
Qeena datang ke toko kue selang tiga hari setelah kematian Rian. Masih ada stok kue kering dan beberapa selai yang akan dia flash sale di medsos nya agar cepat habis. Dia sengaja live di toko kuenya agar makin meyakinkan konsumen kalo kebersihan amat dijaga dalam bisnisnya. Hal ini memang penting, terkadang berjualan secara online harus bisa meyakinkan para calon pembeli bahwa yang Qeena tawarkan memang benar, no tipu-tipu dan pastinya paham kenapa harga kue harganya mahal.
Sedangkan di dapur produksi sedang membuat roti gandum dan selai srikaya. Mak Nuha dan Mak Imah yang mengawasi. Makanya ga ikut Qeena ke toko kue.
Qeena datang ke toko kue hanya ditemani Mas Narto. Dia langsung menuju lantai atas karena tadi Rida bilang kalo Iyus sedang sakit.
Rida turun ke lantai bawah, ingin memberikan ruang dan waktu buat Bapak dan anak ini buat bicara berdua.
"Qeena ... maafin semua kesalahan yang dulu Papa lakukan" ujar Iyus begitu melihat Qeena.
"Kan Qeena udah bilang buat ga bahas tentang itu-itu lagi. Yang udah ya udahlah, ga bakal bisa kita ulang kan?" jawab Qeena yang udah bosan dengan pembahasan yang muter disana-sana lagi.
"Memang itu sulit termaafkan, tapi tulus Papa mau minta maaf" kata Iyus lagi dengan bahasa yang sangat sopan.
"Pak ... kalo boleh jujur ... berat nerima kenyataan dan harus berbuat baik sama Bapak. Kalo bukan karena Mas Dafi yang nyaranin, mungkin Qeena udah masa bodo sama Bapak. Bapak ga hanya menyakiti Qeena, tapi banyak korbannya termasuk Mak Nuha, wanita super yang amat sangat Qeena hormati dan sayangi melebihi apapun juga" jawab Qeena datar.
"Iya ... Papa paham sama hal itu" kata Iyus.
"Bisa ga panggilan Papa itu ga disebut lagi? kayanya gimana gitu dengernya, bikin ga nyaman kuping" ujar Qeena yang masih susah menekan emosinya kalo ngobrol sama Iyus.
Iyus diam, biasanya dia ngotot kalo ada hal yang ga sesuai sama keinginannya.
"Ketika masih kecil, saya ga kenal siapa yang disebut seorang Bapak, sampe saya kenal Ayah Dzul, sosok lelaki yang saya kagumi. Barulah saya tau kalo ada sosok lain selain seorang Ibu buat semua anak. Makin bertambah usia, saya akhirnya mendapati kenyataan tentang kisah masa lalu. Bagaimana Bapak mengkhianati Emak, mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga. Rasa kecewa, marah yang pada akhirnya berujung pada kebencian .. itu yang terjadi dalam diri saya Pak. Saya mencoba hanya membenci karena sikap dzalimnya Bapak, bukan pada sosok Bapak seutuhnya. Agar saya masih bisa membuka hati saya buat Bapak. Saya tau sebagai seorang manusia, pasti ada khilafnya, tapi mengulang dilingkaran yang sama mah bukan khilaf lagi, tapi doyan. Saya berusaha agar ga menjadi anak durhaka karena membenci Bapak. Emak yang banyak berjasa dalam hidup saya, makanya sebagai anak tentu punya tugas menguatkan perjuangan Emak yang single parent. Kalo Mas Dafi bilang, yakinlah, Allah ga akan kasih cobaan diluar kemampuan hambanya. Biarlah hanya Allah saja yang berhak menghakimi perbuatan Bapak di pengadilannya kelak. Tapi saya mendo'akan agar Bapak diberikan keselamatan dan diberikan hidayah serta petunjuk agar Bapak segera menyadari kesalahan pada keluarga yang telah sekian lama terjadi. Sambil menunggu waktu semua bisa berdamai dengan keadaan, tolong jangan paksa saya bisa mensejajarkan Bapak dengan Mak Nuha. Jika saya lebih sayang, lebih perhatian dan lebih segalanya ke Mak Nuha, itu hal yang amat sangat wajar" tutur Qeena.
"Ya Papa paham" jawab Iyus.
"Kalo masih berasa pusing, baiknya ke dokter aja Pak, dibawah ada Mas Narto, bisa dianterin ke dokter kalo Bapak mau" tawar Qeena.
"Ga usah" jawab Iyus lagi.
"Tapi kan udah sakit beberapa hari, biar ga tambah parah" ucap Qeena.
"Gapapa kok, cuma masuk angin biasa. Gimana kandungan kamu?" tanya Iyus mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah baik" jawab Qeena.
"Dijaga baik-baik, anak ini pasti ditunggu banyak orang" lanjut Pak Iyus.
"Ya Pak" jawab Qeena.
