ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 259, Masih Napak Tilas


__ADS_3

Qeena dan Dafi menyusuri jalan yang dulu mereka lewati saat survei. Kalo di kampung itu bisa dibilang hubungan kekerabatan masih dekat. Banyak yang punya hubungan saudara tapi saudara jauh. Qeena banyak menjumpai orang-orang yang bercerita kalo mereka masih punya hubungan kekerabatan sama keluarga Mak Nuha.


Di kampung sini udah jarang para pemuda, mereka banyak pergi ke Ibukota buat mengadu nasib.


"Qeeenaaaa...." panggil seseorang dari arah belakang.


Dafi dan Qeena nengok ke belakang.


"Kuncoro .." kata Qeena pelan.


"Wah lagi pada jalan-jalan santai nih" ujar Kuncoro.


"Iya .. lagi nginep di rumah Mbah, terus Mas Dafi pengen muter-muter, sekalian olahraga" jawab Qeena.


"Naik motor dong .. kaya gw nih, hellooo udah jaman diatas milenial masih aja olahraganya jalan kaki, main dong ke gym" sombong Kuncoro dengan motor matic besar, keluaran model terbaru berwarna hitam yang ditempel Scotlight gambar bintang, ada inisial K ditengah motor, seperti logo Superman.


"Keren motornya" puji Dafi.


"Iya dong Mas .. ini kan model terbaru, liat nih ditempel gambar bintang biar makin bersinar, nih juga ada inisial K .. Kuncoro man" jawab Kuncoro.


"Udah berhasil jadi petani Kun? widih .. cepet banget, kayanya baru beberapa bulan disini" ucap Qeena.


"Kepo yaaa.... " goda Kuncoro.


"Biasa aja, wajar dong putra daerah bisa berhasil membangun daerahnya sendiri. Kalo kamu berhasil kan bisa jadi barometer kehidupan para remaja laki-laki disini. Biar ga pada pindah ke Jakarta buat mengadu nasib, mending bangun daerah sendiri" papar Qeena.


"Bener juga sih pendapatnya, tapi selagi ada jalan yang gampang, ngapain harus yang susah" lanjut Kuncoro.


"Ga ngepet kan Kun?" selidik Qeena.


"Coy .. coy... amit-amit deh segala ngepet, muja dan lain sebagainya. Ini kerja keras dan kerja cerdas dong" ucap Kuncoro.


"Kerja apa Kun?" tanya Qeena.


"Jadi mantunya Koh Rudi" jawab Kuncoro santai.


"Hahhhh? terus kalian beda agama gitu?" tanya Qeena kaget.


"Lelaki muslim mah boleh nikah sama siapa aja, kalo cewenya yang muslim baru ga boleh" jawab Kuncoro dengan pedenya.


"Ga percaya deh ... kamu sama Ci Agnes? beneran? kok ga denger beritanya" tanya Qeena meyakinkan.


"Anaknya Koh Rudi yang cewe emang siapa lagi .. kita nikah di Kampung Koh Rudi di Kalimantan sana, wah pesta mewah pokoknya. Dari sini keluarga inti doang" kata Kuncoro lagi.


"Kok bisa sih? kok Mbah ga cerita ya?" ujar Qeena makin ga percaya.


"Kalo orang udah cinta mah.. mau bilang apa? J O D O H ... jodoh" ucap Kuncoro.


"Ci Agnes itu seleranya tinggi loh Kun. Maaf ya Kun bukan nyepelein kamu, tapi ah.. udah deh, selamat ya buat kamu sama Ci Agnes" ujar Qeena.


"Dua minggu yang lalu kita nikahnya kok, disini mah udah rame, Mbah kamu aja yang di rumah aja jadi ga denger berita heboh, fantastis, bombastis di Kampung sini" jawab Kuncoro.


"Iya sih .. Mbah di rumah aja" kata Qeena.


Dafi dari tadi cuma senyum-senyum aja. Qeena dengan pandangan aneh karena Kuncoro bisa nikah sama Agnes. Kuncoro pun bak ga menapak bumi, sombongnya luar biasa karena menjadi menantu dari Koh Rudi, pemilik warung kelontong yang terkenal seantero kampung dan termasuk salah satu orang terkaya di kampung ini.


Agnes ini putri tunggal Koh Rudi, juragan sembako dan warung kelontong di kampungnya Qeena. Dari dulu terkenal banget sama gayanya yang kaya princess dan jutek. Umurnya lebih muda satu tahun sama Qeena.


"Ci Agnes emang ga lanjut kuliah? dia kan punya biaya buat sekolah tinggi, kenapa malah pulang kampung kesini?" lanjut Qeena.


