ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 66, Mulai sibuk


__ADS_3

"Qeena ... Sabtu ini adiknya Ayah mau kesini, kan tanah Ayah yang terbengkalai setelah gagal ternak ayam sekitar lima tahun lalu, mau dibeli buat bikin budidaya bunga apa gitu. Jadi Tantenya tuh punya usaha wedding organizer, kalo lagi ga banyak job, beliau nerima pesanan hampers dan buket bunga gitu. Nah bunga-bunganya kan pilihan, maklum pelanggannya kalangan atas. Jadi mau coba tanam sendiri, sekalian bikin villa buat mereka istirahat disini. Ngiri liat Ayah yang dua Minggu sekali pasti tinggal disini. Kamu bisa bantu Teteh ga? bikinin roti abon dan roti keju, nanti Teteh beliin deh abonnya yang enak di pasar. Sama mau minta tolong Mak Nuha bikinin pepes ikan, nanti ikannya minta sama Aa' ... terus bisa ga bikinin pizza ala-ala gitu deh, sepupu-sepupu tuh suka banget sama pizza, disini kan jauh kalo mau delivery. Biasanya Teteh bikin sendiri, tapi Jum'at ini repot, ada rapat komite di sekolah Aa' Zavier, terus ada pengajian juga dan sorenya mau ada tamu yang survei buat field trip gitu" kata Erin.


"Emang disini ada Teh tempat field trip?" tanya Qeena.


"Ada ... Aa' yang punya. Tapi emang belum banyak yang datang, padahal udah tiga tahun tuh dibawah management yang lebih serius, tapi belum nembus juga, masih kalah sama tempat field trip yang udah tenar-tenar" jelas Erin.


"Wah Teh Erin banyak juga usahanya. Biasanya buat anak usia berapa Teh?" puji Qeena takjub.


"Ini mah semua otaknya Aa' Zay, kan Aa' mau para penduduk sini ga perlu cari kerja ke Jakarta lagi. Di kampung sendiri udah banyak peluang kerja. Sasarannya buat anak TK dan SD, ya semoga tembus ya, udah setahun nih ga ada yang datang, jadinya tempatnya buat ditanam kacang-kacangan dulu" jelas Erin.


"Oke deh Teh, kebetulan Jum'at ini Qeena ga ada jadwal belajar online homeschooling, paling kan jagain Zafran aja, kalo Aa' Zavier sama Zayda katanya ada Kakek Shaka, Oma Tikah, Om Iqbal sama Tante Shakila kan di rumah" ucap Qeena.


"Ya ... mereka datang siangan, jadi anak-anak masih di sekolah paginya. Ayah mah seperti biasa, dua Minggu disini, dua Minggu di Pondok Indah. Kebetulan juga keluarga Om Iqbal (Erin memanggil kakaknya sendiri Om agar bisa ngebahasain ke anak-anaknya) bisa main kesini" jelas Erin.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Lo mentang-mentang udah jadi abdi negara udah ga mau riding lagi nih" kata temannya Dafi.


"Bukan gitu Sob ... baru pekan ini aja ga keluar kota, lagi banyak kerjaan muterin Indonesia nih" jawab Dafi.


"Ayo Nish ... kita riding tipis-tipis ... deket aja kok, cuma ke Ciloto, gw udah pesan penginapan disana, kan udah lama nih sejak kita lulus dan pisah-pisah penempatan jadi ga ketemu" ajak temannya lagi.


"Danish tuh ya ... mau jadi pejabat kali dia, serius banget kalo kerja, jaman kuliah aja kalo belajar susah diganggu" timpal lainnya.


"Tapi Danish ini kalo udah diatas motor sportnya mah gila ... raja jalanan" puji lainnya.


"Liat dulu ya, motor kan lagi jarang dipake, nanti kalo orang rumah ada yang bawa ke bengkel buat ngecek kondisi motor ya bolehlah ikut" jawab Dafi.


"Patungan berapa sob?" tanya temannya Dafi.


