
"Mas Fajar ga bilang apa-apa tentang Mas Rian, mungkin udah ga inget sama Emak kali. Kan Mas Rian emang gampang lupa sama orang" jelas Qeena.
"Mudah-mudahan Rian bisa hidup normal, paling ga buat aktivitas pribadinya bisa sendiri, dia kan makin besar, masa mau dimandikan terus. Dia tuh sebenarnya anak yang baik dan perasa, hanya perlu diperhatikan lebih aja, kalo udah gitu nanti dia bisa diajak kerjasama" ingat Nuha.
"Mak ... Emak kenapa baik banget sama keluarga Om Dzul. Emak lupa kalo Tante Fia ga suka dan marah-marahin Emak terus? Udahlah Mak, mulai sekarang jangan terima telepon lagi dari Om Dzul. Qeena khawatir Mak disakiti lagi sama Tante Fia" ucap Qeena tulus, saat kejadian pelabrakan emang Qeena masih balita jadi ga paham, tapi dia melihat bagaimana marahnya Bu Fia dan Nuha menangis sambil diliatin orang banyak.
"Mak ga ada apa-apa sama Mas Dzul, kamu ga perlu curiga begitu" sergah Nuha buru-buru, kaget juga anak abegenya udah mulai bisa protes.
"Ya Mak, Qeena paham ... tapi kan Emak sekarang single parent, baiknya Mak jaga kehormatan Emak sendiri. Qeena tau Emak ga neko-neko, tapi pandangan orang kan beda. Maaf ya Mak, bukan bermaksud menjelekkan status pernikahan Emak, tapi stigma dimasyarakat tuh kalo janda identik sama genit dan pelakor" papar Qeena dewasa.
"Ya sih .. Mak Janji akan coba menjaga jarak sama Mas Dzul" ucap Nuha pelan.
"Sama Mak .. Qeena juga udah mulai ga intens telponan sama Mas Fajar" jawab Qeen lagi.
"Anak Emak udah remaja, hati-hati dalam pergaulan dan pandai jaga diri ya. Jangan mengulang kesalahan orang tua kamu" wanti-wanti Nuha.
"Kesalahan apa Mak yang dilakukan sama orang tua kandung Qeena?" tanya Qeena yang membuat Mak Nuha ga bisa menjawab lagi.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dafi berubah menjadi sosok seorang kakak yang selalu hadir buat adik-adiknya. Bukan menggantikan peran Ayah di rumah, tapi dia ga bisa melarikan diri begitu aja, cukup sudah sejak masuk Pesantren sampai kuliah dia rada jauh dari adik-adiknya, asyik dengan sekolahnya sendiri. Segudang prestasinya diluar rumah ga akan ada artinya kalo statusnya sebagai anak sulung dan kelak menjadi pengganti sosok Ayah, ga mampu melindungi adik-adiknya.
Empat bersaudara ini saling mensupport dan saling menasehati. Walaupun ada keributan kecil ala-ala saudara kandung.
Sudah beberapa kali Dafi bersama Fajar menghadap Bu Fia, memperjuangkan agar Rian bisa sekolah ditempat yang baik buat perkembangannya, awalnya Bu Fia ga mau menerima saran kedua anak lelakinya, tapi Dafi berhasil memasang badan kalo urusan hadir di sekolah buat anak berkebutuhan khusus tersebut akan menjadi tanggung jawabnya. Dia yang akan urus mulai dari pendaftaran hingga nanti kalo ada undangan rapat dan acara lainnya tanpa melibatkan Bu Fia yang merasa malu punya anak seperti Rian. Pak Dzul tersenyum puas atas usaha anaknya.
Dafi dan Fajar juga yang mencarikan sekolah buat Rian. Setelah itu, mereka berdiskusi sama kedua orangtuanya.
Hari ini Bu Fia dan anak-anak akan pergi ke Mall, Pak Dzul masih diluar kota. Mereka mau merayakan ulang tahun Fajar dengan makan keluarga aja. Biasanya Bu Fia ga pernah mau Rian ikut pergi keluar rumah, tapi Fajar dan Dafi memaksa kalo Rian harus ikut mereka. Rian ga boleh diasingkan dari dunia luar. Kalo ada acara gathering kantor pun, baik kantor Bu Fia atau Pak Dzul pasti Rian ditinggal di rumah. Padahal Pak Dzul ga keberatan kalo Rian ikut, tapi Bu Fia yang selalu menentang. Rasa gengsi yang dimiliki Bu Fia emang tinggi, baginya sebuah aib punya anak istimewa padahal mereka adalah pasangan yang bisa dibilang couple goals, karier keduanya cemerlang, bisa dibilang harta yang mereka punya lebih dari cukup, punya anak-anak baik lelaki maupun perempuan.
