ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 234, Terbuka


__ADS_3

Sore hari Qeena lagi duduk santai sama Mak Imah, Mak Nuha dan Mba Parti. Lagi makan bakwan pake cabe rawit plus teh tawar hangat. Sabtu sore kaya gini biasanya jarang Qeena bisa ngumpul, kalo ga ke Semarang, ya menghabiskan waktu berduaan sama Dafi.


"Mas Dafi pasti kangen tuh ga bisa ketemu istrinya disaat weekend" goda Mba Parti.


"Emang ya .. ampun banget sama Mas Dafi, dari melek mata aja udah video call mulu. Nanti makan siang dia ngubungin lagi, eh abis isya .. bisa tuh ketawa berdua di HP" sahut Mak Imah.


"Kaya ga ngerasain muda aja" kata Mak Nuha.


"Tapi ga gitu juga Mba .. ini mah bener-bener deh, sampe malu dengernya" lanjut Mak Imah.


"Emang ngomong apaan Mak?" iseng Mba Parti kepo.


"Segala i love you ga kelar-kelar, terus muji istrinya cantik banget sampe ngomong yang manja-manja gitu" ujar Mak Imah.


"Masa Mas Dafi begitu Mak? emang sih kadang liat dia manja sama istrinya, tapi kalo ngomong mah biasa aja" ucap Mba Parti.


"Beneran ... makanya Qeena, kalo telponan tuh di kamar aja deh, daripada malah yang denger jadi malu" saran Mak Imah.


"Mas kan cuma ngeledek Emak aja, kan dia emang orangnya suka becanda gitu" jawab Qeena.


"Kebayang ga Mak kalo ada orang aja ngomongnya begitu, apalagi kalo cuma telponan berdua" goda Mba Parti.


"Bisa abis tuh layar HP diciumin" jawab Mak Nuha spontan dan semua pun ketawa.


🌷


Bu Fia yang lagi melihat mereka dari pintu dapur tiba-tiba hilang keseimbangan dan hampir jatuh tapi sempat pegangan pintu. Qeena langsung berlari menghampiri Bu Fia.


"Bunda sakit?" tanya Qeena hati-hati.


"Udah tua kali ya, fisik ga sekuat dulu, ditambah kurang tidur, jadi badan sakit semua rasanya" kata Bu Fia.


"Qeena buatin teh manis hangat dulu ya" tawar Qeena sambil membantu Bu Fia berdiri tegak.


"Ya... nanti tolong antar ke kamar Bunda ya" jawab Bu Fia sambil bergegas masuk kamar.


Qeena takjub sama ucapan Bu Fia yang membahasakan Bunda padanya. Selama jadi menantu, Bu Fia ga pernah bahasain dirinya seperti itu.


Qeena mengetuk pintu kamar kemudian masuk dan meletakkan secangkir teh panas (yang airnya baru dimasak) diatas meja. Bu Fia masih di kamar mandi, saat Qeena akan keluar kamar, Bu Fia memanggilnya.


"Qeena...ada roti gandum ga dirumah?" tanya Bu Fia sangat sopan.


"Ada, mau dibuatkan rasa apa?" tanya Qeena ga kalah sopan.


"Masih ada selai sarikaya yang kamu buat kan? Bunda mau coba. Roti oles aja ga usah dibakar" pinta Bu Fia.


"Ya" jawab Qeena sambil buru-buru keluar kamar buat menyiapkan roti.


🌷


Saat Qeena masuk kembali kedalam kamar, Bu Fia tengah duduk ditepi ranjang sambil minum teh. Qeena meletakkan dua potong roti yang sudah dioles selai sarikaya didekat Bu Fia.


"Duduk sini, temenin Bunda ngobrol" kata Bu Fia sambil menunjuk ranjangnya.

__ADS_1


Pelan-pelan Qeena duduk. Bu Fia mengambil sesuatu dari laci nakas dan menyerahkan ke Qeena.


"Ini ada cincin, Ayah beli buat kita. Ayah beli tiga. Buat Bunda, kamu dan Izma" kata Bu Fia.


"Makasih ..." jawab Qeena.


"Mas udah jauh lebih dewasa sekarang..." tambah Bu Fia memandang ke foto keluarga yang besar tergantung didepan ranjangnya.


Qeena melihat kearah foto tersebut. Foto keluarga saat wisuda Dafi.