"Free .. penginapan dan makan urusan gw, paling Lo pada modal bensin sama jajan aja kalo mau" jawab temannya yang satu lagi.


"Widihhhh ... ada Boss baru nih, uang jalan kenceng kayanya" goda Dafi.

__ADS_1


"Bukan gitu Nish ... gw abis ngobyek jual mobil, lumayan deh ada lebihannya. Lagian villa sama makan tiga kali di Ciloto tuh ga mahal kok. Gw udah bilang buat sepuluh orang, baru sembilan nih yang fix ikut. Ayolah Nish ... jadi genap nih, gw ga cari orang lagi" ajak temannya.


"Oke deh, telpon orang rumah dulu buat bawa motor ke bengkel" jawab Dafi.


"Nah gitu dong ... kan lengkap nih genk kita" ucap temannya Dafi.


❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️❀️


Di Semester lima, Fajar makin sibuk sama jadwal kuliahnya.


"Aduh... ngeri nih gw ... mulai praktek anatomi ... o em jiiii..." ujar Inez.


"Ya namanya ambil kedokteran ya pasti akan melalui praktek ini kelezzz" jawab Robby.


"Pada masih inget ga jaman kita ospek dulu? Tentang cadaver (mayat yang diawetkan dan dijadikan bahan pembelajaran para calon dokter). Kita kayanya ditakutin sama kakak tingkat, akan praktek sama seonggok manusia tanpa nyawa yang ada diatas meja periksa dengan kulit, otot, bahkan tulang sudah tercabik-cabik lantaran terlalu banyak digunakan sebagai media pembelajaran. Belum lagi desas-desus kalo bau cadaver sangat menyengat, gabungan aroma daging yang busuk dengan formalin yang membuat mata pedih. Bahkan bisa membuat yang melihat cadaver kehilangan ***** makan bakso atau sop buntut" ingat Fajar.


"Gw ya saat itu sampe ngebayangin bakalan serem dan hampir gila karena ruangan tempat penggemblengan ospek itu tempat nyimpen cadaver yaitu Laboratorim Anatomi. Pas hari pertama ospek, tempat itu udah dipasang pita kuning kaya TKP di acara buset. Terus sisi tembok laboratorium juga ditutup kain hitam dan dibuat bersekat-sekat kaya masuk rumah hantu. Mana kita disuruh masuk sendirian .. gantian gitu. Kita cuma boleh bawa senter kecil dengan diameter maksimal lima centimeter" papar Inez.


"Inget ga Robby sampe bawa lampu emergency yang berbentuk kaya lampu petromaks, dia akalin pake lakban hitam dan bikin diameter lima centimeter doang, biar didalam tuh lakban bisa dicopot jadi dijamin seisi ruangan anatomi akan terang benderang. Akhirnya Robby pake senter kakak tingkat karena petromaksnya dilarang" sambung Fajar.


"Begitu keluar rasanya lega banget, bisa menikmati udara kebebasan dengan tetap mendengar jeritan dari dalam ruangan" sambung Inez.


"Inilah saatnya kita .... pertama kali praktek anatomi, bahkan seminggu dua kali cuy" ucap Fajar.


"Kan kata dosen, kita harus menanamkan bahwa untuk semua ilmu yang berasal dari setiap tubuh cadaver, kita berharap mereka yang telah merelakan tubuhnya untuk dijadikan sarana dasar ilmu pengetahuan kedokteran mendapatkan pahala dan tubuh mereka menjadi amal jariyah yang tidak pernah terputus. Karena cadaver adalah sosok guru terhebat" ingat Inez.


Dimulailah para mahasiswa kedokteran memasuki Laboratorium Anatomi. Satu cadaver "mengajar" sekitar sepuluh sampe dua belas mahasiswa. Selama praktikum, para mahasiswa menganalisa cadaver mulai dari kulit, otot, tulang sampai organ dalamnya. Semua dibuka satu persatu dengan bimbingan dosen tentunya. Menurut dosennya, setelah satu semester berakhir, cadaver tersebut akan dikumpulkan dan dikuburkan secara baik-baik.


