ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 279, Keputusan


__ADS_3

Jam sebelas malam, Dafi baru pulang ke rumah. Dia udah bilang ke Qeena buat tidur duluan aja, ga perlu nungguin dia pulang.


Karena masih merasa lelah, Qeena udah tidur selepas sholat isya dan terbangun saat Dafi masuk kedalam kamar. Dafi memang dari dulu selalu bawa kunci sendiri, jadi ga merepotkan orang rumah kalo pulang larut malam.


"Assalamualaikum .." sapa Dafi sambil meletakkan tasnya di meja.


"Waalaikumsalam .. " jawab Qeena yang segera bangun dan mencium tangan Dafi.


Dafi duduk di sofa kamarnya.


"Mau minum Mas?" tanya Qeena.


"Air putih hangat boleh" jawab Dafi sambil membuka kancing kemejanya.


Qeena mengambilkan air minum di dispenser kemudian meletakkan di meja. Qeena duduk disebelah Dafi dan merebahkan kepalanya ke bahu Dafi.


"Mas... tau ga kenapa kalo udah jam Mas pulang kerja tuh bawaannya ga sabar pengen ketemu?" buka Qeena.


"Emang kenapa?" tanya Dafi yang masih duduk santai mengeringkan tubuhnya dari keringat.


"Soalnya Neng ga sabar bilang I Love you" ucap Qeena sambil tersenyum.


Dafi malah mengernyitkan dahinya kemudian memegang dahinya Qeena.


"Ih Mas malah gitu sih, diajak romantis malah bingung" protes Qeena sambil menyingkirkan tangannya Dafi.


"Lah emang kamu ga pernah romantis, jadi ya Mas bingung kalo kamu ngomong begini, kirain kamu lagi panas tinggi terus ngelindur, makanya Mas khawatir sampe megang dahi kamu" ucap Dafi.


"Ya udahlah... Qeena tidur aja deh .. Mas nya kaku, kaya kanebo kering, ga bisa diajak becanda" jawab Qeena rada kecewa terus beranjak naik ke ranjangnya.


Dafi malah ngeloyor ke kamar mandi tanpa sedikitpun bereaksi menahan Qeena.


🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️


Paginya Qeena sibuk menyiapkan sarapan, dia udah buat nasi goreng buat sekalian anak-anak di dapur produksi pada sarapan.


Dafi duduk di meja makan, menikmati secangkir kopi pahitnya.


"Mas mau telur ceplok apa telur dadar?" tawar Qeena.


"Apa ajalah, sama-sama telur" jawab Dafi sambil melihat HP nya.


Mak Nuha dan Mak Imah saling berpandangan, mereka melihat kayanya Dafi sangat dingin pagi ini ke semua orang.


Makan pun Dafi masih sibuk sama HP nya, ga menghiraukan orang di sekitarnya.


"Mas .. mobilnya udah dipanasin, ada yang mau saya bawain masuk ke mobil?" tanya Mas Anto.


"Tolong laptop saya aja, taro dibangku depan aja ya" jawab Dafi.


"Ada lagi Mas?" tanya Mas Anto.


"Ga ada, makasih" jawab Dafi.


"Nanti sarapan Mas Anto.. Qeena udah bikin banyak nasi goreng" tawar Mak Imah.


"Ya Mak .. lagi tanggung nyapu halaman, tinggal sedikit lagi" jawab Mas Anto.


Qeena duduk disebelahnya Dafi, meletakkan air putih dan vitamin buat Dafi.


"Di dapur ada makanan apa yang bisa Mas bawa?" tanya Dafi.


"Ada puding, mau didisplay nanti di toko, ada kue kering juga, kemarin produksinya emang lebih buat stok. Sama kayanya ada roti gandum juga" papar Qeena.


"Bungkusin sana, Mas mau bawa" pinta Dafi.

__ADS_1


"Buat kemana Mas?" tanya Qeena.


