ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 77, Keluarga


__ADS_3

Ahad pagi Dafi berencana ingin ke rumah Raisha. Semalam sudah menelpon Mas Eki dan janjian buat ketemu, karena rencananya Senin pagi dia udah kembali lagi bertugas di tempat baru, sudah pisah kantor dia sama Raisha untuk penempatannya. Dafi ingin sekali menyelesaikan semua urusan sama Raisha sebelum dia meninggalkan Jakarta.


"Datang aja ya ... lebih baik ketemu langsung" ucap Mas Eki.


Didalam mobil, Dafi sudah menduga kalo ta'arufnya sama Raisha akan berakhir. Nada bicara Mas Eki sudah menyiratkan itu semua.


"Ya Allah ... terulang dua kali dikisah yang sama. Kenapa wanita yang diniatkan untuk serius ga bisa menerima Rian? Mulai sekarang, kalo jatuh cinta sama wanita, hal pertama yang harus dipertemukan itu Rian, bukan orang tua. Anak istimewa lahir untuk kita bisa belajar bersyukur dan bersabar. Mereka bukan aib keluarga. Rian ga bisa disembuhkan, tapi bisa diajarkan untuk bisa hidup normal layaknya anak seusianya. Sekarang sulit mengantar Rian terapi, kayanya Mas Narto harus ditugaskan khusus buat ngawasin Rian. Jadi job desk nya dia hanya ngurus Rian aja. Sambil pelan-pelan ngomong ke Bunda buat lebih memperhatikan Rian" kata Dafi ngomong sendiri.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Seusai sholat Dhuha, Imah meminta ke Sang Pencipta agar niat baiknya bisa berjalan lancar. Hari ini Imah berencana akan pulang ke rumah orang tuanya buat meminta maaf. Imah sudah siap menerima segala konsekuensinya. Pernah dulu mencoba sekali dan ga diterima. Harapannya ga muluk-muluk kali ini, cukup diterima aja permintaan maafnya. Ga boleh masuk ke rumah pun ga masalah.


Imah berjalan kaki perlahan menuju jalan raya tempat dilaluinya angkot. Saat sedang berjalan, ada mobil hitam yang keluar dari arah sampingnya Imah. Dafi melihat Mak Imah, dia menepikan mobilnya dan keluar menghampiri Mak Imah.


"Assalamualaikum Mak ... mau kemana?" sapa Dafi.


"Waalaikumussalam, Mas Dafi ya? mau pergi, ini lagi mau cari angkot di jalanan depan" jawab Imah.


"Ayo saya antar, Mak Imah udah jalan goyang begini harus jalan sendirian, naik kendaraan umum pula. Emangnya Emak mau pergi ke daerah mana?" tanya Dafi lagi.


"Jauh Mas Dafi ... di Karet Pedurenan" jawab Mak Imah.


"Gapapa Mak .. itu daerah yang ada Mall Ambassadornya kan?" tanya Dafi meyakinkan.


"Ya .. dibelakang Mall" jawab Mak Imah.


"Ya udah .. saya anter ya, kebetulan searah kok. Lagian saya udah beberapa kali kesana" kata Dafi.


"Jadi merepotkan ya Mas" ucap Imah.


"Ga kok ... ayo Mak naik ke mobil saya" ujar Dafi


Dafi menggandeng Mak Imah menuju mobil. Mak Imah duduk didepan, disampingnya Dafi. Dengan telaten, Dafi memasangkan sabuk pengaman buat Mak Imah.


"Makasih sebelumnya ya Mas .. Ya Allah .. beruntung banget yang jadi mertuanya nanti. Udah baik, perhatian, ganteng dan keliatannya tipe sayang keluarga" puji Mak Imah.


"Hehehe .. wah jadi idolanya calon mertua dong ya saya ... kalo calon mertua suka, apa anaknya suka juga?" canda Dafi sambil memacu mobilnya di jalanan beraspal.


"Ya namanya calon mertua, udah pasti ada calon istrinya Mas, ya pasti suka lah. Kalo Emak punya anak perempuan mah dikenalin deh ke Mas Dafi" canda Mak Imah.


"Asal cantik gapapa Mak dikenalin ke saya .. hehehhe" jawab Dafi sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Sayangnya ..." ujar Mak Imah ga bisa meneruskan kalimatnya.


