
"Qeena... Ayah mau tanya .. ada apa antara kamu sama Damar? pas di Rumah Sakit kok keliatannya pandangannya beda" lanjut Pak Dzul, beliau sengaja membahasakan Ayah agar Qeena terbiasa.
"Begini Yah ..." potong Dafi.
"Ayah tanya ke Qeena ... bukan kamu Mas ... jadi biar Qeena yang jawab" ucap Pak Dzul.
Mak Nuha makin diam, Qeena menunduk sambil memutar cincinnya.
"Ini Om" Qeena menunjukkan cincin pemberian Damar yang melingkar di jarinya.
"Dari Damar?" tanya Pak Dzul, Qeena mengangguk.
Pak Dzul menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
"Cincin ini memang bukan diberikan secara resmi dalam sebuah acara pertunangan, karena ketika akan diadakan acara pertunangan, Qeena membatalkan karena ga siap. Kak Damar dengan segala usahanya akhirnya berhasil membuat Qeena percaya kalo laki-laki baik tuh masih ada di dunia ini. Kami udah janji, selepas Kak Damar lulus kuliah dan usahanya sudah stabil, kami akan segera menikah" cerita Qeena.
"Nuha tau?" tanya Pak Dzul.
"Tau ... Mas Dafi dan Mas Fajar pun tau" jawab Mak Nuha.
"Jadi ini alasan menolak Fajar? karena hati kamu udah sama Damar?" buru Pak Dzul.
Qeena dan Mak Nuha menunduk. Dafi paham untuk ga meneruskan pembicaraan yang seakan menyudutkan keduanya.
"Yah ... Damar itu lelaki baik, lelaki yang mendampingi Qeena melalui masa-masa sulit dan ketakutannya terhadap lelaki. Jadi wajar kalo Qeena lebih memilih Damar daripada Fajar, udah ya Yah .. ga usah diperbincangkan lagi. Toh sekarang Qeena udah nikah sama Mas kan?" bela Dafi.
"Kenapa cincin itu masih melingkar di jarinya Qeena? kenapa Damar memperlakukan Qeena sangat spesial saat di Rumah Sakit? dia tau pernikahan kamu Qeena?" lanjut Pak Dzul.
Qeena hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus apa artinya pernikahan sama Mas Dafi? terpaksa?" kata Pak Dzul.
"Kan Qeena ga berniat nikah sama Mas Dafi, keadaan yang memaksa saat itu. Mas Dafinya juga bukannya nolak malah lanjut akad" sesal Qeena.
"Kamu menyesal atas keputusan Ayah yang memaksa buat menikah?" tanya Pak Dzul serius sambil menatap Qeena.
__ADS_1
"Harusnya ini diselidiki dulu baru deh kita bisa nikah atau ga. Qeena yakin kok ini semua jebakan" ucap Qeena.
"Qeena... Ayah paham kamu besar hanya dalam dekapan seorang Ibu, jadi ga pernah tau bagaimana seorang Ayah membesarkan anaknya. Saat itu yang terlintas dalam pikiran Ayah adalah bagaimana menyelamatkan harga diri anak gadisnya ... ya kamu Qeena .. kamu udah Ayah anggap anak sejak kamu kecil. Ayah jatuh cinta sama kamu seperti Ayah jatuh cinta saat pertama kali liat anak-anak Ayah terlahir ke dunia ini. Ada sebuah rasa yang sulit Ayah jabarkan. Maaf kalo Ayah pernah salah dengan merencanakan untuk menikahkan kamu dan Rian. Hanya demi ada yang menjaga Rian kelak, Ayah pernah salah memaksa kamu. Ketika dalam perjalanan kebersamaan kita, Fajar jatuh cinta sama kamu, Ayah malah makin semangat buat nyekolahin kamu. Fajar punya cita-cita jadi seorang dokter dari kecil, makanya Ayah mau dia punya pasangan yang smart dan berpendidikan, minimal setara dengan dia, biar kamu ga diremehin orang, ga dianggap numpang hidup sama dia nantinya. Melihat kamu tumbuh makin remaja, entah kenapa malah Ayah berharap kamu berjodoh sama Mas Dafi, walaupun Mas Dafi saat itu sudah punya pilihan hatinya sendiri. Tapi bukankah Mas Dafi selalu datang disaat kamu butuh bantuan? Nuha pun tampak lebih sayang ke Mas Dafi" ucap Pak Dzul dengan suara bergetar menahan segala emosinya.
