
"Assalamualaikum Fi" sapa Aa' Zay, ternyata Dafi video call.
"Waalaikumsalam... loh kok Aa' yang angkat ... saya ga salah pencet nomer kan ya?" kata Dafi memastikan.
"Ngga ... ini betul kok nomernya Qeena" jawab Aa' Zay.
"Kok HP nya sama Aa'? ketinggalan atau gimana ya A'?" tanya Dafi.
"Bentar ya ... " jawab Aa' Zay sambil memutar kamera HP nya kearah Qeena yang masih tiduran di bed periksa.
"Innalilahi ... Qeena kenapa A'? dia sakit?" tanya Dafi kaget.
"Kita juga belum tau kenapa dia begini. Tadi pas kita datang ke Klinik, dia udah pingsan di parkiran Klinik, ini juga baru sadar, masih kita observasi" jelas Aa' Zay.
"Kondisinya Qeena sekarang gimana A'?" tanya Dafi lagi.
Kelihatan emang Dafi agak risau, tapi dia tetap harus fokus karena sepuluh menit lagi dia akan presentasi ke para mitra statistik (para freelancer yang akan membantu proses pengumpulan data di lapangan).
"Secara medis ada luka dibagian tangan, robeknya ga dalam jadi ga perlu dijahit, sekarang pendarahan ditangannya udah berhenti kok. Tapi dari tadi siuman, dia terus megangin kepalanya, belum bisa ditanya ada apa sama kepalanya. Kalo dokWan bilang kayanya ini terkena benda tumpul, ga tau jatuh atau sengaja dibenturkan" jelas Aa' Zay.
"A' bisa minta tolong ga? saya ada di Bali sekarang, masih ada tugas yang harus saya selesaikan, secepatnya saya coba buat balik ke Jakarta" tanya Dafi.
"Minta tolong apa?" kata Aa' Zay.
"Kalo dia cerita kenapa bisa jadi kaya begini dan menurut Aa' ada tindak kejahatan, tolong dibantu lapor ke polisi dan dibuatkan visumnya. Kayanya ada yang ga beres ini. Setelah proses selesai, saya minta tolong untuk langsung diantar ke rumah aja. Disana banyak keluarga saya yang bisa urus. Kalo di Ciloto malah ngerepotin Aa' sekeluarga" pinta Dafi.
"Nanti ya kalo Qeena udah bisa diajak komunikasi, baru deh kita putuskan baiknya gimana" putus Aa' Zay.
Ga lama kemudian Saino dan Agung udah merapat di Klinik setelah ditelpon sama dokWan.
"Qeena ... udah mendingan sekarang?" tanya Aa' Zay pelan.
"Masih pusing sih A' ... saya mau pulang aja A' .. tolong anterin ke rumah Aa' ya" pinta Qeena.
"Kenapa bisa kaya gini sih Qeena? what happen... aya naon?" tanya Agung.
"Qeena mau pulang A' .. bisa kan tolong anterin?" kata Qeena lagi.
"Tadi Dafi telpon, dia tau kondisi kamu sekarang, malah minta kamu lapor polisi kalo ada tindak kejahatan yang baru aja menimpa kamu" ujar Aa' Zay.
"Ga kok A' ... Qeena mau tiduran aja, tadi jatoh aja, nanti kalo udah bangun tidur juga enakan" Qeena berbohong.
dokWan dan Agung yang mengantar Qeena pulang ke rumah Aa' Zay pake mobil. Aa' Zay bawa motor yang tadi dipake Qeena. Saino bawa motornya Agung.
"Ini motor ga ada masalah, kalo Qeena jatoh, pasti ga enak kan motornya. Ga ada tanda-tanda motor jatoh. Kayanya dia nutupin sesuatu nih. Ada yang ga beres dari ceritanya" pikir Aa' Zay sambil mengendarai motornya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
"Damar ... untung banget kamu ga jadi sama Qeena" ucap Mamanya ketika masuk ke kamarnya Damar tiba-tiba.
Mamanya lagi nginep di Ciloto buat mempersiapkan tempat menginap Neneknya Damar yang pengen tau Ciloto.
"Emang kenapa Ma?" tanya Damar.
__ADS_1
"Tadi Mama ngeliat Qeena lagi ngobrol sama seorang laki-laki paruh baya gitu. Ga taunya itu Bapak kandungnya Qeena. Yang lebih parahnya .. ternyata Qeena itu anak haram .. anak diluar nikah .. amit-amit punya mantu kaya gitu. Ga ada deh anak turunan kita serusak itu akhlaknya" cerita Mamanya Damar.
