
Pengajian dan arisan keluarga sudah usai, jam empat sore semua udah pamit pulang. Bintang kali ini adalah Qeena, dengan kecantikan serta skill komunikasi yang baik membuat semua terpana. Bahkan banyak yang ikutan pesan kue juga pas Qeena nanti ada orderan kue.
Bu Fia merasa ga suka karena Qeena yang justru mendapatkan pujian, bukan dirinya.
Bu Fia mengajak Qeena ke rumah Dafi. Beliau ga mau ada yang mendengar percakapan mereka berdua.
Pertama-tama Qeena yang beralasan buat mandi dulu di rumah Dafi, ga lama kemudian ketika ga ada orang yang memperhatikan, Bu Fia masuk ke rumah Dafi.
"Seneng ya dipuja puji sama keluarga? Ngaca dong kamu tuh siapa. Gayanya kaya nyonya rumah aja" omel Bu Fia.
Seperti biasa, Qeena hanya menundukkan kepalanya, ga memandang wajah Bu Fia.
"Berhasil ya dapat panggung ... Jangan ngimpi jadi bagian keluarga kami. Udah pergi kok malah balik lagi sih. Kenapa ga ngilang selamanya aja" lanjut Bu Fia.
"Maaf Tante... Qeena ga bermaksud nyari muka diacara Tante hari ini. Semua terjadi begitu aja. Semua menerima baik kehadiran Qeena" ucap Qeena ketakutan.
"Terus apa kalo bukan nyari muka? Sok sibuk bolak-balik ngurusin saudara, senyum sana sini, ikut ngobrol segala sama adik-adiknya Mas Dzul. Sadar dong, anak kampung aja mau jadi ratu. Jangan kebanyakan alasan, saya tau kamu berharap Mas Dafi melegalkan pernikahan kalian kan?. Emang dari dulu kamu udah merencanakan ini semua. Ga Emaknya, ga anaknya ... Semua mau hidup senang dengan cara instan. Gaet cowok mapan biar bisa hidup berkecukupan" kata Bu Fia pedes.
"Tante... Mau menghina saya apapun pasti saya terima, tapi jangan menghina Emak saya. Semua ini salah saya, bukan Emak" protes Qeena ga suka.
"Kenapa Mas Dafi sih yang jadi korban, mending gini aja deh. Mas Dafi tuh masa depannya kan cerah, tega kamu hancurin semua yang udah dia bangun? kariernya ... cintanya ... pikir dong, Bapak kandung kamu malah bisa bikin Dafi kehilangan pekerjaan" celoteh Bu Fia.
"Apa hubungannya kerjaan Mas Dafi sama Pak Iyus? mereka kan ga sekantor" tanya Qeena bingung.
"Mending gini ... jalan tengahnya lebih baik kamu sama Rian aja, ketauan kan ada gunanya, bisa ngurusin tuh anak" lanjut Bu Fia untuk mengalihkan kecurigaan Qeena karena Bu Fia salah ucap tentang Dafi dan Iyus.
"Kan semua sudah saya jawab sejak lama yang mengenai Mas Rian" jawab Qeena.
"Saya liat kamu perhatian kok sama Rian, dia juga nurut sama kamu. Kalo malam itu emang kegadisan kamu terenggut sama Mas Dafi, ya udah sih anggap aja khilaf, toh Rian juga ga akan paham kondisi kamu kaya gimana. Biarkan Mas Dafi melanjutkan rencana pernikahannya sama Zahwa. Kami udah ngelamarnya secara resmi, Mas Dafi juga cinta banget sama dia. Mereka tuh udah punya mimpi berdua. Rumah ini juga Mas Dafi buru-buru selesaikan ya buat hadiah pernikahan ke Zahwa. Makanya belum diisi perabotan kan rumah ini? karena Mas Dafi ingin semua sesuai selera Zahwa. Kalo kamu hamil pun, kami tetap tanggung jawab kok ngurus anak kamu. Pokoknya lepasin Mas Dafi dan menikah sama Rian. Nanti kita kasih kamu rumah, mau dimana? tinggal tunjuk... Ciloto? Wonogiri? Pokoknya jauh dari sini" papar Bu Fia.
"Kenapa Mas Rian harus disingkirkan dari keluarga ini? Apa karena dia terlahir berbeda? Qeena kira semua berubah setelah lama menghilang dari sini, ternyata masih sama, Tante masih ga bisa menerima keistimewaan Mas Rian" ucap Qeena dengan berani.
