ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 125, Ujian lagi.


__ADS_3

"Ayo Mas Dafi, samperin istrinya, serahkan maharnya" pinta sepupunya Pak Dzul.


Dafi menghampiri Qeena dan menyerahkan uang dalam amplop coklat. Sesuai jumlahnya dengan yang tadi dia sebut sebagai mas kawinnya.


"Qeena cium tangan Mas Dafinya, sebagai wujud tunduk dan taat sama suami" lanjut sepupunya Pak Dzul memandu.


Qeena mengikuti arahan dari sepupunya Pak Dzul. Dafi memandang takjub ke arah Qeena. Entah kenapa dini hari ini Qeena tampak berbeda dihadapannya.


Saat Qeena mencium tangannya untuk pertama kali, Dafi timbul rasa kasian yang ga pernah dia rasakan sebelumnya. Dafi tau semua alur cerita hidup Qeena yang berliku. Tapi kali ini rasanya cerita itu tambah membuat sesak didada.


Dafi menyentuh kepala Qeena dan mendo'akan segala kebaikan untuk Qeena. Setelah mendo'akan Qeena. Dafi mengusap air mata yang terus membanjiri pipi Qeena.


"Tidak sembarangan orang bisa melihat, apalagi menyentuh seorang wanita muslimah yang mempunyai akhlak baik serta mempunyai pembawaan bijak, seperti kamu Qeena, salah satu wanita sholehah yang pernah Mas kenal dalam hidup Mas. Jangan takut kalo sekarang hatimu hancur, mungkin menurutmu itu hal buruk padahal sebaliknya kejadian ini justru baik buat kita. Karena ditengah hati yang patah, maka cahaya Allah SWT jadi lebih mudah untuk masuk kedalamnya. Mas menikahimu untuk menjaga harga diri kamu dari fitnah dunia. Nanti Mas selesaikan urusan Mas sama Zahwa. Mulai malam ini Mas akan menggantikan posisi Mak Nuha buat menjaga kamu. Mas coba ikhlaskan diri Mas buat menikah dengan kamu. Nikah adalah sebuah ibadah, perjanjian yang Mas ucap dalam keadaan sadar. Jadi ga perlu menyesali pernikahan ini. Kita mulai saling mengenal satu sama lain dari awal" ucap Dafi pelan sambil mengusap pipinya Qeena.


"Mas ..." kata Qeena heran karena Dafi bisa selembut ini sama dia.


"Nanti kita bicarain lagi. Sekarang kamu istirahat di kamar Mas sama Mak Nuha. Jangan nangis lagi" lanjut Dafi.


Semua melihat adegan itu sampe ga bergerak. Kaget aja kalo seorang Dafi mampu mengusap air mata seorang wanita dan berbicara sangat lembut.


Setelah semua kondisi bisa agak mereda. Pak Shaka dan Aa' Zay pamit pulang dulu. Erin sedari tadi udah menelpon.


Begitu didalam mobil, Erin kembali menelpon, Aa' Zay menceritakan garis besarnya.


"Ga mungkin Qeena sama Mas Dafi kaya gitu A' ... itu mah jebakan" ucap Erin rada emosi.


"Ya udah sih, kita juga ga berhak ikut campur. Mungkin ini udah jodohnya" kata Aa' Zay.


"Kita juga dulu terpaksa ya A' .. Alhamdulillah sekarang udah punya anak tiga ... hehehe" ledek Erin.


"Ya terpaksa ... terpaksa karena pelan-pelan aku mencintaimu" rayu Aa' Zay.


"Aa' ga malu apa ada Ayah disitu? segala ngegombal" sahut Erin.


"Oh ya ... kita rahasiakan dulu dari Damar, selama Mak Nuha dan Qeena ga buka mulut, kita juga ga bisa kasih tau. Nanti pastinya Qeena akan kasih tau" harap Aa' Zay.


"Tapi kasian Damar ya A' .. kayanya dia cinta banget sama Qeena, Qeena juga keliatan udah mulai membuka hati buat Damar" kata Erin.


"Nanti aja ya dibahasnya, Aa' udah ngantuk, mau cepet pulang ke rumah dan tidur" ujar Aa' Zay.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Iyus minta berbicara sama Nuha dan Qeena, Dafi mempersilahkan mereka semua bicara di kamar pribadinya.


Dafi kembali menenangkan diri di musholla rumahnya.


"Mau apalagi kamu Mas?" tantang Nuha.


"Oh .. udah berani kurang ajar ya kalian berdua? baru jadi besannya orang kaya terus belagu?" ucap Iyus.


