
H-3 sebelum hari raya, Dafi rencananya akan balik ke Jakarta naik travel, ga macet dan harga ongkosnya pun masih stabil karena dia melawan arus mudik yang harga tiket angkutan umumnya melonjak.
Sebelum libur, Dafi mengadakan ifthar jama'i dengan para karyawannya dengan sistem potluck (jadi masing-masing membawa makanan) tujuannya menciptakan kebersamaan.
"Tolong ditanya aja ya, yang belum ada apa, nanti saya yang beliin. Ya namanya disini sendiri jadi ga bisa bikin apa-apa" kata Dafi.
"Kalo istri ikut kesini kan ga repot kaya gini ya Pak, tinggal angkat telepon nanti udah disiapin. Saya dengar dari rekan yang di Jakarta kalo istrinya Pak Danish pinter masak ya? cobalah Pak bawa kesini, mau jajalin masakannya Ibu Danish" ledek sekretarisnya Dafi.
Dafi cuma tersenyum. Memang sudah menjadi rahasia umum dikalangan kantor Dafi kalo Dafi itu sudah menikah secara siri dan tidak membawa istrinya ke Semarang karena belum tercatat secara negara. Jadi sering diledek sama rekannya yang lebih senior.
"Oh ya Pak .. undangan halal bihalal dari Pak Gubernur akan Bapak hadiri sendiri atau berdua ya? maklumlah Pak kalo sama pejabat perlu protokoler seperti ini, dilaporkan dulu nama-namanya" kata Sekretarisnya Dafi.
"Didaftarkan dulu aja berdua, kalo istri saya ga bisa kan bisa ajak kamu atau yang lainnya. Daripada nanti didaftarkan satu tapi malah dua orang yang bisa hadir, lagipula kalo acara undangan resmi seperti itu kan layaknya datang berdua. Atau kalo saya ga bisa hadir kan lumayan ada dua perwakilan dari sini yang bisa menggantikan" ujar Dafi.
"Baik Pak, nanti akan saya infokan ke staf Gubernur. Bisa tolong dicatat dulu nama Ibu siapa? jadi bisa didaftarkan" sahut sekretarisnya Dafi.
Dafi menulis di post it yang berwarna sebuah nama.
"Fadhilla Saqeena .. namanya keren nih Pak. Dipanggilnya siapa ya?" tanya Sekretarisnya.
"Qeena" jawab Dafi.
"Kekinian banget nih panggilannya... dari namanya aja saya yakin cantik orangnya" kata Sekretarisnya Dafi.
"Banget" kata Dafi sambil membaca file di mejanya.
"Ya namanya suami ya, pasti bilangnya istri paling cantik sedunia" ucap Sekretarisnya.
"Kayanya khusus dia, ga cuma saya yang bilang cantik, seluruh dunia juga akan bilang dia cantik kok" puji Dafi.
"Aduh... aduh ... aduh .... Pak Danish ini ternyata pintar juga menilai wanita ya. Jadi penasaran deh sama sosoknya. Boleh dong Pak saya diliatin fotonya" canda Sekretarisnya.
"Foto-foto yang ada di HP saya itu banyakan foto pribadi saya dan dia. Kayanya pas dia ga pake jilbab, jadi biarlah saya aja yang liat" ujar Dafi.
"Kan saya cewe juga Pak, ga masalah kan kalo liat rambutnya" kata Sekretarisnya lagi.
"Nanti kalo liat, jiwa kejombloan kamu bisa meronta, tau kan kalo saya bilang foto pribadi .. kebayang kan posenya" lanjut Dafi.
"Ohh.. oke.. adegan dewasa ya .. buat penghilang kangen ya Pak, makanya Pak.. kenapa ga langsung nikah secara negara sih, segala nikah siri dulu, kan jadinya ribet" ucap Sekretarisnya yang terkenal cerewet dan blak-blakan.
"Biar ketika kami mengenal itu sudah sah, apalagi dalam persiapan pernikahan kan kita pasti banyak ngobrol sama dia. Jadi ga dosa kalo ngobrol berduaan" jawab Dafi sekenanya.
"Nah ini Pak yang saya ga paham deh sama orang yang pikirannya kaya Bapak, nikah hanya sekedar buat menghalalkan.. terus kalo udah nikah siri terus dalam persiapan pernikahan baru diketahui ada ketidak cocokan, apa terus pisah? rugi dong cewenya, udah hilang segala-galanya terus diceraikan gitu aja" ujar Sekretarisnya Dafi.
"Sekarang udah jam dua, nanti kamu ga sempet beliin saya hidangan buat nanti Maghrib disini, sana cari info dulu yang belum ada apa" pinta Dafi agar Sekretarisnya ga lebih lanjut nanya-nanya tentang pernikahan.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
__ADS_1
Bu Fia sudah libur kerja, beliau sibuk berbelanja kebutuhan untuk Idul Fitri. Bu Fia belanja bareng Izma dan Fajar ke sebuah pusat perbelanjaan.
