
Sebulan berlalu, hampir tiap weekend, Qeena main ke Ciloto. Biasanya Bu Fia pun ikut kesana bareng sama Alifa dan Kalila.
Malam Minggu kali ini, Pak Shaka manggil katering khusus barbeque di Villanya. Tapi Dafi lagi menepi sendirian di kamar Villa. Dia lagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan, jadi Qeena hanya ngambilin makanan karena Dafi ga bisa ikut gabung buat barbeque an.
Suara canda tawa dan teriakan Ibu-ibu terdengar karena anaknya lari kesana kemari. Tampak harmonis sekali, anak, mantu, cucu dan besan makan bareng sambil cerita ngalor ngidul. Ga ada jarak diantara mereka, layaknya sebuah keluarga yang sudah bersama sejak lama, saling terbuka satu sama lainnya.
Sedangkan didalam kamar, Dafi lagi fokus ke laptopnya saat ada panggilan telepon dari Mak Imah. Dering kesekian kalinya baru Dafi angkat.
Begitu telpon diangkat, yang terdengar hanya suara tangisan dari Mak Imah.
"Mak ... Mak kenapa? jangan nangis dulu Mak .. coba cerita pelan-pelan, ada apa Mak?" kata Dafi coba menenangkan Mak Imah.
Masih terdengar isak tangis Mak Imah dari seberang telepon.
"Mas dengerin dulu ya Emak nangis, Mas ga akan tanya sampe Mak cerita sendiri. Siapa tau melegakan Emak" ucap Dafi pelan.
Sekitar lima menit pertama, Dafi mendengarkan suara tangis Mak Imah saja. Dia mulai ga fokus ngerjain kerjaannya, Dafi mematikan laptopnya dulu kemudian pindah ke tempat tidur, diluruskan badannya yang mulai terasa lelah dibagian pinggang karena kebanyakan duduk.
"Mak ... sekarang udah bisa cerita?" tanya Dafi pelan-pelan.
"Mak sedih Mas" buka Mak Imah.
"Sedih kenapa Mak? Emak sakit? atau ada masalah?" tanya Dafi lagi.
"Mas .. Emak mau curhat. Sebulan Emak tahan-tahan, mau ngadu sama siapa Emak bingung. Kalo sama Mba Nuha nanti mengganggu, mau cerita ke Qeena nanti dia kepikiran. Akhirnya Mak putusin buat ngobrol sama Mas aja. Mas kan orangnya ga berpihak dan panjang akal, siapa tau Emak dapat pencerahan" kata Mak Imah dengan tangis tertahan.
Semua diceritakan secara runut oleh Mak Imah. Jelas saja Dafi kaget, selama ini kalo telponan tampaknya Mak Imah ga ada masalah. Dafi mencoba mendengarkan cerita sambil berpikir, karena pada ujungnya nanti, pendapatnya akan sangat diperlukan oleh Mak Imah.
Marital rape, mungkin terdengar ganjil dalam sebuah pernikahan. Terminologi marital rape berasal dari bahasa Inggris, marital adalah sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan dan rape berarti rudapaksa. Maksud rudapaksa disini adalah pemaksaan untuk melakukan aktivitas hubungan badan oleh suami terhadap istrinya atau sebaliknya.
Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang meletakkan hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan sebagai suami istri untuk mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga, salah satunya dengan menghalalkan hubungan suami istri dalam rangka memperoleh keturunan yang sah atau kesenangan dalam pemenuhan kebutuhan biologis.
"Begitu Mas ceritanya" kata Mak Imah yang suaranya banyak tersendat ketika bercerita.
"Ga nyangka bisa kaya gini Mak. Soalnya Mas dulu kenal Pak Bintang ya secara profesional pekerjaan sebagai rekanan Ayah aja, jujur aja ga kenal bagaimana kepribadiannya. Karena Mas juga baru ketemu dua kali waktu anterin Ayah. Apa ga bisa dibicarakan berdua aja secara baik-baik?" ujar Dafi.
"Udah Mas .. Emak udah coba ngomong dengan hati-hati, tapi kan semua dibantah atas dasar agama, kalo istri harus tunduk terhadap suami" jawab Mak Imah.
__ADS_1
"Memang betul, tapi ini kan hal yang sangat pribadi, harusnya menjadi rahasia rumah tangga Emak, tapi sekarang Mas jadi tau. Tapi Mak ... masa pernikahan menyakiti satu pihak sih" ucap Dafi.
"Mas Bintang orangnya kalo udah mau susah. Dulu juga gitu, kirain udah tua berubah, eh malah makin jadi" keluh Mak Imah.
"Sekarang Emak lagi sendiri?" tanya Dafi.
