
"Ini kok pintu pagar kebuka lebar, apa udah pada pulang?" tanya Dafi heran sendiri.
"Jadi masuk aja nih Mas?" tanya supir taksi.
"Ya ... masuk aja ya ke depan pintu, sekalian saya mau ambil payung buat nutup pager" jawab Dafi.
Setelah membayar taksi, Dafi mengambil payung yang ada disamping pintu. Dia tutup pagarnya dan kembali menuju pintu rumah.
"Dikunci ya ... eh tapi kan ada Rian, Mas Narko dan Mba Parti ya" kata Dafi sambil memencet bel beberapa kali.
Rian yang lagi nonton tivi langsung menuju pintu buat membukakan pintu.
"Assalamualaikum ... Kok Rian yang buka pintu? Mas Narko mana?" tanya Dafi.
Rian malah berlalu masuk dan duduk di depan tivi lagi. Dafi masih membuka sepatunya dan meletakkan di rak sepatu yang ada di teras rumah.
"Waduh ... gw gimana nih? kayanya udah ada yang datang .. mana Rian belum gw bikin pingsan lagi. Gimana ini ya ... ngumpet dimana coba" kata Iyus bingung.
Iyus masih bolak-balik didalam kamarnya Rian. Mau kabur lewat jendela juga ga bisa karena ada teralis besi di jendelanya.
Dafi masuk ke kamar mandi dekat ruang keluarga, persis disebelah kamar Rian, dia langsung mandi karena merasa lengket badannya udah berjibaku dari Sungai Penuh pagi hari dan malam hari baru sampe rumah.
"Kadang heran deh, masih di Indonesia tapi sampe lima belas jam perjalanan" ujar Dafi seorang diri.
Dafi keluar hanya memakai celana boxer dililit handuk, tadi dia lupa bawa baju ganti ke kamar mandi.
"Rian ... kok belum tidur? udah mau jam sembilan malam nih" tanya Dafi lembut.
"Dah..." jawab Rian cuek.
"Udah? tidur siang kali .. ini udah malam. Tidur ya, besok mau ikut ke makam Nenek ga?" tanya Dafi lagi.
"Ecok (besok)" jawab Rian lagi.
"Ya besok ... sama Mas ya kesananya. Sekarang tivinya dimatiin dulu, Rian cuci kaki terus tidur deh" kata Dafi.
Rian masih ga bergeming didepan tivi, Rian juga ga tau kalo Qeena tertidur di kamarnya. Emang tadi dia melihat Qeena digendong sama Iyus, tapi dia malah anggap angin lalu dan kembali menonton tivi.
Iyus masih kebingungan didalam kamar Rian, tapi dia udah mutusin mau ngumpet di lemari baju aja kalo ada yang masuk ke kamarnya Rian.
Seusai mandi, Dafi menghampiri adiknya sambil membuka tas ranselnya buat mengambil kaos dan celana trainingnya.
"Kok sepi .. Yang lain mana? kamu ga sendirian di rumah kan?" ulang Dafi secara perlahan.
"Inaa.." jawab Dafi.
"Ina siapa?" kata Dafi bingung, dia merasa ga ada yang namanya Ina di rumah ini.
"Inaaa .. ya Inaaa" ujar Rian kesal karena Dafi nanya terus.
"Ina ... Ina siapa ya? kayanya dia dulu manggil Ina itu buat Qeena, masa sih Qeena disini. Apa sekarang Rian mulai halu? ga mungkin juga Rian ditinggal sendirian di rumah. Pake baju dulu deh nanti baru liat ke dapur, mungkin aja Mba Parti lagi disitu" gumam Dafi.
Dafi melihat segelas minuman coklat dingin di meja. Sangat menggoda dengan buliran air es dipinggir gelas.
__ADS_1
"Punya kamu ya? Mas bagi dikit ya. Pas banget nih rasanya haus banget. Ya walaupun hujan, minuman dingin akan selalu enak dinikmati" kata Dafi sambil menyambar minuman tersebut.
Belum habis separuhnya, Dafi sudah tertidur, gelas yang ada ditangannya pun pecah berantakan di lantai karena terlepas dari tangannya.
"Aduh .. ada apa tuh gelas sampe pecah gitu? apa Rian yang ngenggol gelas? kayanya ga ada suara orang berantem, jadi ga mungkin kalo sengaja banting gelas" tanya Iyus karena kaget.