"Baik saudara-saudara, kalian akan didampingi oleh dokter spesialis sebagai pengajar ketika melakukan pembedahan, dalam istilah kedokterannya disebut diseksi atau autopsi anatomi" ungkap dosen utamanya.


Melalui pembedahan, para mahasiswa kedokteran mulai mempelajari saraf, otot, pembuluh darah, maupun tulang manusia.


"Ingat ya .. tidak boleh ada organ yang diambil" lanjut dosen.

__ADS_1


Seusai praktek banyak yang ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya, mungkin karena belum terbiasa jadi masih kaget reaksi tubuhnya.


Bahkan Fajar sampe ga ***** makan makanan yang berasal dari makhluk hidup. Hari ini dia di kantin kampus memilih makan sayur sop pakai tempe tahu aja.


"Baru pertama kali ya mulai belajar di Laboratorium Anatomi?" tanya penjaga kantin.


"Iya Bu" jawab Fajar.


"Pasti deh yang pertama kali, pesannya sayur yang berkuah bening kaya sop, soto atau sayur bening plus tempe tahu dan minumnya teh tawar hangat" jelas penjaga kantin.


"Bisa apal gitu" jawab Fajar.


"Tiap tahun soalnya Mas, mereka bilangnya geli .. masih kebayang liat cadaver" ucap penjaga kantin.


"Ya begitulah kurang lebihnya" kata Fajar.


🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞🍞


Dari pagi, Zafran udah dibawa ke rumah yang ditempati Qeena. Karena di rumah masih ada Aa' Zay yang masih sibuk memeriksa laporan semua lini usahanya.


Aa' Zay yang bikin aturan kalo ada dia di rumah dan tidak ada orang lagi maka Qeena dan Mak Nuha ga boleh ke rumah. Walaupun Qeena dan Mak Nuha bersama pun, Aa' Zay ga mau menimbulkan fitnah. Bisa aja kan persepsi orang akan beda jika mereka didalam rumah dan Erin lagi ga ada.


"Mak ... tolong temenin Zafran tidur aja ya, Qeena mau bikin selai srikaya, Pak Shaka order banyak, Teh Erin kemarin bilang katanya mau dibagiin ke keluarga adiknya juga" ujar Qeena.


"Iya ... " jawab Mak Nuha sambil menemani Zafran tiduran di kasur tipis depan televisi.


Qeena memang sering melihat dari kecil saat Emaknya dan Mak Leha membuat selai dan roti, jadi tahapannya dia hapal. Ditambah lagi sekarang Nuha memang mulai mempercayakan Qeena untuk memproduksi selai dan roti sendirian. Semua resep dan cara-caranya sudah beliau ajarkan ke Qeena.


Memang Qeena mungkin punya passion di roti dan bakpau, dengan upgrade ilmu dari utub dia terus berinovasi. Baginya selera konsumen harus terus dimanjakan dan untuk menghindari kebosanan, harus ada sesuatu yang baru tiap bulannya. Misalnya dengan membuat rasa baru sesuai dengan permintaan para pelanggannya.


Qeena udah ga terima pesanan dari mulai hari Kamis karena Jum'at harus menjaga Zafran dan membuat selai. Sabtunya akan sibuk membuat pesanan Pak Shaka dan Erin. Ahadnya dia ada acara kopdar sama rekan sesama homeschooling di Bogor. Sudah bilang ke Erin akan pergi ke Bogor.


Qeena bertanya sama Saino dan Agung bagaimana cara naik kendaraan umum menuju Bogor, tapi duo maut ini malah menawarkan diri buat mengantar sekaligus memberitahukan ke Qeena tentang jalur dan kendaraan umumnya apa aja (padahal keduanya akan mengantar Qeena naik mobil).

__ADS_1


Qeena sudah ijin ke istrinya Saino dan Valencia, sama mereka diijinkan karena tau Qeena belum paham jalan, lagipula Qeena masih remaja berusia lima belas tahun dan belum patut diperhitungkan bisa merusak keutuhan keluarga mereka.


__ADS_2