ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 266, Berita menggelegar


__ADS_3

Sejak Qeena hamil, Fajar jadi banyak berubah. Kalo dulu dia bisa santai menghadapi kehamilan Alifa, tapi kali ini ga bisa karena ga mau Alifa merasa ga mendapatkan perhatian seperti Qeena. Dia ingin Alifa bisa menjalani kehamilan dengan bahagia tanpa rasa iri terhadap Qeena.


Alifa juga sudah mulai membantu Qeena sebagai admin medsos, mengingat Dafi sangat overprotektif terhadap Qeena sampe ga boleh banyak megang HP dengan alasan radiasi. Sebagai penjual kue dengan basic dagang di dunia online pastinya sangat tergantung pakai gadget.


Toko kue yang sekarang sudah beroperasi juga masih mendisplay orderan-orderan online. Qeena belum berani stok banyak kue karena belum tau apa kue tersebut laku atau ga sebelum expired date. Masih meraba tren pembelian konsumen yang ke toko kuenya karena yang dijual disana kebanyakan adalah produk homemade yang pake bahan berkualitas tinggi dan lebih banyak mengarah ke kue sehat. Jadi dari segi harga bisa tiga kali lipat dibandingkan kue dipasaran. Dari segi rasa pun terkadang ada yang ga familier dilidah karena memakai jenis tepung yang berbeda.


Biasanya Qeena melebihkan produksi hanya sekitar satu loyang aja. Misalkan ada orderan bolu jadul sepuluh loyang, maka akan membuat sebelas loyang, yang satunya untuk display, kalo tutup toko kue belum ada yang beli, biasanya dipotong sama Rida dan dibagikan ke Security atau para pengemis yang melintas didepan ruko. Sebenarnya daya tahan kue seperti bolu buatannya bisa tahan tiga hari disuhu ruang, tapi Qeena ga mau ada kue yang menginap semalaman, jadinya langsung harus habis dihari yg sama.


🏵️


Peralatan dapur produksi yang modern membuat proses pengerjaan menjadi banyak terbantu oleh mesin. Untuk roti udah ada mixer khusus untuk adonan roti, jadi ga perlu diulenin secara manual dan pastinya menghemat tenaga.


Untuk pembuatan selai juga sama, Qeena memesan mesin khusus pengaduk, sehingga adukannya akan berputar terus jika aliran listrik dinyalakan, jadi ga cape lagi tangan mengaduknya, proses pengadukan selai bisa disambi buat cetak kue kering. Oven listrik yang besar membuat bisa masuk banyak kue dan matang secara merata dalam proses pembuatan roti dan kue keringnya.


Mas Narto datang membawa toples kue yang diorder Qeena ditempat biasa dan diantar ke rumah. Toples tersebut disusun rapih dibagian pojok dapur produksi. Qeena masih merapihkan kue kering yang sudah matang sambil nunggu proses pemanggangan selanjutnya.


Qeena sudah tampak cekatan merapihkan orderan sehingga semua orderan bisa selesai pada sore hari.


Qeena meluruskan tubuhnya di sofa depan TV rumah Bu Fia, karena tadi ngobrol sama Rian disana. Dafi yang dari tadi sibuk sama HP nya, lagi penawaran mengenai mobil bekas milik temannya yang akan dimasukkan sebagai penghasilan pesantren. Jadi penghubung antara temannya yang di Jakarta sama pihak pesantren. Temannya Dafi belum bisa percaya kalo bukan Dafi, karena belum kenal sama pengurus pesantren.


Qeena terlelap karena lumayan berasa cape. Dia ketiduran di sofa. Dafi yang melihat langsung menghampiri dan duduk di karpet bawah sofa.


"Ga ilang istrinya Mas.. segala lagi tidur ditungguin kaya gitu" ledek Izma.


"Cape banget dia keliatannya... pules begini tidurnya, tolong ambilin bantal sama selimut di kamar Bunda dong, biar dia nyaman" pinta Dafi.


Izma mengambilkan bantal dan selimut. Bu Fia yang baru selesai menggoreng pisang di dapur, langsung ikut bergabung didepan TV.


"Mas... dulu pas Bunda hamil, Ayah ga kaya gitu banget jagainnya. Sayang dan perhatian sih, tapi ya ga nungguin orang lagi tidur. Alamat puyeng deh Bunda kalo kamu juga minta kami semua jagain Qeena kaya kamu jagain dia. Ga mungkin kan kita tungguin kalo Qeena lagi tidur, nyuapin kaya kamu tadi sambil Qeena nyetak adonan, mijitin... ah pokoknya kamu mah ribet. Bunda nih hamil empat kali emang sangat dimanja, tapi ya ga kaya kamu gini. Sekedar dipijitin kalo mau tidur sama dibeliin makanan yang kita mau. Padahal Qeenanya juga ga mau kan Mas perlakukan kaya gitu. Bumil itu orang sehat bukan orang sakit, jadi ga usah terlalu over. Sayang boleh tapi kalo kebangetan ya malah bikin sebel. Udahlah Mas, Qeena itu pandai, dia tau apa yang harus dia lakukan. Bunda yakin dia bisa baca dari internet dan mendengar pengalaman dari kami semua tentang kehamilan" nasehat Bu Fia.


