
Makan malam kali ini terkesan agak sedikit romantis, ada didalam restoran resort, dihias sedikit sama bunga di meja. Para anak muda cukup terkesan sama pesanan tempat, hiasan serta menu yang dipilih sama Pak Shaka sendiri.
Pak Shaka ga memilih outdoor seperti tadi siang, karena anginnya lumayan agak kencang malam ini, selain pasir bisa beterbangan masuk ke makanan, resiko kelilipan dan pastinya bisa masuk angin kalo memaksakan makan malam dibibir pantai. Memang akan lebih tampak romantis, tapi terlalu banyak mudharatnya daripada manfaatnya.
Menu yang dipilih tentu saja seafood, dari tampilannya aja terlihat masih segar-segar karena tangkapan baru dari para nelayan di pulau ini. Resort selalu menampung hasil nelayan tradisional, harganya pun lebih menguntungkan dibandingkan harga yang ditawarkan oleh bandar ikan. Pak Sanjaya memang meminta agar pihak resort bisa menggandeng para warga demi kesejahteraan bersama. Toh hasil tangkapan juga ga banyak, sekedar hasilnya bisa untuk beli beras dan jajan anak saja.
Sejak resort ini makin besar pun, anak-anak muda udah ga menyebrang ke daratan Jakarta lagi buat mencari kerja. Pihak resort menampung mereka pencari kerja untuk menempati berbagai bidang yang ada di Resort. Ada juga yang menjual cinderamata dan makanan khas untuk para pengunjung, pihak Resort menyediakan tempat buat para UMKM tanpa biaya sewa, cukup menjaga kebersihan dan tidak boleh menjual dengan harga "aji mumpung", tujuannya agar para pengunjung ga kapok untuk membeli lagi. Bahkan para pegawai resort akan mengarahkan pengunjung menuju ke tempat UMKM berada, jadi perekonomian terus berputar.
"Seger banget ya ini kerangnya. Beda banget yang baru ditangkap sama yang udah lama" buka Pak Shaka.
"Doyan kerang juga ya Pak?" tanya Qeena.
"Saya tuh diantara seafood, yang ga boleh ketinggalan kerang dan cumi. Kalo ikan, udang dan kepiting mah standar aja doyannya" jawab Pak Shaka.
"Inget kolesterol Yahhhh" ingat Erin.
"Kalo punya anak cewe pasti bawel ya. Baru mau menikmati hidangan .. udah berisik" ucap Pak Shaka.
"Itu baru punya satu anak cewe, sama satu mantu cewe, gimana kalo plus lagi anak cewe satu .. dijamin pasti tambah berisik kuping denger ocehan mereka ya Yah" canda Aa' Zay.
Pak Shaka tersenyum, Mak Nuha lebih banyak diam. Beliau memang bukan orang yang bisa mudah mengeluarkan pendapat, apalagi dikalangan "orang-orang pintar".
Setelah makan malam. Semua masih duduk santai mendengarkan alunan lagu, anak-anak kecil sudah tidur dan ditungguin sama pengasuhnya di kamar. Yang ada hanya orang-orang dewasa.
"Kayanya udah malam nih, ya sesuai agenda acara liburan kita kali ini kan untuk mengakrabkan diri dan mendengar apa jawaban dari Mak Nuha. Maaf kalo saya harus membuka duluan, kayanya udah malam dan harus ada yang mulai duluan, dengan segala kefakiran ilmu yang saya miliki, saya mau mengemukakan apa yang menjadi ganjalan saya dengan kondisi ini. Ya kaya ga ada yang berani buka pembicaraan. Dalam Islam, apa yang Pak Shaka lakukan bisa dikategorikan sebagai khitbah karena sudah datang menemui wali sahnya Mak Nuha untuk meminta ijin mengenal lebih dekat bahkan berniat menikah sama Mak Nuha.ย Memang belum secara resmi proses khitbahnya. Tapi saya tau, Pak Shaka amat menjaga harga diri Mak Nuha dengan membicarakan secara kekeluargaan dulu dengan keluarga inti. Kalo langsung banyak pihak yang tau dan tidak ada kesepakatan buat menikah, kan nanti Mak Nuha bisa diomongin tetangganya dengan cibiran yang ga enak didengar. Mbah pun paham dan bijak ketika Pak Shaka meminta untuk bisa mengenal Mak Nuha, tidak mengambil keputusan sendiri tanpa kesediaan dari anaknya. Sekarang yang kita tunggu itu kan tinggal jawaban dari Mak Nuha. Untuk cara menjawabnya, tidak harus melalui lisan Mak, karena biasanya wanita cenderung malu-malu jika diajukan pertanyaan seperti itu. Sekarang Mas tanya sama Mak Nuha ... boleh ga diamnya Emak, berarti menjadi pertanda bahwa Emak ridho dan setuju dengan lamaran Pak Shaka? Emak mau melanjutkan perkenalan ini dan akan mulai merencanakan pernikahan dalam waktu dekat?" ucap Dafi to the point.
