
"Ya udah kita duduk dibawah pohon ajalah, ada bale tuh" tunjuk Dafi ke teman-temannya.
"Gapapa Mas duduk disana?" tanya Qeena meyakinkan.
"Ya gapapa, lagi ga bolehlah kami masuk ke rumah. Kami ini kan tamu laki-laki, kamu wanita, apa kata orang nanti. Jadi sebaiknya kita sama-sama menjaga ajalah biar ga timbul fitnah, jangan lupa juga kalo setan ada dimana-mana, emang kamu ga takut kami semua ini laki-laki?" jawab Dafi sambil liat ke arah temannya.
"Maksud Lo apa nih Bro ... gw setan gitu?" ucap Mas Roy sang leader.
"Ga bilang loh Mas..." Ucap Dafi tersenyum.
Yang lain tertawa aja karena selama mereka satu tim survey, Mas Roy ini yang selalu modus tiap liat cewe yang jidatnya licin.
Dafi dan teman-temannya melepas lelah di bale, jam menunjukkan pukul dua siang, sebenarnya mereka sudah makan siang, tapi karena banyak jalan jadinya berasa agak sedikit lapar dan ngantuk.
Mereka memang sudah memulai survey dari pagi, muter dari desa ke desa dibantu mitra statistik ke tiap rumah. Saking lelahnya, ada yang mengambil posisi tiduran di bale dan ada yang bersandar di batang pohon.
"Qeena .. punya kopi ga?" tanya Dafi mendekati Qeena sambil setengah berbisik tapi tetap menjaga jarak.
"Ga Mas" jawab Qeena.
"Ini tolong bikinin kopi ya, kopi hitam, beli di warung dulu kopinya, sama kamu beliin makanan apa kek, kayanya iseng banget nih mulut" ucap Dafi sambil kasih selembar uang seratus ribuan ke Qeena.
Qeena segera bergegas ke warung untuk membelikan barang yang diminta sama Dafi, setelah dari warung dia langsung ke dapur buat menyiapkan kopi.
"Itu siapa sih Nish ?(Dafi disapa Danish karena ketika kerja pakainya nama depan)" tanya Mas Roy sang leader.
"Adik saya Mas ... dulu dia tinggal di Jakarta, sekarang pindah kesini. Ya udah tiga tahunan dia di Wonogiri" jelas Dafi.
"Adek ketemu gede kali ... Cantik kaya gitu mah adek-adek an pastinya" jawab Mas Roy ngeledek.
"Mas Roy emang kalo urusan cewe paham banget, gimana ya ... bingung sebenarnya mau cerita. Intinya kami sekeluarga kenal sama Ibunya sejak Qeena masih kecil" jelas Dafi.
"Qeena ... nama yang modern ditengah daerah seperti ini. Berarti dia free dong ya?" tanya Mas Roy meyakinkan.
"Dibilang free ya ga juga sih, adik saya udah ngincer dari dia masih kecil ... ya bisa dibilang dia itu calon adik ipar saya .. hehehe" jawab Dafi.
"Berat deh kalo bersaingnya sama adeknya Danish, secara cewe mana yang ga mau jadi mantunya orang tuanya Danish yang punya jabatan, ditambah adiknya itu calon dokter" ucap Fito teman kuliahnya Dafi, usianya beda dua tahun lebih tua dari Dafi, tapi mereka seangkatan.
"Danish mah ga keliatan anak orang kaya ya, kalo ke kampus naik motor bebek biasa doang. Nah kalo udah bawa mobil sama pake baju diluar seragam gini baru keliatan tajirnya" ucap Mas Roy.
"Bisa aja Mas Roy saya mah, ini mobil punya Bunda, bukan punya saya. Nanti kalo saya sukses diatas kaki saya sendiri bolehlah disebut tajir ... hehehe" jawab Dafi merendah.
"Sama aja Nish .... punya orang tua ya punya anak juga. Emang orang tua nyari uang buat siapa sih kalo bukan buat anak" jawab Mas Roy.
Qeena keluar dari rumah dengan membawa nampan berisi 4 gelas kopi dan lentho (camilan yang tergolong makanan kuno yang masih bertahan hingga kini. Bahan dasar dari pembuatan lentho adalah kacang tholo dan tepung singkong atau singkong rebus yang telah dihaluskan).
