
Keluarga Pak Shaka dan keluarga dari Ciloto baru meninggalkan rumah Dafi sekitar jam sepuluh malam setelah mereka sholat tarawih dan makan malam bersama dulu.
Qeena membawakan oleh-oleh makanan untuk semua yaitu bakso homemade yang udah plus bumbu kuahnya. Jadi kalo mau bikin tinggal rebus air kemudian cemplungin bumbu dan baksonya.
"Ini bukan tester loh A' .. biasa kan gitu Aa' Zay, ga bisa dikasih makanan, kalo cocok langsung dijual" canda Qeena.
"Ya kan kalo lebaran yang dicari bakso. Selagi ada kesempatan cari cuan ya manfaatin dong" ujar Aa' Zay.
"Tapi waktunya A' yang ga ada .. Qeena sama Mak Nuha kan mau pulang kampung, mau lebaran disana. Kayanya udah ga sabar menghabiskan malam takbiran di kampung yang pastinya rame" kata Qeena tanpa beban.
Mak Nuha dan Dafi menyunggingkan senyum walaupun keduanya paham kalo ini masih keputusan sepihak dari Qeena.
🌺
Rumah Dafi cepet rapih kembali dari abis berbuka juga langsung semua asisten rumah tangga nyuci piring, jadi berangkat sholat tarawih semua udah rapih. Pas pulang sholat kemudian makan malam, itupun juga langsung dibersihkan. Begitu semua pulang, baru disapu dan dipel karena tadi anak-anak makan berantakan kemana-mana.
Karena dikerjakan bersama-sama, sekitar tiga puluh menit aja semua udah selesai dan rapih. Sekarang hanya tinggal bertiga di rumah Dafi. Keluarga Pak Dzul tampak belum pulang, kayanya baru pulang dari Serpong sekitar jam sepuluh malam, jadi sekitar jam sebelas malam baru akan sampe rumah.
Mak Nuha pamit ingin tidur karena merasa lelah. Qeena pun lagi tiduran di sofa buat melepaskan penat. Dafi sendiri lagi membalas chat yang masuk di HP nya sambil duduk dibawah sofa.
Qeena memperhatikan wajah Dafi dari samping, Dafi tampak serius dengan HP nya. Jarak keduanya sangat dekat karena Dafi duduk tepat membelakangi dadanya Qeena.
"Serius banget Mas" kata Qeena.
"Lagi bimbingan mahasiswa, kan Mas juga bimbing mereka yang udah di semester akhir, ya kalo jaman sekolah kan bilangnya les. Kalo ini bimbingan buat membuat laporan praktek kerja lapangan dan tugas akhir aja sih. Alhamdulillah sejak Mas lulus sampe sekarang selalu ada aja yang daftar buat bimbingan. Nama Mas cukup dikenal di mahasiswa jurusan statistika, dari perguruan tinggi negeri sampe swasta, kebanyakan masih pulau Jawa, pernah ada sih Kalimantan dan Sulawesi, tapi baru beberapa orang aja. Jadi sekali bimbingan itu Mas sediain waktu dua jam, bisa sekalian running tiga mahasiswa kaya gini. Dari tadi sebenarnya emang Mas lagi sibuk, seharian ini sepuluh mahasiswa yang jadwalin bimbingan. Karena kan Mas emang buka sesinya kalo weekend aja. Ga mau ganggu waktu kerja. Sebagai abdi negara, ga mau dong korupsi waktu" jelas Dafi.
"Kapan Mas liburnya kalo weekend kerja juga. Orang mah Mas .. yang penting cukup ya udah sih ga perlu ngejar-ngejar uang lagi. Pikirin keluarga dan kesehatan" kata Qeena.
"Emang konsep liburan mau ngapain sih? toh daripada bengong mending produktif kan? ya mumpung ada kesempatan dan menambah rejeki yang halal. Kamar kita aja belum kelar Neng. Mas kan lagi ngumpulin juga buat nikahan kita. Ya banyak hal yang membutuhkan uang kan?" ujar Dafi.
"Terus sistem pembayarannya kaya les gitu ya Mas?" tanya Qeena.
"Cewek ya ... yang ditanya ga jauh-jauh dari pembayaran" ledek Dafi.
"Ya udah sih kalo ga mau jawab ya ga usah ngeledek" jawab Qeena sewot.