"Tapi kayanya kasian aja kalo dia sampe lupa makan, sekarang yang makan kan dua orang. Dia juga pasti masih semangat ngenalin tokonya biar rame" jawab Dafi.


Orang bilang rejeki bayi, dagangan Qeena laris manis oleh para pejabat ditempat Dafi kerja karena yang justru mengenalkan produknya Qeena adalah istri pimpinannya Dafi. Kalo Dafi masih merasa belum paham dunia kuliner jadinya ga bisa masarin ke para istri pejabat. Selain itu rekanan Bu Fia yang kebanyakan ekspatriat pun udah rutin memesan. Menurut mereka, produk Qeena bisa lebih murah harganya dibanding toko kue ternama tapi rasa dan kualitasnya sama. Pak Shaka pun bisa dibilang sekarang seperti reseller, beliau menjual kembali ke rekan-rekannya tapi pengiriman langsung dari Qeena. Biasanya Pak Shaka deposit sejumlah uang dulu untuk lebih dan kurangnya akan dihitung per Minggu agar ketauan jelas laporan keuangannya.


Untuk kalangan high class yang mementingkan asupan makanan yang sehat, menjadikan kue kering serta kue basah buatan Qeena sangat cocok sebagai kudapan dalam gaya hidup keseharian mereka.


Jagoannya tetap roti gandum dan selai srikaya serta preserved buah, produk ini selalu dinanti jika open PO. Bagi kalangan high class, harga bagi mereka menjadi nomer kesekian, karena kesehatan menjadi poin nomor satunya. Jangan ditanya bawelnya Dafi tiap hari kalo pas video call dan posisi Qeena lagi di dapur, terlibat aktif dalam produksi, pasti banyak wejangan terlontar dari bibirnya.


Rupanya si janin pun udah kecanduan dekat sama Ayahnya, kalo pas weekend Dafi di rumah, Qeena kadang ga produksi, bukan sekedar dibatasi tapi kalo ada Dafi bisa hampir seharian peluk-pelukan aja kaya ga mau pisah. Qeena tuh lucu, kalo Dafi ga ada di rumah malah segar dan tampak bugar, tapi kalo ada Dafi malah jadi gampang cape dan lemas.


Rejeki Dafi rupanya harus bertempat tinggal jauh dari keluarga, saat ini dia akan diperbantukan ke Serang, Banten. Setelah diskusi sama Qeena akhirnya diputuskan weekday Dafi akan di Serang, sedangkan weekend pulang ke rumah. Qeena udah ga bisa ikut Dafi lagi karena ada tanggung jawab toko kue yang harus dia kembangkan.


🌺


Fajar pun sedang dalam tahap mencari kampus untuk melanjutkan program spesialis. Kehamilan Alifa pun berjalan lancar, karena Alifa anak bungsu, semua kakak-kakaknya jadi sangat perhatian, dalam semingu pasti ada aja yang main ke rumah Bu Fia untuk menjenguk Alifa.

__ADS_1


Orang tuanya Alifa juga makin bahagia karena Fajar bisa mengikuti jejak menjadi dokter spesialis penyakit dalam. Fajar pun banyak berubah setelah sering dinasehati Dafi buat lebih perhatian ke istrinya.


💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐


Dafi udah hampir dua pekan ini ditempatkan di Serang. Dia tinggal bersama karyawan lainnya yang lelaki di mess belakang kantor.


Tapi berita malam ini benar-benar mengguncang kebahagiaan keluarga besar Dafi. Rian meninggal dunia.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Sepulang ikut hunting foto ditemani sama Mas Narko bersama komunitas fotografinya, Rian pamit tidur karena lelah kebanyakan jalan. Karena belum mandi, Bu Fia berniat membangunkannya, tapi begitu disentuh tangannya, langsung lemas ga ada tenaga.


"Rian .. Rian ... " panggil Bu Fia sambil mengguncang tubuh Rian.


"Rian ... Rian ... bangun .. mandi dulu .. Rian" kata Bu Fia lagi.


Ga ada respon dari Rian.


"TOLONGGGGG .... TOLONGGG" teriak Bu Fia yang udah panik.


Orang-orang yang ada di rumah Bu Fia langsung ke kamarnya Rian.


"Bu .. ini bawa ke Klinik dulu aja, kaya orang pingsan" ide Mba Parti.


"Ayo cepet angkat .. ayo" ujar Bu Fia yang udah ga bisa mikir.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Alifa segera menelpon Fajar, Qeena yang tadi kaget dengar keramaian dibawah, buru-buru turun tangga walhasil sekarang perutnya berasa kram.