Semua masih menyimak dengan baik kata demi kata yang diucapkan Pak Dzul.
"Tapi takdir menuliskan yang berbeda dari rencana manusia, kamu pada akhirnya menikah sama Mas Dafi, walaupun kita semua belum tau cerita malam itu seperti apa, Ayah adalah Ayah yang paling bahagia, akhirnya anak-anak Ayah menikah dan kamu resmi jadi anak Ayah seutuhnya" cerita Pak Dzul dengan suara makin berat dan mulai matanya berkaca-kaca.
"Om.. maafin Qeena yang ga pandai membalas budi sama Om dan keluarga" pinta Qeena tulus sambil duduk dibawah posisi Pak Dzul duduk.
"Panggil Ayah... itu aja cukup buat bikin Ayah bahagia" kata Pak Dzul.
Qeena masih menutup mulutnya.
"Berjanjilah.. kamu akan tetap jadi anak Ayah walau apapun yang terjadi" ujar Pak Dzul penuh kasih sayang.
"Tapi Om..." kata Qeena bingung.
"Ayah memohon sama kamu Qeena, jangan rusak kebahagiaan Ayah. Tetaplah jadi anak Ayah" pinta Pak Dzul sambil mendekap kedua tangan didadanya.
"Ayah...." kata Qeena sambil nangis dan menyandarkan kepalanya di lutut Pak Dzul.
"Maafin Qeena ya Yah ... Qeena masih bisa menjalankan peran Qeena sebagai menantu di rumah ini" ucap Qeena.
"Kita sama-sama belajar ya Qeena. Tapi tolong ... terima pernikahan ini tanpa kata terpaksa" harap Pak Dzul.
Keduanya lalu terdiam. Hanya terdengar isak tangis dari Qeena, tangis bahagia karena memiliki seorang Ayah yang amat sayang padanya sekaligus sedih karena dia mengecewakan orang terbaik yang pernah ia jumpai di dunia ini. Pak Dzul memang datang disaat dia ga kenal dan haus akan belaian manja seorang Ayah. Bahkan Qeena kecil menganggap kalo Pak Dzul itu Ayahnya. Pernah berharap kalo suatu saat akan punya Ayah seperti Pak Dzul.
"Laki-laki yang tulus mencintaimu itu yang ga akan membiarkan dirimu disakiti oleh orang lain termasuk disakiti oleh dirinya sendiri .. seperti Ayah dan Mas-mas mu. Apapun kelak yang terjadi, jangan pernah kecewa, jangan pernah merasa gagal ... karena Allah Maha Baik, Allah tau mana yang terbaik buat kamu. Setiap orang punya masa lalu Qeena, jangan permasalahkan masa lalu kamu. Lihatlah bagaimana kamu hari ini, ga ada manusia yang sempurna kan" nasehat Pak Dzul.
"Ya Ayah" jawab Qeena.
Pak Dzul mendekap menantu pertamanya dengan penuh kasih sayang. Dekapan Pak Dzul adalah sebuah dekapan penuh kehangatan seorang Ayah yang dulu pernah Qeena rasakan saat kecil.
"Masalah itu pasti ada, tapi dengan masalah.. kamu jadi belajar bagaimana menyikapi dan menyelesaikannya secara baik, kamu anak Ayah... selamanya kamu akan jadi anak Ayah. Selesaikan dengan baik urusan kamu sama Damar, seperti Mas Dafi yang menyelesaikan urusannya sama calon istrinya" tegas Pak Dzul.
__ADS_1
"Iya ... " janji Qeena.
"Kamu harus kuat Qeena .. karena kamu jadi salah satu orang yang akan Ayah percaya buat menggantikan Ayah menjaga Bunda saat Ayah telah tiada nanti. Jadilah perempuan yang kuat karena suatu saat, kamu akan menjadi seorang Ibu. Saat jalan yang kamu lalui kian berliku, maka beristirahatlah sejenak. Tenangkan pikiran dan temukan jalan keluarnya. Janji ya kamu akan tetap jadi menantu di rumah ini?" kata Pak Dzul sudah berlinang air mata.
"Yah ... Qeena bisa minta waktu buat hal itu? Biarkan Qeena mengenal siapa Mas Dafi dulu sebelum memutuskan apa-apa" kata Qeena masih memeluk Pak Dzul.