"Iya Mas ... Mas Bintang lagi keluar ketemu sama orang" kata Mak Imah.
"Mas jadi serba bingung nih mau ngomong apa ya, memang kebutuhan rohani yang itu bukan merupakan kebutuhan yang paling utama dalam pernikahan, tapi menjadi salah satu sarana untuk menjaga keharmonisan hubungan suami istri, bahkan dalam salah satu hadits Rasulullah, dinyatakan pasangan suami istri perlu memperhatikan hal tersebut, karena selain memenuhi hak kewajiban suami istri, juga bernilai sebagai sedekah. Balik lagi ke cerita Emak terhadap marital rape, sebenarnya sudah cukup jelas aturan Allah tentang bagaimana seorang suami memperlakukan istri, sebagaimana terdapat dalam Q.S An-Nisa (4:19)… dan bergaulah dengan mereka secara ma’ruf .." ucap Dafi.
"Kalo yang paham mah begitu Mas. Tapi malah Emak disuruh baca Q.S An-Nisa (4: 34), kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka" jawab Mak Imah.
"Inilah jaman sekarang Mak ... liat utub aja udah dibilang ikut kajian, ga salah emang, tapi namanya dunia digital, ada bagian yang terkadang dihilangkan, jadi esensi maksudnya jadi ga secara utuh disampaikan. Orang dengan kemajuan jaman udah ga mau bertatap muka bertemu dalam satu majelis ilmu. Banyak kan betebaran di utub, dengan gaya alim dan ngomong yang agamis tapi ga ada tuh rujukan Al Qur'an dan hadist dalam pemaparannya. Pernikahan dibangun atas dasar kasih sayang sebagaimana firman Allah dalam Q.S Ar-Rum (30:21), dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih sayang. Jelas kan Mak kalo kekerasan seperti yang Emak alami, ga menimbulkan ketentraman. Mengenai istri yang durhaka pun perlu dikaji lebih lanjut agar tidak serta merta dijadikan sebagai rujukan untuk memberi pelajaran pada istri" papar Dafi.
"Iya Mas.." kata Mak Imah.
"Maaf juga Mak kalo Mas belum tau nih apa yang Emak ceritakan ini akan sama versinya jika ditanyakan ke Pak Bintang. Jadi saran pertama Mas ya saling terbuka dulu aja, apa yang Emak mau ya utarakan. Kalo Pak Bintang sayang sama Emak, insyaa Allah mau mendengarkan apa yang Emak inginkan" saran Dafi.
"Mungkin ini balasan dari Allah kali ya Mas, menikah tanpa perhitungan yang panjang" ucap Mak Imah menyesal.
"Mas udah ingatin Emak berkali-kali dulu buat coba saling mengenal dulu, ga grusa grusu. Tapi kan semua sudah terjadi, ga bisa kita ulang Mak" kata Dafi.
"Maksud Emak apa ya? apa hubungannya pernikahan Emak sama Mak Nuha?" tanya Dafi bingung.
"Mba Nuha itu tau kalo Emak juga suka sama Pak Shaka. Jadi timbul rasa khawatir akan ada jilid dua diantara kami. Kan kalo Emak nikah duluan dengan orang lain, Mba Nuha menjadi yakin kalo Emak udah ikhlas melupakan impian punya suami kaya Pak Shaka" Mak Imah akhirnya berterus terang.
Dafi menghela nafas yang terdengar berat.
"Mak .. kenapa harus mengorbankan diri sampe kaya gini? okelah kalo ingat masa lalu mungkin pernikahan ini menjadi jalan yang baik. Bagi orang tua Emak yang pastinya bahagia melihat anaknya akhirnya bisa nikah sama lelaki yang mereka sukai. Bagi Mak Nuha juga baik karena ga perlu merasa ga enak kalo akhirnya memutuskan menikah sama Pak Shaka. Tapi bukan begini caranya. Kalo mereka semua tau gimana? apa ga sedih?" ucap Dafi.
"Itulah Mas .. Emak ga panjang akal, keputusan Emak ambil secara buru-buru demi melihat orang lain bahagia" kata Mak Imah.
"Memang benar yang Mak inginkan terwujud, orang tua Emak bahagia melihat Emak menikah dan hidup berkecukupan. Mak Nuha pun bahagia dalam pernikahannya sama Pak Shaka. Tapi apa Emak cukup bahagia melihat semua itu?" tanya Dafi.
"Emak bahagia Mas, melihat orang yang Mak sayangi bisa menjalani kehidupan yang lebih baik lagi. Emak juga bahagia kok Mas .. sekarang udah punya rumah atas nama Emak, udah punya perhiasan, bisa dibilang udah bisa jajan atau beli yang Emak mau" jawab Mak Imah.
