ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 134, Ketahuan


__ADS_3

"Kamu udah nikah siri kan sama Zahwa? bisa banget kalian sandiwaranya. Karena ibunya Zahwa meninggal ya jadi nikah didepan jenazah. Kan biasanya ga boleh ada pernikahan kalo ada orang tua calon mempelai yang meninggal udah dimakamkan" tembak Raisha.


"Ga paham ah apa yang lagi kamu omongin" kata Dafi yang langsung balik lagi ke pintunya.


"Ada tuh di medsos ...siapa deh tadi namanya ya yang posting. Ngucapin sama nge tag kok. Ada juga foto kamu" kata Raisha sambil buka IG nya tapi sinyal masih ga bersahabat.


Dafi udah ga niat dengerin ocehan Raisha, dia langsung masuk dan mengunci pintu rumah kontrakannya.


Baru teringat mau telpon Mak Nuha, dari kemarin hanya berbicara sama Qeena. Dafi video call ke HP nya Qeena.


"Assalamualaikum ... ganggu tidur ya?" kata Dafi.


"Waalaikumsalam .. ada apa Mas" jawab Qeena sambil ngucek-ngucek mata.


"Mak Nuha udah tidur?" tanya Dafi.


"Belum nih, Qeena malah yang ketiduran, Mas mau ngomong sama Emak?" tanya Qeena.


"Iya ..." jawab Dafi.


HP diserahkan ke Mak Nuha, Dafi pun berbincang sama Mak Nuha. Saling menanyakan kabar kesehatan masing-masing.


"Maaf ya Mak .. Mas belum bisa kesana, pekerjaan lagi numpuk karena Mas mau dipindahkan lagi" kata Dafi.


"Gapapa ... ini aja udah ngerepotin ya" ujar Mak Nuha.


"Ga ... ga repot sama sekali. Emak cepat sehat lagi ya, sekarang fokus aja sama penyembuhan, ga usah mikir macem-macem, nanti kalo ada apa-apa, minta Qeena hubungi Mas aja" pinta Dafi.


"Maafin Qeena juga ya Mas, belum paham tugasnya sebagai istri tuh gimana" ujar Mak Nuha ga enak hati.


"Ga usah dipikirin ya Mak .. intinya Mas paham kok dia seperti itu. Ga usah kita bahas sekarang" lanjut Dafi.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Bu Fia marah besar karena temannya udah banyak yang nanya perihal pernikahan Dafi. Ternyata banyak anak-anak temannya suka stalking medsosnya Dafi (Padahal ga terlalu aktif) terus mereka kasih tau ke orang tuanya.


Dafi memang termasuk banyak diincar buat jadi calon mantu sama teman-temannya Bu Fia, sebenarnya mukanya standar, tapi kepintaran dan anteng aja yang membuat mereka memasukkan nama Dafi jadi calon favorit para calon mertua. Nama Fajar baru naik daun dibicarakan karena sebagai calon dokter, dulu Fajar tuh ga pernah serius cenderung slenge an jadi ga banyak yang incar dia jadi calon mantu. Sekarang pesonanya juga udah lumayan muncul, setelah Bu Fia bawel terhadap penampilan Fajar, bahkan sampe ikut perawatan disalah satu Klinik khusus kulit.


Pak Dzul yang ga punya dan ga main medsos bingung sama ocehan Bu Fia.


"Anak Ayah emang keterlaluan, ga bisa mikir panjang, nikah sama orang kampung sih ... jadinya kampungan" celoteh Bu Fia.


"Mas Dafi?" tanya Pak Dzul penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Terus siapa lagi? emang anak kita yang udah nikah berapa orang?" kata Bu Fia kesal.


"Coba tanya aja ke anaknya langsung Bun, masa dia gegabah share berita pernikahan di medsos, bukan tipenya Mas Dafi yang mengumbar kehidupan pribadinya di medsos. Wong sama kita aja juga jarang dia share, tau-tau dia udah ada kekasih aja, mana tau masa pendekatannya kapan. Atau emang Mas Dafinya udah mau serius kali sama Qeena, jadinya disebarluaskan berita bahagia itu" ucap Pak Dzul menerka.


"Amit-amit ya punya mantu kaya wanita itu, kalo bukan karena Ayah yang maksa-maksa malam itu, Mas Dafi ga bakalan mau nikah. Tau sendiri kan kalo Mas Dafi itu paling anti ngelawan perintah kita. Pernikahan mereka hanya jadi aib buat keluarga kita. Lagi buat apa sih Ayah maksa mereka nikah, tinggal kita kasih uang kan beres. Wanita kaya gitu itu disumpel uang juga diam. Toh apa sih yang mereka butuhkan selain uang? selama ini juga tiap nongol juga alasannya uang. Udah bener-bener jauh dan menghilang dari keluarga kita, eh malah nongol lagi. Bisa jadi kan emang dia punya rencana masuk ke rumah kita lagi. Dia tau kalo Fajar sebentar lagi jadi dokter, toh Fajar selama ini cinta banget sama dia. Sekarang lagi dapatnya Mas Dafi ... bakalan susah deh anak kita lepasnya. Apalagi tipe Dafi yang gampang kasian sama orang susah .. kita liat aja deh kedepannya" kata Bu Fia kesal.


