
Zavier membuka kotak makan. Ada roti bakar didalamnya. Dafi melihat roti tersebut, roti gandum berbentuk kotak kecil dan didalamnya berisi selai srikaya. Seakan dejavu sama masa lalunya.
"Om mau roti bakar?" tawar Zavier sambil menyodorkan kotak makanan ke Dafi.
"Ambil aja Fi .. keliatannya kaya mupeng banget liat roti itu" ucap Aa' Zay.
"Saya ingat masa lalu pas liat roti itu" kata Dafi.
"Pacar ya?" ledek Aa' Zay.
"Bukan A' .. wanita-wanita hebat yang pernah saya kenal. Wanita penjual roti bakar yang berjuang buat menyambung hidup. Yang ga pernah ngeluh sama keadaan dan pantang menyerah" jelas Dafi rada mellow.
"Sampe segitunya ingat sama roti ... emang bedanya dimana sih roti? kayanya sama aja ... malah bakery-bakery di Jakarta lebih enak lagi rotinya. Kalo disini mah masih belum masuk harganya kalo main roti gandum seperti ini. Pembuatnya hanya bikin roti gandum kalo ada pesanan aja" papar Aa' Zay.
"Boleh Om minta satu dek roti bakarnya?" pinta Dafi. Zavier mengangguk.
Dafi menggigit roti bakar tersebut. Ada rasa yang sulit dia ungkap, tapi rasanya masih sama, sama seperti pertama kali dia gigit saat kelulusan TK.
"Roti ini persis seperti yang Mak Leha buat. Apa ini cuma perasaan aja? tapi kenapa bisa sama ya?" ujar Dafi dalam hatinya.
Aa' Zay rupanya memperhatikan cara makan Dafi yang sangat menikmati potongan roti bakar dengan segenap rasa dan seperti memikirkan sesuatu.
"Fi ... kalo masih lapar, tuh ada roti isi, istri saya tadi pesan rasa keju dan abon, rasanya bolehlah di adu sama bakery ternama. Rotinya ini lembut dan gurih" promo Aa' Zay.
"Ini yang buat siapa ya A'?" tanya Dafi penasaran.
"Mau pesan?" kata Aa' Zay.
"Kayanya saya mau ketemu sama yang buat roti ini" jawab Dafi yakin.
"Ketemu? emang kenapa ya kamu sampe mau ketemu?" selidik Aa' Zay yang merasa curiga sama gelagat Dafi.
"Ya penasaran aja, roti mungkin rasanya begitu-begitu aja, tapi roti ini mengingatkan akan suatu hal yang belum selesai" ucap Dafi masih ga mau terbuka sama Aa' Zay.
"Bisa aja sih, datang aja ke rumah saya, nanti saya antar ke tempatnya" ujar Aa' Zay.
"Makasih sebelumnya" jawab Dafi.
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
"Jar ... ga kamu ... ga Masmu .. semua ga ada yang mau kenalin pujaan hati ke Nenek? emang kamu ga jatuh cinta melihat banyak wanita sliweran depan mata?" tanya Nenek Sri.
"Nek ... Fajar tuh cuma mau sama Qeena. Dia cinta pertama dan akan selalu jadi cintanya Fajar" ucap Fajar penuh keyakinan.
"Sekarang aja Qeena udah pergi, ga tau ada dimana" ujar Nenek Sri.
__ADS_1
"Dia akan kembali Nek .. mungkin ga sekarang, tapi nanti. Dia dan Fajar lagi sama-sama memantaskan diri buat bersatu kelak. Mungkin sekarang Fajar fokus dulu buat kuliah, semester depan udah banyak magang. Tapi yakin kok, Qeena itu udah tertulis buat jadi takdirnya Fajar" ujar Fajar dengan pedenya.
"Ga boleh ah mendahului takdir. Berdo'a aja kamu dipertemukan wanita yang baik dan bisa menerima kamu apa adanya, bukan adanya apa. Pokoknya siapapun nanti, selama seiman, Nenek setuju aja. Nenek yakin kok kalo cucu-cucu Nenek tau mana yang baik buat dijadikan pendamping" nasehat Nenek Sri.
"Makasih ya Nek ... selalu dukung apa yang kita mau" ucap Fajar sambil kolokan ke Neneknya.
