
Rumah sederhana dengan warteg disebelahnya sudah ada didepan mata Mak Imah. Masih sama seperti dulu, hanya warna catnya aja yang berubah.
Dafi bersiap pergi setelah Mak Imah turun dari mobil, tapi dia mendapat telepon dari Mas Eki. Diangkatnya telepon sebelum dia menyalakan mesin mobil.
"Assalamualaikum.. " sapa Dafi.
"Waalaikumsalam.. ganggu ga nih?" jawab Mas Eki.
"Ngga Mas ... ada apa ya?" tanya Dafi.
"Danish ... kamu ga perlu datang kesini, Mas mewakili keluarga menyampaikan kalo pihak Raisha ga bisa meneruskan perkenalan ini" kata Mas Eki dengan nada yang berat.
"Raisha yang memutuskan hal ini Mas?" ujar Dafi mencoba tetap tenang.
"Ya ..." ucap Mas Eki.
"Baik Mas ... sampaikan terimakasih saya buat semua keluarga karena sudah bersedia menjawab permintaan saya untuk mengenal lebih dekat siapa Raisha. Mohon maaf juga kalo selama perkenalan ini, ada perkataan dan perbuatan saya yang ga berkenan. Tadinya saya baru aja mau jalan menuju kesana. Tapi karena sudah Mas bilang untuk ga kesana, oke ... sekalian saya pamit via telepon, besok saya akan berangkat lagi dipenempatan yang baru. Sampaikan ke orang tua ya Mas sekalian, saya mohon maaf dan minta do'anya" ungkap Dafi.
"Ya ... maafin kita juga ya. Assalamualaikum" ucap Mas Eki.
"Waalaikumsalam..." jawab Dafi lalu meletakkan HP nya di kantong kemeja.
Berat terasa, Dafi kembali menelan pil pahit dalam hubungannya. Mencoba tegar dan fokus karena akan membawa kendaraan.
Baru aja Dafi akan menstarter mobilnya. Dia melihat pemandangan yang membuatnya kasian sama Mak Imah.
Mak Imah jatuh terduduk di depan rumahnya setelah didorong oleh seorang laki-laki paruh baya.
Dafi segera turun dari mobilnya dan menghampiri Mak Imah.
"Mak gapapa?" tanya Dafi cemas sambil membantu Mak Imah berdiri.
"Gapapa" jawab Mak Imah sambil mengusap air matanya.
"Jangan pernah injekin kaki disini, orang sekotor kamu tuh ga perlu anggap kita ada" ujar lelaki itu.
"Maafin Imah Pak...." ucap Mak Imah menangis sambil memegang kaki Bapak tersebut.
"Pergi sana" hardik Bapaknya Imah sambil menendang badannya Imah agar menjauh dari kakinya.
"Pakkk ..." pinta Mak Imah sambil berlutut kembali di kaki Bapaknya.
__ADS_1
"Ini ... lelaki baru kamu? hei denger ya, masih muda kok mau sama orang tua kaya Imah. Emang udah kehabisan stok perempuan muda di dunia ini!" kata Bapaknya Imah.
"Saya ada main sama Mak Imah? saya kira Bapak salah duga" ujar Dafi kaget.
"Terus ngapain kamu nganter dia kesini? kamu cowok simpanannya kan?" ucap Bapak tersebut.
"Kayanya ada kesalahpahaman disini. Saya hanya kenal Mak Imah biasa aja, kebetulan tadi ketemu di jalan, saya ga tega liatnya jalan kaya goyang gitu, jadi saya antar kesini" jelas Dafi.
"Nunggu apalagi kamu Imah, sana pergi" hardik Bapaknya Imah.
Umur Imah memang baru menginjak usia tiga puluh tiga tahun, tapi sudah banyak penyakitnya akibat pola hidup yang ga baik dimasa mudanya. Bahkan pernah meminum alkohol pula. Pernah beberapa kali jatuh dari motor tanpa pernah cek kondisi tubuhnya ke dokter.
"Maaf bukan mau ikut campur, saya rasa baiknya dibicarakan didalam rumah, biar ga jadi tontonan tetangga seperti ini" saran Dafi.
"Ga perlu ada yang dibicarakan lagi ... pergi sana" usir Bapaknya Imah.
Imah masih menangis di teras rumah orang tuanya, para tetangga udah makin banyak berkerumun.
"Mak ... kita pulang aja dulu, situasinya udah ga enak buat ngobrol" saran Dafi menenangkan Mak Imah.
"Ya ..." jawab Mak Imah pasrah.
Dafi membimbing Mak Imah masuk kedalam mobil.
