
Saat yang lelaki sedang sholat Jum'at, Qeena ngobrol sama adik-adiknya Pak Dzul disamping rumah. Qeena menemani mereka makan, kalo Qeena menunggu Dafi pulang sholat Jum'at. Erin bersama anak-anak sedang ada di rumahnya Dafi bersama Mak Nuha dan Mak Imah. Anak-anak ngantuk dan mau tidur.
🌷
"Mungkin trauma masa lalunya yang berantakan dan hidup bersama single mom membuat Mba Fia jadi ambisi untuk mengubah nasib. Mas Dzul amat sayang dan cinta sama dia, tapi ya ngebucin banget, jadinya sampe sekarang Mba Fia masih edan eling. Tapi pasti ini pukulan hebat buat Mba Fia. Setelah kepergian Ibunya ya hanya Mas Dzul tempat mencurahkan segalanya" jelas adik kandung Pak Dzul nomer dua.
"Ya Tante .. Bunda pasti sangat terpukul kehilangan Ayah saat ini. Setelah orang tuanya meninggal, kan hanya Ayahlah yang sanggup memberikan cinta yang besar buat beliau. Menerima apapun kondisi Bunda sambil menasehatinya dengan lemah lembut. Ayah walaupun marah juga tetap sayang sama semuanya. Inilah yang kadang gemes juga sama kesabaran Ayah. Tapi ya karakter Ayah emang bijak, beliau ga mau timbul perselisihan, jadinya pelan-pelan kami semua dikasih masukan" ucap Qeena.
"Masih ingat pas Ramadhan kemarin, betapa bahagianya Mas Dzul ngabarin ke kita kalo Mas Dafi akan segera menikahi kamu secara negara. Bahkan mau buatin resepsi buat kalian. Maaf ya Qeena, kita semua menduga kalo Mas Dafi akan sulit menerima kehadiran kamu, ternyata Mas Dafi memutuskan hal yang sangat Mas Dzul inginkan. Mas Dzul dari dulu selalu memuji kamu Qeena. Alhamdulillah masih kesampean ya kamu jadi mantunya. Apalagi bisa menyenangkan kita semua sama sajian-sajian lezat yang kamu buat. Makin aja Mas Dzul itu bangga. Tapi emang Mas Dzul belajar banyak dari Mas Dafi, jadi ketiga anaknya yang lain serta kamu ga ngalamin paksaan dari beliau" cerita Adiknya Pak Dzul lainnya.
"Betul tuh Qeena, apalagi Mas Dzul udah tenang .. Rian ada yang akan mengurusnya dengan baik katanya. Beliau salut sama kamu yang bisa nerima Rian. Belum tentu kan calonnya Mas Dafi dulu bisa nerima Rian, ketemu juga baru sekali, bisa aja kan ga tulus sayang sama Rian" lanjut adiknya Pak Dzul.
"Jangan begitu Tante, Mas Dafi pasti bisa kok bimbing wanita yang dia sayang. Contohnya saya, Alhamdulillah banyak perbaikan dalam diri saya setelah menikah. Ya emang terkesan keras dan maunya ya maunya, tapi kalo ga gitu saya nya kan keras kepala" sahut Qeena.
"Itulah rumah tangga Qeena, harus ada yang ngatur dan yang diatur. Kalo ngatur semua adanya perang, kalo maunya diatur semua ya jadi ga jalan" jawab Adiknya Pak Dzul.
"Kamu deket ya sama Chef Ale, sampe datang kesini Chef nya, kayanya baru mulai kursus kan?" tanya Adiknya Pak Dzul yang lain.
"Ya baru seminggu Tante. Alhamdulillah saya dipercaya menjadi Brand Ambassador dari tempat kursus bakingnya dan insyaa Allah akan dilibatkan dalam promo, kemarin foto yang saya posting itu buat media promo di medsos" jelas Qeena.
"Ya Allah .. pantes anak Tante bilang ini Mba Qeena kok cantik banget ya di foto bareng Chef Ale, kaya ada bedanya dikit gitu. Kamu emang cantik banget sih Qeena, jadi Chef Ale tertarik buat bikin promo sama kamu. Siap-siap jadi artis nih keponakan Tante .. hehehe" goda adiknya Pak Dzul.