"Kalo boleh Papa berpesan, jangan pernah mengecilkan pasangan kamu, meskipun nanti kamu lebih hebat, terkenal di dunia per kue an, tetap pakailah ilmu kodrat. Kodrat melahirkan, kodrat mengurus keluarga harus dicamkan betul-betul. Jangan meremehkan, menghina penghasilan finansial suami. Dunia akan berputar, roda bisa berbalik, dan nestapa bisa datang kapan aja. Makanya kamu harus tetap jadi Qeena yang baik. Jangan mempermalukan keluarga seperti Papa yang ga bisa menahan nafsu dan memperlihatkan gelora negatif ditengah khalayak ramai, manusia yang ga bermartabat" kata Iyus serius penuh penyesalan.
Qeena ga menyangka sama sekali kalo Iyus bisa berbicara seperti itu kepadanya. Iyus juga tampak sungguh-sungguh mau berubah.
🏵️
Ternyata Qeena sudah janjian juga sama Pak Shaka di toko kue, sekalian Pak Shaka mau liat toko kuenya Qeena, beliau belum pernah melihat secara langsung toko kue milik Qeena.
Pak Shaka membawakan sepuluh nasi box, ada acara di kantor tadi pagi, rencananya mau dia bagi-bagi aja sekalian lewat, tapi rupanya jam sebelas merasa lapar dan akhirnya dibawa turun sama supirnya untuk dinikmati oleh orang-orang yang ada di Qukis by Qeena.
Pak Shaka dan Qeena ngobrol dipojok toko (biasa untuk bagian administrasi mencatat orderan). Mereka berbincang ringan, Pak Shaka sekarang sudah mengundurkan diri dari bisnisnya. Semua sudah dijalankan kedua anaknya. Makanya Erin mulai sibuk ngurusin Villa dan perkebunan milik Pak Shaka di Ciloto. Kalo Iqbal mengurus usaha Pak Shaka di Jakarta.
__ADS_1
"Tambah repot ya Teh Erin .. ngurus anak-anak, ngurus suami dan sekarang tambah ngurus bisnis" kata Qeena.
"Ya begitulah .. udah tau belum kalo sekarang dia lagi hamil anak keempat?" tanya Pak Shaka.
"Alhamdulillah .. wah Teh Erin ga bilang-bilang nih, emang pasangan itu emang mesra terus, wajar kalo cepat jadi .. hehehe" canda Qeena.
"Udah Erinnya ga bisa kesenggol dikit, Aa'nya juga rajin nyenggol, ditambah cuaca disana mendukung. Ya jadi lagi .. hahaha" timpal Pak Shaka.
"Bisa aja nih Bapak becandanya" jawab Qeena.
"Sampe Mba di rumah udah pindah ikut mereka disana, abis kasian sama Erin. Bapak kasih aja dua sekaligus yang bantuin Erin" jelas Pak Shaka.
"Makin deh Mbah Akungnya rajin kesana, lucu-lucu kan triple Z" ucap Qeena.
"Iya .. biarpun di rumah ada cucu juga, Bapak suka kangen sama yang di Ciloto. Kalo cucu di Jakarta mah udah terkontaminasi sama HP dan TV kabel. Kalo cucu di Ciloto kan ga main HP, mereka senengnya main di kebun atau ditempat pemancingan. Paling kalo lagi ingin renang ya datang ke Villa. Anak-anak di Ciloto itu mainnya berbaur sama warga semua, beda banget sama anak-anak Jakarta yang main individual. Makanya nih Qeena .. Bapak mau fokus jadi reseller kamu aja deh buat mengisi waktu, cuma modal HP sama kuota terus dapat keuntungan. Ga cape produksi. Lagipula rekanan Bapak udah cocok banget sama kue buatan kamu. Apalagi kami ini kan udah tua kaya gini, banyak yang dilarang makan ini itu, jadi kue kamu bisa jadi solusi buat kami" kata Pak Shaka serius.
"Tapi kan dapatnya ga sebanding sama yang biasa Bapak dapat. Recehan aja Pak untungnya" jawab Qeena merendah.
"Ga ada yang besar kalo ga dimulai dari yang kecil. Saya juga dulu mulai dari jadi supir loh. Tapi supir Boss, jadi banyak dapat ilmu, Alhamdulillah juga jadi kenal sama Boss lainnya. Begitu ngerasa udah bisa jalan sendiri, Bapak buka usaha sendiri, bahkan sekarang perusahaan tempat Bapak kerja dulu itu udah jadi milik Bapak sejak sepuluh tahun yang lalu" cerita Pak Shaka.
"Saya harus banyak belajar nih kayanya dari seorang Pak Shaka, biar bisnis makin mentereng" jawab Qeena antusias.
"Belajar apa ya? Bapak cuma menang pengalaman aja dari kamu. Bapak yakin kalo kamu serius, toko ini bisa maju kok" ucap Pak Shaka.
"Aamiin ya rabbal'alamin .. ini udah jadi keinginan saya Pak .. insyaa Allah akan saya perjuangkan dengan baik" ucap Qeena.
"I know you Qeena... anak muda yang punya semangat juang yang tinggi. Alhamdulillah saya dikelilingi sama para anak muda yang mau berpikir maju untuk menciptakan lapangan kerja, ga mengandalkan cari kerja ditempat lain" puji Pak Shaka.