"Tunggu .. tunggu .. Qeena ada di Ciloto? kok Damar ga tau ya?" kata Damar.
"Ga tau deh, pokoknya tadi Mama liat dia di saung deket kebun mangga punyanya Aa' Zay" sahut Mamanya Damar.
"Damar mau kesana dulu" ujar Damar yang langsung mengambil kunci motor yang tergeletak di meja belajarnya.
"Damar .. Damar .. ngapain sih segala mau nyamperin .. Damar .. dia tuh udah jadi istri orang" ingat Mamanya Damar.
Ketika mau ke kebun mangga, Damar melintas didepan rumah Aa' Zay dan melihat Qeena dibantu jalan sama Agung. Buru-buru dia menuju rumah Aa' Zay.
"Ya Allah Qeena... kenapa begini?" tanya Erin sambil menuntun Qeena menuju kamar.
Para lelaki duduk bareng di ruang tengah rumah Aa' Zay. Mak Nuha dan Erin masih di kamar bersama Qeena.
"Ada yang janggal sih ini. Dia bilang jatoh, tapi motor baik-baik aja. Ya kali dia lagi jalan tiba-tiba jatoh sendiri. Lagian ga mungkin dong dia naik-naik ke pohon terus jatoh" analisa Aa' Zay sambil masih bingung.
"Apa ada hubungannya sama Bapaknya ya?" terka Damar.
"Bapaknya? Bapak kandungnya yang rada-rada itu? kok bisa mikir sampe situ sih, Aa' aja ga kepikiran" tanya Aa' Zay.
"Tadi Mama liat katanya Qeena lagi bareng sama lelaki separuh baya duduk di saung deket kebun mangga" jelas Damar.
"Mama kamu kok tau kalo itu Bapaknya Qeena? kan ga kenal dan ga tau cerita tentang Bapaknya Qeena" ujar Aa' Zay.
"Mama denger saat Qeena dan Bapaknya lagi cerita tentang masa lalu" jelas Damar.
"Bener tuh Mas Jay .. daerah sini mah aman dari tindak kejahatan, tadi pas liat kondisi Qeena, yakin ini mah pasti bukan jatoh tapi dianiaya. Ada ya Bapak segila itu, buat apa coba nyiksa anaknya" sahut Saino.
"Pantes ya Qeena bohong ... rupanya dia nutupin Bapaknya toh" ucap Aa' Zay sambil manggut-manggut.
"Terus gimana nih A'? mau lapor polisi?" tanya Damar.
"Mau hubungin Dafi dulu, dia kan suaminya, dia yang berhak memutuskan semua hal tentang Qeena" jawab Aa' Zay.
"Nah... ini tadi janji mau cerita tentang pernikahannya Qeena .. coba cerita" ujar dokWan penasaran.
"Gung... ceritain deh, mau nelpon Dafi dulu nih" kata Aa' Zay sambil masuk ke ruang kerjanya.
HP Dafi sedang disilent, jadi ga diangkat karena masih ada presentasi yang dia lakukan.
Selang lima belas menit kemudian, Dafi menelpon balik Aa' Zay.
"Assalamualaikum A' .. maaf ya tadi ga diangkat, saya lagi ada presentasi" sapa Dafi.
"Waalaikumsalam .. gapapa Fi .. Qeena sekarang lagi diurus nih sama Erin di rumah. Belum mau cerita apa yang terjadi sama dia. Saya langsung aja ya, tadi ada saksi mata yang melihat kalo Qeena lagi sama Bapaknya, kemungkinan ada keributan kali ya diantara mereka jadinya kaya gini. Ini mah prediksi saya aja ya" kata Aa' Zay.
"Qeena ga mau lapor polisi?" tanya Dafi.
"Ga mau .. tadi di Klinik langsung minta diantar pulang" jelas Aa' Zay.
"A' ... mau ngerepotin nih saya. Disana ada mobil sewa yang bisa antar Qeena dan Mak Nuha ke rumah saya ga ya? nanti saya bayar A' ongkosnya. Soalnya saya khawatir kalo dia disana dan Bapaknya masih berkeliaran juga disana" kata Dafi.
__ADS_1
"Bukannya lebih aman disini, ada kami-kami yang jaga. Kalo disana bukannya kamu udah pisah rumah sama orang tua?" tanya Aa' Zay.
"Iya A' .. tapi sebelahan kok rumahnya. Disana kan banyak juga pekerja yang bisa saya minta tolong jagain mereka, jadi aman A' .. tapi saya ga habis pikir sih buat apa Bapaknya nyiksa Qeena?" ucap Dafi.
