
Begitu sampe di ruko, Dafi membawakan tas milik Qeena. Mereka naik ke lantai atas. Dafi membantu Mak Nuha naik tangga. Qeena masih dibawah, menuju kamar mandi yang ada dilantai bawah, ga lama kemudian Dafi udah turun kembali.
Dafi mangajak Qeena ngobrol dulu.
"Udah lah Mas ... pulang dulu deh, udah malam" kata Qeena.
"Ga ... Mas tuh tipe yang harus kelar langsung kalo ada apa-apa" jawab Dafi ngotot.
"Mas keluar deh ... mau dikunci nih" kata Qeena.
Dafi malah menarik tangannya Qeena, rencananya akan diajak ke sebuah tempat dimana mereka bisa ngobrol dengan lebih leluasa.
Pas banget Damar datang dan melihat Qeena ditarik tangannya sama Dafi.
"Mas ... Mas ... apa-apaan ini" kata Damar sambil melepaskan tangannya Dafi dari Qeena.
"Jangan ikut campur ya" ucap Dafi.
"Saya berhak ikut campur, Qeena ini calon istri saya" sahut Damar.
"Calon istri? asal kamu tau ya ... Qeena itu istri saya" ucap Dafi tegas.
"Hah????? jangan becanda deh" ujar Damar ga percaya.
"Tanya sama Qeena ... bener ga saya ini suaminya" tantang Dafi.
Damar mengarahkan pandangan ke Qeena. Qeena masih diam.
"Qeena ... apa benar yang Mas Dafi bilang?" tanya Damar.
Qeena mengangguk pelan.
"Kok bisa? kamu ... ahhh" tanya Damar dengan penuh kekecewaan sambil mendekati Qeena.
"Eh ... jangan bikin keributan disini ya ... mending kamu ikutin mobil saya, nanti kita ngomong bareng biar kelar masalahnya" ajak Dafi yang merasa ga enak udah banyak yang memperhatikan mereka.
Karyawan Bakulan Bunda yang tinggal di ruko baru aja datang. Qeena menitipkan Emaknya ke mereka.
"Saya bawa kunci kok, jadi kuncinya dicabut aja ya" pinta Qeena.
Mobil Dafi melaju ke sebuah cafe yang buka dua puluh empat jam. Damar mengikuti dari belakang.
"Mas ... kenapa harus begini sih" buka Qeena saat di mobil.
"Kenapa?" tanya Dafi.
"Kan udah dibilang kalo Qeena yang mau ngomong langsung sama Kak Damar" ujar Qeena kesal.
__ADS_1
"Mau sampai kapan nutupin semua ini?" tanya Dafi.
"Sampe siap lah" kata Qeena.
"Bisa ga ngomongnya yang sopan kalo sama suami" nasehat Dafi.
Qeena diam menghadap kearah jalan.
"Kamu bener serius sama Damar?" tanya Dafi.
"Seberapa pentingnya pertanyaan itu dijawab?" ujar Qeena.
"Whatever" jawab Dafi malas ngomong lagi.
Sesampainya disebuah cafe yang ga jauh dari ruko, mereka bertiga berbincang.
Dafi menceritakan semua kejadian yang terjadi dimalam itu. Damar dan Qeena mendengarkan dalam kebisuan.
"Ini ga mungkin kalo Qeena bisa berbuat kaya gitu, tapi ga tau ya kalo Mas Dafi yang ngerencanain semua ini, secara adiknya aja genit .. apalagi kakaknya kan?" ujar Damar.
"Eh... anak baru mentas aja ngomongnya ga disaring ya" omel Dafi dengan senyuman sinis yang bikin orang merasa dilecehkan.
"Lah kan niat Qeena mau takziah, kalo Mas kenapa ga langsung ke rumah Tantenya? bukankah sebelumnya jenazah disemayamkan disana?" kata Damar.
"Makanya kalo orang lagi cerita tuh dengerin yang bener. Tadi kan udah dibilang kalo pesawat saya banyak kena delay sampe Jakarta udah lewat Maghrib, disarankan buat pulang aja, kalo saya paksakan ke Kelapa Gading juga pengajian tahlilan udah kelar. Makanya sama keluarga disarankan pulang langsung, besok paginya baru ke makam Nenek" papar Dafi.
"Ga usah panjang cerita deh, intinya saya sudah mau bertanggungjawab walaupun sampe sekarang ga habis pikir kenapa bisa kejadian. Bukan sekedar menjaga harga diri keluarga, tapi juga harga diri Qeena. Saya harap kamu paham dan menjauhi Qeena. Saya akan melegalkan pernikahan kami" pinta Dafi.