"Ada acara makan bareng aja, Mas lupa ngomong sama kamu. Jadi bawa seadanya aja" kata Dafi.


"Apa mau dimasakin, nanti dikirim pake ojol?" tanya Qeena.


"Ga usahlah, malah ribet. Mendingan sekalian berangkat, Mas bawa yang ada aja" jawab Dafi.


Qeena merapihkan kue yang diminta sama Dafi, dimasukkan puding dalam jar ke dalam kotak. Roti gandum dan selainya juga dijadikan satu. Kue kering dibawain lima toples dengan varian yang berbeda.


Setelah itu dimasukkan kedalam mobil sama Mas Anto. Dafi udah siap mau berangkat. Qeena menghampiri Dafi untuk bersalaman.


Dafi mengeluarkan dompetnya.


"Berapa semua?" tanya Dafi.


"Apanya Mas?" kata Qeena.


"Ya itu kue dan puding" jawab Dafi.


"Ga usahlah Mas, bawa aja. Alhamdulillah kemarin ada keuntungan" ujar Qeena.


Dafi mengeluarkan uang pecahan seratus ribu rupiah, diberikan ke Qeena sebanyak lima lembar.


"Kan udah dibilang ga usah Mas" ucap Qeena.


"Mas jalan dulu" kata Dafi dengan acuhnya.


Qeena buru-buru mencium tangan Dafi. Dafi pun membalas dengan mengecup keningnya Qeena dan buru-buru masuk kedalam mobil.


Dafi memang ga seperti biasa, dia sangat dingin sejak pulang semalam.


"Apa Mas Dafi masih marah ya? nanti deh telpon kalo udah sampe kantor" gumam Qeena.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Enyak yang melihat cuma bisa nangis sendiri. Mau rasanya nelpon ke Mak Nuha, tapi ga elok melibatkan orang yang udah ga ada hubungannya sama Iyus. Mau nelpon Qeena pun udah ga bisa, karena Dafi sudah mengultimatum semua orang untuk ga menghubungi Qeena secara langsung, semua harus ijin ke Dafi dulu buat menelpon Qeena.


🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️


"Pak Danish .. ada tamu" kata sekretarisnya.


"Masuk aja, saya lagi ga terlalu sibuk" jawab Dafi.


Selang dua menit kemudian, sekretarisnya Dafi membawa masuk tamu ke ruang tamu persis disebelah ruangan Dafi, hanya disekat pakai dinding kaca. Dafi memperhatikan dengan seksama tamu yang datang, kemudian Dafi menyusul ke ruangan tersebut.


Dafi berbincang serius dengan seorang pengacara.


"Pak Danish yakin untuk berpisah?" tanya pengacara meyakinkan Dafi.


"Ya Pak .. sangat yakin, ini adalah jalan terbaik buat kami berdua" jawab Dafi dengan tegas.


"Maaf Pak Danish, kalo menurut saya sangat disayangkan dengan keputusan ini, apa tidak sebaiknya mediasi dulu, saya siap jadi pihak penengahnya" tawar pengacara.


"Sudah final keputusan saya Pak. Semoga inilah jalan terbaik untuk kami berdua" kata Dafi.


"Konsekuensinya ya semua dibagi dua ya Pak, karena tidak ada perjanjian didepan jika terjadi hal seperti ini, masalah pembagian tidak ada aturannya, jadi besar kemungkinan dibagi dua. Padahal bisa dibilang hampir semua aset punya Pak Danish" ujar pengacara.


"Ya Pak, dilanjutkan saja. Intinya saya ga mau pusing dengan panggilan sidang, jadi Bapak atur saja ya" kata Dafi.


"Baik Pak, saya butuh tanda tangan Bapak sebagai pemberi kuasa untuk mewakili Bapak" ucap pengacara.


Dafi tampak yakin akan semua keputusannya, ditanda tangani dokumen diatas materai yang sudah dibacanya tadi pagi.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


#Mas .. nanti pulang kerja langsung tenggo ya, sampe rumahnya jangan kemalaman, Qeena masak soto, kita makan malam bareng#.


