
Sejak Qeena tinggal di rumahnya, kegiatan Dafi sebelum tidur adalah memandang keluar jendela kamarnya mengarah ke rumahnya. Ada sebuah ketenangan jiwa yang sulit terdefinisikan dengan kata-kata.
Cinta adalah suatu perasaan yang Allah berikan kepada setiap makhluk ciptaan Nya. Rasa untuk saling menyanyangi, mengasihi, saling memenuhi dan saling pengertian. Hal yang akhirnya didapatkan dari diri Qeena. Wanita yang telah lama dikenalnya tapi ga terlalu diperhatikan. Baginya Qeena ga jauh sifatnya kaya Izma, hanya Qeena versi bukan anak manja. Sebuah penilaiannya salah, Qeena terlalu keras ditempa hidup hingga sulit baginya menerima kehadiran orang baru dihatinya selain Mak Nuha.
Dafi selalu berusaha mencairkan suasana ketika bersama Qeena, hanya untuk membuat Qeena nyaman dengan kehadirannya yang secara tiba-tiba menjadi perjalanan kisah hidupnya.
Teringat saat masih di Pesantren dulu, saat itu usia Dafi masih terbilang ABG, fase dimana mengenal lawan jenis, jadi waktu itu sangat ditekankan berkali-kali oleh para ustadz ke para santri bahwa dalam Islam, tidak mengenal istilah pacaran atau mempunyai hubungan percintaan. Tapi diartikan beda sama anak jaman now, mereka lebih suka menjalin hubungan tanpa status, daripada pakai istilah pacaran. Padahal konsep disini adalah sebuah pernikahan. Para santri benar-benar ditekankan agar segera menikah ketika sudah merasa mampu secara lahir batin, inilah yang akhirnya membuat Dafi ingin nikah muda.
Banyak para muda mudi yang sekarang saling jatuh cinta tapi belum berani melangkah kejenjang pernikahan, dengan berbagai alasan seperti faktor usia yang belum cukup, masih sekolah jadi belum berpenghasilan. Makanya di otak Dafi tertanam banget konsep jatuh cinta setelah akad nikah.
"Ini kali ya yang disebut jatuh cinta. Dengan sebelumnya kemungkinan hanya sebuah rasa cinta yang menjurus kearah kemaksiatan? Ya Allah.. ampuni Hamba dengan segala kealpaan yang pernah diperbuat ketika menjalin hubungan dengan wanita yang bukan mahrom Hamba" ujar Dafi sambil menutup mukanya dengan tangan.
Dafi berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Lelah sekali rasanya, tapi mata enggan terpejam.
Kembali ingat Pak Kyai saat memberikan wejangan selepas memberikan kajian tiap Sabtu pagi.
#Maka kenali orang yang akan kamu bawa ke pernikahan dengan cara yang baik dan tidak melanggar norma, baik norma agama atau norma sosial. Jika sudah yakin dengan calon pasangan, maka menikahlah. Bukankah lebih enak jadi manten daripada jadi mantan? bukti cinta adalah dengan menikah, buku nikah adalah bukti otentik rasa cinta. Bagi yang menikah karena terpaksa atau dipaksa, cinta itu akan tumbuh setelah menikah. Orang yang ditakdirkan menikah dengan kita, seiring perjalanan rumah tangga akan tumbuh rasa cinta dan saling mencintai#
"Dulu sempet kepikiran juga sih, gaji masih segini, nanti mau dikasih makan apa anak orang? Kalau punya anak gimana buat beli susu dan sekolahnya, pokoknya segala kesemerawutan pikiran yang lainnya. Alhamdulillah Allah benar-benar Maha Baik, rejeki selalu ada dari arah yang ga diduga. Ya Allah mantapkanlah niat hati ini untuk menikah dengan tujuan ingin menjaga, menyayangi dan meraih ridhoMu serta mengikuti Sunnah Rasulullah" ucap Dafi bicara sendiri.
Baru teringat kalo HP nya sedari siang ga berbunyi. Dafi segera mengambil tas nya kemudian mengambil HP nya.
Banyak chat yang masuk dan missed call. Dibukanya pelan-pelan dan ditelusuri chat-chat tersebut. Dibalas satu persatu yang butuh dijawab cepat serta meminta maaf karena baru membalas chatnya.
