
Nantinya Nuha akan membantu orang tuanya jualan bakso di kampung. Sebenarnya Qeena sedih harus berpisah dengan banyak kawan-kawannya di Jakarta. Tapi dia memang anak yang ga pernah ngelawan emaknya, jadi dia pasrah akan keinginan Nuha. Lagipula bisa apa anak yang baru lulus SD hidup di Jakarta seorang diri.
Sore itu, di kebon belakang kontrakan Nuha (sejak kios dijual, Nuha ngontrak dibelakang SD dan berjualan lauk mateng didepan kontrakannya buat menyambung hidup), sepulang sekolah, Fajar masih lengkap berseragam SMA menemui Qeena yang besok akan pindah ke kampung.
"Qeena ... friendship is priceless. Meski jarak yang nanti memisahkan diantara kita, kita ga akan pernah merasa jauh. Karena persahabatan tidak diukur dengan jarak, melainkan hati. Mas ga akan ucapin selamat tinggal, tapi Mas akan bilang sampai jumpa lagi. Dari lubuk hati Mas yang terdalam, Mas mau bilang, terima kasih karena telah menjadi sahabat terbaik Mas selama ini. Semoga perjalanan kamu mewujudkan mimpi bisa tercapai. Persahabatan kita akan berada didalam hati dan pikiran Mas selamanya. Mas pasti akan merindukanmu. Ini Mas belikan handphone biar kita bisa saling komunikasi, jangan liat dari harganya ya, tapi liat dari tulusnya Mas Fajar ke kamu. Nanti kalo Mas udah jadi orang yang berhasil, akan Mas jemput kamu dari sana. Kita hidup bahagia disini lagi ya" janji Fajar sambil menyerahkan HP buat Qeena.
Qeena belum paham arah pembicaraan Fajar karena dia masih berusia dua belas tahun dan ga paham tentang rasa suka seorang lelaki terhadap wanita.
"Mas ... ini kan mahal harganya. Mas Fajar ga nyuri kan?" tanya Qeena.
"Qeena ... Mas tau kalo Mas ini nakal, suka bolos, ikut tawuran bahkan udah ngerokok ... tapi Mas ga pernah deh yang namanya nyolong. Ini Mas kumpulin dari uang jajan sama ditambahin Nenek dan Ayah" jelas Fajar.
"Mas janji ya jangan nakal lagi kalo Qeena udah jauh. Jangan ngelawan Bunda, Ayah dan Nenek lagi ... mereka sayang sama Mas Fajar. Nanti kalo ada rejeki, Mas main ya ke Wonogiri, atau do'akan aja Qeena bisa kembali ke Jakarta nantinya" ucap Qeena. Fajar mengangguk.
Walaupun usianya baru dua belas tahun, tapi kata-katanya Qeena selalu dituruti oleh Fajar. Saat Fajar nakal, selalu Qeena yang menasehati.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Malam harinya, Fajar masuk ke kamar Dafi dan langsung tiduran di tempat tidur Dafi. Dafi sedang serius didepan laptopnya. Sekarang Dafi sudah kuliah, memasuki semester lima, walaupun usianya sembilan belas tahun kurang. Dafi sempat akselerasi di SD dan SMA, ditingkat SMP tidak ada kelas akselerasi, jadinya saat tingkat SMP lah dia belajar berorganisasi dan punya banyak teman. Selama SD dan SMA dia ga ikut organisasi dan ga punya teman akrab seperti saat SMP.
"Mas .... kalo kita seneng sama anak yang baru lulus SD tuh termasuk pedofil ga sih?" tanya Fajar ke Dafi yang lagi asyik ngerjain tugas kampus.
Dafi berhasil masuk di sekolah tinggi statistik yang ada ikatan dinasnya. Dia emang tergila-gila sama ilmu statistik, cita-citanya bisa ditugaskan keliling Indonesia buat menyurvei kondisi masyarakat dan melihat secara langsung bagaimana Indonesia.
"Ada-ada aja ... suka sama anak piyik" kata Dafi masih sambil menatap laptop.
"Tapi dia emang udah pas banget dihati. Makin gede, dia makin cantik tau Mas" kata Fajar lagi.
"Qeena?" tanya Dafi menghentikan aktivitasnya dan membalikkan tubuhnya ke arah Fajar.
Dafi ikut duduk di ranjang, disampingnya Fajar.
"Ya ... Mas tau kan persahabatan Fajar sama Qeena udah jalan sekitar sepuluh tahunan, sejak Fajar TK udah kenal sama dia. Lanjutlah sampe sekarang" jawab Fajar santai.
"Jar ... sadar ga sih Qeena baru lulus SD dan kamu udah berseragam putih abu-abu, lagian tau kan gimana Bunda ga suka kalo kita semua dekat sama Mak Nuha dan Qeena" kata Dafi mengingatkan.
"Ah itu Bunda aja yang cemburu sampe ngelabrak Mak Nuha. Kan Ayah sama Mak Nuha ga ada apa-apa. Ayah cuma bersahabat sama Mak Nuha" bela Fajar.
"Come on Fajar .. ga ada persahabatan antara laki-laki sama wanita, pasti ada percikan rasa .. kaya kamu sama Qeena kan? Mungkin Qeena belum paham arti cinta, tapi kamu udah paham Jar. Cukup ya ... hampir aja keluarga kita berantakan gara-gara Mak Nuha" nasehat Dafi lagi.