"Bun... baik buruknya, Qeena udah jadi mantu kita sekarang, kita ga tau nanti keputusan mereka seperti apa, tapi selama Mas Dafi ga menjatuhkan talak ke Qeena, dia tetap mantu kita" tegas Pak Dzul.


"Ayah udah buta kalo belain Qeena sama Nuha. Jangan lupa kalo dia anak diluar nikah Yah, Bapaknya si Iyus cuma supir yang sekarang udah Bunda keluarin, ibunya ga jelas kabur kemana. Hidup menggembel sama Nuha yang kerjaannya juga mengharapkan belas kasih orang. Menjual kemiskinan demi dapat sebuah iba dari Ayah dan anak-anak kita" ucap Bu Fia mengumpat.


"Bun... Ayah selama ini ga pernah kasar ya ke Bunda, tapi kalo memang terpaksa, akan Ayah Bunda pelajaran" kata Pak Dzul dengan suara marahnya.


"Ayah...." ucap Rian yang datang menubruk tubuh Pak Dzul.


Seperti tersadar, Pak Dzul mengurungkan niatnya menyakiti hati istrinya. Beliau langsung istighfar buat menenangkan dirinya sendiri


"Liat... demi anak haram itu Ayah marah ...dua puluh delapan tahun kita bersama ga ada artinya sama bocah ingusan yang baru belasan tahun Ayah kenal. Sekarang Ayah pilih ... mau Bunda atau Qeena?" kata Bu Fia dengan amarah yang memuncak.


Pak Dzul meninggalkan Bu Fia dan langsung masuk ke kamar Dafi. Pak Dzul hanya ga mau jadi lepas kendali nantinya.


Rian yang ga paham kondisi yang terjadi antara Ayah Bundanya, langsung memeluk Bundanya. Dipikiran Rian, Bundanya menangis pasti karena sedih. Dihapusnya air mata Bundanya pake ujung bajunya. Tapi Bu Fia malah bertindak kasar dengan mendorong Rian.


"Kamu... jangan deket-deket Bunda... pergi sana, Bunda ga punya anak idiot kaya kamu" ucap Bu Fia sambil mendorong Rian keluar kamar hingga terjatuh didepan pintu.


"Ada apa sih Bun sampe Mas Rian harus Bunda kasarin" tanya Izma.


"Kamu juga Izma.. lebih membela wanita culas itu daripada Bunda" kata Bu Fia.


"Perempuan yang mana Bun?" tanya Izma ga paham.


"Qeena" kata Bu Fia yang malas menyebutkan namanya.


"Qeena ngelakuin apa Bun?" tanya Izma masih ga ngerti.


"Apalagi kalo ga mau diakui sama keluarga kita, mengumbar cerita sampah di media sosial... mau pansos atau sengaja mau dapat pengakuan" lanjut Bu Fia lagi.


"Bunda bisa cerita yang jelas ga? Izma ga paham sama sekali" kata Izma masih bingung.


"Qeena tuh sengaja upload di medsosnya, ngaku kalo dia udah nikah sama Mas Dafi. Gimana kalo Mas Dafi sampe pisah sama Zahwa, dia udah sepadan sama keluarga kita. Mau taro dimana muka Bunda kalo orang tau yang nikah sama Mas Dafi itu hanya lulusan SMA, anak haram, bapaknya supir dan ibu tirinya penjual roti bakar gerobak, mana dari kampung lagi. Ga ada bagus-bagusnya kan?" nyinyir Bu Fia.


"Ya Allah Bun... jangan menuduh tanpa bukti, Qeena ga bakal jatuhin nama baik keluarga kita. Betapa dia sangat menghormati Ayah sejak dulu. Toh selama ini juga Qeena ga berbuat yang aneh-aneh sama keluarga kita " bela Izma.


"Terus siapa lagi kalo bukan dia yang up di medsos?" tanya Bu Fia.

__ADS_1


"Nanti Izma liat dulu medsos punya Qeena dan Mas Dafi" kata Izma pergi dari kamar Bunda sambil menuntun Rian masuk kamarnya.


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Kontrakan Dafi digedor kencang. Hampir jam sebelas malam. Dafi langsung bangun dan membuka pintu. Masih dengan muka bantal, dia kaget ayahnya Zahwa serta kakaknya Zahwa udah ada didepan pintu. Tetangga keluar semua karena disangkanya ada keributan.