"Ga bisa gitu dong" ngotot Damar.
"Qeena ... lepasin cincinnya" perintah Dafi.
Qeena kaget juga kenapa Dafi tau kalo cincin yang melingkar di jarinya itu dari Damar.
"Mau saya yang lepasin atau kamu yang lepasin sendiri?" tanya Dafi tegas.
Qeena melepaskan cincin dan diserahkan ke Dafi. Dafi menyodorkan cincin tersebut kehadapan Damar.
"Mas ga bisa sepihak dong" ucap Damar.
"Udah ga ada yang perlu kita omongin lagi, semua udah jelas kan?" tanya Dafi.
"Qeena .. Kakak bisa terima kamu apa adanya, apapun kondisi kamu, Kakak ga masalah" ngotot Damar.
"Saya menceritakan hal ini ke kamu biar kamu paham kenapa Qeena harus memutuskan hubungan kalian, bukan untuk mengumbar aibnya. Saya kira kamu udah dewasa kan? bisa dong menutupi hal ini. Ga usah menganggap dia ga suci lagi ya, dia gadis baik-baik. Saya sudah mengambil keputusan untuk melegalkan pernikahan kami, bukan sekedar karena kejadian itu, tapi saya percaya ini takdir dari Allah yang harus saya dan Qeena jalani" kata Dafi sambil mengeluarkan uang dari dompetnya kemudian diletakkan di meja.
Dafi menarik tangannya Qeena untuk keluar dari Cafe dan masuk kedalam mobil. Damar ga bisa mengejar, rasanya kakinya udah ga sanggup berdiri mendengar kenyataan yang baru didengarnya.
__ADS_1
Pecah tangis Qeena didalam mobil, Dafi menjalankan mobilnya, dia memutuskan buat muter-muter dulu. Berharap tangisnya Qeena bisa selesai sebelum sampe ruko.
Hampir sepuluh menit Dafi hanya mendengar tangisan Qeena.
Dafi mengambilkan air mineral yang tadi dia pesan di cafe tapi belum sempat diminum. Disodorkan kearah Qeena. Qeena meminumnya.
"Udah nangisnya?" tanya Dafi.
"Ini mau kemana?" kata Qeena yang baru ngeh kalo arahnya bukan ke ruko.
"Muter-muter aja" jawab Dafi.
"Mas jangan macem-macem ya bawa Qeena kemana-mana" oceh Qeena.
"Lupa ya kita udah nikah? mungkin karena ga ada cincin ya jadinya lupa kalo udah nikah" ledek Dafi.
Dafi mengusap kepalanya Qeena perlahan. Setelah itu memegang pergelangan tangan Qeena (mobilnya matic jadi ga perlu standby tangan di operan gigi). Digenggamnya dengan erat jari jemari Qeena.
"Sekarang diantara kita sudah terjalin hubungan yang jelas. Bagaimana mungkin hubungan ini disebut hubungan kakak beradik. Jujur ... Mas dulu menganggap kamu hanya seorang adik, bahkan menyiapkan diri menjadi kakak ipar buat kamu. Tapi ketika Mas ucapkan akad nikah malam itu, semua berubah ... Mas merasakan sebuah perasaan sayang yang sulit buat didefinisikan. Sampe... maaf ... merelakan hubungan Mas sama Zahwa terhenti. Mas kira dia adalah wanita yang membuat Mas merasakan cinta seutuhnya, tapi ternyata sama kamu Mas merasakan hal yang berbeda dari wanita sebelumnya. Bukan membandingkan atau menceritakan kisah masa lalu .. tapi Mas hanya ingin kamu tau kalo Mas udah memantapkan hati memilih kamu. Kayanya Mas ga siap kalo kita harus saling melangkah berjauhan. Kalo dia yang ada di sampingmu menjadi alasan kita saling melangkah menjauh, bukankah itu layak dipertanyakan? Semakin hari, rasa untuk kamu tuh lebih dari sekedar seorang kakak bagi adiknya. Rasa seorang pria dewasa untuk seorang wanita. Sekarang tujuan Mas hanya ingin
kamu bahagia, tersenyum, berusaha memperlakukan kamu sebagai ratu dihati Mas, memeluk diri kamu seutuhnya bukan hanya tangan kamu" ungkap Dafi sambil mencium tangannya Qeena.
Qeena agak kaget mendengar pengakuan dari Dafi yang blak-blakan. Qeena tau persis kalo Dafi bukan sosok romantis yang mudah menebar kata buat para wanita, dia sosok yang rada kaku dan banyak melakukan sesuatu dalam diam.