Dafi dan Fajar yang menggandeng Rian saat masuk Mall agar Rian bisa tenang. Para pengasuh dan asisten rumah tangga serta supir hanya mengikuti mereka dari belakang.
Izma meminta es krim yang sudah tampak standnya dari pintu masuk, Bu Fia langsung membelikan karena Izma adalah putri kesayangannya. Rian yang melihat Izma makan es krim, spontan mau juga, Dafi mencoba menasehati Rian buat ga makan es krim dulu (penderita autis memang sangat dibatasi beberapa makanan dan minuman bahkan kalo bisa dihindari kasein pada susu, karena dapat memicu amarahnya timbul kembali), tapi Rian memaksa dan mulai berulah dengan teriak-teriak. Bu Fia sampe emosi dan menyubit tangan Rian. Bukannya diam, Rian malah teriak-teriak sambil lari-larian.
Sejak Dafi diberitahu oleh terapisnya Rian tentang makanan dan minuman yang baiknya dihindari, maka Dafi mulai menyusun menu buat Rian dan berkonsultasi dengan dokter gizi.
__ADS_1
Tapi kali ini Rian ga bisa menuruti perintah Dafi, dia ga mau tau harus minum es krim juga, akhirnya Dafi meminta Izma untuk berbagi agar tidak terlalu banyak mengkonsumsi es krimnya. Setelah membeli es krim, mereka memilih Restoran all you can eat biar bisa menikmati beragam jenis makanan. Waktu makan memang dibatasi selama empat puluh lima menit per orang, tapi bisa sekehendak hati makan apa aja yang diinginkan. Pemilihan ini pun karena banyak pilihan jadinya Rian pun bisa dipilihkan makanan yang disarankan dokter.
Baru juga masuk kedalam ruangan dan duduk di meja yang sudah dibooking Bu Fia, kembali Rian bikin ulah. Dia memukul piring pake garpu dan pisau. Dafi meminta pisau yang dipegang Rian secara baik-baik, dia khawatir kalo Rian pegang pisau akan berbahaya.
Setelah pisau diserahkan, Rian udah berlarian kesana kemari hingga menyenggol makanan dan hampir aja tumpah. Dengan telaten, Fajar dan Dafi membimbing adiknya duduk kembali. Rupanya keramaian orang dan suara di Mall, serta dikelilingi oleh banyak warna yang ditangkap mata Rian, membuatnya tidak nyaman. Saat ketidaknyamanan itu udah memuncak, muncul perangai yang aneh-aneh.
Karena mulai menjadi pusat perhatian orang-orang di Restoran, Dafi langsung mengajak Rian keluar dulu, mereka menuju pintu luar samping. Agak lumayan sepi disana. Keluarga yang lainnya melanjutkan makan.
Dafi mengajak Rian duduk di tangga. Dafi memberi ruang buat Rian menurunkan emosinya yang ga stabil, setelah udah ga agresif, Dafi mulai mendekati Rian. Memberikan pengertian secara sederhana ke Rian.
"Rian mau pergi ke Mall lagi ga?" tanya Dafi.
"Mau" jawab Rian sambil menengok kekanan dan kekiri.
"Nah kalo mau diajak lagi, bisa duduk ya buat makan. Makanannya enak loh didalam, nanti Mas ambilin" ucap Dafi.
"Mau" jawab Rian lagi, memang dia akan cenderung menjawab dengan jawaban yang sama.
"Rian mau makan apa?" tanya Dafi.
"Nanti Mas pesanin ya telurnya" bujuk Dafi pelan.
"Telur ... Bu Ain bikin telur" kata Rian.
"Bu Ain ga ikut kesini, lagi pergi jauh Bu Ainnya" jawab Dafi sambil mengelus rambut adiknya.
"Bu Ain masak telur" jawab Rian ngotot.