πππππππππππππ
Nuha, Qeena dan Damar duduk di teras depan rumah. Mereka ngobrol bertiga.
"Kenapa harus pergi ninggalin Jakarta? sekolah kamu gimana?" tanya Damar.
"Saya ikut homeschooling, besok mau anterin berkas sekaligus isi formulir pendaftaran. Teh Erin yang masukin kesana" jawab Qeena.
"Mas Fajar nyariin kamu, kenapa sih harus lari dari mereka?" desak Damar.
"Damar ... Emak mohon jangan kasih tau siapapun tentang keberadaan kami, biarlah kami memulai hidup yang baru. Percaya deh, kami ga berbuat sesuatu yang melanggar hukum. Hanya perlu menepi aja dan melanjutkan hidup berdua" potong Nuha yang merasa kasian melihat Qeena bingung untuk menjawab.
"Bukannya keluarga Om Dzul baik? mereka pasti bisa nolong kalo ada sesuatu" ucap Damar.
"Ya ... memang sangat baik keluarga Mas Dzul ... tapi biarlah ini menjadi pilihan terbaik buat kami" kata Nuha lagi.
"Jadi Emak sama Qeena udah mutusin buat hidup disini aja? berjuang lagi dari nol disini?" tanya Damar hati-hati.
"Ya .. kami merasa disini lebih tenang, nyari uang memang ga mudah, tapi disini banyak peluang" sahut Qeena.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Jam sepuluh malam, Aa' Zay dan rombongannya meninggalkan Villa.
"Oh ya Fi .. kalo mau ketemu sama pembuat roti, datang aja besok pagi ke rumah. Rumah saya deket Mesjid yang kemarin kita ketemu. Kan ada pertigaan sebelum Mesjid kalo dari arah kedatangan kemarin, pas hook cat cream pagar hitam, itu rumah saya. Atau tanya aja rumah Aa' Zay, pasti pada tau semua kok" kata Aa' Zay.
"Oh iya .... kalo jadi, besok pagi saya main kesana" ucap Dafi.
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Qeena dan Nuha berbincang didalam kamar setelah Damar pulang.
"Mak ... gimana ini ... ada orang yang kenal kita dan tau keberadaan kita?" ucap Qeena rada panik.
"Kita harus bisa bilang ke Damar dan meyakinkan dia biar ga ngomong sama siapa-siapa" jawab Nuha.
"Mak ... sampai sekarang, Qeena ga tau kenapa kita harus pergi ninggalin keluarga Om Dzul. Emang kenapa sih Mak?" tanya Qeena yang masih penasaran.
"Emak belum bisa jelasin ... tapi yang jelas Emak belum siap menghadapi kenyataan" ujar Nuha sedih.
__ADS_1
"Kenyataan apa Mak?" tanya Qeena.
"Emak janji kan ... kalo kamu udah tujuh belas tahun, Emak akan jelasin semuanya ke kamu, sabar ya.. kalo umur Emak ga sampe saat kamu menginjak usia itu, buka aja tas coklat yang tersimpan di lemari Emak di kampung. Semua ada disana" pinta Nuha.
"Jangan bilang gitu Mak ... Qeena cuma punya Emak ... jangan tinggalin Qeena Mak ..." jawab Qeena sambil memeluk Emaknya.
πππππππππππππ
"Belum tidur Lo Nish ... lagi ngapain duduk disini sambil mandangin langit" kata temannya Dafi yang sontak bikin Dafi kaget.
"Enak aja duduk sini ... tenang ... jauh dari polusi" jawab Dafi.
"Iya .. selama ini gw menjelajah Indonesia dan luar negeri, baru nemu tempat yang merasa kita pulang ke rumah. Penerimaan orang-orangnya enak. Udaranya pas, ga panas dan ga dingin. Liatin para penduduk aslinya juga keliatannya pada ga stress, ah.. pokoknya gw mau nih balik lagi kesini bawa keluarga" lanjut temannya Dafi.
"Besok kita balik jam berapa? pagi gw ada keperluan dulu" tanya Dafi.
"Besok kita check out jam sebelasan deh, terus sholat dan makan siang di Puncak, dari situ bebas deh, mau pulang monggo, mau muter-muter Bogor juga boleh" kata temannya Dafi.
