
Pengalaman pertama bagi Qeena takbiran dalam bus seperti ini, para penumpang juga kebanyakan mengikuti gema takbir, tahmid dan tahlil yang berkumandang dari radio bus dan suara dari luar karena melihat banyak yang takbir keliling, baik yang berjalan kaki, naik motor bahkan mobil bak terbuka.
"Ya Allah Mas .. lupa .. Qeena belum zakat fitrah" ucap Qeena yang buru-buru ngeluarin HP dan mau hubungin Mak Nuha.
"Udah .. kemarin sekalian sama Mas dan Mak Nuha. Pokoke aman" ujar Dafi.
"Makasih ya Mas" kata Qeena.
"Loh kok makasih .. ini kewajiban Mas ngeluarin zakat fitrah kamu dan Mak Nuha, semoga tahun depan udah tambah anggota baru dalam keluarga kita yang membayar zakat fitrah ya" ungkap Dafi.
"Maksudnya Mas mau nambah istri gitu?" tanya Qeena bingung.
"Emang boleh?" ledek Dafi.
"Kan Mas rese deh.." ujar Qeena.
"Lagian ada aja pemikirannya begitu .. yang Mas maksud tuh anak kita .. anak yang terlahir dari buah cinta kita" papar Dafi.
Qeena terdiam, dia mungkin siap menjadi seorang istri, tapi dia masih khawatir kalo punya anak karena ga mau ada lagi anak yang bernasib sama seperti dirinya.
"Masih sakit perutnya?" tanya Dafi lagi.
"Masih .. makanya mau makan coklat aja ah" jawab Qeena.
"Emang ada hubungannya ya?" kata Dafi.
"Ngga sih, tapi kan coklat bisa buat bahagia, siapa tau jadi lupa sama sakit perutnya" ucap Qeena sambil membuka coklatnya.
"Dari kecil sukanya coklat itu .. tau aja ya barang mahal" ledek Dafi.
"Pertama kali makan coklat ya merek ini, Mas Fajar yang ngasih" sahut Qeena.
"Selalu Fajar ya ..." ucap Dafi.
"Maaf .. " kata Qeena yang baru sadar udah menyebut nama lelaki lain dihadapan suaminya.
"It's okeee .. makan deh .. biar kamu bahagia" lanjut Dafi sambil menyenderkan kepalanya ke pundaknya Qeena.
"Berat Massss" ucap Qeena.
"Tau ga Neng .. Mas kangen deh bermanja sama kamu" kata Dafi.
"Kemarin-kemarin cuek aja, tadi juga cuek" jawab Qeena.
"Tadi kan masih shaum atuh Neng .. repot kalo kepengen yang nggak-nggak .. hehehe.. sekarang kan ga masalah mau manja kaya gini juga" bisik Dafi.
πππππππππππππππ
__ADS_1
"Yah... udah jam dua malam kok Mas Dafi belum sampe ya, katanya berangkat dari kemarin" tanya Bu Fia.
"Biarin ajalah Bun.. mungkin dia lagi ada keperluan lain dulu, kita do'akan dia baik-baik aja, selamat sampai tujuan" jawab Pak Dzul yang kembali meneruskan tidurnya.
"Ayah mah ga ada khawatir sama anak" oceh Bu Fia.
"Apa yang dikhawatirkan .. Mas udah gede, dia tau harus gimana. Kalo ada apa-apa juga pasti dia ngabarin kita. Mungkin dia mau bikin surprise buat kita. Tau sendiri kan kalo anak sulung kita itu penuh dengan kejutan" lanjut Pak Dzul.
"Tapi hati Bunda tuh rasanya ga enak dari tadi" ucap Bu Fia.
"Makanya berdo'a" saran Pak Dzul.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Lebaran kali ini Nyaknya serta kakak-kakaknya Iyus dagang ketupat, masak dipanci-panci besar. Karena udah banyak pelanggan dari beberapa tahun yang lalu, jadinya bisa dibilang rejeki mereka menjelang hari raya. Sedari Dzuhur sudah habis ketupat diambil oleh pemesan. Iyus yang baru pulang diminta merapihkan bekas-bekas kayu bakar dan nyuciin panci, namanya juga Iyus, paling susah kalo diminta megang kerjaan, ada aja alasannya.