"Mas ... Qeena beranggapan lelaki itu sumber malapetaka. Laki-laki dimana aja sama kelakuannya. Mereka makhluk yang dipenuhi ***** dan ga punya urat malu" buka Qeena.
Dafi masih terus menggenggam tangannya Qeena sambil dia fokus mengemudikan mobil tapi dengan kecepatan yang sedang.
"Qeena tumbuh dari keluarga ga utuh. Hanya kenal Emak aja. Terbiasa dengan cerita para wanita yang disakiti oleh lelaki. Mak Leha ... Mak Nuha .. bahkan sepanjang perjalanan hidup banyak wanita yang bernasib sama bahkan lebih buruk dari mereka. Makanya Qeena ga pernah buka hati buat Mas Fajar. Ada sebuah rasa takut untuk memulai hubungan. Saat ketemu Aa' Zay .. mulailah banyak pandangan Qeena yang berubah, walaupun pada akhirnya sama aja, lelaki itu selalu memaksa ke kami para kaum wanita. Apalagi kalo udah terikat pernikahan, semua ucapan suami ga boleh terbantahkan. Qeena hanya khawatir bernasib sama seperti wanita yang ada disekitar Qeena... Tapi Kak Damar menawarkan sesuatu yang berbeda, dengan penuh kesabaran dia mau menunggu dan ga maksa" lanjut Qeena dengan nafasnya yang berat.
Dafi masih diam, memberikan ruang biar Qeena merasa nyaman buat dia mengeluarkan segala unek-uneknya selama ini.
"Ditambah bullyan dari orang-orang yang menganggap kami hina. Saat kecil ada yang bilang ga punya Bapak, miskin bahkan yang menyakitkan adalah menerima kenyataan sebagai anak diluar nikah ... Sakit banget Mas ... memang kita ga bisa membuat semua orang suka sama kita. Qeena udah coba menerima hinaan yang datang, sakit hati pastinya, tapi udah berjanji sama diri sendiri kalo ga mau dijadiin beban yang menghambat buat berkembang" lanjut Qeena.
Dafi menepikan mobilnya, mengambil beberapa lembar tissue, diusapnya air mata yang masih mengalir dipipinya Qeena dengan lembut. Dilepaskannya genggaman tangan dari tangan Qeena. Kemudian melanjutkan perjalanan.
"Kamu boleh dihina, boleh sakit hati ... tapi jadikan itu sebagai pemicu semangatmu. Untuk membuktikan kepada mereka yang pernah meremehkanmu, bahwa kamu kuat dan akan lebih berhasil dari mereka. Dan Mas siap memberikan semangat ... and see you on top" Dafi memberi semangat.
"Ga semudah itu Mas" jawab Qeena.
"Ga ada yang mudah didunia ini. Sakit hati ketika dibully itu pasti, tapi ikhlaskan hati biar plong. Mereka yang menghina kita itu ga selalu lebih baik dari kita. Bisa aja kan mereka iri sama apa yang kita punya" kata Dafi.
Qeena kembali meminum air mineral dalam botol, dia mencoba mencerna kalimat Dafi. Selama ini dia hanya curhat sama Emaknya, ga pernah dapat pandangan seluas yang Dafi paparkan.
"Kamu harus tetap positif dalam menghadapi hinaan, simple aja .. anggap mereka itu iri sama apa yang kamu miliki. Hinaan bukan berarti kamu kurang dan ga layak untuk dikagumi. Bisa jadi malah karena kamu berbeda dan spesial sehingga mereka iri sama keadaan kamu.
Setidaknya dengan mereka menghina kamu, artinya mereka juga memperhatikan kamu. Bahkan Mas salut sama kesabaran dan ketabahan yang kamu jalani selama ini, ga semua bisa berdiri tegak dalam balutan masalah kaya kamu. Mas akan selalu setia dengerin, menasehati dan mendampingi kamu. Kamu bisa cerita segala keluh kesah yang dirasakan, ga perlu ditutup-tutupi. Untuk pandangan kamu terhadap lelaki, Mas ga bisa membela sesama kaum lelaki. Karena pasti kamu akan bilang sesama lelaki pasti saling menutupi. Memang pastinya ada lelaki yang menyakitkan hati, sekarang kamu liat sendiri ... kamu buktiin sendiri, Mas akan berusaha menjadi lelaki yang berbeda dari lelaki lain yang kamu kenal" ucap Dafi.
__ADS_1
Qeena menatap wajah tegas Dafi dari samping. Dalam balutan temaramnya lampu jalanan, Dafi tampak berbeda dari Dafi yang Qeena kenal.