Chat dari Qeena udah ga semenarik dulu lagi, diletakkan HP nya diatas meja.


Ga lama ada lagi chat masuk, dari Rida.


#Assalamualaikum ... apa boleh saya menelpon Qeena, saya mau kerja lagi di toko kuenya, sekarang saya udah ga kerja lagi#.


Hanya dibaca aja sama Dafi, ga dibalas.


Pintu ruang kerja diketuk sama sekretarisnya.


"Pak .. sudah ditunggu sama rekan yang lain untuk makan siang. Apa Bapak sudah sholat Dzuhur?" tanya sekretarisnya Dafi.


"Udah .. lima menit lagi ya saya gabung" jawab Qeena.


"Pak .. maaf sebelumnya, apa Bapak sakit? keliatannya kurang sehat" kata sekretarisnya Dafi.


"Cape aja kok, nanti rencananya saya lembur lagi, kamu pulang aja seperti biasa, dokumen yang mau saya periksa tolong letakkan di meja aja ya" pinta Dafi.


"Baik Pak" jawab Sekretarisnya Dafi.


🏡️


Acara makan siang kali ini biasa aja, biasanya Dafi akan antusias ketika bersama dengan karyawan yang lain. Tapi kali ini rasanya malas buat menikmati suasana.


"Pak Danish .. ini buatannya Ibu Qeena ga ada yang failed. Tadi kepoin medsos buat order dan tanya-tanya ... beuh harganya emang lebih tinggi dari harga pasaran, tapi emang kualitasnya premium punya sih, wajar harga segitu" kata salah satu karyawan.


"Ga tau saya masalah harga, mungkin memang biaya produksinya udah gede kali ya jadi harga pun mau ga mau lebih tinggi" jawab Dafi.


"Kalo testimoninya ini fix kayanya kalangan atas pelanggannya ya Pak ... Kue-kuenya lebih buat orang-orang dengan kebutuhan khusus, untuk orang dengan program diet dan banyak pantangan sama orang-orang dengan gaya hidup sehat" papar karyawannya.


"Pak Danish enak nih, setiap hari disajikan kue-kue menggoda kaya gini" canda lainnya.


"Malah jarang saya makan kaya begini, paling kalo lagi pengen aja. Udah sering nyium aromanya kali ya, jadi malah ga pengen makan" jawab Dafi.


"Pak Danish mah double untung .. udah istrinya pintar bikin kue dan masak, ditambah kecantikannya maksimal banget. Seminggu yang lalu liat Bu Qeena lagi ke toko buku, ya ampun... cantik banget, penampilannya juga modis, ga keliatan kaya wanita yang udah nikah. Ngaku single juga orang bakalan percaya. Dapat dimana yang model kaya gitu Pak? kalo ada saya mau dong satu" kata anak baru di divisinya Dafi.


"Kok kenal sama istri saya? kayanya kamu belum pernah ketemu deh" ujar Dafi.


"Kan saya perginya sama sekretarisnya Bapak, jadi dia kenal sama Bu Qeena. Kami sempat ngobrol, ramah banget orangnya. Ga khawatir kalo istrinya pergi sendirian Pak?" tanya anak baru.


"Ga pernah pergi sendirian, pasti sama keluarga kok. Lagipula kan udah saling percaya, mau ngapain sih aneh-aneh, wong kita kan udah komitmen buat nikah" jawab Dafi.


"Pak .. maaf nih mau tanya-tanya, yang saya tau, kalo Bapak memutuskan untuk menikah muda. Apa ga sama-sama ego tuh Pak? ditambah istri juga masih muda, masih banyak keinginan ini itu, apa ga jadi biang keributan tuh Pak? Ya saya ingin juga sih nikah muda. Kata orang kan menjauhi zina, makanya perlu pencerahan dari Pak Danish nih" tanya salah satu rekannya Dafi.