"Sayangnya kenapa Mak?" tanya Dafi.


"Udah lah ... ga usah dibahas, Emak do'akan nanti Mas Dafi punya istri yang sesuai sama keinginan Mas Dafi. Yang sayang juga sama keluarga dan cantik pastinya" harap Mak Imah


"Saya aamiin kan aja ya Mak .. siapa tau jadi do'a yang dikabulkan oleh Allah" jawab Dafi.


"Oh ya .. Mas Dafi punya saudara didaerah sana? kok pernah kesana?" tanya Imah.


"Dulu saya pernah dagang sepatu custom Mak, pesannya disana, disana itu sentra pembuatan sepatu, ya industri rumahan lah" jelas Dafi.


"Kok tau daerah sana banyak perajin sepatu? soalnya kan ga seterkenal seperti Cibaduyut dan daerah sentra sepatu lainnya" lanjut Mak Imah.


"Awalnya tau dari teman, karena saya kan susah tuh nyari sepatu yang size 44 - 45, jadi mau ga mau sering bikin biar enak pas dikaki. Ada sih merek luar, tapi harganya selangit, bergantung harga dollar, berasa juga kan beli sepatu yang fungsinya diinjek-injek tapi harganya sampe jutaan. Sebelum tau daerah sana, saya kalo order di Cibaduyut. Begitu tau daerah sana ada perajin sepatu dan kualitas sama kaya Cibaduyut, ya udah disana aja pesannya. Lumayan hemat ongkir dan langsung bisa milih model dan diukur. Karena pengalaman pribadi, akhirnya saya open PO buat yang kakinya ga standar kaya saya ini. Alhamdulillah berjalan lancar, tapi begitu saya kuliah dan udah sering keluar kota jadi ngga lagi, udah sibuk soalnya" jelas Dafi.


"Dulu emang banyak perajin sepatu, kalo sekarang perajin sepatunya udah ga ada lagi kayanya, soalnya kan rata-rata udah generasi kedua atau ketiga, mereka ga pada ikutin bikin sepatu kaya orang tuanya dulu, pada milih kerja di Mall atau jadi cleaning service di kantoran" ungkap Mak Imah.


"Oh gitu ya .. udah hampir lima tahunan kayanya nih saya ga buat sepatu disana, pantes aja ya perajin yang biasa saya telpon udah ga respon lagi. Ya siapa tau gegara anter Emak kesana saya masih bisa nemu perajin sepatu kaya dulu" kata Dafi berharap.


"Sekarang mah banyak yang beli di Taman Puring, kan itu sepatu merek luar banyak, sisa ekspor apa ya namanya" ucap Mak Imah.


"Tumben ya ada cowo masih ngitung-ngitung kalo mau beli sesuatu. Maaf ya Emak liat Mas Dafi ini kan potongannya kaya orang mampu, udah gitu kerja pula dan masih sendiri ... biasanya mah ga mikirin keluar uang berapa aja buat penampilan. Laki-laki kan milihnya kenyamanan bukan merek atau harga" ujar Mak Imah.


"Saya mah dari dulu juga apa-apa saya hitung Mak. Selagi masih bisa berhemat ya diusahakan hemat. Saya kan makin dewasa, ada fase nanti saya akan menikah, jadi harus ngumpulin uang buat bangun rumah, buat usaha sampingan yang nantinya bisa buat memenuhi kebutuhan keluarga. Kalo sekarang paling ngasih adik-adik aja, soalnya orang tua saya ga pernah mau kalo saya kasih hasil jerih payah saya, paling ya saya ajak makan aja buat nyenengin mereka" celoteh Dafi.


"Bagus pemikirannya kaya gitu, anak muda harus mikir masa depan, harus pinter investasi. Tapi nanti kalo udah rumah tangga jangan serba perhitungan sama istri ya, serahin aja semua ke istri, biar dia yang ngatur. Istri itu manajer keuangan paling handal loh. Lagipula bisa jadi magnet rejeki buat suaminya" kata Mak Imah.


"Wah mau tuh dapat magnet rejeki, jadi rejeki bawaanya nempel mulu ... hehehe" canda Dafi.


"Udah ada calonnya Mas?" tanya Mak Imah.


