
Imah sudah balik ke rumah orang tuanya, semua pihak sudah sama-sama menyadari dan saling memaafkan apa yang telah terjadi dimasa lalu
Imah dan keluarganya kembali membuka warteg disamping rumahnya, selama ini hanya disewakan aja, tapi sekarang kepemilikan semua dari pihak keluarga Imah. Imah memang ga pandai memasak, tapi bisa ngelayanin dan bantuin goreng-goreng.
Hari ini Imah mau belanja plastik dan kertas nasi ke Pasar, karena stok udah menipis. Imah naik motor matik dengan membawa karung goni yang diletakkan dibelakang buat membawa barang. Kondisi kakinya berangsur pulih setelah menjalani fisioterapi, tapi memang belum bisa jalan terlalu jauh.
Tanpa sengaja Imah dan Iyus ketemu, saat Iyus sedang di bengkel dekat sama agen plastik, tempat yang dituju sama Imah. Mobil kantor tiba-tiba mogok, orang kantor yang tadi naik mobil ini udah naik taksi karena ada acara, nanti kalo mobil udah ga mogok, Iyus akan menyusul mereka ke tempat acara.
Saat menikmati segelas kopi, mata Iyus menangkap sosok Imah yang sedang merapihkan belanjaannya di motor. Iyus segera menghampiri.
Tangan Iyus mencengkram tangannya Imah.
"Mas Iyus?????" ucap Imah kaget.
"Mau kabur kemana? kamu ngumpet dilubang semut pun akan ketauan" kata Iyus.
"Lepasin Mas ..." ujar Imah sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya Iyus.
Orang-orang ada yang mendekati keduanya.
"Ga ada apa-apa kok, ini istri saya" kata Iyus biar orang ga deketin mereka.
"Lepasin ga Mas atau saya teriak nih" ancam Imah.
"Teriak aja, mana ada yang mau nolongin kalo bilang suami istri" jawab Iyus yang makin ngencengin pegangan tangannya.
"Sakit Mas" rintih Imah.
"Makanya bisa diajak ngobrol baik-baik, kan ga perlu pake kekerasan" bisik Iyus.
Imah berusaha kabur tapi dihalangi oleh Iyus. Akhirnya Imah pasrah diajak ngobrol ditepi jalan, ada warung tenda yang bukanya malam hari, jadi pagi ini kosong.
"Kemana aja Lo Imah? Mas cari-cari. Terakhir Mas cari di tempat jualan sayur tapi katanya udah pindah" kata Iyus.
"Buat apa nyari saya Mas? kan kita udah cerai. Gugatan saya udah dikabulkan Pengadilan Agama kok. Saya sama Mas udah ga ada hubungan apapun. Jelas kan Mas? atau Mas udah punya masalah pendengaran?" ucap Imah kesal.
"Lo udah nikah lagi emangnya?" tanya Iyus.
"Kayanya bukan urusan Mas... mau saya udah nikah lagi atau belum, itu urusan saya" jawab Imah tegas.
"Pernah ketemu anak kita ga?" tanya Iyus penasaran.
"Ga.. kan udah dibawa sama Kak Nuha" Imah menjawab.
__ADS_1
"Iya ... Nuha pun ga tau kemana rimbanya. Tapi Mas pernah liat dia sama Qeena, eh malah kabur pas mau disapa" cerita Iyus.
"Mas ketemu mereka dimana?" tanya Imah antusias.
"Deket tempat jualan Lo yang kemarin itu.. ya dijalanan yang ada kost-kostan dekat sekolah" jawab Iyus.
"Apa Qeena yang suka main ke warung itu Qeena buah hatiku?" tanya Imah dalam hati.
"Eh malah bengong ... emang ga pernah liat selama tinggal disana?" tanya Iyus, Imah menggelengkan kepalanya.
"Kayanya dia tuh sempet jadi pembantu di rumah Boss nya Mas. Dia pernah bawain minuman kok ke Mas. Saat itu Mas kaget, kaya liat Lo jaman masih muda .. cantik" ujar Iyus dengan genitnya.
"Jadi asisten rumah tangga?" tanya Imah sedih.
"Ya apalagi kalo ga jadi pembantu ... Nuha kan ga kerja, pendidikan juga ga tinggi. Mungkin kalo di Kampung kan ga ada kerjaan" papar Iyus.
"Kan dia harusnya sekolah Mas .. Ya Allah Qeenaaa.." ujar Imah sedih.