"Udahlah Mas .. nanti aja kita ngobrol lagi, biarkan kami istirahat dulu" pinta Nuha.


"Eh Qeena .. sini..." panggil Iyus.


Qeena makin merapatkan pelukannya ke tubuh Mak Nuha. Karena berkali-kali diminta mendekati Iyus tapi Qeena menolak karena takut, akhirnya Iyus yang jalan kearah Qeena yang duduk dipinggir ranjang.


"Bagi duit" ucap Iyus to the point.


"Ga ada Pak ... Qeena ga ada uang" ucap Qeena memelas.


"Papa panggilnya jangan Bapak .. kampungan banget sih manggilnya. Kan tadi Mas Dafi kasih Lo uang, uang mahar ... sejuta kan? emang lupa?" kata Iyus marah.


"Tapi ini kan punya Mas Dafi Pak" ucap Qeena agak takut.


"Mas ... Kasihanilah kami, baru juga kami tertimpa kejadian seperti ini, masa Mas mau nyusahin kita lagi. Mending kita sepakat ga usah saling ganggulah. Kita udah punya hidup masing-masing" sahut Nuha kesal.


"Eh dengerin ya Nuha ... Qeena ini anak gw ya, bukan anak Lo. Jadi yang berhak atas Qeena tuh gw ... paham? atau jangan-jangan Lo punya maksud tertentu ya? Lo mau jual Qeena ke orang kaya karena dia cantik? atau ini semua jebakan yang Lo buat biar Qeena bisa nikah sama Mas Dafi?" ujar Iyus.


"Astaghfirullah Mas ... semiskin-miskinnya saya, ga mungkin saya jual anak. Saya masih tau dosa Mas. Jangan lupa sejarah juga Mas, saya yang urus Qeena dari lahir sampe sekarang. Saya ga pernah minta belas kasihan Mas sekeluarga. Pantas Mas disebut seorang Bapak buat Qeena" kata Mak Nuha.


"Jadi Lo mau bangkit semua itu? mau ngitung berapa uang yang dikeluarin buat gedein Qeena? mau minta itu semua dari Mas Dafi?" berondong Iyus.


"Loh kok Mas Dafi? Ga ada urusan sama dia" ujar Mak Nuha.


"Ya kan Lo berharap bisa dapat uang dari Mas Dafi dan Qeena jadi umpan, ya sebagai pengganti uang yang Lo keluarin sejak Qeena kecil" kata Iyus tanpa beban.


"Saya mau ngitung-ngitung biaya gedein Qeena? Ga salah nanya Mas? kalo saya jahat mah, Qeena udah saya tinggal sama Enyak. Selama ini kami ga mengemis ke Mas atau keluarga Mas kan. Saya atasi semua sendiri. Lagian Mas juga mana pernah nyariin kita. Mungkin kalo ga sengaja seperti ini juga kita ga bakalan ketemu" kata Nuha yang buat Iyus naik darah sampe mencekik Mak Nuha.


"Jangan Pak ... Jangan ... ini uangnya ... lepasin Emak" jawab Qeena yang langsung mengambil uang maharnya. Iyus ga sabar langsung narik amplop dengan kasar. Kemudian menjatuhkan tubuh Mak Nuha ke kasur. Qeena langsung mendekati Mak Nuha.

__ADS_1


"Emak gapapa?" tanya Qeena panik.


"Ya gapapa" jawab Mak Nuha pelan.


"Pak ... sekarang keluar ... keluar dari kamar ini, saya ga sudi punya Bapak seperti Pak Iyus. Saya hanya punya Mak Nuha .. Emak yang selalu ada disamping saya" ucap Qeena terpancing emosi.


"Eh.. anak kemarin sore udah berani marah sama Bapak kandung sendiri? Emang ini anak perlu dididik biar mulut ga lancang" hardik Iyus sambil menarik tangan Qeena dengan kasar dan membenturkan tubuh Qeena ke tembok.


"Mas ... jangan Mas ... jangan sakiti Qeena" mohon Mak Nuha dengan suara lirih, rasanya lehernya masih terasa sakit akibat dicekik sama Iyus tadi.


Dari arah belakang Iyus, pintu kamar terbuka dan secepat kilat tangan Dafi udah menarik tangan Iyus buat menjauh dari tubuh Qeena.


"Keluar dari rumah ini dan jangan pernah menginjakkan kaki disini, paham?" kata Dafi dengan kesalnya.


"Ini urusan keluarga" jawab Iyus.


"Bapak lupa kalo Qeena itu sekarang istri saya. Sah secara agama. Sekarang saya wajib menjalankan kewajiban untuk melindungi Qeena. Ingat ya... Bapak berani melukai hati dan badan dari Qeena dan Mak Nuha, maka saya yang akan membalas berkali-kali lipat" ingat Dafi.


