
"Apa alasan kamu kerja sekeras ini? kurang uang yang Mas kasih selama ini?" Dafi mulai buka suara dengan tatapan dinginnya.
"Pengen kaya" jawab Qeena spontan.
"Kalo kaya mau ngapain?" tanya Dafi lagi.
"Biar ga ada yang remehin lagi" jawab Qeena.
"Keuntungannya apa kalo ga ada yang remehin? pengakuan orang kalo kamu hebat?" ujar Dafi kian memburu.
"Bukannya enak Mas kalo didunia ini ga ada yang mandang kita sebelah mata. Orang ga perlu ngaduk-ngaduk masa lalu kita, cukup tau siapa kita hari ini" lanjut Qeena.
"Pasti gara-gara penghinaan itu ya? Kalo Mas serahkan semua yang Mas punya ke kamu hari ini. Apa cukup membuat kamu merasa kaya? apa bisa semua orang diluar sana ga meremehkan kamu? Jagoan itu ga ada yang mengakui dirinya jagoan. Liat Spiderman .. Batman .. mereka menutup wajahnya biar ga dikenali. Wake up Neng .. bagus kalo ada keinginan kaya, karena perjuangan ummat butuh sedekah harta juga selain do'a. Tapi kalo kekayaan hanya untuk membungkam pandangan orang .. kamu salah besar Neng" ujar Dafi.
Qeena diam, dia tau kalo berdebat sama Dafi ga akan pernah menang. Dia mematikan lampu dapur dan bersiap keluar dari dapur produksinya.
Dafi mengikuti langkah Qeena. Keduanya masuk kedalam kamar dengan saling diam. Setelah mencuci tangan dan kaki, Qeena mengganti baju karena abis masak.
"Mas ga pernah ya protes sekeras ini sama kamu, tapi lama-lama perlu juga ya Mas agak keras ngajarin kamu" lanjut Dafi.
Qeena masih diam.
"Kalo mau ke rumah keluarga Mak Imah, minta anterin Mas Anto aja. Jangan naik kendaraan umum, abis dari sana langsung pulang. Ga usah mampir kemana-mana termasuk ke toko kue. Tidur dan ga usah megang kerjaan sampe Mas pulang" perintah Dafi sebelum tidur.
Qeena ga berani membantah. Dia tau kalo saat ini Dafi udah dalam posisi sangat marah sama dirinya.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Qeena terus menerus menyiapkan diri dan hati untuk menginjakkan kakinya di rumah keluarga Mak Imah sejak berangkat dari rumah, kalo bukan karena kasian sama cerita Nyai, mungkin Qeena ga akan menjatuhkan harga dirinya demi meminta maaf untuk seorang yang bernama Iyus.
Keluarga Mak Imah sudah tau kalo Mak Imah akan datang ke rumah bersama Qeena. Mereka diterima masuk kedalam rumah. Disana udah banyak saudaranya Mak Imah berkumpul.
Qeena melangkahkan kakinya bersama Mak Imah menuju ruang keluarga, berjalan dibelakang langkah kaki Kakaknya Mak Imah.
"Jadi kamu datang kesini sekedar meminta maaf untuk Iyus? ga salah? emang kamu ngakuin kalo dia Bapak kamu? bukannya udah dibuang sama dia?" berondong keluarganya Mak Imah.
"Mbah .. intinya semua sudah dikemukakan oleh Mak Imah, jadi saya sekali lagi meminta kesediaan Mbah untuk bertemu sama Pak Iyus. Kalo memang ga bisa ke rumah Nyai, saya akan upayakan Pak Iyus yang akan datang kesini" jawab Qeena menahan segala rasa yang bergemuruh dalam hatinya.
"Kata maaf mah gampang aja, tapi bisa nama baik keluarga kami, cemoohan orang-orang bisa selesai begitu aja? kamu ga ngerasain malu seperti yang kami rasakan. Udah nama keluarga jelek, masa depan Imah pun hancur. Semua gara-gara siapa coba? kalo dia mau mati ya mati aja, ga perlu kata maaf dari kami, biar dia pertanggungjawabkan semuanya di akhirat. Sekarang ga ada lagi kan yang mau kita bahas? masih tau kan dimana letak pintu keluar?" ucap Bapaknya Mak Imah dengan kasar.
Mak Imah dan Qeena sama-sama menunduk dan ga berani memandang wajah keluarganya Mak Imah.