"Ngambek ... kamu selera humornya rendah banget ya .. apa-apa dibawa serius" lanjut Dafi.
__ADS_1
"Karena emang nasib ga memberikan waktu buat sekedar becanda. Semua harus dihadapi buat mikir besok gimana. Jadi ya mau ga mau, sulit buat sekedar tertawa. Apa yang ditertawakan kalo hidup kami miris" ucap Qeena serius.
"Jangan gitu dong Neng .. Mas kan becanda doang" rajuk Dafi sambil meletakkan HP nya dan membalikkan badannya kearah Qeena.
Qeena rupanya udah tersinggung dan mau bangun dari tidurnya, dia rencananya akan masuk ke kamar Mak Nuha. Tapi Dafi menahannya. Jarak wajah keduanya dekat.
"Maaf ya .. kadang Mas yang becandanya kelewatan" bisik Dafi.
"Ya bedalah Mas... Mas bisa menertawakan keadaan karena Mas ga kekurangan seperti Qeena" kata Qeena.
Dafi menempelkan jari telunjuknya ke bibir Qeena.
"Maaf ... ga usah diperpanjang lagi bisa?" ujar Dafi.
"Qeena mau tidur, nanti bisa-bisa sahur kesiangan" jawab Qeena.
"Temenin Mas bobo yuk diatas. Lusa Mas balik kayanya pagi deh, ada barengannya dua orang, kebetulan emang mau dinas ke Semarang juga, jadi bisa gantian bawa mobilnya" ujar Dafi.
Tanpa persetujuan Qeena, Dafi udah menarik tangannya Qeena buat naik ke lantai atas.
"Ga mau ah" jawab Qeena melepaskan tangannya Dafi.
"Mas .. Qeena mau balik Kampung, mau cari kerja disana aja. Pokoknya mau hidup nyaman disana" kata Qeena yang membuat Dafi kaget.
Dafi kembali duduk di karpet dan Qeena duduk di sofa.
"Jakarta udah sangat kejam buat Qeena Mas. Carilah wanita yang layak dampingin Mas. Yang bisa menerima semua keluarga Mas dengan baik. Qeena udah ga mau ada drama lagi Mas. Pak Iyus akan terus menghantui Qeena dan Mak Nuha. Kami perlu menepi sejenak Mas" curhat Qeena.
"Pernikahan kita gimana?" tanya Dafi pelan.
"Semakin lama .. Qeena malah kasian sama Mas. Pasti lelah ya berada ditengah-tengah. Jangan jadi anak durhaka hanya demi Qeena Mas. Dari dulu, Qeena selalu bermimpi hidup dalam keluarga utuh, tapi mau ngomong apa kalo nasib berkata lain. Mas itu dilahirkan dan dibesarkan dalam kondisi keluarga utuh dan berkecukupan. Bersyukurlah Mas punya Ayah dan Bunda yang selalu bersama hingga sekarang. Qeena udah nyewa kios di Kampung, depan jalan besar. Qeena mau usaha disana aja. Mungkin modalnya pake uang Mas dulu yang ada di Qeena. Tapi Qeena janji akan pulangin kalo semua udah berjalan" kata Qeena.
"Kenapa ga pernah cerita? kenapa harus nutupin dari Mas atas segala rencana kamu?" ujar Dafi kecewa.
"Emak yang minta Mas" tiba-tiba Mak Nuha keluar dari kamar.
"Mak ..." kata Dafi.
__ADS_1
"Emak cape ada masalah mulu. Sebenarnya ada dua pilihan. Ke Ciloto atau ke Wonogiri. Tapi setelah diskusi bareng Qeena dan keluarga, kami memutuskan buat balik kampung. Rasanya Jakarta ga pernah bisa menyediakan udara segar buat kami bernafas. Kalo di kampung, keluarga Mas Iyus ga akan mencari kita. Emak juga ga perlu dengar nyinyirannya Bunda kamu. Emak ga perlu melihat Qeena dihina sama Bunda kamu. Relakan kami Mas .. maaf kalo ga bicara dulu sama Mas. Tapi keputusan kami sudah bulat. Seminggu sebelum lebaran kami akan pulang kampung dan jualan bakso seperti usaha keluarga dulu. Siapa tau jadi rejeki kami karena kan daerahnya termasuk jalur mudik" cerita Mak Nuha.