"Bun .. beli baju samaan dong, kayanya kita ga pernah samaan deh tiap tahun, paling cuma Bunda sama Ayah aja yang sama" usul Izma.
"Ya kan kalian yang katanya ga mau samaan, kaya anak panti katanya" jawab Bu Fia.
"Boleh dong sesekali kita keliatan kompak gitu Bun" kata Izma.
Bertiga sibuk memilih baju yang cocok buat keluarga. Tapi lama kelamaan, Fajar bosan juga melihat banyak model yang dilihat tapi ga kunjung menjatuhkan pilihan.
"Bun .. Qeena beliin ya" kata Izma.
"Buat apa sih, dia ga bakalan balik, udah sih ga usah ingat-ingat dia lagi" omel Bu Fia.
"Selama Mas Dafi ga menjatuhkan talaknya, dia masih mantunya Bunda" jawab Izma.
Bu Fia dan Izma masih sibuk milih-milih baju, Fajar nyari tempat duduk karena malas harus muter-muter lagi, mending tenaganya disimpan buat nanti nyupirin saat pulang.
Jam dua siang, Fajar mendapatkan chat dari Dafi yang mengabarkan kalo baru bisa pulang ke Jakarta H-1 dan minta tolong ke Fajar buat memberikan uang THR ke para hansip, petugas pengangkut sampah didaerahnya serta marbot Mesjid. Dafi sudah memberikan rinciannya serta bukti transferan uang.
Fajar iseng nelpon ke Qeena, udah beberapa hari dia mengabaikan chat dari Qeena karena ga mau kebawa suasana. Biar bagaimanapun ini permasalahan Dafi dan Qeena yang ga bisa dia ikut campur, tapi rasa cintanya ke Qeena belum pernah padam.
"Assalamualaikum.." sapa Fajar.
"Waalaikumsalam.. Mas Fajar apa kabar?" ucap Qeena yang langsung naik ke lantai atas.
"Alhamdulillah baik... kamu sama Mak Nuha sehat?" tanya Fajar.
"Alhamdulillah.." jawab Qeena.
"Qeena .. lebaran kesini ga?" kata Fajar.
"Ga Mas .. Alhamdulillah udah mulai dagang, apalagi masa lebaran, biasanya dagang bakso ramai. Semoga jadi rejeki kami" jawab Qeena.
"Mas jaga nih, biasalah .. dikorbanin sama para senior di IGD, baru H+2 Mas free, pengen deh ketemu kamu" ujar Fajar.
"Nanti aja kalo Mas punya waktu luang, kalo cuma sebentar kan cape dijalan" jawab Qeena.
"Sekarang tinggal di rumah Mbah?" ujar Fajar.
"Di warung bakso Mas, ada bagian atasnya yang bisa dipakai buat tidur" jelas Qeena.
"Sejarah berulang ya ... Qeena .. kenapa sih harus sekeras ini menutup pintu? sebenarnya apa sih masalahnya? Pak Iyus dan keluarganya? Mas Dafi yang ga serius? Bunda yang masih ga ngerestuin atau apa? kok Mas heran, seorang Qeena yang Mas kenal tuh ga gampang menyerah sama keadaan. Gimana mimpi kamu buat punya usaha kue? Katanya mau kursus ditempat Chef yang terkenal itu?" ucap Fajar.
"Udah jalannya Mas" kata Qeena simple.
"Jalannya siapa? jalannya Mak Nuha?" tembak Fajar.
__ADS_1
"Mas .. ga usah dibahas dulu ya, kayanya males banget bahas ini" ujar Qeena.
"Terus ngebiarin Mas Dafi lebaran sendirian? kaya ga punya istri aja dia kesannya. Ingat Qeena .. cewe ga cuma kamu aja. Sekali tepuk .. bisa dua tiga cewek jatuh ketangannya Mas Dafi. Apalagi Zahwa itu akan melanjutkan kuliah di Semarang, Raisha juga akan pindah ke Semarang karena dia yang akan menggantikan posisi Mas Dafi di Semarang nantinya. Kamu ga takut sama barisan para mantan yang mendekat kaya gitu?" cerita Fajar.
"Gapapa Mas .. ketika Qeena memilih jalan yang sekarang, berarti siap sama semua konsekuensinya, Mas Dafi juga berhak bahagia kan, dia bisa memilih siapa aja yang dia mau. Mungkin sudah jodohnya sama Mba Zahwa, mereka kan pisah karena aturan dari keluarga yang ga membolehkan mereka nikah dalam waktu dekat karena Ibunya meninggal" ujar Qeena.