"Dido'akan aja Tante, saya mah bukan mau jadi artis, tapi ada rejeki lain buat saya mewujudkan punya toko kue sendiri" jawab Qeena.
"Aamiin ya rabbal'alamin" kata semuanya.
💐
Sepulang sholat Jum'at, Dafi tiduran di ruang keluarga yang plong beralaskan karpet, Fajar pun mengikuti kakaknya. Keduanya memang belum tidur dari kemarin.
Baru mau mulai terlelap, keluarga Aa' Zay, keluarga Iyus dan keluarga Damar mau pamit pulang. Dafi memaksakan bangun lagi. Fajar udah terlelap.
💐
Baru mulai mau selonjoran lagi, jam dua siang, rombongan dari kantornya Dafi datang, memberikan uang duka dan ucapan turut berbelasungkawa. Sesuai aturan maka Dafi diberikan libur tiga hari, jadi baru masuk hari Rabu (weekend ga dihitung karena libur).
Karena Sabtu proses penginputan data tetap ada, maka Dafi akan berkoordinasi dari rumah.
__ADS_1
Chef Ale sudah mengantarkan beberapa box kopi via ojek online. Sangat praktis memang disaat seperti ini. Qeena, Mak Nuha dan Mak Imah yang menyiapkan kopi sebagai suguhan untuk para tamunya Dafi. Kue dari saudara dan tetangga juga ditata di piring. Bu Fia tampak udah mendampingi Dafi untuk menemui para tamu.
Bu Fia duduk disebelahnya Dafi, sesekali Dafi mengelus punggung Bundanya sebagai tanda menguatkan.
Banyak rekannya Dafi yang memuji kecantikan Qeena. Pembawaannya juga sangat luwes. Setelah menyuguhkan kue dan kopi, Qeena turut mendampingi Dafi menerima tamu-tamu dari kantor Dafi dan kantor Pak Dzul yang masih berdatangan silih berganti.
Ba'da Maghrib keluarga sudah siap untuk tahlilan yang akan diadakan selepas Isya. Keluarga besar pun makan dulu agar ga kelaparan saat pengajian.
🌷
Qeena sedang merapihkan sendal dan sepatu di teras depan. Sambil sedikit nyapu teras yang terlihat agak kotor.
"Qeena ... liat Kakak... kamu ga cinta kan sama Mas Dafi? Kenapa ga sama Mas Fajar aja yang ketauan tergila-gila sama kamu sejak dulu" marah Damar, Qeena kaget karena Damar udah ada dibelakangnya.
"Jodoh.... bisa apa manusia kalo jodoh sudah Allah tuliskan" jawab Dafi yang sudah berdiri didepan pintu.
"Jodoh yang diatur? kok ga keliatan bahagia? Kalo jodoh pasti bahagia dong Mas" kata Damar rada sewot.
"Apa definisi bahagia buat kamu? kami udah nikah resmi dan itu cukup kan membuktikan kami bahagia dengan pernikahan ini" tanya Dafi.
"Mas yang maksa, Qeena itu dingin sama lelaki, ga mungkin bisa jatuh cinta dalam waktu singkat. Pasti Mas udah berbuat macam-macam sama dia sebelum kalian nikah resmi, jadi mau ga mau ya Qeena setuju buat nikah" sahut Damar.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Notifikasi dari HP Qeena terus berbunyi, dari Damar yang masih marah dengan kenyataan. Qeena sudah membalas chat seperlunya. Dafi juga udah pules banget tidur disebelahnya. Qeena berusaha memejamkan matanya. Mereka tidur di kamar Dafi. Rumah Dafi banyak saudara yang nginep tidur pake karpet. Lagipula kamar mereka di lantai atas ga kunjung selesai karena Qeena belum sempat nyari-nyari perabotan kamar.
💐
Pas subuh bangun, Dafi udah ga ada disebelahnya. Qeena cari ke kamar mandi juga ga ada. Akhirnya Qeena sholat sendirian. Setelah itu menyiapkan sarapan bareng Mba Mini dan Mba Tinah.