Pelan terdengar teriakan dari Rian dari ruang keluarga.
"Mas ... Mas ... Mas matiiiii" kata Rian.
Diotak Rian sedang terekam kalo orang tidur ga bergerak artinya meninggal, seperti Neneknya tadi pagi.
Iyus perlahan keluar dari kamar karena mendengar teriakan Rian. Dilihatnya Dafi tergeletak di sofa ruang keluarga. Iyus buru-buru membersihkan beling yang berserakan dan di pel karena minuman coklat berantakan.
Lima menit kemudian, daerah dekat tivi udah bersih. Dilihatnya Dafi tertidur pulas dalam balutan boxernya dan handuk sudah terlepas.
Iyus sengaja membersihkan gelas agar ga ada kecurigaan dari siapapun kalo gelas itu dikasih obat bius.
"Yang pingsan malah Mas Dafi, kenapa ga dia aja yang gw jebak. Daripada udah kaya gini malah nanti orang bingung karena ada dua orang pingsan ditempat yang berbeda. Kalo Rian mah bisa dibilangin buat tutup mulut. Lagian Rian kan ngomongnya aja ga jelas, ga bakalan orang percaya sama dia. Dan Mas Dafi ... rasakan pembalasan gw akibat perlakuan Lo selama ini. Udah pernah nampol gw, terus mengintimidasi bahkan pernah menendang air sabun ke muka gw ... kita liat apa masih bangga keluarga ini sama Lo ... lagian kalo Qeena itu anak gw ... keuntungan buat gw bisa double... bisa minta dari Qeena dan Mas Dafi. Kalo Qeena bukan anak gw ... hal ini bisa gw jadiin bahan pemerasan buat Mas Dafi .. secara dia kan abdi negara, ga mungkin ngorbanin kariernya selama ini dengan selembar foto syur dia tidur sama wanita bukan istrinya. Hidup gw emang selalu beruntung .. berada ditempat yang selalu tepat ... gw mencium aroma uang malam ini ... hahaha" kata Iyus.
"Rian ... yuk bantuin angkat Mas Dafi ke kamar, dia ngantuk nih, kasian kalo tidur dibangku nanti badannya sakit" ajak Iyus.
Rian membantu mengangkat tubuh Dafi. Beberapa kali keduanya berhenti karena badannya Dafi yang lebih besar dibandingkan mereka. Susah payah keduanya meletakkan tubuh Dafi persis disampingnya Qeena.
Iyus mengangkat kepala Qeena untuk bersandar kedadanya Dafi yang tanpa baju. Karena Iyus sudah terbiasa tidur sama wanita, jadi dia tau kalo rambut wanitanya harus berantakan. Rambut Qeena yang memakai kuncir rambut dilepas dan diacak-acak. Rok plisket yang dipakai Qeena pun dilepaskan dan diletakkan diatas ranjang. Qeena hanya memakai kaos dan celana legging ketat sebagai dalaman roknya.
Setelah pose diatur sedemikian rupa, Iyus mengabadikan dalam beberapa kali jepretan di HP nya.
Setelah itu, sekarang giliran Rian yang harus dia brainwash agar semua lancar.
"Rian .. jangan bilang siapa-siapa ya .. sstttt" kata Iyus.
Rian bengong.
"Mas Dafi sama Qeena lagi bobo, ga boleh ganggu. Kamu tidur di kursi atau dikamar tamu aja ya" lanjut Iyus.
"Yaaaa" jawab Rian.
"Bagus... nanti dikasih tau film seru lagi ya" janji Iyus.
"Iyaaaa..." jawab Rian.
Iyus langsung keluar dari rumah Pak Dzul. Sementara itu, Rian masuk ke kamar tamu.
Tepat pukul sepuluh malam semua mobil sudah berada didepan gerbang rumah. Paling depan adalah Mas Narko, dia langsung membuka pagar dan memasukkan mobilnya kedalam garasi. Dibelakangnya ada mobil Pak Dzul yang disupiri oleh Fajar. Dibelakangnya ada rombongan adiknya Nenek Sri yang dari Yogyakarta dan akan menginap di rumah Pak Dzul karena rumahnya besar dibanding rumah adiknya Pak Dzul, jadi muat banyak orang. Diurutan terakhir ada mobil Aa' Zay.
Semua keluar dari mobilnya masing-masing.