Pak Dzul memberikan informasi via chat kalo besok pagi ada acara kerja bakti membersihkan selokan dan mengecat batas pinggir jalan agar tampak menarik. Dafi diminta ikut serta, Pak Dzul udah kasih tau ke Bu Fia untuk menyediakan makanan, tapi Bu Fia malah meminta Pak Dzul membeli sendiri makanan buat yang ikut kerja bakti. Jadi Pak Dzul minta Dafi yang beliin juga.
Akhirnya Dafi menelpon Qeena. Cukup lama telepon baru diangkat.
"Assalamualaikum ... ganggu tidur ya?" sapa Dafi.
"Waalaikumsalam.. iya" jawab Qeena rada serak karena udah nyenyak tidur.
"Besok ada kerja bakti, bisa bikinin makanan ga? Bunda malah nyuruh beli aja. Biasanya kalo acara kerja bakti tuh Ibu-ibu guyub bawa makanan dari rumah" tanya Dafi.
"Besok kan barang yang kita beli mau datang, udah gitu mau masang ini itu Mas .. bikin apa coba .. waktunya mepet, bahan ga ada apa-apa" ucap Qeena.
__ADS_1
"Pastel juga boleh" usul Dafi.
"Ribet ... gimana besok aja ya ... cape banget ini Mas, belum pernah muterin Mall selama ini, lagian tuh Mall gede banget sih" kata Qeena.
"Ya Mas kan mau kenalin kamu ke warga sekalian. Kalo Pak RT dan RW tau kalo kita udah nikah, kan ce es an sama Ayah. Tapi mereka keep silent dulu, paling alasannya buat persiapan pernikahan jadi kamu tinggal disini, toh pisah rumah kitanya juga" jelas Dafi.
"Udah ya .. ngantuk ...." jawab Qeena.
"Ya udah istirahat deh ... Assalamualaikum" kata Dafi ngalah.
"Waalaikumsalam" jawab Qeena.
Dafi kembali melihat HP nya, dicek kembali khawatir ada yang belum dijawab. Kaget juga melihat ada missed call banyak dari Zahwa.
"Astaghfirullah... kontaknya belum diedit, pasti nih Qeena tadi yang silent HP nya karena Zahwa nelpon. Kenapa dia ga bilang ada telepon dari Zahwa ya? lupa atau dia cemburu ya? mudah-mudahan Qeena ga masalah deh .." harap Dafi.
Dafi akhirnya membuka chat dari Zahwa.
#Assamualaikum Mas ... Apa kabar? semoga sehat ya. Lebih dari seminggu yang lalu jadi hari terburuk dalam diri Zahwa, mengetahui pernikahan Mas sama wanita lain. Siapa sih yang mau putus saat sudah menjalin hubungan serius dengan seseorang? Jawabannya pasti ga ada. Bukan karena perselisihan kita berpisahnya, tapi karena kejadian terkutuk malam itu. Sebagai dua orang yang dewasa, Mas sudah mengakhiri dengan baik, mendatangi wali dan menjelaskan ke keluarga, kini giliran Zahwa menerima secara lapang#.
Dafi membaca dengan seksama. Ada beberapa chat yang panjang terkirim buat dia.
Diseberang sana, rupanya Zahwa pas lagi ngeliat HP juga dan melihat kalo chatnya udah kebaca dan Dafi sedang aktif. Bahkan beberapa kali melihat Dafi tengah mengetik.
#Mungkin ada orang yang berpikir mau balikan karena masih menyayangi mantan, tapi dalam kasus kita sudah ga mungkin kembali karena memang terlalu rumit hubungan yang ada, bahkan konflik yang benar-benar bikin emosi jiwa. Zahwa coba meningat-ingat, saat sebelum berstatus punya hubungan sama Mas, status kita kan berteman dulu. Gimana kalo kita tetap berhubungan baik dengan cara menjadi teman?# chat selanjutnya dari Zahwa.
Dafi membalas dengan voice note, kayanya dia malas buat ngetik.
"Waalaikumsalam .. Ga ada yang salah saat sebuah hubungan percintaan berakhir kemudian dilanjutkan dalam status pertemanan. Tapi disini membutuhkan sikap dewasa memang dari kedua belah pihak" jawab Dafi sambil meletakkan HP nya disebelah bantal.
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
Zahwa tersenyum bahagia mendengar suara Dafi lagi. Suara khas cowo banget.