Makanan kiriman dari orang-orang kemarin masih berlimpah dan sebagian dimasukkan ke kulkas, jadi pagi ini hanya dihangatkan aja.
Bu Fia udah keluar kamar dan duduk bareng sama yang lain di ruang keluarga. Gak lama kemudian, Fajar dan Dafi masuk rumah, ternyata mereka berjama'ah sholat subuh di Masjid dekat rumah. Dafi menghampiri Bu Fia.
"Bun... makan ya, dari kemarin belum keliatan makan. Ayah kan paling ga suka kalo Bunda telat makan" ucap Dafi sambil mengusap tangan Bundanya.
"Bunda sedih Mas... ga ada lagi yang sayang sama Bunda" ucap Bu Fia sambil memeluk Dafi.
__ADS_1
"Semua yang disini sayang kok sama Bunda. Makanya Bunda makan dulu ya biar ga sakit" kata Dafi. Bu Fia menggelengkan kepalanya.
Dafi sebenarnya dekat sama Bu Fia, tapi karena sering berlawanan pola pikir, mereka jadi jarang diskusi karena Dafi udah malas ribut.
"Mas suapin mau?" tawar Dafi.
"Makan apa?" tanya Bu Fia agak memanja.
"Bunda maunya apa?" kembali Dafi menawarkan.
"Apa aja deh Mas, tapi dikit aja ya" jawab Bu Fia.
Qeena membawakan nasi dan ayam panggang kesukaan Bu Fia, ga lupa teh hangat dan jus melon. Dengan telaten Dafi menyuapi Bundanya sambil ngajak ngobrol ringan. Manis banget keliatannya. Udah lama emang pemandangan Dafi dan Bu Fia bisa ngobrol santai ga terlihat. Sampe semua keluarga menjauh dan memilih makan di teras belakang.
"Mas...kapan balik ke Semarang?" tanya Bu Fia.
"Selasa Bun, soalnya masih running sensusnya, sebagai pimpinan disana kan Mas harus mengawasi, jadi harus balik. Kan disini ada banyak orang. Nanti kalo Mas libur dan ga ada kerjaan, Mas balik ya, Qeena disini aja jagain Bunda, ga usah ke Semarang" jelas Dafi.
"Tapi semua sibuk Mas" kata Bu Fia.
"Kan ada Mak Nuha, Mak Imah .. lainnya juga ada. Kan Qeena cuma Selasa dan Rabu kegiatannya. Jadi bisa kok jagain Bunda" lanjut Bu Fia.
Bu Fia bangun dari tempat duduk dan berjalan menuju kamarnya. Dafi sengaja ga ngejar Bundanya, dia ga mau Bundanya tambah ngambek kalo dia ikutin. Qeena yang melihat ga enak hati. Dia akhirnya menuju dapur, merapihkan yang masih berantakan.
Dafi dapat panggilan video call. Karena didalam rumah agak berisik, dia pindah ke teras samping.
Qeena tau Dafi belum sarapan, jadi menyediakan kopi dan kue buat Dafi.
"Wah... Pak Danish istrinya cantik banget, pantes aja tiap libur langsung ke Jakarta, takut diambil orang rupanya" goda rekannya Dafi.
Dafi hanya tersenyum.
Qeena masuk kedalam, mau merapihkan ruang tamu. Ketika melintas didepan kamar Bu Fia, Qeena sempat diam berdiri, ada suara tangis dari dalam. Diberanikan dirinya mengetuk pintu. Tapi ga ada jawaban. Pelan-pelan dibukanya handle pintu. Tampak Bu Fia menangis diatas ranjang.
"Bun...." panggil Qeena dari pintu. Bu Fia melihat kearah pintu sambil mengusap air matanya.
"Maaf .. apa boleh Qeena masuk?" tanya Qeena sopan.
__ADS_1
"Ga perlu ... saya mau sendiri" jawab Bu Fia.
Qeena kembali menutup pintu kamar dan kembali melanjutkan niatnya buat merapihkan ruang tamu.