ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 206, Hening


__ADS_3

"Tumben sahur disini, Qeena lagi ga sahur?" tanya Pak Dzul saat melihat putra sulungnya duduk di meja makan bersama keluarga.


"Ya kan harus seimbang, ada kalanya sama istri, ada kalanya sama orang tua. Ya mau gimana lagi kalo istri dan orang tua belum bisa akur duduk semeja, harus pinter-pinter baginya" sindir Dafi.


"Jangan bikin selera makan ilang deh Mas. Sekarang kalo ngomong nyelekit banget" jawab Bu Fia.


"Maaf Bun .. ga ada niat buat nyalahin siapapun, mungkin emang Mas yang belum paham menempatkan diri diantara Bunda dan Qeena. Oh ya .. Selasa Mas balik ya ke Semarang. Mohon do'anya biar selamat sampe tujuan dan bisa menjalankan tugas disana dengan baik" pinta Dafi.


"Orang tua tanpa diminta pasti memberikan do'a buat anak-anaknya Mas" kata Pak Dzul.


🏵️


"Kamu ga nyesel kan atas keputusan buat pergi ninggalin semua ini termasuk Mas Dafi?" tanya Mak Nuha.


"Ngga Mak .. paling masih bingung aja kalo Ayah Dzul sampe ngelarang nantinya" jawab Qeena.


"Urusan Mas Dzul, biar Emak yang urus" lanjut Mak Nuha.


"Iya Mak" kata Qeena.


Qeena mendapat chat dari remaja putri Mesjid, dia langsung bilang ga bisa ikut berpartisipasi dalam acara yang akan diadakan karena akan pulang kampung dalam waktu dekat.


🏵️


Pagi harinya disaat Qeena menjemur pakaian, Fajar baru pulang praktek. Dia mendekati Qeena. Dan ajak ngobrol.


"Mas tadi nelpon, nanyain selama Mas tinggal di Semarang, apa ada masalah yang menimpa kamu selain kejadian sama Pak Iyus. Mas bilang ga ada. Emang ada apa sih? tumben Mas sampe nanya begitu" tanya Fajar kepo.


"Qeena sama Mak Nuha mau pergi dari sini dan menetap di Wonogiri aja" jawab Qeena.


"Kok bisa? Mas Dafi tau?" tanya Fajar kaget.


"Ya bisalah ... udah capek disini banyak masalah. Mas Dafi udah tau kok" jawab Qeena.


"Emang kalo pindah kesana .. yakin ga akan ada masalah?" tanya Fajar lagi.


"Paling ga kalo disana kan ga ada orang-orang yang selama ini bikin ribet hidup kita" kata Qeena.


"It's not you Qeena .. kita bukan baru kenal. Tujuh belas tahun deh kayanya kita kenal, dari kamu umur dua tahunan bukan ya? ya pokoknya sekitar itulah .. ada masalah apa sih sebenarnya? sama Bunda?" cecar Fajar.

__ADS_1


"Ya masalahnya masih berkutat dimasa lalu kan? Bundanya Mas juga masih aja mempermasalahkan itu kan?" ucap Qeena.


"Kenapa pada hobi banget sih liat kaca spion? sesekali aja liatnya, fokus liat kedepan .. kamu bisa mengubah masa depan tapi ga akan pernah bisa mengubah masa lalu .. paham kan maksudnya Mas?" ujar Fajar.


"Ini udah jalan terbaik kayanya Mas" sahut Qeena.


"Terbaik versi siapa? versi Emak? versi kamu? mikir ga terbaik versi Mas Dafi?" kata Fajar sekedar nebak aja.


"Emak adalah segalanya buat Qeena. Cuma Emak yang saat itu menerima Qeena. Ntah gimana nasib Qeena kalo ga ada Emak" lanjut Qeena.


"Coba kamu pandang wajah Mak Nuha .. terus kamu pandang wajah kamu sendiri dikaca .. nanti kamu bakalan tau apa jawabannya" nasehat Fajar sambil masuk kedalam rumah.


