ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 123, Makin memanas


__ADS_3

"Nuha .. Qeena ini anak kamu loh ... kamu yang gedein, yang ngurusin, bahkan ngajarin dia tentang banyak hal. Kalo kamu meragukan kejujurannya, berarti kamu harusnya meragukan diri kamu sendiri, berkaca pada hati kamu .. udah benar belum urus anak. Anak itu terlahir bak kertas putih, mereka ga protes dengan warna apa kita torehkan ke kertas itu. Sebagai orang tua, kita pasti ingin yang terbaik buat mereka bukan? Buka mata hati kamu Nuha, dialah permata hatimu, pelipur laramu, yang ikut berjuang bersama. Kenapa dia harus menanggung segala amarah kamu terhadap perbuatan orang tuanya. Saat ini dia hanya butuh kepercayaan kamu, apa susahnya rangkul dia dengan cintamu?" nasehat Pak Shaka yang merasa udah ga tahan melihat tangis Qeena.


"Nanti kita bantu selidiki ya Mak, kita tunggu tenang semua, pasti ada solusinya. Sekarang kondisinya ga memungkinkan buat mengambil keputusan" ujar Aa' Zay.


"Tapi dia udah berzina A' .. dia udah tidur dengan Mas Dafi" ucap Mak Nuha.


"Mak ... kalo dia melakukan perbuatan itu pun, dia pasti paham apa konsekuensinya. Sekarang kita pulang dulu, dari kemarin malam kita udah dalam situasi yang menegangkan terus. Udah hampir jam dua belas malam. Tuan rumah juga pasti lelah dan ingin istirahat. Apalagi mereka dalam situasi duka. Aa' janji akan mengusut ini dengan tuntas. Bukan sekedar nama baik Qeena dan Dafi, tapi demi menegakkan sebuah kebenaran" papar Aa' Zay.


Mak Nuha akhirnya luluh juga oleh bujuk rayunya Aa' Zay. Mereka pun turun kembali ke lantai bawah. Mak Nuha dipeluk sama Aa' Zay karena tubuhnya lemas. Qeena mengikuti dibelakang Mak Nuha.


"Mak ... Apapun akan Qeena lakukan biar Mak percaya, jangan pernah marah sama Qeena ya Mak .. Mak boleh marah sama Qeena bahkan pukul aja kalo itu buat Emak puas. Tapi satu Mak .. jangan tinggalin Qeena. Mak lah dunia Qeena .. sumber kehidupan Qeena" ujar Qeena dalam hatinya.


Saat menuruni tangga, pas sama kedatangan Iyus ke rumah Pak Dzul.


"Nuha????" kata Iyus kaget.


"Mas Iyus?" tanya Mak Nuha kaget juga.


Iyus mendekati Mak Nuha. Kini mereka berhadapan. Semua mata tertuju pada mereka berdua.


"Kemana aja kamu selama ini?" tanya Iyus.


"Ga perlu tanya kaya gitu" jawab Mak Nuha sambil melanjutkan jalan.


Tangan Mak Nuha ditahan sama Iyus.


"Lepasin" hardik Mak Nuha.


"Kenapa kamu disini? ini siapa? anak sama suami kamu?" tanya Iyus marah.


"Ga ada urusannya sama kamu, ga penting juga kamu kenal sama mereka kan?" kata Mak Nuha.


"Ini Qeena? Fadhilla Saqeena?" tanya Iyus sambil melihat kearah Qeena.


Qeena ketakutan, mendekatkan dirinya ke tubuh Pak Shaka, seolah dia minta perlindungan seorang Ayah. Pak Shaka pun segera mengusap pundak Qeena.


"Pak Dzul ... kami mohon diri, nanti kalo sudah tenang, kita bisa bicarakan hal ini lagi" pamit Aa' Zay.


"Tunggu !!! kamu ga bisa bawa istri dan anak saya sembarangan" protes Iyus.


"Saya bawa orang sembarangan? harusnya Bapak mikir, apa ga salah ngomong?" tanya Aa' Zay.


"Kamu kan yang semalam ngobrol sama saya, ohhhh ... jadi kalian berkomplot ya melarikan Nuha dan Qeena ... sini kembalikan mereka" paksa Iyus.


Jelas aja Aa' Zay ga terima dan menepis tangan Iyus dari tangan Mak Nuha.


"Jangan sembarangan ya sama wanita, apalagi kalo didepan saya" ucap Aa' Zay marah.


"Eh .. Anda punya hak apa terhadap mereka? suami barunya? atau simpanannya?" ujar Iyus.