Mak Imah dan Mak Nuha menenangkan Qeena yang udah nangis melihat kondisi Rian, ditambah perutnya juga sakit. Mereka duduk di teras rumah Bu Fia.


"Mas Rian Mak ... Mas Rian" ucap Qeena.


"Kita do'ain aja Rian gapapa ya" saran Mak Nuha menahan tangisnya.


"Mak .. telpon Mas Dafi Mak ... Mas Rian ... Ya Allah kenapa Mas Rian" ujar Qeena.


Mak Nuha menelpon Dafi, sedangkan Mak Imah mengelus perutnya Qeena.


Alifa pun sedang didampingi sama Mba Parti, memasuki usia kandungan minggu ketiga puluh empat, perut sudah terasa berat dan bergerak pun serba terbatas.


Rasa kaget dan panik melihat kondisi Rian, membuat tubuh Alifa jadi lemas. Fajar pun bilang akan langsung pulang karena jadwal prakteknya sudah selesai. Sekitar tiga puluh menit akan tiba di rumah.


🌺

__ADS_1


"Sekarang Mak tolong perhatiin Qeena aja, Mas mau coba hubungi Bunda atau Mas Narko. Tetap tenang ya Mak di rumah" ujar Dafi menenangkan.


Hatinya Dafi sedari kemarin emang udah ga enak. Rasanya lemas aja. Ga sengaja pula foto keluarga yang ada di meja kerja Dafi jatuh tadi pagi saat dibersihkan sama OB. Fotonya sudah dimasukkan ke map sama Dafi, bingkai foto yang pecah sudah dibersihkan. Tapi Dafi masih merasa deg-degan yang sulit dia definisikan.


"Ya Allah ... ada apa ini" ucap Dafi.


Dafi menghubungi Mas Narko dan Bu Fia tapi ga ada yang angkat. Rupanya mereka ga bawa HP, saking paniknya langsung jalan ke Klinik. Bu Fia juga ga bawa uang.


💐


Izma menyusul ke Klinik naik motor, dia bawa dompet Bu Fia dan HP. Saat dia datang. Bu Fia tengah duduk di lantai depan ruang periksa. Air mata sudah membanjiri kedua pipinya tapi tangisnya nyaris ga terdengar karena merasakan kesedihan yang amat dalam.


"Bun ... " sapa Izma.


Bu Fia langsung merangkul Izma.


"Rian meninggal ..." lirih Bu Fia bicara dalam tangisnya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun..." jawab Izma nyaris ga bersuara.


Keduanya pun menangis berdua, kondisi Klinik ga terlalu ramai.


🌺


Mas Narko diminta buat pulang duluan dan berkoordinasi sama lingkungan sekitar, nanti Izma yang akan bawa mobil dan pulang bareng Bu Fia.


Fajar pulang praktek langsung menuju Klinik, dia pula yang meminjam ambulance untuk membawa jenazah Rian dari Klinik karena disana ga tersedia ambulance.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️


Rian seperti punya firasat. Semua project video dan foto buat dagangannya Qeena udah selesai dia edit dan dirapihkan dalam satu folder, Qeena my hero. Betapa seorang Rian menyadari kalo Qeena lah yang paling berjasa dalam hidupnya hingga dia bisa menemukan apa yang dia sukai dalam hidupnya.


Rian sudah mengirimkan informasi tersebut ke Qeena lewat chat.


#Qeena my hero .. liat folder di laptop ya#


Pesan yang dikirim begitu Rian sampe rumah, sesaat sebelum dia meninggal dunia.


Ga cukup itu aja. Minggu lalu Rian meminta Bu Fia untuk diantar ke toko perlengkapan bayi, dia tau kalo punya uang dari hasil lomba-lomba dan bayaran dari beberapa orang yang memakai jasanya memoto produk lewat komunitasnya. Dia emang ga paham tentang uang, tapi semua diatur sama Bu Fia.


Ditoko bayi tersebut, dia membelikan perlengkapan buat anaknya Fajar dan Alifa. Rian belum tau kalo Qeena juga tengah mengandung, karena yang dia tau kalo hamil itu perutnya besar seperti Alifa.


Teringat seminggu belakangan ini Rian selalu menghubungi semua keluarga, dia lagi senang membaca dan menulis, jadi lagi merasa terbantu komunikasi lewat pesan di HP. Berulang kali dalam chatnya dia bilang buat jagain Bu Fia dan keluarga.


⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️⬅️

__ADS_1


"Mencoba ikhlas dan mendo'akan yang terbaik buat semuanya. Rian tenanglah sekarang. Udah ga ada yang bully dan memandang kamu sebelah mata lagi. Titip salam rindu buat Ayah" kata Fajar yang mendampingi jenazah Rian didalam mobil ambulance menuju rumah.


__ADS_2