"Kalo kamu memutuskan buat ga lanjut sama Mas Dafi, apa masih ada kesempatan buat Mas masuk?" ucap Fajar yang membuat Qeena kaget.
Hening seketika, keduanya seakan menunggu ada yang bicara duluan.
"Qeena ... dulu Mas ngalah demi kebahagiaan Mas Dafi, seorang kakak yang banyak terenggut kebahagiaannya demi kami semua. Sekarang kan kamu free, kita bisa nerusin cerita kita Qeena. Sebentar lagi Mas akan dapat surat ijin praktek, Mas akan cari tempat praktek dekat sama kamu stay sekarang, mungkin kalo ke daerah ga sesulit sini cari tempat prakteknya. Kita menjauh dari Jakarta. Mas mampu lindungin kamu Qeena. Kita udah saling kenal dan memahami satu sama lain, Mas rela ninggalin keluarga buat kamu Qeena" kata Fajar penuh pengharapan.
"Mas .. udah dulu ya .. assalamualaikum" ujar Qeena buru-buru mematikan teleponnya.
🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️
H-2....
Hampir semua rumah sibuk menyiapkan hidangan buat menyambut lebaran. Keluarga Qeena pun terpecah menjadi dua tim. Ada yang memasak untuk persiapan sajian dan bebenah rumah saat hari raya, ada pula yang berjualan bakso.
Qeena dan Mak Nuha kebagian tugas yang di rumah. Qeena ikut bebenah merapihkan rumah dan menyuci gelas piring buat nanti pas kumpul makan bersama.
Setelah sholat ashar, semua pekerjaan udah selesai. Qeena duduk dibawah pohon, di bale kayu buat ngadem.
"Qeena ... Kenapa Mas Dafi ga datang kesini buat jemput kamu? kok kalian ga lebaran bareng?" tanya Mbah Akungnya Qeena.
"Kita pisah tempat dulu Mbah .. kita kan masih punya keluarga masing-masing" jawab Qeena yang sepakat sama Mak Nuha ga menceritakan tentang hal yang sedang terjadi.
"Kok pisah tempat? kalian tuh suami istri, ga baik begitu. Apalagi kamu kan seorang istri, harusnya bisa ngalah ikut sama dia dulu baru kesini" nasehat Mbah Akung.
"Iya Mbah .. maaf ya kalo Qeena belum terbiasa dengan status istri" kata Qeena yang bingung harus jawab seperti apa.
"Qeena .. Urip iku urup .. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita. Sekecil apa pun manfaat yang kita berikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan masyarakat. Mbah tau kamu dan Nuha selalu menjadi yang terdepan buat keluarga, tapi ga ngorbanin kebahagiaan kalian, belain bisnis disini malah pisah sama suami.
Seorang istri itu surga manut neroko katut,
kehidupan seorang istri ditentukan dari baik-buruknya agama suaminya, bisa dibawa ke surga atau neraka, karena tugas suami yang memimpin dan tugas istri mengikuti yang ga bertentangan dengan agama. Mbah rasa Mas Dafi adalah lelaki yang baik. Beda jauh sama Bapak kamu. Jangan malah membuka pintu neraka dengan ga ikutin nasehat suami. Mbah sudah berumur, paham kalo kalian sedang bermasalah, meskipun ga ngomong apa masalahnya ke Mbah .. tapi Mbah paham. Namanya berumah tangga iku mangan ora mangan sing penting ngumpul, makan ga makan yang terpenting adalah bisa berkumpul. Rumah tangga itu ladang pahala Qeena. Mbah juga liat sejak dulu sosok Mas Dafi itu diobong ora kobong, disiram ora teles .. dia adalah pribadi yang ulet, tekun, tangguh menghadapi segala ujian dan rintangan, hingga sekarang bisa berhasil merengkuh kemuliaan serta kejayaan. Lelaki seperti apa lagi yang kamu cari? jangan mengulang kesalahan Emakmu, dulu Mbah juga salah menilai, ga mengenal dengan jelas siapa Bapakmu .. tapi kalo Mas Dafi, Mbah kenal dari lama, selama kenal juga dia baik. Keliatannya juga tulus banget" ujar Mbah Akungnya Qeena.
"Ya Mbah .. makasih nasehatnya" jawab Qeena.
"Kalo suami marah .. ga ada salahnya istri yang minta maaf duluan. Minta maaf bukan berarti salah, justru jadi pihak yang pertama kali legowo" lanjut Mbah Akungnya.
"Ya Mbah .." jawab Qeena.
"Titip salam buat Mas Dafi ya kalo nelpon, suruh main kesini" kata Mbahnya.
"Nanti Qeena bilangin ya Mbah" ucap Qeena.
__ADS_1