"Loh Mak Nuha .. Aa' Zay .. kok kesini? Qeenanya mana?" sapa Fajar sambil mencium tangan Mak Nuha.
"Kan Qeena kesini, kita mau jemput pulang" jawab Mak Nuha.
"Qeena kesini? kan tadi Izma udah kasih tau kalo ga disini jenazahnya" sahut Izma.
__ADS_1
"Iya.. karena dia ga tau daerah sana, jadi dia datang kesini, katanya ga enak kalo ga takziah ke Nenek Sri" jelas Mak Nuha.
Pak Dzul mempersilahkan rombongan Mak Nuha buat masuk kedalam rumah. Tapi malah masih berdiri di teras semua.
"Mas Dzul .. saya turut berduka cita ya, maaf ga bisa datang kesana tadi pagi" ucap Mak Nuha tulus.
"Mohon do'anya aja... kok tumben ke Jakarta, sengaja atau ada keperluan nih?" tanya Pak Dzul.
"Yah ... ini udah malam masa ngobrol diluar, lagipula masih gerimis. Masuk dulu lah .. ngobrol didalam" ajak Fajar yang baru selesai ngerapihin parkir mobil di garasi.
Semua masuk kedalam rumah.
"Ini tas siapa taro disini, kebuka lagi posisinya. Baju berceceran gini di lantai" kata Om nya Dafi.
"Itukan tas ranselnya Mas Dafi, kemana orangnya ya? Mas ... Mas Dafi ..." tanya Bu Fia.
Rian keluar dari kamar tamu. Semua mata tertuju padanya, terutama Bu Fia.
"Lah Rian malah keluar kamar, padahal kan belum diliat orang kalo dia tidur bareng Qeena, gagal deh rencana" ucap Bu Fia mulai khawatir.
Rian disapa saudara tapi acuh aja jalan menuju kamarnya. Begitu sampe kamar, Rian bingung mau tidur dimana karena di kasurnya udah ada Dafi dan Qeena sedang tertidur pulas.
"Mas .... Mas .. Ina .. Inaaaa" teriak Rian yang mau membangunkan keduanya agar pindah dari kamarnya.
Karena suara Rian kencang dan seperti orang marah, Bu Fia mendekati kamar Rian.
"Astaghfirullah al adzim..... " pekik Bu Fia yang kaget melihat pemandangan yang tersaji didepan matanya, sampai-sampai Bu Fia jatuh terduduk didepan pintu.
Pak Dzul dan Fajar langsung berlari kearah kamar Rian, demikian juga sama saudara yang lain.
Semua beristighfar secara berjama'ah.
"Keluar semua ... ini bukan tontonan" perintah Pak Dzul yang langsung mendekati tempat tidur.
Fajar jelas sangat merasa terpukul, rasanya kakinya ga napak ke tanah.
"Jadi kamu berkhianat sama Mas Dafi? kamu jadikan Damar hanya sekedar boneka buat nutupin kebenaran kalo kamu emang punya hubungan sama Mas Dafi dibelakang Mas ... tega kamu Qeena. Mas lagi belajar menerima pilihan kamu ... tapi kenapa malah jadi gini Qeena" ucap Fajar sambil menangis dan duduk disebelah Bundanya.
Mak Nuha merasa curiga, lagipula dia ga melihat keberadaan Qeena. Saat melihat dipintu kamar, Mak Nuha malah histeris.
"Ya Allah Qeena ....." teriak Mak Nuha sambil bersandar ke tembok.
Aa' Zay yang mendengar kekisruhan dengan teriakan-teriakan orang jadi curiga. Dia berniat mendekat ke kamar, tapi Pak Shaka menahannya.
"Zay ... ini bukan wilayah kita. Apapun yang sedang terjadi, kita ga boleh ikut campur" tahan Pak Shaka.
"Tapi tadi kan Ayah dengar kalo Mak Nuha teriak histeris gitu" jawab Aa' Zay.
"Iya ... ini pasti bukan sesuatu hal yang mengancam jiwa. Kalo gawat darurat pasti udah pada panik bawa yang sakit ke Rumah Sakit. Kita tunggu aja disini ya" pinta Pak Shaka.
"Tapi Yah ... jadi ga tenang kan .. penasaran sama apa yang terjadi" ujar Aa' Zay.
"Zay .. duduk" ucap Pak Shaka. Aa' Zay duduk kembali.
__ADS_1