"Si Imah punya ajian kali ya, cowok-cowok pada nempel sama dia. Dulu sih dia cantik, lah sekarang udah kaya nenek-nenek gitu padahal masih tuaan gw, kebanyakan gonta-ganti pasangan sih, jadi peyot gitu" lanjut tetangga yang lain.
"Peyot gara-gara harus bisa ngimbangin permainan ranjang cowo itu kali" bisik yang lainnya.
Didalam mobil semua tangis Imah kembali pecah. Dafi membiarkan Mak Imah menumpahkan segala kesedihannya. Dafi hanya memberikan tissue ke Mak Imah. Pas ketemu warung dipinggir jalan, Dafi membeli dua botol air mineral kemudian masuk lagi kedalam mobil.
"Minum dulu Mak ... biar tenang" saran Dafi sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih" jawab Mak Imah sambil mengambil botol air mineral dari Dafi.
"Udah puas nangisnya Mak?" tanya Dafi pelan-pelan.
"Maaf ya jadi kamu kena sasaran kemarahan orang tua saya juga" ujar Mak Imah sambil mengusap sisa air matanya.
"Santai aja Mak, saya ga peduli penilaian orang terhadap saya, toh ga kenal juga kan sama mereka. Mak ... saran Dafi, jangan balik dulu kesana sebelum semua legowo menerima masa lalu. Terlepas dari siapa yang salah, bersabarlah nunggu waktu yang tepat" kata Dafi.
"Iya Mas .. ini kali kedua Emak diusir ketika mencoba buat silaturahim" ujar Mak Imah.
__ADS_1
"Kalo emang Emak mau cerita dan bisa melegakan hati, silahkan aja Mak ... Dafi siap denger kok" ucap Dafi.
"Bener Mas mau dengar?" tanya Mak Imah. Dafi menganggukkan kepalanya.
Mak Imah menarik nafas panjang buat menenangkan hatinya.
"Semua bermula ketika Emak terbuai rayuan seorang laki-laki yang keliatannya baik. Dia membuat Emak jatuh cinta sampai lupa daratan. Padahal saat itu dia sudah punya istri, lagi hamil pula istrinya. Emak ga peduli sama status dan ketidaksetujuan orang tua. Yang Emak tau kalo Emak sangat bahagia ketemu sama dia. Sampe Emak kadang bolos sekolah dan bohong sama orang tua hanya buat sekedar pacaran sama dia. Gaya pacaran Emak tuh sangat kebablasan, Emak turuti semua kemauan dia demi cinta. Emak sampe segitu bodohnya menyerahkan segalanya buat dia, sampe Emak hamil. Begitu tau Emak hamil, dia kaya ilang-ilangan, susah dihubungin. Akhirnya orang tua Emak tau kalo Emak udah berbadan dua. Kami semua ke rumahnya dan meminta pertanggungjawaban. Kami akhirnya menikah ... menikah resmi. Hidup seatap sama istri tuanya yang baru kehilangan bayi mereka yang meninggal. Emak seakan ga peduli perasaan istri pertamanya, yang Emak tau bagaimana suami Emak selalu bersama Emak. Saat hamil yang Emak tau ya senang-senang aja tanpa peduli sama calon jabang bayi didalam perut. Emak ga pernah ke bidan, ga minum vitamin sampe ga makan makanan yang sehat. Makan mie instan, ayam tepung instan dan jajan dipinggir jalan sesuka hati Emak. Saat anak itu lahir pun Emak ga mau nyusuin dia karena ngantuk dan ga mau tubuh Emak jadi jelek karena nyusuin dia" cerita Mak Imah.
Dafi mendengarkan cerita dengan penuh konsentrasi dan sambil minum karena terasa kering tenggorokannya.
"Terus tiap malam anak itu tidur sama istri tuanya suami karena Emak mau tidur nyenyak, pagi sampe malam Emak sama suami main sana sini kaya anak muda lagi. Menikmati hal yang dulu kita nikmati saat pacaran. Karena kondisi ekonomi kita parah, sedangkan masih mau beli ini itu, jadinya harus mutar otak. Emak sampe pernah menjual diri hanya demi lembaran rupiah, buat senang-senang. Rupanya suami tau dan malah menjual Emak ke duda-duda kaya yang kesepian. Tapi Emak yang kerja eh dia yang nikmatin hasilnya. Akhirnya Emak kabur aja sama pacar Emak yang mau menerima Emak apa adanya. Karena Emak udah kadung cinta, Emak paksa dia melayani ***** setan yang muncul. Tapi kembali petaka datang, kami digerebek sama mertua Emak hingga beliau kena stroke dan meninggal. Emak pun kabur lagi. Sepanjang hidup Emak cuma bergantung dari pelukan satu lelaki ke lelaki lain. Dengan kecantikan Emak, semua bisa Emak dapetin, rumah, motor, perhiasan... semua gampang. Mabuk-mabukan hingga terjatuh dari motor pun ga buat Emak kapok. Emak masih juga hidup dengan cara morotin pria kaya yang gampang digoda. Hingga suatu hari, Emak ditolong oleh seorang ustadzah terkenal, Mamah Mimin ... beliau yang membawa Emak menjadi lebih baik. Sempat Emak tinggal seminggu di rumah beliau. Dari situlah Emak insyaf dan mulai dagang sayuran. Beliau yang modalin gerobak dan uang. Harta yang Emak punya akhirnya dijual, kalo rumah yang Emak punya sekarang dikontrakkan. Dari dagang keliling, akhirnya Emak bisa beli rumah yang sekarang buat jualan sayur. Kaki Emak ini sakit, kayanya akibat sering jatuh dari motor" ujar Mak Imah.