"Mas kan memang anak sulung, mau ga mau harus lebih dewasa dari adik-adiknya" ucap Qeena.


"Maafin Bunda ya Qeena ... Selama ini ga membuka mata hati Bunda buat kamu. Pantas Ayah sayang banget sama kamu. Ayah selalu memuji kebaikan kamu... Sejak Ayah pergi, Bunda seakan diingatkan kembali memory tentang kamu. Bagaimana Rian yang ada peningkatan sikap setelah dekat sama kamu, sekarang malah udah mau belajar ngaji dan sholat karena kamu selalu ajak. Izma yang sangat kami manja, sekarang bisa tumbuh lebih dewasa dan ga selalu merengek kalo minta sesuatu, itu karena dia melihat kamu" ucap Bu Fia.


Bu Fia memandang ke Qeena yang masih melihat foto keluarga.


"Bahkan Fajar yang nakal dan nyentrik, sekarang udah jadi dokter, padahal dulu pas sekolah, sering banget Mas Dafi menghadap guru BK akibat sering berantem di sekolah. Dan our pride ... Mas Dafi ... Memang sudah sempat ada wanita yang dilamarnya, walaupun pada akhirnya ga ada yang jadi diantara mereka. Tapi baru kali ini dia menceritakan wanita dengan penuh cinta, biasanya ya sekedarnya aja kalo lagi cerita tentang wanita yang dulu singgah dihatinya. Dia selalu beranggapan nanti bisa pacaran setelah nikah, jadi selama proses pengenalan ga usah sampe cinta banget. Tapi ternyata benar juga apa yang selalu dia bilang, sekarang sulit dia jauh dari kamu. Hubungan kami juga makin membaik sejak dia menikah. Dulu baik sebenarnya, tapi dia bukan tipe orang yang selalu menanyakan kabar Bunda tiap hari, tapi sejak nikah jadi perhatian. Udah ga banyak berdebat sama Bunda lagi. Mas lebih manis dibandingkan dulu, dia seperti menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. You know kan Qeena, kalo Mas Dafi itu selalu mengikuti kehendak kami tanpa bisa memilih, pokoknya Mas sekarang beda banget.. dan Qeena.. Bunda yakin itu karena kamu" ucap Bu Fia.


Qeena hanya tersenyum melihat Bu Fia yang udah menggenggam tangannya.


"Terimakasih udah hadir di keluarga kami Qeena... jangan pernah sedih akan masa lalumu, sekarang ada kami yang siap berbagi kasih sayang sama kamu" kata Bu Fia membentangkan tangannya untuk memeluk Qeena.


"Makasih juga Bunda... keluarga ini selalu memberikan kehangatan keluarga yang Qeena butuhkan. Memang sudah ada Emak yang mampu mengisi cinta keluarga buat Qeena.. tapi keluarga Ayah Dzul benar-benar menyempurnakannya. Makasih udah mau terima Qeena jadi menantu di rumah ini. Kalo Qeena ada kekurangan, silahkan ditegur aja ya Bun... insyaa Allah Qeena akan belajar dari kekurangan itu" jawab Qeena sambil memeluk Bu Fia.


"Maafin Bunda ya Qeena ... Bunda selalu punya pandangan buruk sama kamu, Bunda ga bisa menerima kenyataan yang ada. Ayah benar .. kamu itu wanita luar biasa yang hadir ditengah hidup kita untuk memberikan banyak pelajaran. Walaupun kamu banyak ditempa sama kekurangan, kamu tetap jadi wanita kuat" puji Bu Fia.


"Bunda lebih kuat dari Qeena .. harusnya Qeena banyak belajar dari Bunda" ucap Qeena.


"Kita sama-sama dipertemukan dengan lelaki yang tepat Qeena. Bunda berada di tangan Ayah dan kamu di tangan Mas Dafi. Bukankah Allah adil? setelah Ibu kita ada ditangan yang ga tepat sehingga menimbulkan luka dalam buat kita, Allah kasih hal luar biasa sekarang" lanjut Bu Fia.


"Iya Bun .." jawab Qeena terharu.


Karena dasarnya emang kedua wanita ini cengeng, jadinya mereka malah menangis.


"Nanti tidur disini ya sama Bunda, kita ngobrol lagi. Ya buat membayar waktu yang udah kita lalui kemarin" pinta Bu Fia.