"Ya .. nanti Bu Ain masak ya buat Rian. Sekarang Rian makan dulu sama Bunda, sama Mas dan Adik" ucap Dafi sabar.
"Mas mau ketemu Bu Ain?" tanya Rian makin memburu Dafi.
"Nanti ya, kalo Mas libur kuliah, kita kerumah Bu Ain" janji Dafi.
"Bu Ain baik. Qeena baik. Bunda jahat" kata Rian sambil tepuk tangan karena melihat ada anak bawa mainan.
__ADS_1
"Semua baik Rian, semua sayang kok sama Rian, Bunda ga jahat, Bunda mau Rian bisa sekolah" jelas Dafi.
"Sekarang ke rumah Bu Ain ya" pinta Rian memaksa ke Dafi. Dafi menghela nafas panjang mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya.
"Ga bisa sekarang, Bu Ain rumahnya jauh, sekarang Rian janji dulu kalo Rian mau jadi anak baik. Nah kalo Rian jadi anak baik, Mas akan antar ke Bu Ain" kata Dafi membujuk.
"Janji?" Kata Rian sambil mengangkat kelingkingnya.
"Ya ... Mas Janji" ucap Dafi melingkarkan kelingkingnya di kelingking Rian.
Dafi dan Rian kembali masuk kedalam Restoran lagi. Rian mulai bisa duduk tenang dan makan tanpa menghiraukan situasi sekitar.
"Mas ... besok-besok ga usah ajak Rian deh kalo kita jalan makan di Mall ... bikin malu aja" bisik Bu Fia ke Dafi.
"Bun ... Rian kan anak Bunda juga, dia anak istimewa titipan Allah Bun. Please terima semua kenyataan. Sampai kapan Bunda ga terima Rian ?" kata Dafi dengan suara pelan.
"Ini mah musibah, kayanya waktu hamil dia kondisi Bunda baik-baik aja, rutin kontrol dan ga masalah. Lahir juga normal-normal aja, eh tau-tau jadi begitu. Ini azab buat Ayahmu kali yang selingkuh sama wanita lain" balas Bu Fia.
"Astaghfirullahal adzim ... ga boleh Bunda kaya gitu ngomongnya, anak istimewa bukan azab Bun. Pernah ga Bunda mikir betapa Allah kasih banyak ke Bunda. Ayah dan Bunda punya karier yang bagus, secara materi udah diatas rata-rata. Bunda juga dikarunia anak sampe empat orang, banyak diluar sana yang masih berusaha buat punya keturunan. Bunda diberikan suami yang baik, yang sayang sama Bunda, paling ga kan Bunda ga mengalami kekerasan yang dialami Eyang kan?" Ucap Dafi membuka luka lama.
"Kamu sama Ayah selalu bilang begitu. Udah cepet makan, Bunda udah ilang selera makan karena malu. Anak pembawa sial" kata Bu Fia dengan egoisnya.
"Bunda mengalami kesialan apa sejak lahirnya Rian? Bukannya semua Bunda punya setelah kelahiran Rian?" balik Dafi, Bu Fia diam.
Sesampainya di rumah, Fajar langsung masuk ke kamar. Dia langsung menelpon Qeena, baru ingat kalo Qeena belum memberikannya ucapan ulang tahun ke 18 buatnya. Fajar sengaja menyalakan speaker di HP nya karena males megang HP. Sambil tiduran di kasurnya, Fajar beberapa kali mengulang nomer Qeena. Rupanya tadi Qeena sedang melayani pembeli di warung Koh Rudi. Setelah selesai melayani, Qeena memasang handsfreenya.
"Assalamualaikum Qeena ... kok lama sih diangkatnya" sapa Fajar.
"Waalaikumussalam ... maaf Mas Fajar, tadi Qeena lagi ngelayanin orang" jawab Qeena.
"Kamu jam 9 masih kerja? Besok kan sekolah" kata Fajar kaget.
"Ini juga mau tutup warungnya, tadi rame terus. Biasanya juga jam 8 udah pulang" jelas Qeena sambil bebenah dagangan warung.
Qeena bekerja dari jam dua siang sampe jam delapan malam kalo weekday, sedangkan kalo weekend kerja dari jam delapan pagi sampe jam 8 malam.
__ADS_1