"Neng ... kenapa sih kaya mulutnya netijen aja, nyinyir terus. Biarin aja sih kalo Kuncoro nikah sama anaknya mantan Boss kamu. Masalahnya dimana? adanya tuh sebagai teman ya mendo'akan agar rumah tangga mereka samawa. Emang kenapa sama Kuncoro sampe kamu heran dia menikah sama wanita seperti Agnes? ada yang salah? kalo udah dikasih jodohnya begitu sama Allah gimana?" potong Dafi.


"Aih bener banget nih omongan Mas nya .. tuh Qeena dengerin apa kata suami yang pinter dan open minder ini" ucap Kuncoro sok.


"Open minder?" tanya Dafi.


"Iya yang punya wawasan luas gitu sama punya pandangan dari segala sisi ke segala arah" jelas Kuncoro.


"Itu mah open minded Kunnnnn" jawab Qeena gemes.


"Beda r sama d doang" ucap Kuncoro.


"Biar beda satu huruf juga beda arti" timpal Qeena.

__ADS_1


Qeena akhirnya tersenyum walaupun dipaksakan.


"Udah yuk Neng .. kan kita mau muter-muter, keburu panas nanti. Kita jalan dulu ya Kun" ajak Dafi.


"Iya Mas .. jangan lupa nanti mampir ya ke warung Koh Rudi" ingat Kuncoro.


"Manggil masih Koh Rudi aja .. Bapak mertua kamu kan sekarang" jawab Qeena.


"Ya kan orang sini taunya warung Koh Rudi bukan Bapak Rudi" ngeles Kuncoro.


🌺


Rupanya Dafi memang merencanakan buat ke warung Koh Rudi. Sebagai napak tilas kehidupan Qeena.


Sesampainya di warung Koh Rudi, Qeena menyapa Koh Rudi yang lagi duduk di teras rumahnya yang bersebelahan sama warung.


"Ya ampun Qeena, makin kinclong aja. Maaf ya waktu Lu nikah ga datang, kita lagi pulang kampung, abis itu juga kalian ga balik kesini" ujar Koh Rudi.


"Gapapa Koh, sekarang udah santai nih banyak anak buah" basa basi Qeena.


"Ya .. " jawab Koh Rudi.


Sekilas Qeena melihat Ci Agnes lewat dan Qeena ga berani menyapa duluan, inget dulu saat kerja dia sering kena omel Ci Agnes.


Qeena juga ga nanya tentang Kuncoro ke Koh Rudi, karena biarlah menjadi privasi mereka. Qeena, Dafi dan Koh Rudi lebih napak tilas ke masa lalu. Antara Qeena dan Koh Rudi juga saling berterimakasih atas kenangan dulu saat masih bekerjasama.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Pak Shaka main ke rumah Qeena, mengambil hampers kue kering yang sudah dipesan. Qeena juga sudah merapihkan hampers yang dia buat dalam wadah keranjang kekinian, yang nantinya bisa buat tempat meletakkan koran atau berkas bahkan bisa buat wadah bumbu.


"Oh jadi Qeena sama Dafi lagi honeymoon toh, ga bilang dia, cuma bilang hampers bisa diambil ke rumah tapi dia ga ada lagi pergi" jawab Pak Shaka setelah diberitahu sama Mak Nuha.


"Ya .. mumpung Mas Dafi bisa libur, lama kan mereka banyak terpisah jarak, mungkin mau makin mempererat hubungan mereka" kata Mak Nuha.


"Kamu sama Imah mau gabung ga ke Ciloto? kumpul bareng disana buat tahun baruan, ya sekedar kumpul aja. Aa' Zay mau nyewa layar tancep" ajak Pak Shaka.


"Ga ada rencana apa-apa sih, ya paling kumpul bareng aja disini" sahut Mak Imah.


"Ya udah ikut aja, nginep di rumah Aa' Zay" tawar Pak Shaka.


"Ajak semua juga boleh, nanti saya keep satu villa buat keluarga sini kalo mau" jawab Pak Shaka.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Malam harinya...


"Neng... ini kamar kamu dulu ya, sengaja Mas minta khusus sama Mbah biar ga di renovasi, cuma dipakein pintu aja sekarang, dulu kan tirai doang, besarnya ga berubah, tempat tidur besi singlenya pun masih sama tapi dicat ulang. Masih sama kan... ini lemari baju kecil, kaca gantung, lampu tidur dari Ayah, kotak dandan (beauty case) dari Fajar dan tas dari Mas masih ada. Kita tidur disini malam ini" kata Dafi.


"Ini kan ranjang tua Mas, mana kuat, udah gitu single pula, emang kita mau tidur numpuk-numpuk?" kata Qeena.


"Mau numpuk? Ide bagus kayanya, bener deh Mas ga kepikiran sampe begitu .. hehehe" ledek Dafi sambil senyum nakal.