Semua mata tertuju pada Mak Nuha yang masih kaget sama ucapan Dafi yang terkesan ajaib. Seorang Aa' Zay aja ga berani mengutarakan tentang hal itu.
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu'anhu yang berkata bahwa Rasulullah shalallahu'alaihi wa sallam bersabda : Tidak dinikahi seorang janda kecuali sampai dia minta dan tidak dinikahi seorang gadis sampai dia mengijinkan (sesuai kemauannya). Kemudian mereka bertanya lagi : Ya Rasulullah, bagaimana ijinnya? Beliau menjawab .. Jika dia diam (HR. Imam Bukhari dan Muslim). Ya inilah yang menjadi dasar kenapa Mas bilang tanda diamnya Emak sebagai tanda setuju" lanjut Dafi.
Semua manggut-manggut, baru paham alasan kenapa Dafi memulai lebih dahulu dan seakan mengambilkan kesimpulan tanpa persetujuan Mak Nuha. Dafi paham banget kalo Mak Nuha tampak bingung bicara didepan orang
"Jadi oke ya Mak? Emak mau melangkah bersama Pak Shaka, merangkai cerita indah, beribadah bersama mencapai ridho Illahi" tembak Dafi lagi.
Semua menanti jawaban Mak Nuha. Ada yang gemes, ada yang nutup mukanya pake tangan, ada yang ngetok meja pakai telunjuk.
Mak Nuha meremas tangannya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim .. saya terima khitbah dari Pak Shaka. Tapi saya punya syarat yang harus disetujui sebelum pernikahan kita terjadi" kata Mak Nuha dengan suara pelan.
"Apa syaratnya Nuha? silahkan diutarakan aja biar ga jadi ganjalan" tanya Pak Shaka.
__ADS_1
"Saya tidak mau dimadu, cukuplah saya yang menjadi pendamping Bapak satu-satunya. Jika Bapak ada niat mendua, lebih baik kita pisah dulu kemudian Bapak menikah lagi" jawab Mak Nuha.
"Ya saya menyanggupi" kata Pak Shaka tegas.
"Ada lagi .. bimbing saya menuju syurganya Allah, banyak kekurangan yang saya punya. Jangan sakiti badan dan hati saya, menghormati orang tua saya layaknya orang tua sendiri. Sebagai orang yang punya kisah ga menyenangkan, pastinya hal ini perlu saya bicarakan diawal" ujar Mak Nuha.
"Insyaa Allah, kalo perlu pakai surat perjanjian pun saya mau" jawab Pak Shaka lagi.
"Sekarang giliran Emak tanya ke anak-anak .. kalo ada yang ga setuju, lebih baik diutarakan sekarang, karena Emak ga mau didepannya malah akan menjadi permasalahan buat kalian. Emak dan Pak Shaka sudah sama-sama punya anak, jadi persetujuan anak pun menjadi pertimbangan pastinya. Ga usah malu bilang kalo ga setuju, karena itu adalah hal yang sangat wajar. Menerima orang baru dalam hidup kita emang ga mudah" tukas Mak Nuha.
Erin dan Mas Iqbal maju mendekati Mak Nuha, Qeena yang ada disampingnya Mak Nuha pun langsung memegang tangan Emaknya.
"Mak .. kami ga setuju" ucap Erin dihadapan Mak Nuha.
"Rin.. ehhh ... gimana sih, katanya setuju .. sekarang bilang ngga..." kata Aa' Zay rada berbisik karena posisi duduknya dekat Erin.
"Ya Mak Nuha ... kami ga setuju kalo Emak menggantung lamaran Ayah terlalu lama. Maunya langsung nikah aja" kata Mas Iqbal tersenyum.
Semua jadi lega setelah tau di prank sama Erin dan Mas Iqbal.
"Boleh kami memeluk Emak kami tercinta?" tanya Erin haru.
Dafi dan Aa' Zay malah toss-tossan sama Pak Shaka. Terus dipeluk sama Pak Shaka.
"Alhamdulillahirobbil'alamin ... kalian emang anak-anak Ayah yang sangat istimewa" puji Pak Shaka.
Setelah bisa menguasai suasana, semua kembali duduk. Pak Shaka meminta Dafi menyelesaikan ucapannya yang tadi terkesan masih menggantung.
"Bayarannya mahal ini Pak kalo full ... itungannya ceramah ini ...hehehe. Saya kan bukan lagi ngasih ceramah, cuma gemes aja kalo terlalu bertele-tele" canda Dafi.
"Kamu tuh mumpuni Fi, cocok jadi ustadz muda. Kata-katanya simple tapi ngena banget" sahut Pak Shaka.
"Ga ada apa-apanya saya Pak. Ya kan saya dulu kerjaannya suruh ngosrekin tempat wudhu" jawab Dafi.
"Hubungannya apa ngosrekin tempat wudhu sama pengetahuan kamu yang bagus itu?" tanya Pak Shaka.