"Insyaa Allah, hari ini saya mau ke rumahnya, sekalian pamitan saya besok balik kerja lagi, ditempat yang baru" ujar Dafi.


"Kerjanya ga di Jakarta ya Mas? Emak kira kerja di Jakarta" jawab Mak Imah.


"Saya kan abdi negara, jadi harus siap ditempatkan dimana aja. Kebetulan juga belum punya keluarga, jadi lebih bebas langkahnya. Besok saya sudah penempatan ditempat baru, kalo sesuai rencana ya dua tahun disana, paling saya ke Jakarta kalo Lebaran atau kalo ada kerjaan atau pelatihan di pusat" ujar Dafi.


"Emak do'akan semoga sukses kariernya, dapat jodoh yang baik, cantik, sholehah dan yang cinta sama Mas Dafi seadanya. Ditempat baru juga bisa kerasan, bisa dapat kemudahan disana" do'a Mak Imah.


"Aamiin ya rabbal'alamin. Makasih ya Mak do'anya" jawab Dafi sambil mengusap mukanya pakai telapak tangan.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Badannya agak anget Rin" kata Aa' Zay ketika bersenggolan sama Erin di dapur.


"Panas kena hawa kompor kali A' .. nanti kalo udah ga masak juga turun panasnya" jawab Erin.


"Kamu sakit ya?" tanya Aa' Zay sambil memegang dahi Erin.


"Ga A' ... gapapa kok" jawab Erin.


"Ini gara-gara semalam tidur di sofa nih, lagian ngapain sih segala tidur di sofa?" tanya Aa' Zay.


"Ketiduran abis nonton TV" jawab Erin berbohong.


Aa' Zay melihat Erin salah tingkah. Tapi Aa' Zay mencoba menepis berbagai dugaan dalam pikirannya. Dia menuju halaman belakang buat bermain sama anak-anaknya. Zavier dan Zayda lagi berenang di kolam renang plastik, Zafran baru bangun tidur dan mulai dicelupin kakinya sama Aa' Zay kedalam kolam. Keempatnya ketawa kegirangan, apalagi sekarang Aa' Zay ikut masuk kedalam kolam bersama anak-anak.


Dari jendela dapur Erin yang sedang menggoreng pisang, memperhatikan orang-orang yang dicintainya.


"Ya Allah... Hamba ga siap berbagi Aa' dengan orang lain, anak-anak juga pasti ga siap harus berbagi kasih sayang. Jangan sampe apa yang dilakukan oleh Pak Maulana, terulang lagi ke Aa' .. jauhkanlah pikiran suami Hamba buat berpoligami. Jangankan berpoligami, ngebayangin berpisah dengannya aja udah berat" ucap Erin dalam hatinya.


Erin menghidangkan pisang goreng buat anaknya, ga lupa membuatkan susu hangat buat sang buah hati. Erin memotong kecil-kecil pisang goreng dan dilumuri selai coklat kesukaan mereka.


Sambil berenang, Erin menyuapi Zavier dan Zayda biar perutnya terisi walaupun diudara dingin.


"Kok Aa' ga disuapin?" protes Aa' Zay.


"Itu Aa' ambil sendiri lah, ini kan buat anak-anak" ujar Erin.


"Kan Aa' lagi pegangin Zafran" jawab Aa' Zay.


"Aa' ga malu nih disuapin?" tanya Erin.


"Emang kenapa? kan yang nyuapin itu istri sah Aa' yang Aa' nikahi karena cinta. Pokoknya I Love You more and more and more...." rayu Aa' Zay sambil menarik Erin masuk kedalam kolam renang plastik.


Keluarga kecil ini pun becanda ria, quality time seperti ini emang udah jarang bisa didapatkan karena kesibukan Aa' Zay dan anak-anak pun udah sekolah.


Qeena rencananya hari ini mau nyetrika pun membatalkan niatnya, dia kembali pulang. Terasa perih sekali melihat keluarga bahagia didepan matanya. Hal yang ga pernah dia rasakan sepanjang usianya.


"Kok ga jadi nyetrikanya?" tanya Nuha heran melihat Qeena balik.


"Nanti sore aja Mak, Qeena mau ngerjain tugas homeschooling yang mau dikumpulin dulu" jawab Qeena berbohong.

__ADS_1


__ADS_2