"Iya Bun.." jawab Qeena


HP Qeena ada beberapa misscall dari Dafi, tertinggal di gazebo. Mak Nuha yang baru ingat ada HP Qeena disana langsung menuju gazebo.


Dafi sampe nelpon Mak Nuha karena Qeena ga jawab teleponnya.


"Kemana emangnya Mak?" tanya Dafi kepo.


"Tadi kan nolongin Bu Fia terus bikinin roti, sampe sekarang belum keluar kamarnya. Mungkin lagi ngobrol kali Mas" jawab Mak Nuha.


"Bunda ngajak ngobrol Qeena? bener nih Mak?" tanya Dafi.


"Iya .. tadi kan Qeena yang bantuin berdiri pas Bu Fia ilang keseimbangan. Sampe bikinin teh manis dan roti buat Bu Fia" jelas Mak Nuha.


Karena penasaran, Dafi menelpon HP Bundanya. Karena HP Bu Fia sedang di charge maka ga diaktifkan.


Adzan Maghrib berkumandang, Bu Fia meminta sholat berjama'ah sama Qeena. Tiba-tiba Rian masuk ke kamar Bundanya nyariin Qeena.

__ADS_1


Tadi Rian tanya ke Mak Nuha dimana keberadaan Qeena, dikasih tau kalo Qeena ada dikamar Bu Fia.


"Eenaaa... Allah" kata Rian.


Rian bilang Allah artinya sholat karena dia taunya bacaan Allahu Akbar.


"Iya .. kokonya sama sarung mana?" tanya Qeena.


Bu Fia mengambilkan koko dan sarung milik Pak Dzul.


Qeena yang menjadi imam, Bu Fia dan Rian dibelakangnya. Hal ini karena Rian ga bisa menjadi imam sholat, lagipula dia juga ga mengikuti gerakan Qeena tapi sesuka hatinya.


Setelah sholat, Rian malah mencium tangannya Qeena.


"Jadi anak sholeh ya Rian" ujar Bu Fia sambil mengusap kepalanya Rian.


"Yaaa" jawab Rian yang langsung membuka koko dan sarung kemudian keluar kamar.


Qeena merapihkan sarung dan koko dan melipatnya.


"Qeena urusin Mas Rian makan dulu ya, Bunda mau makan?" tanya Qeena.


"Ayo kita makan malam bareng. Izma lagi keluar sama Damar. Fajar juga ga pulang. Ya kita makan rame-rame aja" jawab Bu Fia.


Semua dipanggil buat makan malam bareng. Semua memandang aneh kearah Qeena dan Bu Fia yang tampak akrab.


Mak Nuha memberikan HP ke Qeena. Dafi langsung video call.


"Assalamualaikum Neng .. ya Allah dari jam empat ditelpon ga diangkat" sembur Dafi.


"Waalaikumsalam .. ini kan udah diangkat, ada apa Mas?" tanya Qeena.


"Abis dari mana?" kata Dafi.


"Abis Bunda culik, ada masalah?" ujar Bu Fia yang langsung mengambil alih HP Qeena.


"HP Bunda juga ga aktif" jawab Dafi.


"Lagi dicharge .. lagian Bunda juga ga kemana-mana, ga usah lebay gitu deh" ucap Bu Fia sumringah.


"Are you okay Bun? look so happy" kata Dafi.


"Yes i'am..." ujar Bu Fia.


"Alhamdulillah" jawab Dafi bahagia.


"Nanti istrinya Bunda pinjam dulu ya malam ini, mau pillow talk antara dua wanita dewasa aja" cerita Bu Fia.


"Ya .. maaf ya Bun, Mas ga bisa kesana, hari ini baru pulang tadi maghrib, besok Mas juga ke kantor, masih itung-itung .. soalnya kan Minggu depan harus udah seratus persen data masuk ke masing-masing wilayah, jadi kita kebut banget. Mas usahakan Minggu depan balik ya, tapi kalo Mas ga bisa, Qeena yang Mas minta kesini, Mas rinduuuu" kata Dafi.


"Ehmmmm.... ngomong rindu sama istri kok sama Bunda .. udah ah nanti Bunda ngiri" ujar Bu Fia penuh canda dan menyerahkan HP ke Qeena.


"Mas ... nanti ditelpon lagi ya, mau urusin Mas Rian dulu" pamit Qeena.

__ADS_1


__ADS_2