"Mas ... mau sampai kapan coba Zahwa diam-diam kepo sama akun sosmednya Mas dan orang disekitarnya Mas termasuk mencari akunnya Qeena. Sampe scrolling timeline Mas dan lainnya tiap jam. Menerima kenyataan kalo kita udah ga bisa lagi kembali. Mau sampai kapan ya diam-diam Zahwa perhatian dari jarak jauh? Mau sampai kapan menghubungi keluarganya Mas untuk sekedar mencari tahu kabar Mas? selama ini Tante Fia menceritakan kalo antara Mas dan Qeena masih hidup masing-masing. Bener ga ya apa yang Tante Fia bilang kalo Mas belum bisa move on dari Zahwa? Mas .. Zahwa dilema .. menerima Mas kembali artinya siap dengan status dan kejadian itu, tapi sulit banget Mas ngelupain cerita kita. Mas tuh istimewa banget dalam hati Zahwa. Tau ga Mas .. Tante Fia sampe meminta biar Zahwa terima Mas balik, karena beliau ga rela liat putra sulung kesayangannya jadi sedih dan ga bergairah dalam hidup" ujar Zahwa yang hanya mendengar cerita sepihak dari versi Bu Fia aja.
__ADS_1
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Ada voice note masuk dari Zahwa, Dafi yang belum bisa terpejam kembali melihat HP nya.
"Mas semangat ya menjalani takdir yang sekarang sedang Mas jalani. Zahwa bersedia menjadi sahabat buat Mas. Mas bisa menceritakan apapun, Zahwa siap dengerin" voice note pertama Zahwa.
"Meskipun persentase hubungan yang berakhir menjadi teman baik masih sedikit, tapi kan nyatanya ada kok yang kaya gitu. Daripada kita sedih terus, lebih baik berdamai dengan keadaan yang memang sudah terjadi kan?" voice note kedua Zahwa.
"Yuk Mas ... kita sama-sama terima kalo Allah udah menyiapkan orang yang lebih baik buat kita. Mungkin suatu saat kita akan saling membutuhkan, bukan sebagai kekasih ya, tetapi sebagai teman.Β Kita buang rasa sayang yang pernah ada sebagai pasangan. Kita tetap ada batasan" voice note ketiganya Zahwa.
"Bukannya enak ya dengan tetap kita berteman? bisa cerita bersama karena paham cerita masa lalu tanpa penjelasan baru, saling membantu, bahkan menertawai kebodohan dan kesalahan yang pernah kita lakukan berdua" lanjut Zahwa.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Dafi terdiam terpaku melihat HP nya, kemudian diletakkan lagi disebelah bantal.
HPnya berdering, dengan ogah-ogahan dia angkat tanpa melihat dengan jelas siapa yang telepon. Dafi menduga itu telepon dari Zahwa, daripada dia dikejar puluhan telepon lagi kaya tadi siang, jadi lebih baik diangkat.
"Berteman boleh aja, tapi Mas masih menata hati dari banyak hal. Belajar menerima kenyataan yang ada. Jadi tolong berikan Mas ruang buat itu. Kamu layak bahagia, cari deh lelaki yang bisa menjadikan kamu ratu dalam istana cintanya" kata Dafi serius.
"Mas ngigo ya? atau lagi nunggu telpon dari seseorang jadi antusias banget jawabnya?" ujar Qeena.
"Loh ... kamu Neng" jawab Dafi kaget.
"Hayooo malam-malam lagi telponan sama siapa?" ledek Qeena dengan santainya.
"Ada apa?" tanya Dafi mengalihkan pembicaraan.
"Mau bilang kalo besok bikin mie goreng aja ya, pake sambel kacang plus bakwan" usul Qeena.
"Ya" jawab Dafi.
"Lemes amat .. kecewa ya yang nelpon Qeena bukan Mba Za..." kata Qeena ga meneruskan omongannya.
"Udah tidur .. katanya cape, besok subuh kan udah belanja buat masak" saran Dafi.
__ADS_1
Sambungan telepon terputus.
"Kan Mas ... pasti cuma becanda ngegombal sama Qeena. Mas tuh masih cinta sama Mba Zahwa. Kenapa demi Ayah bahagia, terus bisa melihat Qeena serta Mak Nuha hidup layak .. Mas sampe ngorbanin perasaan Mas. Makanya kalo masih cinta jangan jadikan Mba Zahwa jadi mantan" ucap Qeena dalam hati.