"Makasih ya Qeena" kata Dafi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Silahkan dicicipi, makanan kampung" basa basi Qeena.
"Qeena ya ... kenalin saya Roy ... panggil aja Mas Roy" kata Mas Roy sambil mengulurkan tangannya.
Qeena hanya tersenyum aja ketika Mas Roy mengulurkan tangannya. Mas Roy paham kalo Qeena ga mau salaman sama dia. Toh dari tadi juga antara Dafi dan Qeena ga salaman.
"Mak Nuha pulangnya sore?" tanya Dafi.
"Biasanya ba'da ashar, sebentar lagi.. Mas kerja atau sekedar liburan di Wonogiri?" ucap Qeena.
"Kami sedang ada sensus penduduk disini, buat pemutakhiran data penduduk guna menghadapi pemilu setahun lagi" jelas Dafi ke Qeena.
"Oh ya .. saya denger tuh Mas, kemarin Pak Kades udah kasih pengumuman, warga diminta menyiapkan KTP atau foto copy nya bagi yang sedang diluar kota" ucap Qeena.
"Tapi dari kemarin tuh banyak yang ga punya identitas diri, jadinya agak merepotkan juga. Makanya kita kerjasama sama pemerintah setempat, seperti Kades atau Kadus buat bantu mendata penduduk yang belum punya KTP" kata Dafi lagi.
"Danish ... Aduh ... lagi santai gini ngomongin kerjaan mulu. Sayang kan didepan mata ada cewe manis .. kenalin lah ke kita" serobot Fito.
"Oh ya sampe lupa .. ini team kerja Mas, ini Mas Roy, Fito sama Angga" kata Dafi sambil menunjuk satu persatu temannya.
"Qeena.." ucap Qeena sambil senyum, Qeena udah bersiap ikut duduk di bale tepat disebelah Dafi, Dafi langsung berdiri dan buru-buru kearah teras dan mengangkat bangku yang ada disana. Padahal Fito udah siap berdiri biar Qeena bisa duduk di bale.
"Duduk sini Qeena, di bale itu kan teman-teman Mas pada tiduran gitu, ga elok diliat orang" kata Dafi.
Qeena pun mengikuti instruksi Dafi. Dia duduk di bangku.
"Ya ampun Danish ... ga boleh orang seneng dikit deh. Lo tuh malah lebih posesif dibandingkan orang tuanya" ucap Fito rada sewot.
"Tapi kan kita berlima disini, kecuali cuma berduaan sama Qeena baru deh ga elok" timpal Angga.
"Tau nih ... ribet banget Lo Nish" kata Fito.
"Kaga santuy beut dah Lo Nish, atau jangan-jangan Lo mau tekel sendirian nih" selidik Mas Roy.
Dafi cuma memonyongkan bibirnya dan geleng-geleng kepala.
"Qeena udah punya pacar belum?" tanya Angga yang dari tadi banyak diam tapi memperhatikan Qeena.
"Belum Mas, saya ini aja baru lulus SMP, masih kecil" ucap Qeena polos.
"Gapapa lah ... umur Mas Roy juga baru dua puluh tahun, cukuplah nunggu kamu tiga tahun lagi" goda Mas Roy.
"Wah Mas Roy ga mau disamber orang duluan nih, ketuaan Mas bro, mending sama saya aja Qeena, Mas Fito baru dua puluh satu tahun kok" Fito langsung nimbrung.
"Woy... wah pada parah nih, ga boleh liat cewe langsung aja matanya pada melek. Masih bau kencur, jangan sampe terkontaminasi sama playboy kaya kalian ya" timpal Dafi becanda.
"Masih muda tuh harus banyak buka cabang lah Nish, buat seleksi alam. Nanti cabang unggulanlah yang akan dijadiin pendamping hidup" ucap Fito.
__ADS_1
Sebelum ashar, Nuha udah balik ke rumah. Kaget juga melihat di halaman rumahnya rame. Rupanya tadi Nuha diminta memasak di rumah tetangga yang mau hajatan. Dafi langsung mencium tangan Mak Nuha. Mak Nuha ijin mau mandi dulu karena nanti mau sholat, badannya bau asap.