"Geser kali tulangnya Mak .. kapan-kapan periksalah Mak. Jatuh kaya gitu apalagi dari motor dan berulang-ulang pasti ada efeknya. Mungkin saat kejadian ga masalah, tapi kan baru berasa beberapa tahun kemudian. Apalagi sekarang Mak jualan sayur sendiri. Belanja bawa sayuran pake motor dan angkat-angkat sendiri" saran dari Dafi.
"Mungkin ini karmanya Emak Mas" jawab Mak Imah.
"Mak ... terlepas dari bagaimanapun kelamnya masa lalu, Allah selalu membuka pintu taubatnya. Sekarang Mak udah meluruskan niat buat kembali ke jalan yang benar. Tinggal Istiqomah dan meminta ampunan atas masa lalu. Hati sekeras batu bisa Allah balikkan jadi selembut kapas. Jangan memaksakan bertemu sama keluarga seperti tadi lagi. Berdo'a dulu banyak-banyak, pelan-pelan jalin silaturahim ... misalnya lewat saudara yang Emak tau kontaknya. Jangan langsung frontal kaya tadi, pahami juga keadaan mereka Mak. Tentu malu, marah dan benci masih ada mengingat masa lalu Emak" papar Dafi.
"Ya Mas" jawab Mak Imah.
"Sekarang Emak fokus dulu sama kesehatan, ke dokter ya dan dicek kakinya. Apa mau sekarang diantar ke Rumah Sakit?" tanya Dafi.
"Ga usah, besok Emak ke Puskemas aja" jawab Mak Imah.
"Sehat-sehat ya Mak .. ini kartu nama Dafi, kalo ada perlu bisa hubungin kesini" kata Dafi sambil menyerahkan kartu namanya.
"Makasih sekali lagi ya Mas ... do'akan Emak bisa ketemu sama anak Emak ya" harap Mak Imah.
"Emak tau jejaknya?" tanya Dafi.
"Ngga, tapi Emak mau coba tanya ke keluarga mantan suami, mungkin mereka tau dimana kampung istri tuanya mantan suami saya. Malah bisa jadi kan mereka yang gedein anak Emak setelah Emak tinggalin dia" ujar Mak Imah berspekulasi.
"Tapi baik-baik ya Mak ... jangan memaksakan kehendak. Bisa jadi anak Emak juga menyimpan luka terhadap orang tua kandungnya. Terima apapun yang menjadi keputusannya, do'akan dia untuk dilembutkan hatinya menerima Emak. Dafi yakin kok, dimanapun anak Emak berada, pasti akan selalu mendo'akan orang tuanya. Ikhlasin juga kalo emang takdirnya Emak ga bisa ketemu sama dia sepanjang hidup. Semoga yang terbaik buat Emak dan keluarga ya. Dafi hanya bisa bantu do'a" ucap Dafi tulus.
Ga terasa sudah sampai didepan rumah Mak Imah. Dafi memberikan sejumlah uang ke Mak Imah, ga besar, tapi cukup kalo untuk berobat ke Puskesmas.
"Makasih ya Mas ... Semoga selamat sampai tujuan" kata Mak Imah.
"Aamiin ya rabbal 'alamin .. Dafi langsung pulang ya Mak" pamit Dafi.
Dalam perjalanan pulang menuju rumahnya, Dafi baru merasakan sakitnya kehilangan orang yang dicintainya buat kedua kali.
__ADS_1
"Ya Allah .... dan terjadi lagi kisah yang sama. Terima kasih ya Allah sudah mengajarkan kembali tentang rasa kehilangan. Kehilangan calon pendamping ga seberapa jika dibandingkan kehilangan yang Mak Imah rasakan. Semoga Mak Imah bisa menjalani sisa usianya dengan baik, bimbinglah beliau ke jalan yang benar" ungkap Dafi.