"Assalamualaikum ..." sapa Dafi yang tiba-tiba udah datang ke rumah keluarga Mak Imah.
"Waalaikumsalam.." jawab semuanya.
Dafi mencoba bersalaman sama keluarganya Mak Imah tapi ditolak karena mereka tau Dafi ini suaminya Qeena.
"Udah selesai ya? saya mau bawa istri saya pulang" kata Dafi.
"Ya bawa pulang aja, bilangin juga ga usah kesini lagi kalo cuma ngebahas lelaki itu. Kalo mau datang kesini ya sebagai diri sendiri aja" pinta Bapaknya Mak Imah.
"Insyaa Allah... saya akan coba kasih tau dia" jawab Dafi dengan sopan.
Mak Imah langsung duduk dibawah kaki Bapaknya dan meminta maaf atas segalanya.
__ADS_1
"Sekarang simple aja. Kalo mau disini ya harus tinggalin semua yang berhubungan sama lelaki itu termasuk anak kamu. Kalo lebih milih anak ya sana pergi ikut dia" kata Bapaknya Mak Imah.
Dafi rupanya lama-lama terusik juga sama situasi bak pepesan kosong. Dia berbalik menghadap ke keluarga Mak Imah kemudian membantu Mak Imah untuk duduk di kursi.
"Urusan memaafkan orang yang telah menyakiti apalagi membuat malu memang bukanlah perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, tentunya butuh kesabaran dan keikhlasan dari semua pihak. Menurut saya, sesulit apapan momen memaafkan, kita harus mau mencoba dan berbesar hati buat memaafkan. Saat hati sulit memaafkan, ingatkan hati kita lagi bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan. Sadari bahwa tidak ada manusia yang hidup tanpa kesalahan. Masa lalu, nama baik maupun takdir yang sudah berjalan ga bisa kita ubah. Tapi masa depan masih bisa kita rencanakan. Kalo yang berdiri didepan keluarga sekarang ini Qeena sebagai istri saya, mungkin saya ga akan mengijinkan dia menginjakkan kakinya disini, menerima hinaan dan ketidak terimaan semua atas kehadirannya didunia ini. Tapi lihatlah .. yang sekarang hadir adalah seorang Qeena secara pribadi, cucu keluarga ini, anak dari Mak Imah dan Pak Iyus, terlepas kapan dia hadirnya. Dia menjatuhkan semua harga dirinya hanya untuk seorang Bapak yang sudah membuangnya bahkan ga pernah menafkahi dan mencarinya. Bukan saya memuji dia karena dia istri saya. Tapi lihatlah kebesaran hatinya menerima kehadiran Pak Iyus sebagai Bapak biologisnya. Terlepas dari cara ini yang dia tempuh sebagai upaya agar Pak Iyus bisa bertemu sama keluarga Mak Imah, lihatlah dia juga berniat mengenal keluarga Ibu biologisnya. Bukankah mudah saja bagi dia meninggalkan Pak Iyus dan Mak Imah dalam kesusahan mereka? tapi dia ga melakukannya. Seharusnya keluarga ini bangga, anak yang terlahir dan konon katanya mencoreng nama keluarga, kini berusaha memperbaiki keadaan dengan menyayangi keluarga tanpa memandang masa lalu. Jika kehadiran Qeena mengganggu keluarga yang ada disini, saya minta dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Kami pamit dulu. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" kata Dafi sambil menggandeng Qeena dan Mak Imah meninggalkan rumah keluarga Mak Imah.
Mereka semua naik mobil, Dafi minta diantar kembali ke kantor. Tadi kebetulan dia ada keperluan diluar kantor, jadi bisa disempatkan sebentar buat mampir ke rumah orangtuanya Mak Imah. Rasa khawatir terhadap Qeena dan Mak Imah lah yang membuat dia datang. Ga banyak yang dia bahas dalam mobil, malah Dafi tertidur didalam mobil karena lelah.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
"Mak bilang juga apa .. keluarga Imah emang udah susah buat maafin Mas Iyus" kata Mak Nuha yang berbincang sama Qeena di ruang tengah.
"Ya udahlah Mak, udah ga perlu kita memohon lagi. Cukup tadi kaya gitu" jawab Qeena.
"Anggap ajalah kalo Mas Iyus lagi dikasih kesempatan buat mencuci dosa-dosanya. Udah kebanyakan orang yang disakiti. Rupanya do'a mereka sedang dikabulkan, tugas kita ya berdo'a yang baik buat Mas Iyus. Jangan banyak dibawa pikiran. Tugas dan tanggung jawab kamu masih banyak Qeena." ujar Mak Nuha.
