sedikit cengeng menghadapi apapun. Mas liatnya tegar, padahal mah Mas ... pedih banget. Apalagi melihat Emak berjuang jadi single parent, pasti bukan hal yang mudah buat dilewati. Setiap hari Emak kerja, ngurusin Qeena, ngajarin baca Al-Quran dan sholat, nemenin belajar sebelum tidur. Keluarga besar juga masih kekurangan, jadi semua sibuk buat bertahan hidup, boro-boro buat saling memberikan semangat. Alhamdulillah akhirnya bisa ketemu Mak Leha, Om Dzul dan keluarganya, sampe yang terakhir keluarga Aa' Zay ... semua sayang sama Qeena, tapi semua ga mampu mengobati luka yang udah terlanjur dalam tergores disini" ungkap Qeena sambil menunjuk dadanya.
__ADS_1
"Saat impian-impian kamu belum terwujud. Saat hidup berjalan ga sesuai sama harapan. Saat kehidupan orang lain jauh lebih baik dari kita. Justru disaat itulah kamu harus berhenti mengeluh dan bersedih atas apa yang menimpa kamu" hibur Dafi.
"Kok gitu Mas?" tanya Qeena heran.
"Berhenti berharap menjadi seperti mereka yang jelas hanya akan memberi jejak kekecewaan dan menorehkan luka.
Kamu harus bisa mewarnai kelamnya hidup yang melunturkan semua warna-warni kehidupan kamu. Yakinlah kalo suatu saat Allah akan menghapus banyaknya air mata yang selama ini membanjiri hidup kamu. Allah ga pernah ingkar, ketetapanNya selalu pasti. Letakkan semua mimpi, harapan serta keinginan pada Allah. Hanya Allah yang tahu apa yang kamu inginkan dan yang terbaik buat kamu. Isi hati kamu dengan pikiran yang positif. Sekarang ada Mas yang siap memeluk dan menghapus air mata yang keluar dari mata kamu Qeena. Kita lewati bareng-bareng ya... Fadhilla Shaqeena... perempuan yang mempunyai kelebihan serta tenang dan rajin. Tumbuhlah menjadi wanita seperti do'a yang tersemat dinama kamu. Bagaimanapun masa lalu orang tua kamu, bukankah mereka berharap putrinya menjadi wanita hebat?" kata Dafi sambil mengambil tissu dan menyerahkan ke Qeena.
Dibelainya kepala Qeena yang masih tertutup jilbab dengan perlahan. Qeena berusaha ga menangis didepan Dafi.
"Besok sore atau malam kita janjian sama Damar ya ... dia harus tau semuanya Qeena. Dia juga berhak mendapatkan keadilan dalam kondisi ini. Mas tau kalo Damar hanya sekedar pelarian kamu kan? kamu ga cinta sedalam itu sama dia" ucap Dafi.
Qeena diam ga berani menjawab pertanyaan Dafi.
"Udah hampir jam sembilan, istirahat ya .. besok ba'da subuh pasti sibuk di dapur bantuin masak buat acara pengajian dan arisan keluarga. Ga tau mau masak apa, tapi kayanya udah belanja banyak tuh Bunda sama Mba-mba di rumah" kata Dafi.
"Nanti katanya Mas jalannya bisa miring-miring .. kan tangan baru sebelah yang diurut, kaki juga belum" ucap Qeena dengan nada yang lucu.
"Hadeh ... ternyata kamu lucu juga ya, bisa ngelawak padahal abis nangis. Neng ... Neng ... Mas kan jadi terQeena Qeena nih" canda Dafi.
"Apaan sih Mas" jawab Qeena.
Banyak notifikasi yang masuk termasuk dari Iyus. Tapi dia abaikan dulu biar ga merusak suasana. Dafi membuka galeri foto dan menunjukkan ke Qeena.
Dafi memberikan masukan agar di kardus kue yang Qeena itu ada logo dan nomer kontaknya, agar para penikmat kue bisa terus memesan ke nomer telepon yang tercantum.
"Kok mereknya My Qeena sih Mas? kayanya alay banget deh" kata Qeena.
"Kata siapa alay, justru pas baca ini, semua orang akan merasa memiliki. My Qeena ... Qeena ku ... Jadi para customer merasa memiliki chef pribadi yang menyajikan kue-kue yang lezat, merasa memiliki rasa yang ada didalam kue... tapi kalo orangnya cuma punya Mas ya, bukan milik umum" jelas Dafi sambil ketawa kecil.