"Terus Emak bahagia ketika semua yang Mak inginkan bisa terwujud?" tanya Dafi lagi.
__ADS_1
Kembali Mak Imah menangis diseberang telepon. Dafi kembali diam mendengarkan tangisan tersebut.
"Mak ... maaf kalo Mas ga bisa memberikan solusi buat Emak. Mak .. orang yang bahagia adalah orang yang senang dengan kebahagiaan, termasuk senang terhadap kebahagiaan orang lain, kebahagiaan orang-orang disekitarnya. Tapi jangan lupa kita pun berhak mendapatkan hal yang sama" tutup Dafi.
🌺
Jam sepuluh malam, Qeena masuk kedalam kamar. Ga sengaja melihat Dafi bengong di tempat tidur.
"Mas ... Mas .. kenapa bengong?" kata Qeena sambil menyolek tangannya Dafi.
"Eh udah balik .. udah abis ya makanannya?" tanya Dafi buat mengalihkan pertanyaan Qeena.
"Udah abis dari tadi, kan semua yang kerja disini juga ikut makan. Malah ada tamu yang lagi nginep pun ikut makan" cerita Qeena sambil masuk ke kamar mandi.
Qeena membersihkan tubuhnya dan mengganti baju karena merasa bajunya tadi bau asap.
"Cape ya Mas? kayanya tuh muka ga bersahabat banget" kata Qeena sambil tiduran disebelahnya Dafi.
"Kamu bahagia ga Neng?" tanya Dafi sambil memandang Qeena.
"Kok nanya kaya gitu sih Mas? Mas kenapa sih? salah baca buku ya? atau kebanyakan ngitung statistika jadi pusing sendiri" ujar Qeena.
"Mas serius tanya... " kata Dafi dengan tampang serius.
"Emang ada alasan Qeena ga bahagia? Alhamdulillah punya suami idaman banget, keluarganya pun menerima Qeena sebagai anak, bukan sekedar menantu. Kedua Emak yang Qeena punya dalam hidup ini juga udah menemukan kebahagiaannya sendiri. Mak Nuha yang tampaknya berada ditangan orang yang tepat, yang membuat Mak Nuha tenang dan bisa punya waktu lagi buat ikut pengajian disini. Mak Imah pun udah bisa diterima pihak keluarga dan kehidupannya di Bali juga keliatannya lebih dari cukup. Keluarga Pak Iyus pun sekarang secara ekonomi jadi lebih baik setelah Mas kasih modal bikin warung buat kakak-kakaknya Pak Iyus. Nyai juga bisa jualan nasi ulam sama lontong sayur tiap pagi didepan warung. Secara rutin Mas juga minta Qeena kasih uang buat pegangan Nyai. Dibagian mana Qeena punya alasan ga bahagia Mas? Usaha Qeena yang membuat Mas banyak menjual aset tapi ternyata ga bisa bertahan lama. Mas ga marah dan ga banyak kata sama Qeena, hanya bilang buat pelajaran kedepannya. Keluarga besar Mak Nuha pun sekarang maju dengan warung baksonya, jadi secara ekonomi udah jauh lebih baik. Coba Mas .. dibagian mana Qeena ga bahagia? Justru harusnya Qeena yang bertanya balik ... sudahkan Mas bahagia? terlalu banyak orang yang menggantungkan harapan ke Mas. Termasuk Qeena yang merasa terlindungi karena apa-apa bisa Mas backup. Keluarga besar Qeena yang selalu Mas bantu, ga sekedar bantuan materi, tapi Mas juga menyiapkan waktu dan pemikiran kalo ada yang tertimpa masalah. Kami semua pasti bikin Mas lelah ya?" kata Qeena sambil membenamkan kepalanya kedada Dafi.
Dafi mencium kening istri tercintanya.
"Apa alasan Mas buat ga bahagia? Selama hidup yang udah Mas jalani, Alhamdulillah menjadi orang yang berguna bagi orang-orang sekitar Mas. Apa alasan Mas buat ga bahagia kalo Mas punya istri cantik jelita dengan segala kelebihannya yang membuat semua orang selalu bilang Mas ini lelaki yang paling beruntung di dunia" ucap Dafi lemah lembut.
"Jadi ... sudahkah bahagia hari ini?" tanya Qeena menggoda.
"Alhamdulillah udah, tapi kayanya akan lebih sempurna kebahagiaan hari ini kalo kita tutup dengan melanjutkan usaha kita yang kemarin-kemarin" jawab Dafi nakal.
"Siapa tau jadi made in Ciloto ya Mas .. secara di Jakarta ga jadi-jadi .. hehehe" kata Qeena.
"Mau made in mana mah ga masalah, yang penting berhasil" bisik Dafi yang membuat Qeena kegelian.
__ADS_1