
Hanya cukup tidur sejam, Dafi udah bersiap mandi, dia ga jadi berangkat ke Bandara subuh ini, karena tujuannya ke Jakarta untuk melihat makam Neneknya belum terlaksana. Jadi dia harus ke makam dulu baru lanjut ke Bandara. Flight pun sudah dipesan siang ini.
Dafi menuju kamar mandi yang ada di kamar Fajar. Kemudian membangunkan Fajar buat ikut ke Mesjid.
Dafi bersama saudaranya menuju Mesjid ga jauh dari rumah. Qeena dan Mak Nuha, selepas sholat subuh udah berjibaku di dapur bareng saudaranya Dafi yang wanita. Bu Fia belum tampak keluar dari kamar.
Sepulang dari Mesjid, barulah Dafi menghubungi Zahwa dan menjelaskan kalo siang hari dia baru berangkat ke Bandara. Pak Dzul pun sudah menelpon ke Bapaknya Zahwa untuk mengucapkan duka cita.
"Gimana sih Mas, katanya mau balik pagi ini pake flight pertama" kata Zahwa marah melalui sambungan telepon.
"Mas ke Jakarta buat ke makam Nenek, terus belum ke Makam Nenek masa Mas udah balik sih" jawab Dafi.
"Mas ngga ngerti perasaan Zahwa" kata Zahwa marah.
"Ibu pastinya akan dimakamkan secepatnya kan, Mas berangkat juga belum tentu bisa liat jenazahnya. Maaf ya" jawab Dafi lagi.
Sambungan telepon diputus oleh Zahwa. Dafi ga bisa berbuat apapun, karena tipe wanita kalo marah pastinya perlu bujuk rayu yang panjang, sedangkan dia tau pasti Zahwa sedang sibuk disana.
"Hari ini mau masak apa Mba Tinah?" tanya Qeena.
"Ibu kemarin bilang mau bikin sop bakso, bakwan jagung sama balado udang, habisin stok dulu di kulkas, soalnya belum belanja" jelas Mba Tinah.
"Qeena kupasin bumbunya ya" kata Qeena.
Walaupun keluarga pada kumpul, mereka malah sibuk ngeteh sambil menikmati pisang goreng yang dibuat sama Mba Tinah.
Mak Nuha sedang menyiangi sayuran untuk sop dan bakwan jagung. Qeena mengupas bumbu, sedangkan Mba Tinah membersihkan udang sambil bebenah piring dan gelas yang kotor.
Para lelaki pulang, ada yang meminta kopi, ada juga yang mau teh manis. Fajar malah melanjutkan tidurnya lagi.
"Kita jalan ke makam jam berapa jadinya?" tanya Pak Dzul.
"Ya sekitar jam delapan kayanya Yah, paling ga sekitar jam satu siang ini Mas udah di Bandara, flight jam dua" jelas Dafi.
"Kok siang, nanti ada pesawat ke Kerincinya kalo sore?" kata Pak Dzul.
"Kebetulan tadi pagi Mas dapat info, kalo orang pusat juga mau ke Sungai Penuh, kan rencananya rapat kerja tingkat propinsi akan diadakan disana, kita tuan rumahnya. Ya jadi ikut jalan darat" cerita Dafi.
"Lama kan ya?" kata Pak Dzul.
"Lumayan Yah, sekitar delapan atau sembilan jam, lewatnya juga banyakan hutan. Tapi kan banyak yang bisa bawa mobil, jadi bisa gantian bawa nantinya. Kayanya juga kita satu pesawat juga ke Jambinya" lanjut Dafi.
"Ga marah Zahwanya kalo kamu ga cepet-cepet kesana?" tanya Pak Dzul lagi.
"Mau buru-buru gimana lagi Yah, kan emang perjalanannya lama buat kesana" jawab Dafi.
"Iya juga sih ... nanti Ayah titip uang ya, kamu belikan makanan aja buat tahlilan" kata Pak Dzul.
"Ya Yah" ujar Dafi.
Qeena datang membawakan kopi buat para Bapak-bapak. Meletakkan di meja, posisi berjongkoknya Qeena tepat didepan Dafi duduk.
Dafi sampe ga berkedip melihat Qeena yang tampak segar pagi ini. Dia dipinjamkan bajunya Izma. Kaos warna hijau muda sangat cocok dikulitnya.
"Mba Qeena cantik banget ya, semalam kayanya ga terlalu keliatan cantik, mungkin karena nangis ya ... wah untung banget Mas Dafi nih, saya juga mau kalo disuruh nikah sama cewek secantik ini" puji sepupunya Dafi.