"Maafin ya Qeena .. emak ga pernah bisa bantu, cuma nyusahin aja" ujar Mak Imah.
"Sekarang Emak maunya gimana? mau balik ke keluarga atau mau sama Qeena aja?" tanya Qeena.
Entah kenapa, Qeena ga merasa berat kalo berpisah sama Mak Imah, beda kalo sama Mak Nuha.
"Mak pikir-pikir dulu ya" pinta Mak Imah sambil masuk kedalam kamar.
"Emang kenapa sampe harus milih kaya gitu?" tanya Mak Nuha yang ga paham maksudnya Qeena.
"Keluarga Mak Imah kasih opsi seperti itu Mak" jawab Qeena.
"Astaghfirullah ... sampe begitunya ya. Itu mah sama aja mutus tali silaturahim, ga paham deh sama keluarga itu" kata Mak Nuha kaget.
"Tapi ga boleh ya ikutan mutus tali silaturahim, pelan-pelan juga mereka bisa terima kamu" ingat Mak Nuha.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Fajar ada libur tiga hari, dia mengajak anak istrinya buat liburan. Bu Fia dan Izma juga diajak. Rupanya mereka pergi juga bersama keluarga Alifa ke Pulau Seribu. Sebenarnya semua diajak, tapi ga bisa. Dafi kerja, Qeena banyak orderan dan yang lain membantu Qeena menyelesaikan orderan.
Ada sebuah partai politik yang akan mengadakan kunjungan ke panti asuhan untuk anak berkebutuhan khusus, Qeena mendapatkan orderan kue yang aman untuk anak-anak berkebutuhan khusus, tentu saja orderan ini didapatkan dari Pak Shaka. Relasinya memang luas, terutama kalangan middle high.
Paket kue kering sebanyak dua ratus paket serta aneka kue yang aman untuk dikonsumsi pun sudah dipesan ke Qeena. Mereka memberikan DP sebesar lima puluh persen dan ketika barang siap kirim maka akan langsung pelunasan.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Pagi hari ini Qukis by Qeena ga menerima orderan dulu, karena semua membantu membuat kue kering untuk dikemas serta roti dan preserve buah. Produksi hari ini khusus buat persiapan orderan yang akan diambil besok. Sebenarnya untuk kue kering sudah Qeena kerjakan sejak tiga hari yang lalu, hari ini produksi untuk menggenapi jumlahnya dan membuat kue yang akan dijadikan sebagai snack box aja.
Pak Shaka datang untuk melihat dan memastikan orderan besok sudah mulai dipersiapkan, biar bagaimanapun juga, nama baiknya dipertaruhkan disini, dia udah meyakinkan pembelinya bahwa Qeena akan mampu membuat dua ratus paket untuk besok.
"Bapak bantu apa nih? tapi yang gampang aja ya, kalo bikin kue ya ga bisa" tanya Pak Shaka.
"Bantu nempel label ke toples sama kasih alas kertas kuenya bisa Pak?" kata Qeena.
"Bisa dong, ini mah kerjaan ringan" jawab Pak Shaka.
"Makasih ya Pak" ucap Qeena.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
Keesokan harinya, kesibukan makin memuncak, paket sudah siap dibawa, kondisi dapur super berantakan. Mereka yang terlibat produksi, memutuskan sekalian cape jadinya langsung bebenah. Sekitar jam satu siang udah tepar semua. Ga ada yang bisa bangun, semua tidur di kamarnya masing-masing.
Dafi menelpon Qeena juga ga kunjung diangkat, rupanya HP Qeena lobet dan dalam posisi off. Telepon ke Mak Nuha pun sama.
Dafi mengirimkan chat yang memberi kabar kalo dia akan pulang lebih malam, lembur ngerjain kerjaan orang yang kepending karena orangnya ditangkap dengan dugaan korupsi.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
Ba'da Maghrib, Pak Shaka datang ke rumah Qeena membawa sate ayam, martabak telur serta martabak manis.
Qeena hanya masak nasi dan menyediakan minum aja. Yang dari kemarin bantuin Qeena juga dipanggil buat makan malam bersama, tapi kebanyakan ga bisa karena mau belajar. Akhirnya Qeena bungkusin makanan dan diantar ke rumah mereka masing-masing.