"Saya ga minta kamu mengeluarkan pendapat ya ... Saya hanya mau kamu menjauh dari Mas Dafi, biarkan dia bahagia bersama cinta sejatinya" ujar Bu Fia sambil meninggalkan Qeena.
"Tante... siapa yang mendekati siapa disini? sedari awal saya ga menginginkan pernikahan ini terjadi. Tau kan gimana sikap saya malam itu. Mas Dafi yang melanjutkan akad. Baru semalam tau semua alasan Mas Dafi menikahi Qeena. Tapi Tante... ga pernah tuh terbesit dalam pikiran saya bakalan menikahi seorang Danish Ahmad Faishal. Seorang laki-laki yang digadang-gadang sebagai seorang abdi negara yang akan cepat naik pangkat karena pintar, punya wawasan serta pergaulan yang bagus, punya usaha sampingan diluar pekerjaan sehingga uangnya banyak, sopan terhadap siapapun, banyak membantu orang tanpa pamrih ... serta jadi idaman para wanita dan calon mertua... itu kan yang mau Tante gaungkan? ga usah repot-repot Tante... saya mencatat semua uang Mas Dafi yang saya pergunakan. Sekarang mungkin saya ga bisa mengembalikan uangnya, tapi saya punya niat buat kembalikan semua. Tante kira dengan dinikahi Mas Dafi bisa mengembalikan kondisi seperti semula? apapun yang sudah terjadi malam itu, ga mungkin mengubah jalan takdir saya kan? Kenapa cuma saya yang disalahkan? kenapa tadi pas Mas Dafi selalu berusaha dekatin saya, Tante ga bereaksi apa-apa? pengen tau seperti apa pendapat Tante kalo tau dia dengan enaknya minta saya pijit seluruh tubuhnya padahal awalnya cuma dikerok, terus bagaimana dengan tatapannya ... usapan tangannya di kepala saya. .. bahkan tadi sepanjang acara mepet terus ke saya, sampe tangannya anteng loh di bahu. Saya cuma ga mau jatuhin harga dirinya aja sebagai suami kalo saya nolak sentuhan dia didepan keluarga besarnya" tantang Qeena.
Entah keberanian darimana sampe dia bicara sefrontal ini didepan Bu Fia. Kemungkinan karena akumulasi rasa kesalnya terhadap Bu Fia yang lama ia pendam.
"Hai ... jangan sok cantik ya ... mentang-mentang semua memuji kecantikan kamu terus saya sependapat gitu sama mereka? kamu kira Mas Dafi akan tergoda sama kamu? salah besar Qeena ... tipe dia tuh kaya Zahwa ... smart, berkelas, satu level sama kami, punya karier yang bagus, sopan sama orang tua" papar Bu Fia.
__ADS_1
"Maaf ya Tante .. mungkin bisa tanya ke anak Tante... saya termasuk tipenya atau ngga? kok setelah menikah sama saya, Mas Dafi jadi berubah, terkesan mepet terus ke saya. Bahkan dia meminta dokumen saya buat dia urus pernikahan kami secara legal dan didaftarin ke kantor" buka Qeena.
"Dasar ga punya attitude ... ngomong sama orang tua ga ada tata kramanya" omel Bu Fia sambil meninggalkan rumah Dafi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Qeena masuk ke kamar mandi kemudian membasuh tubuhnya. Mak Nuha juga udah ada di rumah Dafi, lagi beberes karena Qeena minta buat balik ke Tebet
"Tante Fia... jangan anggap saya sama seperti Qeena dua tahun yang lalu. Saya akan mampu melawan siapa aja yang udah menghina saya dan Emak. Ga pandang bulu ... saya cape dari kecil selalu dihina orang. Tante kira saya mau nikah? Tante salah besar .. bahkan hingga detik ini saya masih membenci lelaki, kecuali Pak Dzul yang sudah sangat baik dan sampai sekarang tetap baik dimata saya" ucap Qeena penuh amarah saat di kamar mandi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dafi dan keluarganya masih merapihkan rumah. Saat keluarga bebenah, Qeena dan Mak Nuha udah rapih mau pamit pulang.
"Ayah ... Qeena sama Emak pamit pulang dulu ya" ujar Qeena.
"Mau pulang kemana? disini kan rumah kalian juga, lagian udah mau Maghrib" tanya Pak Dzul.
"Kan Mas udah bilang kalo kamu sama Mak Nuha pindah kesini, dikit-dikit kita isi rumah Mas" ucap Dafi.