Masih ada satu panci lagi berisi ketupat yang diperuntukkan buat keluarga, Nyaknya Iyus mau selonjoran dulu, sepuluh menit lagi Iyus diminta angkatin ketupat dan dijemur ke tambang yang udah disiapkan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terkadang momen tersedih saat hari raya itu bukan pas bersalaman meminta maaf, tapi ketika kita tidak berada ditengah-tengah keluarga atau keluarga sudah tidak lengkap seperti tahun lalu.
Mak Imah sedang memandang foto satu-satunya yang dia miliki, foto saat Qeena aqiqah, tengah digendong sama Mak Imah dan Iyus berdiri disampingnya.
"Qeena ... kamu dimana?" tanya Mak Imah sambil mengusap foto yang sengaja dia laminating biar ga rusak.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Qeena tertidur karena merasa lelah, malam ini rasanya nyaman tidur bersandar didadanya Dafi dan tubuhnya dipeluk dari samping. Dafi memang banyak bertasbih, bertahmid dan bertahlil selama dalam perjalanan. Lantunan itu pun membuai Qeena dalam peraduan.
"Ibu ... Siapakah dia? Dimanakah dia?" pertanyaan yang muncul dalam mimpi Qeena.
Jauh dalam alam bawah sadar Qeena, pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul, terkadang sampe menghantui siang dan malam. Menjadi mimpi buruk disetiap tidurnya. Dan sayangnya, hingga detik ini ga pernah ada jawaban pasti tentang kabarnya. Seolah informasi itu tenggelam ditelan bumi. Ibu yang tega meninggalkannya disaat masih bayi merah. Tidak ada kenangan tentang ibu kandung dibenak Qeena. Entah kenapa saat tau semua kebenaran identitasnya, terbesit rasa
benci sama ibu.
"Kamu bisa kok tanpa ibu. Ibu hanyalah status belaka. Buat apa punya ibu jika kamu ga diinginkan olehnya. Ada Mak Nuha yang menyayangimu, yang mampu menjadi seorang Ibu sekaligus Ayah buatmu" kalimat ini yang selalu Qeena tekankan setiap rasa benci itu muncul.
Tibalah pada kesimpulan bahwa keputusan Ibu meninggalkannya sejak bayi adalah kesalahan terbesar yang ia perbuat.
"Aku ga peduli apapun alasannya, intinya sekali ia memutuskan untuk pergi, ia telah pergi dari kehidupanku selamanya" kata-kata amarah itu selalu muncul.
Di saat Qeena mulai mencoba melupakan dendamnya terhadap orang tua kandung, disaat hati mulai berdamai dengan rasa sakit, ketika romantisnya masa depan sedang terpampang nyata bersama lelaki baik yang sudah dikenalnya lama, Iyus datang merecoki hidupnya dan Mak Nuha.
Keringat membanjiri dahi Qeena. Dafi merasa heran kenapa Qeena berkeringat sedangkan AC Bus terasa dingin. Diusapnya keringat pakai handuk kecil. Perlahan-lahan diusapnya peluh diwajah cantiknya Qeena. Tubuhnya bergetar, seperti menahan sesuatu kemudian tersentak bangun dengan ekspresi takut. Dafi mengeratkan pelukannya.
"All is well ... all is well" ucap Dafi menguatkan.
__ADS_1
Dafi tau Qeena pernah seperti ini ketika hatinya berperang antara menerima kenyataan atau ga peduli dengan masa lalunya. Dulu Dafi ga bisa memeluknya, hanya menemani saat ia menangis. Kini Dafi mampu menjadi tempat dia mencurahkan segalanya.
Qeena mulai menangis.
"Sstt... disini tempat umum, nanti disangkanya kamu lagi Mas culik" bisik Dafi.
Buru-buru Qeena mengusap air matanya pakai handuk kecil.
"Mimpi itu lagi?" tanya Dafi pelan. Qeena mengangguk.
"Mas udah bilang kan... kamu harus sungguh-sungguh berdamai dengan hati kamu sendiri. Hati kamu harus sembuh dari lukanya. Hati kamu harus bersih dari noda amarah dan rasa benci yang terus menggerogoti. Dan salah satu caranya .. memaafkan orang tua kandung kamu. Kita ga pernah tau, apa beliau menangis diseberang sana merindukan kamu? Barangkali sekarang lagi jadi penyesalan dalam hidupnya, yang membuat beliau ga pernah nyenyak dalam tidurnya" kata Dafi menguatkan.