Setelah makan, semua nyari angin di dekat kolam renang. Di meja terhidang martabak manis dan teh tawar hangat.
"Gimana perkembangan kesehatannya Iyus?" tanya Pak Shaka ke Qeena.
"Masih kaya gitu Pak, belum ada perkembangan" jawab Qeena.
"Sabar ya, semoga bisa sehat kembali" kata Pak Shaka.
"Aamiin" jawab Qeena.
"Kalo sekarang makin banyak orderan, apa Dafi ga protes? jangan sampe gara-gara kamu ngejar mimpi, tugas utama sebagai istri dinomor duakan ya. Wanita boleh punya ambisi, tapi jangan jadi ambisius" nasehat Pak Shaka.
Omongan Pak Shaka sangat dalam, membuat kesadarannya pun muncul kalo udah banyak salah sama Dafi.
"Mendiang istri Bapak juga dulu punya mimpi punya toko tanaman dan bunga. Sudah pernah punya, tapi akhirnya ditutup karena kesibukan Bapak didunia usaha. Beliau memutuskan buat mensupport Bapak. Kemana pun Bapak pergi, beliau ikut. Katanya buat ngurusin makan, pakaian dan lainnya, jadi Bapak hanya cukup fokus dipekerjaan. Beliau lulusan Sarjana Pertanian loh, tapi ijazahnya ga pernah dipakai buat cari kerja. Bapak bukan meminta para kaum istri untuk full di rumah aja ya, tapi harus bisa menyeimbangkan tugas istri dengan usaha pribadi. Bapak yakin kok kamu dan Dafi sama-sama punya pikiran yang dewasa, semoga berkembangnya usaha kamu, ga membuat rumah tangga kalian sepanas kompor di dapur produksi ya" lanjut Pak Shaka.
"Aamiin ... Pak .. boleh saya tanya?" ucap Qeena.
"Selama Bapak bisa jawab ya akan coba Bapak jawab" ujar Pak Shaka.
"Kenapa lelaki ga pernah mau terlihat banyak pikiran didepan orang lain?" tanya Qeena.
"Dafi banget dong ya .. hehehe" canda Pak Shaka.
"Berlaku secara umum Pak" jawab Qeena buru-buru.
"Ya .. Bapak paham kok, tapi emang semua laki-laki kaya gitu. Bapak juga. Maaf ya Qeena, mungkin karena kamu besar tanpa kehadiran sosok lelaki jadi kamu baru tau pas bersama Dafi. Kami ini kan lelaki, secara ego pasti ga mau keliatan lemah, tapi yang lebih penting bukan itu, kami ini harus bisa membuat keluarga nyaman. Ya kalo lelaki yang belum menikah pasti kenyamanan buat keluarga, kalo yang sudah nikah pastinya kenyamanan pasangan" jawab Pak Shaka.
"Kenyamanan gimana maksudnya Pak?" tanya Qeena.
"Sekarang coba kamu pikir. Misalnya pasangan rugi dalam bisnis, terus bilang ke kamu bagaimana sedihnya harus rugi. Pastinya kamu pusing kan? mikirin gimana melanjutkan hidup dengan uang yang tersisa, gimana jalannya usaha kedepannya dan masih banyak lagi. Otomatis pasti akan timbul ga nyaman dong buat kamu. Sedangkan lelaki pasti juga butuh suasana yang kondusif buat mikir langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Paham ga maksud Bapak?" kata Pak Shaka.
"Ya Pak" jawab Qeena.
"Apa yang para kaum lelaki lakukan itu buat kebaikan bersama kok Qeena. Emang sih tergantung siapa dulu lelakinya. Tapi kan kamu cukup mengenal lelaki disekeliling kamu seperti apa, jadinya paham dong kenapa mereka ga mau terlihat sedih didepan kamu" lanjut Pak Shaka.
"Iya Pak .. makasih atas pencerahannya, kalo ngobrol sama Bapak udah kaya orang tua saya sendiri" ujar Qeena.
"Bapak juga udah anggap kamu kaya anak Bapak sendiri kok .. jadi santai aja. Kapanpun butuh diskusi ya monggo" ucap Pak Shaka.
"Nah kalo dianggap anak.. berarti hitungan keuntungan orderan tadi ga usah ya Pak .. hahaha" canda Qeena.
"Wah kalo uang mah ga ada yang namanya anak dan orang tua.. tetap harus ada hitunganya ... hahaha" sahut Pak Shaka.
__ADS_1
Keduanya tertawa lepas.