"Mas... Kita berdua kan punya tanggung jawab ke Aa' Zay" jawab Qeena.
"Kami ditolong sama mereka dan akan kerja sama mereka membangun lini bisnis barunya dibidang kuliner" jawab Qeena.
"Emang Aa' Zay belum ngomong ya sama kamu?" tanya Dafi lagi.
Qeena dan Mak Nuha ga menjawab.
"Nuha ... tinggal disini aja, mau ngapain coba ikut orang, kita kan keluarga" ucap Pak Dzul.
"Kami ga enak Mas selalu merepotkan keluarga ini" jawab Mak Nuha.
"Ga enak ngerepotin keluarga tapi enak ngerepotin orang lain? kenapa begitu Nuha?" tanya Pak Dzul.
Qeena dan Mak Nuha masih terdiam tanpa kata.
"Selepas sholat Maghrib nanti Mas antar pulang" potong Dafi penuh kekesalan kemudian naik ke kamarnya.
"Iya Qeena... disini aja, biar Izma punya teman kaya dulu" rayu Izma.
__ADS_1
"Akan lebih aman buat Qeena dan Mak Nuha disini. Kenapa sih Mak .. Qeena .. apa-apa Aa' Zay, penting banget ya mereka dalam hidup kalian? Terus apa artinya kami yang sedari kecil udah mendampingi?" kata Fajar yang kesel juga karena Qeena dan Mak Nuha dinilai keras kepala.
"Ina .... Ina ..." panggil Rian sambil memberikan bunga ke Qeena. Bunga yang diambil dari hiasan di meja makan.
"Makasih ya Mas Rian" jawab Qeena dengan penuh senyuman.
"Ina ... tantik(cantik)" ujar Rian.
"Mas Rian jadi anak baik ya, nurut sama semua orang, udah pinter makan sendiri kan?" ucap Qeena.
"Dah ..." jawab Rian.
"Qeena pulang dulu ya" kata Qeena lagi.
Selepas sholat Maghrib, Dafi mengantarkan Qeena dan Mak Nuha menuju ruko di Tebet.
"Kenapa sih harus keras kepala?" tanya Dafi membuka obrolan.
Mak Nuha yang duduk dibelakang ga berani buka mulut. Qeena tadinya pura-pura tidur tapi disenggol sama Dafi buat bangun.
"Apa sih Mas?" ujar Qeena.
"Aa' Zay pasti udah ngomong kan kalo Mas membatalkan semua rencana kerjasama kamu sama dia" kata Dafi.
"Ya udah ... tapi kan Qeena mau mandiri, mau cari duit sendiri, ga mau ngerepotin siapapun" ucap Qeena dengan beraninya.
"Mau mandiri? bagus ... Mas dukung. Mau cari duit sendiri? sangat bagus ... karena sebagai ummat Islam kita harus giat cari duit... biar bisa zakat infaq dan shodaqoh yang banyak, bisa naik haji, bisa membantu sesama manusia. Tapi bab ga mau ngerepotin orang yang Mas ga setuju" ujar Dafi.
"Qeena ga butuh Mas setuju atau ngga. Ini hidup Qeena" jawab Qeena.
"Sekarang dengan tinggal di ruko terus pekerjaan belum jelas, kalo bikin orderan di rumah Pak Shaka ... apa itu ngga ngerepotin orang? udah gede kan kamu Qeena? harusnya bisa lebih panjang pikiran kalo ngomong. Jangan ikutin hati" ucap Dafi.
"Qeena udah sopan ya sama Mas dan keluarga ... jadi jangan paksa Qeena jadi hilang kesopanan kalo Mas terus menerus ngomel kaya gini" ujar Qeena.
"Banyak-banyak istighfar ... buat apa kamu jalanin perintah agama kalo ga bisa membuat kamu paham maknanya? satu lagi Qeena ... kamu itu istri saya. Jadi perintah saya wajib kamu ikutin" lanjut Dafi.
"Suami? keluarga macam apa kita?" tanya Qeena.
"Saya menjalankan kewajiban saya memberikan nafkah ke kamu semenjak pernikahan kita. Saya juga udah menyediakan rumah buat tempat tinggal kamu sama Mak Nuha. Saya selalu minta dokumen kamu tapi kamu ga pernah mau kasih. Harusnya Mas yang tanya... mau dibawa kemana hubungan kita?" ucap Dafi mencoba makin bersabar dibalik rasa kecewanya terhadap pemikiran Qeena.
__ADS_1