"Ya ... ambillah waktu yang kamu perlukan Qeena .. Ayah dan keluarga akan selalu setia menunggu" jawab Pak Dzul sambil mengusap air matanya Qeena.
Dari ruangan atas, ada Fajar dan Izma yang melihat Ayahnya dan Qeena saling berpelukan. Tampak keduanya saling menyayangi seperti Ayah dan putrinya.
"Apapun keputusan Mas... Mas Dzul dan Qeena ga akan pernah terpisahkan. Berpikir jernih Mas, kalo memang Mas ga sanggup melanjutkan perjalanan hidup bersama Qeena, lebih baik ambil keputusan segera. Jangan melukai perasaan Mas Dzul lebih dalam dengan segala pengharapannya" kata Mak Nuha sambil menepuk pundak Dafi.
Dafi masih memandang ke arah Ayahnya dan Qeena.
"Mungkin mudah aja semua ngomong buat tetap bersama Mas Dafi. Tapi ga paham bagaimana sakitnya melihat Mak Nuha yang menangis menceritakan tentang nasib selama menikah, ga tau bagaimana seorang wanita yang mengalami KDRT, diselingkuhi bahkan dipaksa bermadu. Terlalu banyak wanita tersakiti karena pernikahan didepan mata Qeena. Qeena ga mau jadi korban seperti mereka. Teh Erin aja walaupun serba berkecukupan dan suaminya baik, dia ga punya waktu buat bersosialisasi dengan yang lain, hidupnya hanya seputaran anak. Ga punya me time. Konsep menikah harusnya saling membahagiakan, bukan sekedar kami kaum wanita yang hanya bertugas membuat bahagia, kami juga perlu bahagia" kata Qeena dalam hatinya.
"Mas tau Qeena ... luka kamu terhadap lelaki itu sangat besar. Makanya kamu takut memasuki jenjang pernikahan, karena kamu ga bisa memastikan apakah Mas bisa membahagiakan kamu. Sedikit aja kamu peka Qeena sama Mas .. Melepaskan Zahwa berarti Mas membiarkan separuh hati Mas juga lepas. Kamu ga ngerasain saat pernikahan sama orang yang kamu sangat sayangi udah didepan mata, tetiba takdir berkata lain dan kamu harus menikahi wanita lain tanpa bisa membela diri atas kesalahan yang ga kamu perbuat" ucap Dafi dalam hatinya juga.
Pak Dzul mengajak semua sholat Isya, setelahnya beliau pamit masuk kamar.
Dafi mengantarkan Mak Nuha dan Qeena ke rumahnya, tadi pagi sudah dibersihkan sama Mba Mini dan Mas Narko. Dafi juga menyewa jasa pembersih rumah via aplikasi online.
"Mak .. ini benar-benar masih melompong .. tapi kamar ini udah lengkap, semua baru kok. Kamar mandi ini ada diluar. Ada shower buat mandi, WC nya terpisah disebelahnya. Belum ada TV buat hiburan. Tapi bisa pake laptop Mas dulu kalo Mak mau nonton sesuatu. Jaringan internet udah Mas pasang. Itu Mas bawain meja kayu kecil dulu buat nonton pake laptop sama bantal malas buat santai" jelas Dafi.
Rumah dua lantai ini benar-benar berkonsep industrialis, di dominasi perpaduan kayu dan baja ringan. Ga besar tapi kekinian.
Dafi duduk di karpet depan kamar, Mak Nuha dan Qeena masih didalam kamar.
Dafi memijit kepalanya yang terasa pening tiba-tiba.
"Mas pusing? Mau dibeliin obat?" tanya Qeena saat keluar kamar melihat Dafi yang duduk di karpet.
"Ga tau nih dari abis mandi sore kok badan Mas rasanya greges gitu, kepala juga nyut-nyutan. Dari tadi mau cek kerjaan aja kaya hilang fokus .. udah gitu mual.. apa efek banyak makan ikan asap kali ya" jelas Dafi.
"Ga tau juga deh, udah tanya Mas Fajar?" tanya Qeena.
__ADS_1
"Udah .. katanya kecapean aja" jawab Dafi.
"Bisa jadi Mas .. kan Mas Dafi mah workaholic" ujar Qeena.