"Otaknya mesum deh kalo denger kata numpuk-numpuk" timpal Qeena.


"Kamu kali yang pikirannya kesana mulu ... Mas tidur dibawah, kamu diatas ya" jelas Dafi.


"Kamar sebelah kosong Mas, bisa kita tidur disana" usul Qeena.


Dafi ga mau pindah walaupun seluruh keluarga meminta mereka pindah ke kamar sebelah. Qeena masih ngobrol sama Dafi yang tidur beralas karpet tipis.


"Mas gapapa tidur dibawah?" tanya Qeena meyakinkan.


"Gapapa... i'm okay, dulu malah di pesantren tuh asal gletak aja. Kadang tidur di saung, dipelataran masjid, ya dimana aja lah jadi yang penting bisa merem. Pernah malah tidur di lemari karena niat bolos. Kan kalo jam pelajaran, semua kamar di cek sama pengawas, khawatir masih ada yang tidur. Jadinya Mas tidur aja di lemari baju, ya tidur sambil duduk gitu" kata Dafi.


"Nakal juga ternyata" ledek Qeena.


"Ya kadang bosan aja, paling kalo ketauan disuruh ngosrek kamar mandi. Alhamdulillah kalo Mas ga pernah ketauan. Teman Mas ada tuh yang ketauan" kenang Dafi.


🌺


Dafi sudah terlelap tidur, mungkin kelelahan. Qeena masih memperhatikan wajah Dafi yang sudah tertidur pulas, setelah merasa ngantuk, Qeena membalikkan badannya dan melihat ke langit-langit kamar. Masih sama, ada glow in the dark pemberian Damar berbentuk bintang-bintang kecil disana. Walaupun sudah dirapihkan langit-langitnya, bintang itu ga dibuang. Teringat ucapan Damar saat dia memberikan bintang itu ke Qeena.


"Pada sang bintang kita belajar. Tentang arti sebuah kesetiaan. Cahayanya ga pernah lelah bersinar. Sekarang susah melihat bintang, bukan berarti ia tiada. Ia masih saja setia menemani langit malam. Hadirnya itu selalu ga pernah absen. Ia tak jengah bersinar, meski cahayanya terampas oleh bias sang rembulan" ucap Damar saat itu.

__ADS_1


Qeena tersenyum melihat bintang itu.


Qeena mengambil HP nya, ada undangan digital yang terkirim ke medsosnya. Qeena ga menjawab chat pribadi di medsosnya, Tapi malam ini, dia akan meminta maaf ke Damar. Menyelesaikan apa yang seharusnya sudah tersampaikan dari lama. Qeena tampak serius mengetik sesuatu di HP nya.


"Assalamualaikum.. Kak Damar.. terimakasih untuk bintangnya, walaupun dikegelapan, sinar redupnya selalu tampak. Terimakasih atas persahabatan luar biasanya hingga hari ini, terimakasih atas segala nasehat dan bantuan moralnya. Maafkan Qeena yang mengingkari janji diantara kita. Ketika takdir berkata lain atas janji kita, saat itu Qeena merasa jadi pecundang. Tapi kini Qeena bahagia lahir batin menjadi istri Mas Dafi. Semoga Kakak mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari Qeena. Maaf kalo selama ini ga merespon pesan Kakak .. maaf kalo nantinya Qeena akan ga banyak respon pesan Kak Damar. Bukan dilarang sama Mas Dafi, tapi sadar akan posisi Qeena sebagai seorang istri. Sehat selalu dan sukse ya Kak. Jadilah bintang yang tampak kecil tapi selalu setia betebaran di langit. Kakak adalah sabahat terbaik yang pernah Qeena punya" ketik Qeena.


Pesan langsung terbaca. Dan langsung dibalas sama Damar dan di like tanpa ada kata-kata.


"Alhamdulillah.. akhirnya Kak Damar akan menikah" ucap Qeena dalam hati.


"Neng...kok belum tidur" tiba-tiba Dafi udah duduk disampingnya.


"Ini baru mau tidur" jawab Qeena langsung mematikan HP nya.


"Tidurlah.. besok Mas mau muter-muter L


Kampung lagi. Masih banyak kenangan di Wonogiri kan?" ucap Dafi.


"Napak tilas terus nih ceritanya" kata Qeena.


"Ya.. tapi ya Neng .. Mas heran juga sih kenapa waktu itu, Mas melihat kamu layaknya melihat wanita pada umumnya, malah Mas anggap kamu anak kecil aja. Ga ada rasa jatuh cinta sama sekali, hanya ada sedikit kagum aja" ucap Dafi sambil tersenyum.