"Makasih ya Mas... selalu ada disetiap fase hidup yang Qeena lewati, walaupun tanpa kata, Qeena yakin Mas selalu mendo'akan yang baik buat Qeena" ujar Qeena mellow.
"Ini jadi ga sih ngurutin kakinya? kalo mau ngobrol ya sambil aktif gitu tangannya, apa emang mau ngajakin Mas begadang nemenin disini?" tanya Dafi.
"Ini nih.. definisi dikasih hati malah rogoh rempelo" kata Qeena gemes.
Sebenarnya Qeena udah siap menyubit tangannya Dafi, tapi Dafi lebih sigap menangkap tangan Qeena, sempat keduanya saling pandang dengan tangan yang masih berpegangan.
"Tangannya buat mijit aja ya .. jangan buat nyubit" ucap Dafi sambil meletakkan tangannya Qeena di kakinya.
"Ya Allah ... kuatkanlah imanku... ini lama-lama mandang dia bisa khilaf nih. Untung ada Mak Nuha, kalo cuma berdua mah udah kejadian macam-macam kali" kata Dafi dalam hatinya.
__ADS_1
Qeena menyingkap sarungnya Dafi hingga selutut. Diolesnya minyak gosok agar hangat. Kemudian pelan-pelan dipijatnya kaki Dafi. Tambah aja Dafi makin "kepanasan".
Dilihatnya wajah Qeena dari samping. Keringat didahinya terlihat mulai membanjiri wajahnya. Dafi makin tambah grogi. Memang terlihat Qeena hanya fokus ke area yang dipijat dan hanya memijat sebatas bagian yang ga terlalu sensitif buat pria.
"Kamu ga masalah kan pegang badan Mas? Kayanya keliatan santai aja" tanya Dafi penasaran.
"Santai... santai .. ga tau apa udah gedombrengan nih hati. Semua rasa campur. Ya Allah ... jagalah diriku biar ga terbuai dalam khayalan yang aneh-aneh" kata Qeena dalam hatinya.
"Ya kan udah halal buat Qeena sentuh, deg-degan mah pasti ada, ya anggap aja kewajiban buat ngurusin suami" jawab Qeena yang langsung membuat Dafi jadi terbatuk-batuk.
Qeena langsung loncat ambil minum yang tadi tergeletak di meja rias. Lalu diberikan ke Dafi. Dafi minum perlahan masih sambil batuk-batuk.
"Ke dokter aja Mas Dafi, udah batuk-batuk gitu. Mungkin anginnya udah kedalon. Atau bisa aja kan kena TBC kalo suka batuk dimalam hari. Daripada nanti malah sakitnya jadi berat" saran Mak Nuha dari luar kamar.
"Ya Mak nanti aja" jawab Dafi.
"Ke dokter aja kok takut Mas ... kan adiknya dokter tuh, coba aja konsul ke dia dulu" lanjut Mak Nuha.
"Ya Mak" jawab Dafi
Dafi dan Qeena malah ketawa bareng.
"Kamu sih ... bikin kaget aja, jadinya Mas batuk .. sampe dikira TBC segala" canda Dafi.
"Lagi ge er .. kan emang sekarang statusnya Mas itu suami Qeena. Daripada ntar dosa ga ngurusin suaminya" jawab Qeena pelan.
"Jadi deal buat serius nih jalanin rumah tangga sama Mas? kalo serius nanti hari Senin semua surat kamu diurus ya, buat daftar ke kantor" jawab Dafi.
"Bukan gitu maksudnya .. nanti aja deh dibahasnya" potong Qeena.
"Tapi janjian ketemu Damarnya tolong dijadwalkan ya" kata Dafi.
"Ga usah ikutlah Mas nya, biar Qeena urus sendiri" jawab Qeena.
"Ngga ah ... kamu tuh kalo ngomong malah bikin gemes lawan bicara. Adanya ntar Damar gemes sama kamu malah dibawa ke Ciloto lagi" sahut Dafi.
Seusai ngurutin Dafi, Qeena dan Mak Nuha bersiap tidur. Dafi balik ke rumah Ayahnya menuju kamar pribadinya di lantai dua.
Dari kamarnya jelas terlihat rumah miliknya disebelah rumah Ayahnya.
"Ya Allah ... semoga rumah yang kubangun bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga yang menempatinya. Semoga menjadi awal mula menjalani rumah tangga yang menjadikan kami semakin tunduk pada Mu" ucap Dafi kemudian menutup tirai kamarnya.
__ADS_1