Dafi minta ijin cuci muka dan pake jaket serta mengambil HP nya. Karena rumah kontrakan mepet tetangga, dia memberikan usul biar ngobrolnya di rumah Ayahnya Zahwa aja.


Di rumah Zahwa, Dafi masih belum paham ada apa sampe selarut ini dia disidang. Zahwa melempar nota pembelian bedroom set di Jakarta dan HP yang terbuka medsos yang mengetag nama Dafi. Dan caption-nya mengucapkan selamat atas pernikahan Dafi.


"Bisa kamu jelasin apa ini? Kamu udah nikah?" tanya Ayahnya Zahwa.


Dafi mengambil nota dan melihatnya, dia coba mikir kenapa nota ini ada ditangan Zahwa.


"Ini jatoh di mobil abis Za jemput Mas" kata Zahwa kesal.


Dafi baru ingat, saat dia keluarin HP dari saku celananya, kemungkinan nota ini jatoh. Terus dia buka medsosnya yang udah hampir setahun ga dibuka, ada medsos milik Sania yang mengetag dan memention dirinya.


#Wishing you joy, love and happiness on your wedding and as you begin your new life together. Wishing the absolute best to two wonderful people as your build a life of love together. Congratulations#.


Dafi langsung paham kalo ini biangnya adalah caption dari Sania. Tapi dia ga mau menyalahkan Sania begitu aja. Memang udah saatnya dia berterus terang ke keluarga Zahwa tentang status pernikahannya sama Qeena. Bukan dia ga mau bicara dikeluarga besar Zahwa. Tapi Dafi perlu ngobrol sama Ayahnya Zahwa dulu. Kemudian mereka masuk ke ruang kerja ayahnya Zahwa untuk bicara berdua.


"Pertama-tama saya minta maaf atas ketidakjujuran saya, sudah berkali-kali saya meminta waktu bicara sama Bapak tapi Bapak malah ga bersedia karena masih dalam suasana duka. Saya ingin berdiskusi awalnya, tapi melihat kondisi kesehatan Zahwa yang masih stabil jadi saya masih maju mundur. Benar saya baru menikah dengan seorang wanita pas saya ke Jakarta, sehari setelah Nenek saya meninggal dunia. Pernikahan ini diluar rencana saya. Saya dan dia terjebak disebuah keadaan, hingga hari ini saya masih menyelidiki siapa yang menjebak kami. Demi menjaga kehormatannya, saya setuju menikah, anehnya setelah ijab kabul, saya merasa inilah jodoh saya. Terus dapet telepon dari Zahwa, mengabarkan kematian Ibu. Bingung saya saat itu, dijalan udah mikir buat terus terang, tapi melihat Zahwa yang rapuh, saya ga tega. Ayah saya menyerahkan semua keputusan ke saya, makanya saya perlu lagi berdiskusi" papar Dafi.


"Dijebak bagaimana?" tanya Bapaknya Zahwa.


"Tau-tau kami sudah tidur dalam ranjang yang sama, saya hanya pakai boxer dan dia masih berpakaian lengkap hanya tanpa jilbab dan roknya. Padahal saat itu saya sama sekali ga tau kalo dia ada di rumah, karena udah lama dia ga datang ke Jakarta. Dia anak asuh Ayah saya" lanjut Dafi.


"Kamu cinta sama dia?" tanya Ayahnya Zahwa.


"Dia udah seperti adik buat saya. Usianya sepantar adik bungsu saya, lagipula adik kandung saya, Fajar, mencintai dia dari kecil. Ayah mengangkatnya sebagai anak asuh sedari dia kecil. Sejak saya disini, saya ga pernah ketemu sama dia, berhubungan lewat telepon juga ga karena ga tau nomernya. Selama kami kenal pun, hanya berkomunikasi sama ibunya. Ibunya selalu memberikan kehangatan seorang Ibu yang saya butuhkan. Jadi sulit bagi saya mendefinisikan arti cinta buat dia" ucap Dafi mengawang pikirannya.


"Penyelidikannya udah sampe dimana?" tanya Bapaknya Zahwa makin serius.


"Karena saya disini, jadi semua saya andalkan ke para asisten rumah tangga yang kerja di rumah. Belum ada kemajuan sama sekali" ujar Dafi.


"Istri kamu tinggal di rumah Pak Dzul?" kata Bapaknya Zahwa.


"Ga .. saat saya kesini, mereka pulang ke tempat tinggal mereka di Ciloto" jelas Dafi.


"Terus kamu udah memilih dia dibanding Zahwa?" buru Bapaknya Zahwa.


Kedua lelaki ini saling menatap.

__ADS_1


__ADS_2