Dafi dan teman-temannya numpang sholat di kamar Qeena. Walaupun kecil tapi rapih dan bersih.
Kemudian mereka lanjut ngobrol lagi sama Mak Nuha dan Mbah Akung. Jam lima sore mereka pamit mau menginput data yang terkumpul hari ini.
"Qeena bisa bantu kita ga besok? Kadang punya kendala bahasa juga nih, siapa tau nanti malah mempermudah tugas kita, cuma sehari aja karena besok kita udah ke desa sebelah" ajak Mas Roy.
Qeena melihat kearah Dafi seakan meminta jawaban.
"Ide bagus, tapi tetap harus ada hitungan secara profesional dong, masa dia luangin waktu tapi ga ada uang jasa" ucap Dafi to the point.
"Tenang bro, kan ada dana buat mitra statistik, bisa kita alokasikan dari situ, selama ini kita bisa menghemat loh karena mitra statistiknya malah para perangkat desa yang ga mau kita bayar" jawab Mas Roy.
"Kamu besok bisa?" tembak Dafi ke Qeena. Qeena mengangguk tanda setuju, baginya yang penting ada uang dan halal pasti dikerjakan.
Keesokan harinya, selama seharian full, Qeena ikut membantu timnya Dafi berjalan keliling desa. Karena Qeena udah banyak dikenal disana, apalagi kalo bukan karena kecantikan dan kepandaiannya, jadinya mempermudah tim buat ngumpulin data. Masyarakat menjadi lebih terbuka terhadap data yang diminta oleh tim.
Setelah mengantar Qeena pulang dan memberikan sedikit uang ke Mak Nuha, Dafi pamit pulang karena besok pagi sudah survey ke lokasi lain.
Saat lagi istirahat di hotel. HP nya berbunyi, ada panggilan video call dari Fajar.
"Mas ... kok ke tempat Qeena ga bilang-bilang sih" protes Fajar lewat video call.
"Ga tau juga kali bakal ditempatin disitu. Lagi lapor sama kamu juga mau apa? Atasan bukan, tim juga bukan. Udahlah sana belajar yang bener, katanya mau jadi dokter, kejar tuh mata kuliah biar paham. Ingat profesi kamu berhubungan sama nyawa manusia, jadi ilmunya kudu bener" nasehat Dafi.
"Mas sama teman-teman cowo kan kesananya?" cecar Fajar.
"Emang timnya cowo semua, Qeena tadi bantu seharian. Tenang aja Mas jagain kok dari teman-teman Mas" jawab Dafi.
"Awas aja kalo sampe ada yang nikung. Dia udah Fajar tag ke Mak Nuha dari dulu" ingat Fajar.
"Udah sih ribet amat deh, cuma sekedar bantu doang. Itu juga dia cuma anter-anter kita ke warga, lagian Qeena juga baru lulus SMP, masih panjang perjalanannya ... kayanya kamu perlu beli obat kutu deh Jar" ucap Dafi.
"Buat apaan obat kutu? Kutuan aja ngga" tanya Fajar heran.
"Buat diminum biar ga kegatelan" jawab Dafi asal.
"Eh Mamasku udah bisa becanda, kirain kaya kayu ... lempeng dan kaku" ucap Fajar sambil terkekeh.
"Mas Dafi ... Qeena ... Bu Ain ya..." Rian ikut nimbrung karena mendengar Fajar telponan sama Dafi.
"Ya .. Rian bobo ya ... udah malam" kata Dafi dengan sabar.
"Mas Dafi ... Mas ... Qeena makan singkong ga nasi" ucap Rian asal.
"Kenapa makan singkong? tau dari mana?" tanya Dafi penasaran.
__ADS_1
"Liat Rian" ucap Rian simpel.
Fajar coba mengorek keterangan dari Rian. Rian ini emang suka bicara terkesan asal, tapi sebenarnya dia pasti melihat atau mendengar orang yang ngomong. Dia cepat merekam, jadi terkesan mulutnya ember juga karena spontannya. Tapi kalo kita tanya lebih lanjut dia pasti akan mengulang informasi yang sama. Terkadang memorinya tersimpan lama, yang beberapa tahun lalu baru diceritakan beberapa tahun kedepan.