"Ya kan pas ngosrek bisa sambil dengerin para Kyai bertausyiah" jawab Dafi.
"Bisa aje nih Ustadz Dafi .. timbang ngosrek aja tuh ilmu lancar, apalagi duduk dalam Mesjid" goda Aa' Zay.
"Lah saya disuruh ngosrek karena ketiduran di Mesjid .. hahaha..." kata Dafi.
__ADS_1
Semua ketawa.
"Sekarang kan proses khitbah udah disetujui kedua belah pihak, waktunya mulai merencanakan tanggal pernikahan dan sebagainya, status wanita yang dipinang menjadi terikat ya Mak Nuha, ga boleh menerima lamaran dari orang lain kecuali lamaran pertama telah dibatalkan. Saya juga mau mengingatkan ke Pak Shaka dan Mak Imah, kali aja udah lupa ya .. hehehe. Walaupun telah berstatus calon pengantin dan proses khitbah telah resmi dilakukan, tetap dilarang berduaan. Bila memang ingin bertemu karena urusan penting maka harus ditemani oleh walinya atau keluarga. Ingat, berduanya wanita dan pria yang bukan mahram, bisa mendatangkan godaan syaitan" tambah Dafi.
"Nah kalo gitu dipercepat aja Yah .. Minggu depan gimana?" tantang Aa' Zay yang langsung dicubit sama Erin.
"Belum ngelamar resmi juga kan.. selow aja ngurusnya sesuai prosedur, emang kalian yabg nikahnya pada buru-buru semua" ucap Pak Shaka.
Aa' Zay dan Dafi ga berani berkata-kata lagi, udah diskak sama Big Boss.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Izma tidur dikamar Bundanya. Udah lama ga ngobrol banyak hal.
"Bun.. kesepian ga? Mas Dafi sama Mas Fajar udah punya keluarga masing-masing, Izma juga sibuk kuliah. Mantu-mantu juga pada sibuk sama kegiatannya. Paling sama Kalila ya" ucap Izma.
"Pasti kesepian lah" jawab Bu Fia.
"Bunda ada keinginan buat nyari pengganti Ayah ga?" tanya Izma.
"Ga .. Ayah itu udah memenuhi semua kriteria lelaki yang bisa menjadi segalanya buat Bunda. Ngapain harus cari pengganti, kisah kami akan tetap abadi dihati serta otak Bunda" kata Bu Fia.
"Mak Imah bisa Bun .. melepaskan kenangan masa lalu. Sebentar lagi tunggu kabar Mak Nuha. Tapi paling ga, mereka bisa menggantikan pasangan sebelumnya dalam hati mereka" ujar Izma.
"Karena mereka ga dapatin lelaki seperti Ayah dipernikahan pertamanya, kalo Bunda kan udah ngerasain pernikahan yang indah. Bunda malah mendukung keduanya buat menempuh hidup yang baru, toh sekarang udah ada Qeena, pasti dia akan jadi garda terdepan buat memastikan Emak-emaknya bahagia. Kita do'akan aja mereka bisa menjalani semua takdir mereka dengan baik" ucap Bu Fia.
"Bunda sekarang lebih bijak ya menghadapi persoalan hidup. Tau ga Bun .. Bunda lebih tangguh sekarang dibanding dulu" puji Izma.
"Karena Ayah memperlakukan Bunda kaya princess, jadi bisa dibilang terlalu dimanja. Segala potensi dan pemikiran Bunda kadang ga bisa kepakai sama keputusan Ayah. Setelah beliau ga ada, mau ga mau Bunda harus kuat menjalani sisa hidup dan bisa mengawasi kalian. Bunda harus bisa dituakan pendapatnya, bukan tua karena usia. Beruntung Bunda punya empat anak dengan kehebatan masing-masing, jadi Bunda ga perlu kerja keras mendampingi kalian" kata Bu Fia.
"Sayangggg banget deh sama Bunda" ujar Izma sambil memeluk Bundanya.
"Masih manja gini, gimana sama cowo yang waktu itu?" tembak Bu Fia.
"Bubar sebelum komitmen, takut sama Mas Dafi katanya. Ya gapapa sih, kan jadi tau mana lelaki yang tulus dan mana yang modus. Masa baru Mas Dafi aja udah ciut" adu Izma.
"Lah justru Mas Dafi itu yang paling serem. Kalo Bunda kan ga bakal setegas itu, Fajar juga keliatannya ga segarang Mas Dafi" ucap Bu Fia.
"Kayanya Izma emang mau cari cowo yang sabarnya kaya Ayah, pinter dan bijak kaya Mas Dafi serta gaul dan tanggung jawab kaya Mas Fajar" harap Izma.
"Semua juga mengharapkan dapat lelaki yang hampir sempurna, tapi manusia ga ada yang sempurna kan. Jadi cukup dia baik sama kamu dan keluarga aja itu udah menjadikan dia lelaki yang sempurna" nasehat Bu Fia.
__ADS_1