Dafi memberikan botol air mineral ke Qeena. Setelah meminumnya, Qeena kembali memeluk Dafi.
Dafi merogoh kantong jaketnya, ada resleting yang ia buka dan mengeluarkan kotak kecil. Dibukanya kotak tersebut. Ada sebuah cincin dengan berlian kecil. Dibagian dalam cincin tersebut ada inisial D dan F. Qeena tentu aja kaget ketika cincin itu disodorkan kepadanya. Ga ada adegan romantis seperti di drama-drama. Boro-boro ditempat yang penuh bunga-bunga dan alunan musik mendayu, kenyataannya sekarang mereka diatas bus dengan alunan takbiran baik dari radio bus maupun dari arah jalan.
"Cincin yang Mas tunjukkan ini dibuat dari sejuta peluh dan kerja keras. Kilau keindahannya ga akan bermakna tanpa ada jemari manis yang memakainya. Maukah Neng menyediakan jemari manis itu?" tanya Dafi pelan.
Qeena memandang Dafi, Dafi tersenyum manis.
"Kelamaan ya kalo nunggu kamu jawab, Mas pakein ajalah ya, pokoknya mau aja jawabannya" kata Dafi sambil memasangkan cincin di jarinya Qeena.
"Mas mah ga ada romantis-romantisnya .. " protes Qeena.
Dafi malah tertawa kecil.
"Nanti aja Neng romantisnya kalo kita berdua di kamar, terserah deh mau gimana juga. Mas pasrah ..." goda Dafi.
"Makasih ya selalu menjadi orang yang paling paham Qeena setelah Emak. Tapi kan Mas .. Emak kayanya udah ga suka sama hubungan kita" ucap Qeena ragu.
"Gitu ya ... gimana kalo kamu hamil aja dulu, masa sih Emak ga mau terima kalo udah begitu" ledek Dafi makin suka melihat Qeena bingung.
"Mas mah ... emang ga punya ide yang lebih bagus gitu" ucap Qeena.
"Woyyy ... jangan sangsikan kecerdasan suami kamu ini Neng .. nanti juga kamu tau sendiri apa yang akan Mas lakukan demi mempersunting kamu secara resmi" kata Dafi berteka-teki.
"Apa Mas?" tanya Qeena.
"Ga kejutan dong kalo Mas kasih tau. Intinya kamu cukup bilang iya .. maka Mas akan mengurus semuanya. Percayalah Neng, Mas akan upayakan semua dengan jalur damai. Kamu udah membuat Mas bahagia dengan cara yang orang lain ga bisa, kini giliran Mas membuat kamu bahagia, dimana belum pernah ada yang bisa melakukannya" ujar Dafi.
"Ahhh ... so sweeettt ... lebih sweet dibanding gombalan-gombalan mesra ala telenovela" kata Qeena disertai senyum manisnya.
Dafi mengecup telapak tangan Qeena.
"Tangan ini yang nantinya akan menggendong buah hati kita kelak. Kita lahirkan anak dalam suasana keluarga yang ga pernah kita dapatkan saat kita kecil. Tangan ini yang akan selalu menguatkan dan memeluk Mas apapun kondisinya. Tangan ini yang akan mewujudkan mimpi menjadi entrepreneur muda dan mempunyai toko kue. Tangan ini yang akan menuntun orang tuanya dan mengurus masa tua mereka. Kamu wanita kuat Neng .. lebih kuat dari Mas. Wanita yang dewasa karena dipaksa keadaan, tapi sekarang kamu bisa buktikan kalo anak dengan segala keterbatasan ekonomi, keterbatasan kasih sayang dan keterbatasan bersosialisasi .. mampu punya skill yang belum tentu orang lain miliki. Bakat kamu didunia kuliner itu sudah ada, hanya tinggal ikut kursus ditempat yang bagus. Bersiaplah menjadi berlian Neng .. hidup sudah menempa dan mengasahmu, kini tunjukkan kilaumu Neng... Mas akan selalu mendukungmu" kata Dafi.
Tangis bahagia Qeena ga tertahan.
__ADS_1
"Terimakasih ya Allah .. Kau kirimkan lelaki yang mampu mematahkan pikiranku kalo lelaki itu ga baik. Kau berikan dia .. yang sanggup berjalan bersama walaupun dia tau akan banyak badai menerpa" ucap Qeena dalam hatinya.