"Jadi sok ya .. mentang-mentang udah jadi suami terus merasa berkuasa atas diri Qeena? inget kalian cuma nikah siri, ga diakui sama negara" ledek Iyus.


"Ini nih yang ga pernah datang kajian. Ga paham tentang pernikahan, atau emang lebih senang zina daripada menikah secara agama?" tanya Dafi dengan kasarnya.


"Maksudnya apa nih?" ucap Iyus.


"Kalo Bapak ga berzina, maka ga akan lahir seorang Qeena. Sadar ga Pak, kalo kehadiran Qeena dirahim Ibunya itu sangat dilindungi oleh Allah sampai dia lahir. Coba Bapak pikir, apa saat itu Ibu kandungnya Qeena ga mencoba aborsi? apa Ibu kandungnya Qeena selalu memperhatikan kandungannya serta memakan makanan bergizi untuk perkembangan janinnya? saya rasa ngga, malah kalo bisa Qeena ga pernah terlahir dengan selamat. Dari kajian yang pernah saya ikuti, kalo memang kebanyakan anak diluar nikah itu banyakan wanita, agar apa? agar dia menjadi pelajaran bagi orang tuanya, kalo anak itu tidak bisa bernasab ke Bapaknya. Dan menjadi pelajaran buat si anak juga agar ga mengulangi kesalahan orang tuanya. Apa yang terjadi antara saya dan Qeena tadi, terjebak ataupun kami lakukan atas dasar suka sama suka, saya mencoba bertanggung jawab. Saya ga mau nantinya Qeena dihina karena pernah tidur dengan lelaki, saya ga masalah mengupayakan visum buat Qeena, tapi apa ga sakit hati Qeenanya? kebayang ga kalo dia harus melalui rentetan wawancara dan pemeriksaan dibagian intimnya hanya untuk mengetahui dia masih suci atau ngga? Kenapa kejujurannya harus kita buktikan dengan melukai perasaan dan menyakiti bagian intimnya" ungkap Dafi.


"Kebanyakan omong" ujar Iyus sambil meninggalkan kamarnya Dafi.


Dafi membantu Qeena duduk dekat Mak Nuha.


"Jadi Mas ga mau mengadakan tes keperawanan buat Qeena karena alasan itu Mas?" tanya Mak Nuha.


"Iya Mak .. saya ga mau hanya karena ego kita semua, Qeena yang merasa malu berkali-kali. Harus berhadapan sama tim medis, ditanya ini itu bahkan diliat bagian kewanitaannya dan dicek apakah selaput dara masih utuh atau tidak. Bagi saya pribadi, tes keperawanan juga termasuk pelanggaran terhadap hak asasi perempuan dan anak perempuan yang bisa merusak kesehatan secara fisik, psikologis dan sosial dari yang menjalani. Lain hal kalo tes itu untuk para korban rudapaksa karena bukti itu akan diajukan secara hukum. Jadi Qeena .. Kita ikhlaskan diri kita buat saling mengenal, kamu ga perlu menjalani kewajiban seratus persen sebagai istri, cukup kamu mendengarkan apa yang Mas ucapkan aja itu udah cukup" papar Dafi.


HP Dafi berbunyi, dari Zahwa. Dafi langsung mengangkat.


"Mas .... Mas ..... Mama Mas..." teriak Zahwa histeris.


"Ada apa sama Mama kamu?" tanya Dafi.

__ADS_1


"Mama meninggal .. tadi siang kan Zahwa udah dalam perjalanan pulang ke Sungai Penuh, kerjaan bisa selesai cepat. Akhirnya Zahwa putuskan nyari tiket buat nyusul Mas ke Jakarta. Tapi tiba-tiba ditelpon sama Papa buat segera pulang karena Mama ga sadarkan diri dan dibawa ke Rumah Sakit. Saat ditelpon posisi Zahwa hanya tinggal dua jam lagi sampai. Zahwa nelpon Mas berkali-kali ga diangkat. Tapi ternyata Mama udah meninggal saat Zahwa dalam perjalanan, sengaja ga dikasih tau biar ga panik. Tapi sampe di rumah malah udah rame orang dan ada bendera kuning. Mas pulang ya segera, Mas harus sampe sebelum Mama dimakamkan" cerita Zahwa dengan terbata-bata.


"Innalilahi Wainnailaihi Rojiun" ucap Dafi sangat sedih, baginya Mamanya Zahwa udah seperti Ibunya sendiri.


__ADS_2