Qeena coba merenungi omongannya Fajar. Emang sebenarnya orang yang paling paham bagaimana Qeena itu ya Fajar. Kedekatan mereka dari kecil cukup membuat semuanya seperti ga ada rahasia lagi. Saling mengenal karakter keduanya dengan baik karena bisa dibilang tumbuh bersama.


🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️


Enyaknya Iyus kembali datang ke rumah Qeena. Beliau membawakan kue wajik buat Qeena dan Nuha. Sayangnya hari ini mereka sedang pergi ke makam Mak Leha sejak jam sepuluh pagi tadi. Kue Wajik diterima sama Mas Anto dan Nyaknya Iyus pun pamit pergi.


"Ya Allah Qeena .. Nuha .. susah amat ya tiap kesini kayanya ada aja cobaannya. Ngapah kaga pernah telepon? kan waktu itu udah dikasih tau nomernya. Apa takut Nyak minta duit? Apa masih kaga percaya kalo Nyak udah berubah?" kata Nyaknya Iyus dalam hati memendam rasa kecewa.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Bulan Ramadhan memang menjadi bulan yang ditunggu-tunggu (selain tahun baru) oleh penjual petasan, mereka bermunculan dipinggir jalan hingga di gang-gang kecil.


Permintaan petasan yang meningkat drastis dibulan Ramadhan menjadi ladang yang menggiurkan bagi pedagang petasan musiman, ga terkecuali Iyus. Raupan keuntungan yang lumayan besar membuat banyak yang tergoda buat menjualnya. Bahkan keuntungannya bisa lebih dari seratus persen.


Awalnya Iyus menjual jenis petasan yang masih aman dengan daya ledak yang kecil dan kembang api, karena merasa laku dan banyak dicari jenis lain, akhirnya Iyus menambah varian jualannya. Untuk anak-anak yang banyak dicari jenis petasan korek, petasan gangsing, petasan injek dan petasan disko. Iyus membelinya di Pasar Asemka, lokasi yang menjual berbagai jenis petasan dengan harga murah. Di pasar ini, terdapat satu gang yang menjual berbagai jenis petasan dan kembang api. Pengunjung rata-rata membeli petasan di Pasar Asemka untuk dijual kembali.


"Bapak tau ga kalo melanggar Perda?" tanya satpol PP.


"Ga Pak .. mana paham begituan, emang ada sosialisasinya?" kata Iyus sok pinter.


"Ada Pak sosialisasinya, ada juga kan berita di televisi tentang larangan ini. Penjualan petasan atau mercon dilarang dalam Peraturan Daerah (Perda) DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Dalam Pasal 19, dijelaskan bahwa setiap orang atau badan dilarang membuat, menjual, dan menyimpan petasan dan sejenisnya" papar Satpol PP.


"Mana mudeng Pak yang kaya gitu, lagian kita kan nyari rejeki Pak. Daripada ngemis kan mending jualan. Emang kenapa sih sampe dilarang segala, kasian kan anak sekarang ga bisa mainan petasan kalo di razia mulu" jawab Iyus.


"Main petasan itu lebih banyak dampak yang tidak bermanfaat, daripada manfaatnya, makanya hal itu dilarang" jelas satpol PP.


Akhirnya Iyus dibawa dulu oleh Satpol PP untuk tindakan lebih lanjutnya. Semua barang dagangan Iyus dimasukkan dalam kardus dan ikut pula diamankan.

__ADS_1


Di mobil Satpol PP pun Iyus masih juga ngeyel.


"Kita kan pedagang kecil Pak, mending tuh tangkepin pejabat yang pada korupsi" ucap Iyus sok pinter.


"Tugasnya beda Pak, itu urusan KPK bukan satpol PP seperti kami. Kan sudah dijelaskan kalo jualan petasan itu akan kita lakukan penindakan. Karena petasan tentu saja sifatnya bahan peledak. Walaupun low explosive itu juga membahayakan. Selain itu polusi suara juga .. berisik, bermain petasan juga dapat menimbulkan korban luka hingga kebakaran seperti banyak kasus yang terjadi. Kami tidak ingin masyarakat terganggu suasana seperti itu. Lagian ya Pak, ga ada aturannya kalo bulan Ramadhan dipakai untuk meletuskan petasan. Sudah buang buang duit, mengganggu orang, bahkan bisa melukai diri sendiri" jelas Satpol PP dengan sabar.