"Oke deh... pagi mau nyari pesenan Nenek dulu sama mau ketemu seseorang" jawab Dafi.
"Ketemu cewe Lo ya ... gile nih, gercep amat sih Mas yang satu ini. Abis bubar sama adik tingkat langsung gasspoll nyari yang baru" ledek temannya Dafi yang tau kisah asmara Dafi karena sempat rame, secara Dafi belum pernah naksir sama wanita, ditambah beberapa kali menolak ungkapan perasaan wanita yang suka sama dia.
"Belum kepikiranlah buat menjalin kisah baru. Yang kemarin aja cuma seumur jagung, baru tiga bulan udah bubar jalan" kata Dafi rada sedih.
"Kadang gw heran deh sama siapa tuh namanya ... ehm ..ehm .. Rahma ... Iya Rahma, Lo kurang apa coba. Muka diatas standar lah walaupun ga ganteng-ganteng amat, yang gw tau Lo ga neko-neko, sayang sama keluarga yang pastinya otomatis akan sayang juga dong sama pacar, pinter dan punya masa depan cerah lah. Lo tuh calon suami idaman, banyak dicari mertua karena abdi negara. Belum ditambah nilai plusnya, Bokap pejabat disalah satu perusahaan plat merah yang sangat penting di negara ini. Nyokap Lo juga punya jabatan penting di perusahaan asing... gilaaa... perpaduan yang sangat-sangat diidam-idamkan" papar temannya Dafi.
"Kenyataannya ga kannn ... buktinya dia yang mutusin hubungan kita. Apa yang tadi disebut tuh ga ada maknanya didepan wanita" jawab Dafi sinis.
"Ga semua cewe kali ... matanya Rahma aja yang ketutupan, sampe cowo kaya Lo ditendang .. gw yakin suatu saat dia akan nyesel udah mutusin Lo" ujar temannya memberi semangat.
"Udahlah ... hidup terus berjalan kan? mungkin kita emang ga jodoh" kata Dafi.
"Gw pengen tau deh, sudut pandang Lo tentang calon jodoh. Soalnya kan kalo kita-kita nih jelas ya, cantik, baik, smart, bisa terima apa adanya .. ya standar deh. Tapi belum pernah tuh denger Lo pengennya yang kaya gimana" iseng temannya bertanya.
"Mungkin yang kemarin cukup buat pelajaran, walaupun sebentar tapi ada yang bisa dipetik dari sana. Sekarang akan coba cari yang selalu diminta dalam setiap untaian do'a disepertiga malam, berharap Allah akan menjadi perantara untuk menyampaikan rasa rindu yang menggebu. Dia yang akan selalu ingin diceritakan kepada semesta alam, bahwa dia wanita yang selalu membuat hari menjadi lebih bermakna dan berwarna, dialah yang kelak akan selalu mengajarkan makna penantian dan perjuangan yang sesungguhnya" tutur Dafi sambil mengkhayal.
"Ada cewe kaya gitu stoknya?" tanya temannya heran.
"Makanya ga ngoyo cari dalam waktu dekat" sahut Dafi lagi.
"Gw masuk dulu ah ... kelamaan ngobrol sama Lo ntar gw malah jadi pujangga tanpa karya" ucap temannya Dafi.
Dafi masih memandang langit yang bersih, warnanya pun biru tapi ga gelap.
"Kenapa sejak menginjakkan kaki di Ciloto, rasanya ada sesuatu .. sebuah getaran yang ga biasa ... ada apa sama tempat ini ya? Kayanya baru kali ini nginjekin kaki ke daerah sini. Biasanya cuma melintas aja. Itu juga hanya didepan jalan raya aja, ga sampe ke kampung kaya gini" kata Dafi ngomong sendiri.
__ADS_1
Qeena malam ini juga ga bisa tidur, dia membuka jendela kamar dan memandang langit yang sama dengan Dafi tapi dari tempat yang berbeda.
"Mungkin dari pagi deg-degan itu karena mau ketemu Kak Damar ya, tapi udah ketemu kenapa masih juga deg-degan ya? Apa efek khawatir kalo Kak Damar akan bocorin keberadaan kita di Ciloto?" kata Qeena dalam hati.