"Lagi sama siapa aja di toko?" tanya Dafi.
"Full ada semua, kan karyawan toko cuma dua orang .. hehehe" jawab Qeena.
"Tumben makan sendirian" kata Dafi.
"Kata siapa makan sendiri, lagi ada reseller yang ganteng pada jamannya" ujar Qeena sambil senyum-senyum.
"Jangan tebar pesona ya Neng. Wong ga ditebar aja banyak yang tergoda" ingat Dafi.
"Siapa yang tebar pesona Mas.. ini dalam rangka kerjasama, ya budaya 3S harus dong .. senyum, salam, sapa.. kan buat kemajuan bisnis juga" kata Qeena lagi.
"Siapa sih resellernya? emang ada gitu cowo yang berminat jualan kue?" tanya Dafi penasaran.
"Ya ada dong Mas. Pokoknya reseller yang ini VIP deh" ledek Qeena.
"Coba Mas video call, biar dia tau kalo kamu udah punya suami" ucap Dafi yang langsung mengubah panggilan telepon jadi video call.
Qeena tertawa melihat muka Dafi yang tegang.
"Apa sih Fi .. masa sama Bapak aja cemburu" kata Pak Shaka dengan santainya.
"Pak Shaka disana?" tanya Dafi.
__ADS_1
"Iya... ya namanya orang ga punya kerjaan, ya nyari kerjaan sana sini aja" jawab Pak Shaka.
"Sehat Pak?" tanya Dafi.
"Alhamdulillah sehat, mohon maaf kemarin ga bisa datang takziah, kami sekeluarga ikut berbelasungkawa atas kepergian adiknya, semoga diampuni segala dosanya, keluarga juga diberi ketabahan" ucap Pak Shaka.
"Makasih Pak" jawab Dafi.
"Sabtu ini pulang ga ke Jakarta?" tanya Pak Shaka.
"Saya Senin kayanya baru pulang ke rumah, ada rapat di Jakarta, saya sempatkan Selasa atau Rabu ya ke rumah Bapak" kata Dafi.
"Ok deh .. ditunggu ya" ujar Pak Shaka.
🌺
Mak Nuha dan Mak Imah sibuk mengawasi di dapur produksi, ada dua pekerja tambahan yang dipanggil Qeena kalo lagi banyak produksi. Masih penduduk sini, masih sekolah, jadi membantu sepulang sekolah.
Semua sudah selesai jam empat sore, Mak Nuha dan Mak Imah duduk didepan dapur.
"Mba .. kalo Sabtu ini saya mau bawa dan kenalin Qeena ke keluarga, Qeenanya mau ga ya?" tanya Mak Imah ragu.
"Udah bilang sama Qeena?" Mak Nuha tanya balik.
"Belum .. takutnya dia nolak" jawab Mak Imah.
"Bilang aja dulu, mau atau ngga nya ya tergantung dia. Kayanya Qeena pelan-pelan udah bisa nerima masa lalu. Sama Mas Iyus aja udah mulai perhatian kok" ujar Mak Nuha.
"Apa bilang ke Mas Dafi dulu ya buat minta pertimbangan?" kata Mak Imah.
"Coba aja" jawab Mak Nuha.
Mak Imah mengambil HP nya, dicarinya nomer HP Dafi kemudian menekan nomer tersebut. Mak Imah menceritakan keinginannya.
"Mak ... Qeena kan anak Emak, ga perlu sampe minta persetujuan Mas buat ngenalin ke orang tua Emak, memang seharusnya Qeena kenal. Mas percaya kok kalo Qeena dibawa sama Mak Nuha dan Mak Imah, ga bakalan macem-macem. Sekarang tanya dulu ke Qeena, apa dia mau atau ngga. Mas pekan ini ga bisa pulang, jadi maaf ya Mak .. ga bisa antar. Mungkin lain waktu kita bisa ketemu bareng-bareng" ucap Dafi.
"Ya .. makasih ya Mas" jawab Mak Imah.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
"Bun .. kalo Izma ikut pertukaran mahasiswa satu semester aja boleh ngga?" tanya Izma.
"Kemana?" kata Bu Fia.
"Ke Jepang" jawab Izma.
"Gimana ya ... Bunda kayanya mulai kesepian Ma .. Mas Dafi kerjanya jauh lagi, Fajar jadwal praktek dan kuliahnya padat, Qeena udah sibuk sama bisnisnya, Alifa juga masih kuliah dan ikut pengajian, masa sekarang kamu pergi jauh" ucap Bu Fia.
"Makanya Bun, Izma masih belum daftar buat seleksi, masih mikir nanti Bunda gimana" ucap Izma.
"Tapi kan udah lama kamu pengen kuliah kesana, ya mumpung ada kesempatan ngerasain kuliah disana. Bunda cuma bilang kesepian .. bukan ngelarang" ujar Bu Fia.
__ADS_1
Kebanyakan basa basi orang tua kalo merasa keberatan pasti ngomongnya muter-muter, disatu sisi ingin liat anak maju, tapi disisi lain ya ga mau ditinggal sama anaknya, apalagi Izma adalah putri satu-satunya.