"Uang mungkin ga sih?" ujar Aa' Zay.
"Kalo uang .. kenapa telepon saya ga diterima, lagian ga punya nomernya Qeena kan Bapaknya" lanjut Dafi.
"Ada masalah lain?" tanya Aa' Zay lagi.
"Ini kayanya berhubungan sama Mak Nuha deh, jadi alasan deketin Qeena lagi buat cari dukungan. Pasukan galon A' .. gagal move on dari mantan" kata Dafi.
"Semoga bisa ada jalan keluar yang baik ya, ga perlu pake kekerasan kaya gini. Ini kan masalah keluarga yang bisa dibicarakan secara baik-baik. Oke deh Fi .. jadi fix ya Qeena dan Mak Nuha dibawa balik ke Jakarta? Aa' mah terserah sama kamu, kan kamu suaminya" tanya Aa' Zay menyakinkan.
"Ya A' .. maaf merepotkan. Berapa ya A' biaya ongkosnya? nanti saya transfer ke Aa' aja ya" kata Dafi.
"Kaya sama siapa sih Fi .. pokoknya tenang aja .. Mak mertua sama istri akan aman sampe di Jakarta, Aa' sendiri yang akan antar sampe depan pintu rumah" janji Aa' Zay.
"Jadi merepotkan nih A' .. gapapa kok diantar sama supir, atau saya kirim aja ya orang rumah buat jemput mereka?" tawar Dafi.
"Udah gapapa .. sekalian mau liat rumah pengantin baru" jawab Aa' Zay.
"Masih banyak kosongnya A' .. monggo kalo mau singgah, tapi ga sebesar rumah Aa' di Ciloto, maklum A' .. baru mampunya bikin rumah seperti itu" kata Dafi merendah.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Aa' Zay mengantarkan Mak Nuha dan Qeena bersama Erin dan anak-anak. Sekalian mau main ke rumah Pak Shaka karena anak-anak masih libur sekolahnya.
Melihat tangga rumah, anak-anak malah sibuk naik turun, karena di rumah ga ada tangga. Aa' Zay memang ga bikin rumah tingkat karena pertimbangannya masih banyak lahan dan punya anak kecil.
"Belum rapih bagian atas A' .. masih kosong melompong. Lagi di cat juga itu ruangannya" ucap Qeena.
"Enak tapi ini rumahnya, ga besar luas tanah tapi terkesan luas karena modelnya terbuka tanpa sekat gini. Tadi Aa' liat bagian atas kaya privasi banget ya, ada satu kamar luas sama ruangan terbuka aja" puji Dafi.
"Ga tau A' saya mah. Wong datang kesini rumahnya udah jadi kaya ginu, dulu waktu pergi dari sini ya bentuknya masih tanah" ujar Qeena.
"Beruntung kamu Qeena dapet jodoh kaya Dafi, udah langsung tanggung jawab kasih kamu tempat tinggal" puji Erin.
"Terus suami kamu ini ga tanggung jawab apa?" tanya Aa' Zay merasa tersindir.
"Aa' lupa ya, waktu kita nikah siri kan tinggal juga kepisah di Bakulan Bunda" jawab Erin.
"Ya kan kemampuannya beda" kata Aa' Zay.
"Sama aja A' .. tapi tipenya Dafi ini lebih well prepare .. ga grusa grusu kaya Aa' .. jadi semua ada dulu walaupun calonnya belum ada" sahut Erin.
"Kata siapa ga ada, kan Dafi emang rencana nikah sama pacarnya abis lebaran ini. Panteslah kalo udah siapin rumah, bukan sengaja nyiapin. Malah kayanya ini sengaja dikebut, biar pas nikah udah punya rumah. Kan pengantin baru maunya privasi" lanjut Aa' Zay.
Qeena merasa sedikit terasa jleb juga pas Aa' Zay ngomong begitu. Benar emang apa yang Aa' Zay bilang kalo rumah ini adalah rumah masa depan Dafi yang disiapkan buat Zahwa yang rencananya akan dinikahi setelah lebaran ini.
Rupanya Aa' Zay menangkap perubahan wajah Qeena.
"Maaf ya Qeena ... ga ada maksud Aa' menyinggung perasaan kamu. Maaf banget kalo Aa' kelepasan ngomong .. toh Dafi udah membuka rumahnya buat kamu kan .. berarti dia emang udah menentukan pilihan kalo kamu adalah permaisuri di rumah ini" buru-buru Aa' Zay bicara kaya gitu agar Qeena bisa memaklumi perkataannya tadi.
__ADS_1