Dafi dan Qeena hanya senyum-senyum aja.
"Mba Qeena .. mainlah kapan-kapan ke Yogyakarta sama Mas Dafi" basa basi sepupunya Pak Dzul.
"Nanti Om kalo ada waktu libur" jawab Dafi santai.
Rupanya saat Qeena mau berdiri, dia tertusuk pecahan beling yang ada di karpet dekat meja ruang keluarga.
__ADS_1
"Aduh...." jerit Qeena.
"Kenapa?" tanya Dafi yang langsung menghampiri Qeena.
"Kena beling" jawab Qeena sambil menunjuk kearah kakinya.
"Mas ambilin kotak obat" kata Dafi yang langsung menuju lemari dekat TV buat ambil kotak P3K.
Dengan telatennya, Dafi mencabut beling dan membersihkan luka kemudian memberikan plester ke luka tersebut. Posisi kaki Qeena ada dipangkuannya Dafi.
"Masih sakit?" tanya Dafi.
"Ngga .. gapapa kok, cuma kena beling kecil" ucap Qeena.
"Ya kan kalo ga diobatin bisa infeksi" jawab Dafi.
"Ya namanya pengantin baru, sekedar kena beling kecil juga masih panik, coba kalo pengantin lama, nyungsep juga cuma diketawain" ledek saudaranya Dafi.
"Kaya ga ngerasain aja" sahut yang lainnya.
"Mas Dafi mah orangnya lembut ya ternyata, padahal keliatannya diam dan galak" kata sepupunya Dafi.
"Cewe secantik Mba Qeena kalo ga dilembutin ya rugi lah .. ya ga Mas?" ledek sepupunya Dafi yang lain.
"Makasih ya, Qeena mau lanjut masak" kata Qeena sambil menurunkan kakinya dari pangkuan Dafi.
"Rehat dulu lah, kakinya sakit gitu" saran Dafi.
"Biasa aja Dafi, ga usah panik gitu, lagian kan masak pake tangan, bukan pake kaki" sahut Tantenya.
Qeena jalan menuju dapur lagi, Dafi yang membawakan nampan menuju dapur. Dia malah nongkrong di kursi dapur, persis duduk dihadapan Mak Nuha yang sedang motongin sayuran.
Qeena membuat adonan buat bakwan jagung. Kemudian memblender bumbu buat balado udang.
"Ya kan nanti langsung ke makam, jadi biar ga kelaparan" ucap Mba Tinah.
"Bunda mana ya?" tanya Dafi.
"Belum keluar" kata Mba Tinah.
Dafi menuju kamar Bundanya. Dia membuka sedikit dulu pintu kamar, diliatnya Sang Bunda masih tiduran di tempat tidur. Pintu dibiarkan terbuka. Dafi langsung merebahkan tubuhnya disamping Bundanya.
"Bunda sakit?" tanya Dafi sambil mengusap tangan Bundanya.
Izma masuk ke kamar Bundanya kemudian ikut tiduran di tempat tidur.
"Ga" jawab Bu Fia pelan.
"Kok belum mandi?" tanya Dafi.
Bu Fia malah menyenderkan kepalanya di tangan Dafi, kemudian Dafi memeluknya.
"Kenapa Bun?" tanya Dafi lembut.
"Mas ... kenapa jadi gini, kenapa malah kamu jadi nikah sama wanita itu, harusnya kan sama Zahwa" jawab Bu Fia.
"Semalam Bunda ga ngomong apa-apa, kalo Bunda ga setuju kenapa ga bereaksi?" timpal Izma sambil memainkan HP nya.
"Bun .. benar kata Ayah, harga diri Qeena perlu kita selamatkan, lagipula Mas kasian liat Qeena kayanya diteken banget sama Pak Iyus. Selama ini Mas tau cerita tentang Bapaknya Qeena dari mulut Mak Nuha aja rasanya udah kepancing emosi, eh dilalahnya malah ketemu sama orang itu" kata Dafi.
"Bunda udah minta kantor buat mecat dia, udah banyak kasus yang Bunda tutupin. Bunda ga mau dia kelepasan cerita kalo anaknya nikah sama anak sulung Bunda" papar Bu Fia.
"Kasus apa Bun?" tanya Dafi penasaran.
__ADS_1
"Mainin uang bensin, terus ngakalin ke bengkel ... jadi mobil kaya dirusak gitu, nanti pas dipake kan bermasalah dijalan, biasanya jauh dari bengkel besar, nah di bengkel kecil gitu deh notanya dimainin" ujar Bu Fia.