"Namanya matiin rejeki orang tuh Pak" ngotot Iyus.


"Mending Bapak jualan lontong sama gorengan, dibulan Ramadhan seperti ini kan pasti banyak yang nyari. Ga harus petasan kan Pak?" kata Satpol PP.


🌺


Dafi memilih Mesjid dalam perjalanan pulang ke rumah sebagai tempat dia Iftor Jama'i, rasanya perlu menyendiri dulu biar ga emosi.


Ada kultum menjelang berbuka. Dafi ikut menyimak kultum tersebut.


"Pertengkaran dalam rumah tangga, hampir pernah terjadi dalam semua keluarga. Pastinya menimbulkan kesedihan, tapi apapun kesedihan yang sedang kita alami, perlu kita pahami bahwa itu sejatinya bagian dari ujian hidup. Sebagai orang beriman, jadikan itu kesempatan untuk mendulang pahala. Pahami bahwa bisa jadi pertengkaran ini disebabkan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian Allah memberikan hukuman batin dalam bentuk masalah keluarga. Di saat itu, hadirkan perasaan bahwa Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita dengan kesedihan yang kita alami. Tapi ingat, ada tiga hal yang harus dihindari ketika terjadi pertengakaran. Yang pertama kekerasan dalam rumah tangga. Selanjutnya saling menghindari caci maki, syariat hanya membolehkan hal ini dalam satu keadaan, yaitu ketika seseorang didzolimi. Kenapa harus dihindari? karena kalimat cacian dan makian akan menancap dalam hati dan bisa jadi akan sangat membekas. Sehingga akan sangat sulit untuk bisa mengobatinya.


Marah kepada suami atau marah kepada istri, bukan alasan pembenaran untuk mencaci orang tuanya. Terlebih ketika mereka sama sekali tidak bersalah. Ketiga adalah tetap menjaga rahasia keluarga. Karena ketika masalah itu tidak melibatkan banyak pihak, akan lebih mudah untuk diselesaikan. Sekalipun suami istri sedang panas emosinya, namun ketika diluar, harus menampakkan seolah tidak ada masalah. Jadilah keluarga yang bijak, yang terbuka dengan pasangannya, karena ini akan memperkecil timbulnya salah prasangka" nasehat penceramah.


Setelah sholat tarawih baru Dafi pulang, dia langsung masuk rumah orangtuanya dan mandi. Kemudian dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Pintu kamarnya diketuk.


"Masuk aja, ga dikunci" jawab Dafi dari dalam kamar.


Perlahan pintu kamar terbuka. Ada Pak Dzul berdiri disana. Dafi segera duduk diranjangnya.


"Qeena sama Nuha udah bilang tentang rencananya pindah ke Wonogiri" buka Pak Dzul sambil duduk dibangku meja kerjanya Dafi.


"Ya" jawab Dafi.


"Kok bisa Mas?" tanya Pak Dzul heran.


"Ga paham juga, ga ada diskusi sama Mas. Kayanya udah merencanakan dari lama, soalnya udah sewa kios segala" jawab Dafi.


"Terus Mas ga ambil tindakan?" tanya Pak Dzul.


"Kayanya kita biarkan aja mereka memilih hidupnya Yah. Salah emang kalo mereka mengambil tindakan itu tanpa berbincang sama Mas. Kalo mau dipikir jernih semua pihak pasti menginginkan yang terbaik, tapi kali ini tindakan mereka salah. Bukan ga mau Mas betulin, ya .. kasih deh ruang mereka berpikir. Kalo emang ga bisa atau ga sreg buat melanjutkan pernikahan, ya mau gimana lagi. Pernikahan bukan permainan. Kalo mereka masih terjebak dalam kenangan kisah lama, kita bisa apa? trauma itu harus mereka lawan sendiri" papar Dafi.


"Sabar ya Mas .. semua pasti ada hikmahnya, walaupun Ayah menginginkan kalian bersama, kalo bukan jodoh mau gimana" lanjut Pak Dzul.

__ADS_1


__ADS_2