"Cowo tuh gengsi kalo suruh ngaku suka duluan sama cewek" kata Qeena.


"Kata siapa Mas gengsi... bener deh, yang terlintas saat itu malah beruntung jadi Fajar atau lelaki lain yang kelak jadi suami kamu. Perpaduan wanita strong tapi lugu dan polos. Lucu kan berdampingan sama orang yang sok kuat tapi nyatanya cengeng banget" bisik Dafi.


"Hhmmm, kalo udah mulai bisik-bisik pasti ada maunya" kata Qeena pelan.


"Pastilah ada maunya, bagaimana mungkin melewatkan malam tanpa menyentuhmu Neng" rayu Dafi yang mulai memeluk.


Namanya juga ranjang jadul dan dari besi pula, bunyinya seakan mengisyaratkan ada sebuah gerakan yang terjadi diatas ranjang. Karena keduanya khawatir ranjang jebol dan jadi bahan tertawaan keluarga dengan bunyi kriyet-kriyetnya, akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan kemesraan mereka diatas karpet.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Kembali Fajar dibikin pusing sama Alifa, selepas jaga pagi sampe sore, baru aja mau merebahkan tubuhnya, Alifa minta ke Monas. Katanya mau foto didepan Monas dan naik ke puncaknya dan mendengar teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno.


Bener aja prediksi Bu Fia kalo Fajar orangnya ga sabaran ngadepin istri yang ngidam, adanya Fajar malah melanjutkan tidur sedangkan istrinya nangis dipojokkan.


Alifa menelpon orang tuanya dan diberikan pengertian kalo seorang dokter itu beda sama pegawai. Pekerjaannya bisa ga terduga, ada kalanya sepi, tapi ada kalanya banyak pasien dengan bermacam kondisi. Jadi Alifa harus paham dan ga banyak nuntut banyak hal ke Fajar.


Bu Fia yang akhirnya menuruti ngidamnya Alifa, sekalian mengajak Rian juga. Lumayan bisa hunting foto di Monas. Sekarang kalo pergi, Bu Fia selalu mengajak Rian agar ga bosan di rumah aja.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Sesi napak tilas di Wonogiri usai sudah, dua hari dua malam disana, cukup buat mengingat memory Qeena dan Dafi. Next mereka tadinya akan Jambi, tapi dibatalkan karena Dafi merasa yang punya kenangan hanya dia, bukan Qeena.


Mereka lanjut ke Semarang, Dafi memesan hotel dan kamar yang sama saat dulu dia menghabiskan banyak waktu setelah menikah secara negara sama Qeena. Bahkan mengambil paket honeymoon. Kamar dihias dengan sangat apik, berbeda dengan dulu tapi aura romantisnya masih terasa.


🌺


Ceritanya mau berendam bareng, saling membersihkan punggung dengan spons mandi yang sudah disediakan. Tapi batal karena tiba-tiba Qeena bolak balik buat buang air kecil. Akhirnya Dafi membatalkan rencana berendam karena ga asyik aja liat Qeena keluar masuk bathtub. Ketika akan memulai bermesraan ditempat tidur pun sama aja, Qeena bolak-balik pipis.


"Kenapa sih Neng? Kok pipis mulu, kebanyakan minum atau gimana sih?" tanya Dafi heran.


"Kayanya ga banyak minum, tapi tadi banyak makan semangka, abis enak banget semangkanya, manisnya pas" jawab Qeena.


"Abis pipis jangan lupa minum, adanya kamu malah kurang cairan" usul Dafi.


"Ini nih kalo bukan medis sok ngomong medis. Emang kalo pipis mulu bisa kurang cairan, berguru dulu deh sama adiknya, jangan sotoy please" ledek Qeena.


"Whatever lah, Mas mending tidur aja, udah ga mood buat lanjut tempurnya" jawab Dafi.


"Anyang-anyangan kali ya Mas?" tanya Qeena.


"Itu sakit jenis apa sih? Mas baru denger deh. Tunggu ya Mas telepon dokter pribadi dulu" kata Dafi.


"Emang Mas punya dokter pribadi?" tanya Qeena bingung.


"Lah Fajar kan dokter pribadi.. hehehehe" ucap Dafi.


Qeena menyampaikan keluhannya ke Fajar, Dafi hanya mendengarkan aja karena pake loud speaker. Fajar menyarankan untuk ke dokter aja. Ada kemungkinan kebanyakan jalan dan kurang minum atau kebanyakan duduk ketika berkendaraan.


"Oke deh... makasih ya Mas" ucap Qeena.

__ADS_1


"Bilangin sama Paksu .. jangan kebanyakan nambah mulu, kasian atuh Pak istrinya. Mentang-mentang honeymoon .. hahaha" canda Fajar.


__ADS_2