"Jaga mulutnya ya Pak, ini karena lagi di rumah orang jadi saya masih menghargai tuan rumah, kalo di jalan .. udah saya ajak berantem" kata Aa' Zay tegas.

__ADS_1


"Stop .. kenapa jadi ribut begini?" tanya Pak Dzul.


"Kami mau pamit pulang dulu ya Mas Dzul" pamit Mak Nuha.


"Sebenarnya ada apa sih? hampir tengah malam masih kumpul disini" tanya Iyus pura-pura bego.


"Maaf Zay .. Pak Shaka ... Nuha, saya minta waktu untuk mendengarkan penjelasan Iyus, karena dia tadi sempat ke rumah ini. Mau ditanya dulu apa liat ada yang mencurigakan tadi. Semoga kesaksiannya bisa membantu dan ada solusi dari masalah ini" pinta Pak Dzul.


"Saya pulang aja, ga ada yang perlu dibicarain lagi. Anggap aja kejadian tadi ga ada. Saya ga nuntut macam-macam" kata Mak Nuha menahan kecewa.


"Nuha ... ada apa sih?" tanya Iyus makin pura-pura.


Pak Dzul meminta semua duduk di ruang keluarga.


"Jar ... panggil Mas Dafi turun" perintah Pak Dzul.


Fajar segera naik ke lantai atas menuju kamar Dafi. Keluarga Pak Dzul sudah banyak yang tidur, hanya yang orang tua aja masih tetap duduk bersama di ruang keluarga. Para saudara ada yang pro dan kontra terhadap peristiwa ini.


Fajar melihat Dafi sedang membaca Al Qur'an. Tampak matanya habis menangis.


"Mas ... diminta kumpul dulu dibawah" panggil Fajar.


"Jar .. Mas ga berbuat macam-macam ke Qeena. Mas juga ga paham kenapa bisa kaya gini. Maafin Mas ya Jar" pinta Dafi.


"Semoga semua analisa Fajar benar ya Mas. Ya kan tau sendiri gimana Fajar cinta mati sama Qeena. Fajar lagi coba menata hati buat menerima keputusan Qeena yang memilih Damar. Eh sekarang Mas segala kaya gini" ujar Fajar, ada kekecewaan dimatanya.


Dafi dan Fajar sudah bergabung di ruang keluarga.


"Jam berapa ya? ga liat jam Pak, yang jelas masih ujan tadi" jawab Iyus.


"Ada liat keanehan ga di rumah ini? apa kamu liat ada yang masuk?" tanya Pak Dzul lagi.


"Saya ga tau Pak .. kan saya mah diluar aja, ga masuk-masuk kedalam rumah. Emang ada apa sih?" ucap Iyus dengan tenangnya.


"Tuh kan Yah ... Iyus tuh ga tau apa-apa. Jangan apa-apa langsung curiga aja sama dia" sahut Bu Fia mencoba melindungi Iyus.


"Kamu kenal sama Nuha dan Qeena? benar tadi yang kamu bilang kalo mereka anak dan istri kamu?" kata Pak Dzul.


"Iya Pak .. ini istri dan anak saya yang udah lama ninggalin saya" ucap Iyus.


"Oh jadi ini" kata Bu Fia dan Pak Dzul bersamaan.


"Iya ini anak dan istri yang udah lama saya cari" jawab Iyus sambil meneteskan air matanya.


Sontak yang ada di ruangan kaget. Bu Fia yang keliatan paling kaget dengan apa yang baru terbongkar. Qeena langsung memeluk Mak Nuha.


"Kalo Iyus Bapaknya Qeena, berarti kalo maksain Qeena nikah sama Rian, dia bakalan jadi besan? amit-amit deh punya besan kaya gitu. Udah banyak yang ngadu kalo dia genit. Untung aja saya ga diapa-apain sama dia" kata Bu Fia dalam hati.


"Qeena anak Pak Iyus? kaya langit sama bumi ya perangainya. Pantes aja Mak Nuha kayanya trauma banget sama lelaki" ucap Dafi dalam hatinya juga.


"Qeena ini Papa nak ... sini Qeena" panggil Iyus.

__ADS_1


Qeena malah tambah merapatkan tubuhnya ke Mak Nuha.


"Papa cari kamu siang malam Nak ... kamu ga tau betapa rindunya Papa sama kamu. Ayo Qeena ... balik pulang. Apa kamu ga sayang sama Papa?" ucap Iyus memainkan lakon ala drama-drama sambil memasang muka sedih.