"Kok Bunda tau?" ucap Izma.
"Ya ga sengaja, mobil yang lagi kita pake mogok, Bunda ngadem di warung, eh montir bengkel itu mesen kopi, sambil ngomong ke penjaga warung kalo Iyus itu kayanya sering banget rusak mobil terus dibawa ke bengkel. Ya Bunda tanyain tuh montir, keluar deh semua cerita. Iyus juga ga nyangkal kok" lanjut Bu Fia.
"Emang orang yang satu itu, isi otaknya cuma duit kayanya" sahut Dafi kesal.
"Mas .. Mas jangan berurusan sama yang namanya Iyus. Mas ceraikan aja Qeena kalo bulan depan dia ga hamil. Bapaknya aja kaya gitu, apalagi anaknya. Lagian dari awal juga Bunda ga suka sama Mak Nuha dan Qeena yang selalu cari perhatian ke Ayah" pinta Bu Fia.
"Sekarang Bunda mandi dulu ya, nanti sarapan bareng, Bunda mau ikut ke makam ga?" tanya Dafi buat mengalihkan pembicaraan.
"Ga ah .. becek, kan ujan mulu, kemarin aja sampe Bunda beli sendal jepit di warung buat ke makam" kata Bu Fia.
"Nanti Mas langsung ke Bandara ya" pamit Dafi.
"Bunda ikut aja ya Mas, biarin deh cuti dadakan. Kasian Zahwa, dia pasti butuh pelukan seorang Ibu" harap Bu Fia.
"Bun ... Nenek baru aja meninggal, pastinya akan ada tahlilan selama tujuh hari ini. Bunda harus ngurus kan, kata Ayah mau dibikin disini juga" ujar Dafi.
"Tau tuh Ayah, bikin repot aja" kata Bu Fia.
"Ga boleh gitu Bun, Nenek kan Ibunya Bunda juga" protes Izma.
"Mertua" jawab Bu Fia.
"Bun... yang namanya mertua kan sama aja kaya mertua. Emang Bunda mau nantinya para menantu Bunda ga sayang sama Bunda layaknya sayang sama orang tua sendiri?" tanya Dafi.
"Bunda mah yakin kalo Zahwa akan sayang sama Bunda, apalagi dia udah ga punya Ibu, kita ini tim yang solid Mas. Makanya, lepasin Qeena ya Mas. Bunda maunya punya mantu itu kaya Zahwa. Lebih sederajat sama kita. Mau taro mana muka Bunda kalo orang kantor tau Iyus itu besanan sama Bunda" ucap Bu Fia.
HP nya Dafi ada panggilan masuk dari rekan kerjanya.
"Udah dulu ya Bun .. Mas ada telepon" kata Dafi.
Dafi keluar dari kamar Ibunya dan duduk di ruang tamu. Dia berbincang sama rekannya cukup lama.
Jam tujuh pagi semua makanan sudah siap disantap. Pak Dzul mempersilahkan para tamunya makan. Bu Fia pun sudah bergabung.
"Wah enak ini masakannya, Tinah makin pintar nih masaknya" puji Pak Dzul.
"Bukan saya yang masak Pak .. Mba Qeena yang buat semuanya. Saya cuma bagian nyuci sayuran sama bebenah aja" jelas Mba Tinah.
"Panggil Nuha sama Qeena buat makan bareng disini" kata Pak Dzul.
Mak Nuha dan Qeena jalan pelan-pelan menuju ruang makan.
"Jangan malu-malu, sini ambil makanannya, kita makan bareng" ajak Pak Dzul.
Mak Nuha dan Qeena menunggu semua selesai mengambil makanan baru mereka gantian ambil.
"Mas ambilin ya, sopnya pake mangkok terpisah, lama ga makan masakan rumahan kaya gini" kata Dafi dari belakang tubuh Qeena.
"Kan biasa makan enak di restoran Mas" jawab Fajar.
"Beda lah Jar ... kaya ga ngerasain jadi anak kost aja" sahut Dafi.
Qeena menyiapkan makanan buat Dafi, semua memperhatikan gerak-gerik Qeena.
"Jadi istri ya seperti itu Qeena, urusin dulu makan buat suaminya, nanti baru makan bareng" sindir Pak Dzul yang sudah biasa ambil makanan sendiri karena Bu Fia ga mengambilkan buat dirinya.
"Cari muka itu mah" ucap Bu Fia ga suka.
"Nasinya segini cukup Mas?" tanya Qeena.
__ADS_1
"Cukup, makasih ya, kamu makan deh, nanti kita langsung jalan ke Makam" ujar Dafi