"Tapi Boss Mas tuh kaya raya loh, baik banget malah, ga tau kenapa Qeena dipecat sama Boss, kalo ga salah cuma liat dia dua kali aja di rumah itu. Apa dia genit kali godain anak-anak bujangnya Boss Mas" kata Iyus seenak udelnya.
"Masa sih Mas? Kak Nuha kan rajin ibadahnya, masa dia jerumusin Qeena ke hal yang enggak-enggak" kata Imah ga percaya.
"Sekarang apalagi coba alasan seorang pembantu dipecat ... nyolong, serong sama majikan yang lelaki, kerja ga becus, ga mau kerja keras" Iyus dengan lancarnya ngomong.
"Lah segala asisten... udah kaya kerja kantoran aja" ucap Iyus.
"Mas .. bisa tanya Boss nya dimana Qeena berada sekarang?" harap Imah.
"Kata Boss udah kabur tanpa pamit. Emang aja tuh Nuha sama Qeena otak taro didengkul, ibaratnya dikasih hati minta jantung. Ya namanya juga orang ga berpendidikan" kata Iyus.
"Mas ... sadar ga yang Mas hina itu anak kita? anak yang ga kita urus .. yang ga kita nafkahi. Mungkin Allah lebih tau Mas .. dia dipisahkan dari kita biar dia jadi orang yang baik, ga rusak kaya kita. Udahlah Mas .. pasrah aja kalo kita ga bisa ketemu sama anak kita. Tapi Mas ... bisa minta alamat Kak Nuha yang di Wonogiri? Imah mau nyari dia kesana" pinta Imah.
"Percuma .. dia ga ada disana, semua nutupin" jawab Iyus.
"Mas pernah nyari kesana?" tanya Imah lagi.
"Ngapain abis-abisin ongkos, pastilah mereka ngumpetin. Kalo ga diumpetin, pasti Qeena udah nyari kita" kata Iyus santai.
"Mas ... mikir ... dia cari kita kemana? Enyak udah pindah kan? Mas ga jelas dimana .. saya juga terusir dari keluarga. Mungkin aja dia dan Kak Nuha pernah nyari kita, tapi semua ga ada yang tau kita dimana" ujar Imah.
"Dulu ga mau ngurusin dia .. ngantuk lah, yang ga mau bentuk payudara berubahlah ... sekarang udah tua baru mau nyari .. emang ga punya anak selain Qeena? sama suami yang sekarang ga punya anak?" ujar Iyus.
"Bukan urusan Mas" jawab Imah sebel.
__ADS_1
"Apa kita rujuk aja, hati Mas masih sama kok, masih cinta sama Lo, kita bisa bikin adiknya Qeena, kita urus baik-baik" harap Iyus.
"Saya udah bodoh ngikutin bujuk rayu Mas sampe hidup hancur berantakan, sekarang saya berusaha berubah Mas .. saya masih dikasih kesempatan panjang umur, jadi mau saya pakai buat bertaubat" sahut Imah.
"Mas juga udah tobat ... buktinya Mas ga nikah lagi setelah ditinggalin" jawab Iyus.
"Urusan Mas mau taubat mah bukan urusan saya. Kita cari jalan hijrah masing-masing. Maaf ya Mas .. kalo sekedar bersilaturahim ga masalah, tapi lebih dari itu lebih baik ga usah kenal lagi aja sama saya" ujar Imah tegas.
"Keluarga Mas udah susah sejak Babe ga ada. Sekarang Mas jadi supirnya orang kaya. Ya aslinya supir kantor, karena Mas kerjanya bener, bawa mobilnya enak dan wawasan luas ya jadinya khusus nyupirin Boss. Kalo sekarang ini lagi ga ada supir lain, jadi Mas anterin orang kantor yang mau meeting️" kata Iyus sombong.
"Syukurlah kalo Mas punya kerjaan" jawab Imah simple.
"Imah .. Ini serius nanya lagi ... beneran udah pernah nyari anak kita?" tanya Iyus meyakinkan.
"Kenapa Mas tanya ke Imah ... Itu urusan kita masing-masing ya" jawab Imah.
"Cuma dia anak Mas... Mas pengen ketemu sama dia. Ya mau Mas Didik yang bener, biar bisa nikah sama orang kaya" ujar Iyus ngimpi.