"Buaya juga nih orang, pantes aja pernah berbuat asusila, ngomongnya pinter. Segala minta dipanggil Papa ... ngaca dulu tampangnya aja kaga ada pantes-pantesnya dipanggil Papa. Kalo Papa tuh dompetnya tebel, ini paling isinya gocengan sisa beli bensin" nyinyir Aa' Zay dalam hati.


"Ga ... Qeena ga kenal Bapak ... Qeena ga punya Bapak .. Qeena cuma punya Emak" ucap Qeena.


"Kamu pasti otaknya udah dicuci sama Nuha. Kamu harus tau kebenarannya, Papa tuh kerja Nak saat kamu dibawa kabur sama Nuha. Nuha bukan Ibu kandung kamu" cerita Iyus.


"Saya udah tau kalo Emak bukan Ibu kandung Qeena, tapi cintanya melebihi Ibu kandung yang ga pernah Qeena kenal. Emak ga pernah ninggalin Qeena sedetikpun, ga seperti orang tua kandung Qeena. Kedepannya anggap aja Bapak ga kenal kami, jangan ganggu hidup kami. Kita bahagia dengan hidup kita masing-masing" lanjut Qeena.


"Maaf semuanya, ini sudah lewat tengah malam, mau menyelesaikan masalah atau mau liat drama rumah tangga? kalo Pak Iyus dan Mak Nuha mau menyelesaikan urusan, silahkan diselesaikan berdua, ga harus disini karena bukan urusan kami. Saya belum tidur dari pagi sampe sekarang hampir ketemu pagi lagi. Saya perlu istirahat dan besok mau ke makam Nenek. Kalo ga ada lagi pembahasan, lebih baik semua bubar dulu" potong Dafi yang tampaknya udah ga respect sama apa yang terjadi dihadapannya sekarang.


"Terus saya dipanggil tuh buat apa?" tanya Iyus.


Bu Fia pamit mau ke kamar mandi dulu, tampak mengetikkan sesuatu di HP nya pas didalam kamar mandi, ga lama kemudian Iyus membaca.


#Awas jangan sampe kelepasan buat cerita kejadian tadi sama semua orang# ancam Bu Fia.


Iyus yang berada diatas angin langsung mengirim foto Dafi dan Qeena tengah berpelukan di ranjang. Posenya dibikin sedemikian rupa hingga tampak wajar aja mereka tidurnya.


Bu Fia kaget melihat foto tersebut.


#Mau foto ini kesebar atau ikutin apa yang saya mau# balas Iyus penuh kemenangan.


"Kurang ajar Iyus ... foto ini ga boleh kesebar. Bisa hancur reputasi Dafi kalo sampe ini kesebar" umpat Bu Fia.


Bu Fia balik ke ruang keluarga, dia tampak gelisah, khawatir Iyus meminta sesuatu yang dia ga sanggup penuhi. Tapi foto itu harus segera dihapus demi masa depannya Dafi.


"Saya benar-benar bingung harus gimana ini ya ceritanya" ucap Pak Dzul bingung.


"Jadi ada apa Pak? terus terang aja" tanya Iyus sok bijak.


"Begini Yus ... kita semua ga tau kejadian persisnya, yang jelas saat kami pulang, menemukan Mas Dafi dan Qeena tidur bersama" cerita Pak Dzul.


"Apa????" teriak Iyus dengan marahnya kemudian mendekati Dafi dan mencengkeram kaosnya Dafi.


"Tenang dulu ... ini semua bisa dijelaskan, saya ga tau apa-apa .. saya dijebak" bela Dafi.


"Apalagi yang mau dijelasin. Qeena itu anak kandung saya, kamu berbuat kaya gini. Jangan sok alim deh. Udah nidurin cewe ya harus tanggung jawab" teriak Iyus.


"Pak ... Pak .. sabar, tahan emosi" tarik Fajar.


"Saya minta tanggung jawabnya Mas Dafi .. saya merasa dirugikan" lanjut Iyus penuh emosi.


"Iyus ... jangan bikin keributan ya di rumah saya. Bisa tenang ga? kita selesaikan dengan kepala dingin" hardik Pak Dzul.


"Loh ... harusnya saya yang marah, anak saya udah dinodai sama anak Bapak" kata Iyus ga mau kalah.


"Mas ... bisa stop ocehan Mas yang seakan membela Qeena. Kemana Mas selama ini?" tanya Mak Nuha angkat bicara.

__ADS_1


"Udah .. udah ... bubar ... bubar semua .. kami masih dalam suasana duka malah ditambahin pepesan kosong seperti ini" omel Bu Fia.


__ADS_2