"Mas ga ijinin Qeena dan Mak Nuha kesana" kata Dafi tegas.
"Ada atau ga ada ijin, kayanya udah saatnya kita pergi" ujar Mak Nuha.
"Mak ... Mak denger kan apa yang Mas bilang? ga ada yang ninggalin rumah ini tanpa ijin Mas" ujar Dafi.
"Mas .. lepasin Qeena. Toh kalian juga belum terlalu jauh kan hubungannya? Maafin Mas kali keputusan Emak membuat Mas marah. Tapi ini udah kami pikirkan berulang kali" lanjut Mak Nuha.
"Tau gitu .. kenapa kamu ga penjarain Pak Iyus dan Bunda aja sekalian?" tanya Dafi ke Qeena.
"Nama baik Mas" jawab Qeena ga kalah tegas.
"Nama baik? tapi dengan ngorbanin pernikahan kita? kamu sadar ga sih?" ujar Dafi.
"Mas .. jangan nyudutin Qeena. Dia anak baik yang selalu ingin buat Emak bahagia. Kebahagiaan kami ada disaat hidup hanya berdua aja. Toh ketika kami berdua, hidup terasa indah" sahut Mak Nuha.
"Mak .. sampai kapan Mak menyetir Qeena? dia udah dewasa Mak, dia bisa menentukan hidupnya sendiri. Mak takut Qeena mengalami kekerasan dalam rumah tangga seperti yang Mak alami? Mak ... Mas beda sama Pak Iyus. Emak kan cukup mengenal siapa Mas dari dulu. Apa ga cukup hal itu semua buat Emak percayakan Qeena ke Mas?" ucap Dafi.
"Mak ga mau Qeena tertekan dengan semua keadaan. Ini belum keluarga Ibunya tau Qeena dimana. Bukan ga mungkin semua menambah runyam suasana. Sebelum itu terjadi, lebih baik kami menghindar" jawab Mak Nuha.
"Mak ... apa bedanya Mak Nuha sama Pak Iyus dan Ibu kandungnya Qeena? ketika orang tua kandungnya ga menganggap Qeena ada, Emak pun merasa memiliki Qeena seutuhnya termasuk masa depannya. Atau Emak mau Qeena hidup sendiri hingga tua? terus kalo Emak ga ada... siapa yang akan nemenin dia? Kenapa luka masa lalu Emak harus Mak timpakan ke Qeena? Mak .. pandang Mas Mak ... Qeena anak Emak ini pun berhak bahagia Mak. Memang Mas pernah bilang kalo perjalanan pernikahan pasti akan ada up and down, tapi Mas janji, apapun kondisinya .. Qeena akan terus dalam pelukan Mas" kata Dafi.
"Mas .. Emak tau kalo Mas beda sama Bapaknya Qeena. Tapi kan Mas juga lelaki, punya kekuatan dan kemampuan secara materi, bisa jamin semua itu bisa buat Qeena bahagia?" ujar Dafi.
Mak Nuha dan Qeena diam. Dafi merapihkan laptop dan map-mapnya kemudian bergegas menuju pintu belakang rumahnya.
"Jangan lupa kunci pintunya. Mas tidur di kamar Mas" ucap Dafi yang sepertinya udah kecewa berat.
🏵️
"Udahlah Qeena .. kita tetap berjalan direncana semula. Mak tau kamu juga udah cape sama kondisi ini. Saatnya kita berjuang lagi, siapa tau Wonogiri sekarang lebih ramah sama kita. Paling ga, kita bisa menghindar dari orang-orang yang bikin pusing kepala" nasehat Mak Nuha.
"Iya Mak .. kita kembali merangkai mimpi kita. Lagian Mbah juga udah sakit-sakitan, siapa yang urusin kalo kita jauh. Tau sendiri kalo Kakaknya Emak semua sibuk sama cucu" jawab Qeena.
🌺
__ADS_1
Dafi mengambil wudhu kemudian membuka Al Qur'an dimeja kerjanya. Saat sedih, bahagia, terpuruk bahkan dalam posisi tersanjung, Dafi selalu membaca Al Qur'an. Mengikuti nasehat para Kyai di Pesantrennya, Al Qur'an adalah petunjuk, jadi setiap cerita hidup yang sedang menerpa, akan selalu ada petunjuk disana.