"Bukan kapasitas saya memberikan informasi tentang pernikahan diusia muda. Tapi berdasarkan pengalaman, saya bisa sharing sedikit. Yang pertama adalah niat, kita harus meluruskan dan memastikan niat untuk ibadah.


Jangan sekedar karena dorongan dan kebutuhan biologis aja. Selanjutnya ilmu, setidaknya masing-masing harus mengetahui konsep berkeluarga seperti apa. Jadi tau apa hak dan kewajiban masing-masing pihak. Hal lain yang perlu dipikirkan ya penghasilan. Sebagai seorang laki-laki, ya wajib bertanggung jawab menafkahi lahir batin istri kita. Bukan harus wajib mapan ya, tapi cukup untuk kedepannya. Terus kematangan diri dan kedewasaan adalah hal yang ga kalah penting. Dua hal ini ga bisa didapatkan secara instan, membutuhkan proses dan pembelajaran yang terus menerus dan istiqomah. Ga ada salahnya mengenal satu sama lain sebelum menikah.


Untuk itu, dibutuhkan masa ta'aruf atau perkenalan, agar masing-masing bisa mengenal dan memahami karakter. Masa ini sangat penting dan tentunya harus berjalan secara alamiah, bukan penuh kekakuan dan mencitrakan yang baik-baik saja. Semuanya harus dipahami bersama dan dimaknai bersama agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika sudah menikah" papar Dafi.


"Ini nih .. kalo punya leader yang enak banget kalo kasih sharing. Bapak mah cocok jadi motivator" puji lainnya.


"Entar saya ngalahin Mario Teduh dong" canda Dafi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Dafi baru sampe rumah hampir jam sebelas malam. Pelan-pelan dia membuka pagar dan pintu rumah agar orang rumah ga bangun.


Qeena udah tertidur pulas, biasanya dia dengar kalo Dafi pulang, tapi kali ini ga dengar sama sekali. Dafi pun mandi di kamar mandi bawah, dia ambil baju ganti dari tumpukan baju yang belum disetrika sama Qeena. Setelah rapih baru dia masuk kedalam kamarnya.


Dafi memandangi wajah polos Qeena, tidurnya nyenyak sekali, seakan ga ada beban dalam hidupnya.


"Kenapa saat ini kamu terlampau sibuk membahagiakan orang lain? Mengorbankan waktu, perasaan dan tenaga bahkan apapun yang kamu punya. Padahal Neng .. melihat senyum di wajahmu turut mengukir senyum di wajah Mas. Semua udah coba Mas lakuin, buat kamu Neng ... ya buat kamu .. wanita yang menjadi salah satu bagian berarti dalam perjalanan hidup Mas. Bahkan Mas rela memangkas kebahagiaan demi melihat kamu bahagia. Neng ... Sebesar apapun atau berapa banyak yang Mas korbankan buat kamu, inginnya berujung menjadi sebuah senyuman kebahagiaan. Kenapa sekarang kamu jadi orang yang justru ga Mas kenal dan justru cenderung menyebalkan. Sadarlah Neng, bahagia ga hanya diukur pake uang, walaupun dalam mencapai kebahagiaan kita butuh uang. Neng .. Mas tau kamu dibesarkan oleh Mak Nuha seorang diri, yang ga banyak memberikan pandangan hidup sebagai bekal saat kamu beranjak dewasa. Tapi sejak kita nikah, Mas selalu upayakan buat bimbing kamu. Apa Mas yang ga mampu bimbing kamu? Apa Mas terlalu lembek dalam menghadapi kamu? Kamu orang yang baik Neng .. jadi lepasin topeng kepalsuan kamu, jangan pura-pura bahagia padahal hati merana. Kenapa ga mau lagi membagi beban ke Mas lagi? apa Mas ga cukup berarti buat kamu?" ujar Dafi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2