"Kalo Mas mau cari anak kita .. cari aja sendiri, orang tua tuh dimana-mana mau didik jadi anak yang bener, ini malah buat nyari mantu kaya. Lagian buat apa sih Mas cari sekarang? Buat nyakitin dia lagi? Biarlah dia hidup bahagia sama Kak Nuha, kita ga perlu mengusik mereka. Kita do'akan aja semoga dia baik-baik aja dan bisa menemukan calon suami yang bisa membimbingnya menuju kebaikan" ucap Imah.
"Lo tinggal dimana sekarang?" tanya Iyus lagi.
"Ga perlu tau Mas, udah ga ada apa-apa kan diantara kita. Kita udah bahagia dengan dunia kita sendiri. Jangan usik hidup Imah lagi" jawab Imah yang bersiap mau pergi.
"Imah... ini no HP Mas, nanti kalo ketemu anak kita, tolong deh hubungin" ucap Iyus sambil menyodorkan kertas.
"Saya ga butuh no HP Mas, ga ada niat saya berhubungan kembali dengan Mas. Dan khusus anak kita, jangan pernah menyentuhnya, kalo mau nyakitin dia .. langkahin dulu mayat saya" kata Imah marah.
"Kok kayanya Lo tau ya dimana anak kita? Dimana dia sekarang?" kata Iyus yang kepancing emosi.
"Saya ga tau, tapi kalo saya tau Mas menyakiti dia, maka Mas berhadapan sama saya" ucap Imah sambil menuju motornya kemudian pergi.
Imah berusaha menahan kesalnya sepanjang jalan menuju pulang ke rumah dia menangis.
"Qeena putri ku ... dimanapun kamu berada, Mama do'akan kamu selalu. Kalo benar Qeena yang ke warung itu kamu, Mama bersyukur udah melihat kamu baik-baik aja. Walaupun kamu ga mengenal Mama, biarlah seperti itu, bahagialah dimanapun kamu berada bersama Kak Nuha, dia seorang Ibu yang lebih baik dari orang tua kamu sendiri. Biarpun kita ketemu sebentar doang, Mama udah bersyukur, kalaupun Allah mengambil nyawa Mama sekarang juga, Mama udah ga ada keinginan lagi di dunia ini selain ketemu sama kamu. Percayalah Qeena, kalo kamu merindukan Mama sebesar dunia, maka Mama akan merindukanmu sebesar angkasa, kalo kamu memikirkan Mama berkali-kali maka Mama memikirkanmu berjuta-juta kali. Mama sih berharap kamu ga pernah bertemu sama Papa kamu. Mama khawatir malah menyusahkan hidup kamu nantinya" kata Imah berdo'a saat mengendarai motornya.
Perasaan dan ikatan batin antara Ibu dan Anak memang ga bisa diragukan. Saat pertemuan pertama kalinya sama Qeena, hati Imah udah ngerasain hal yang istimewa.
Sesampainya di rumah, Imah yang punya medsos coba mencari Qeena, ternyata ada, walaupun sudah tidak di-update selama hampir tiga tahun, ada foto Qeena bersama Nuha terpampang disana. Dipandanginya lekat-lekat wajah Nuha. Wajah wanita yang ga akan dia lupakan seumur hidupnya. Sosok wanita yang dulu dia sakiti ternyata mampu membesarkan anaknya seorang diri. Menjadikan Qeena menjadi anak baik, ga seperti orang tua kandungnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Dafi sekarang sering diajak kondangan ke keluarga Zahwa. Seperti sekarang mereka sedang jalan kearah Tapan, dua jam dari Sungai Penuh. Dafi yang membawa mobil. Mereka akan menghadiri pernikahan anak dari adiknya Bapak calon mertua Dafi. Tujuannya juga sekaligus untuk memperkenalkan Dafi ke keluarga besar. Calon Bapak mertuanya memang sangat bangga akan punya mantu seperti Dafi, malah udah dianggap seperti anak sendiri. Dafi mampu bertindak sewajarnya dan jujur menerangkan tentang dirinya dan keluarga tanpa dia tutupi. Lagipula sejak ada Dafi, Bapaknya Zahwa punya sparing partner main badminton tiap Ahad pagi, malah kadang main sama para pejabat di kalangan pemprov setempat. Malah Dafi pernah tanding lawan gubernur dan wakilnya saat keduanya datang ke Sungai Penuh. Dafi memang orang yang mudah bergaul dengan siapapun, baik muda atau tua. Ditambah lagi Dafi udah berkali-kali jadi imam sholat hingga menjadi poin plus dimata orang tua calon mertuanya.
__ADS_1