__ADS_1
"Tapi kan Mak Nuha ga salah Mas" tetap Fajar membela.
"Semua pihak salah Jar, baik Mak Nuha yang ga menolak uluran bantuan Ayah dan Ayah yang selalu menyambangi Mak Nuha kesana" ucap Dafi lagi.
"Mak Nuha sama Qeena mau pindah ke kampung Mas" jelas Fajar.
"Oh jadi juga?" kata Dafi lagi.
"Mas tau darimana?" tanya Fajar balik.
"Waktu Mak Leha meninggal, Mas ikut di ambulance sama Mak Nuha dan Qeena. Mak Nuha bilang akan pulang ke kampung, seminggu sebelum meninggal, Mak Leha berwasiat tentang kios itu. Ayah kan yang akhirnya beli kios itu, tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya, ini rahasia. Mak Nuha aja ga tau" terang Dafi.
"Kok Mas Dafi ga bilang" kata Fajar.
"Udah sana keluar ... Mas banyak tugas. Besok lagi deh kalo mau ngobrol" usir Dafi yang emang lagi sibuk ngerjain tugas.
Dengan ogah-ogahan Fajar keluar dari kamar Dafi.
Dafi waktu itu baru masuk SMP, saat dia ikut Bunda ke kios Mak Leha buat melabrak Ayahnya yang sedang berkunjung ke kios roti bakar, disana tampak Ayahnya ngobrol sama Nuha sambil memangku Qeena. Sempat ribut besar antara Ayah dan Bundanya. Saat itu Nenek Sri membela Ayahnya, mengatakan antara Pak Dzul sama Nuha hanya bersahabat. Dafi ga tau kebenaran yang sebenarnya seperti apa karena ga ada yang cerita asal muasal kenapa bisa terjadi keributan tersebut, tapi setelah pertengkaran itu, kecurigaan antara Ayah dan Bundanya sangat mengganggu banget. Bu Fia membuat aturan harus video call tiap jam, kalo Pak Dzul libur ke Jakarta harus di rumah aja, kalau pun keluar rumah harus bersamanya dan masih banyak lagi hal over protective lainnya.
Yang membuat Dafi sampe marah adalah pertengkaran orang tuanya yang seakan tiada akhir. Dafi sampe stress karena berada ditengah-tengah. Saat itu usianya baru sepuluh tahun, tapi dia dipaksa berpikir dewasa. Bagaimana dia menjelaskan ke Fajar tentang pertengkaran kedua orangtuanya, belum lagi dia harus mengurus Rian dan Izma yang belum paham orang tuanya berselisih paham. Tekanan demi tekanan membuat Dafi yang menjelang remaja jadi stress, akhirnya dia memutuskan buat masuk pesantren sebagai pelariannya terhadap kekecewaan terhadap orang tua. Dia hanya ingin pergi jauh dari rumah.
Di Pesantren modern, ga hanya bakat minatnya banyak tersalurkan, tapi dia juga bisa menambah pengetahuan agamanya yang masih sangat cetek saat sekolah di sekolah umum.
Didikan di Pesantren sangat disiplin, bahkan mengajarkan dia bagaimana harus berbagi, saling membantu dan bagaimana bisa mempunyai kesabaran luar biasa dalam menyikapi suatu hal.
Selama di Pesantren pun hanya Nenek Sri yang rutin menjenguknya setiap bulan, Dafi pun hanya mengambil masa perpulangan saat Idul Fitri aja. Masa libur semester dan libur kenaikan kelas malah dia gunakan buat pengabdian ke masyarakat sekitar. Makanya banyak warga sekitar Pondok Pesantren yang kenal sama dia. Dafi membantu mengajar disebuah TPA Mesjid. Disana mengajar anak-anak dengan ekonomi menengah kebawah, yang punya TPA tersebut dulunya adalah santri Pesantren tempat Dafi mondok.
Selepas lulus di Pondok Pesantren pun hubungan Ayah dan Bundanya masih aja ga harmonis seperti saat dia kecil. Ditambah lagi saat itu Pak Dzul ditempatkan tugas ke Indonesia Timur dan harus tinggal disana selama dua tahun, pulang ke Jakarta hanya tiga bulan sekali, Bu Fia juga makin sibuk karena sudah menjabat posisi sebagai wakil direktur. Nenek Sri masih berpindah-pindah tinggal kesemua anak-anaknya, jadilah anak-anak Pak Dzul lebih banyak sama pengasuh di rumah.
Sabtu siang, Dafi janjian sama teman-teman sewaktu di Pesantren dulu, sekarang mereka baru masuk kuliah. Teman-teman Pesantrennya yang kuliah di Jakarta dia undang datang ke rumah. Bu Fia sudah memesankan makanan buat mereka semua.
"Lo hebat emang Nish (semua teman pesantren mengenalnya dengan nama depannya yaitu Danish, awalnya dia memperkenalkan diri sebagai Dafi, tapi setiap diabsen dipanggil nama Danish, karena ustadznya bingung, maka disepakati panggil nama depan bukan nama panggilan di rumah, lagipula arti nama Danish itu pengetahuan dan kebijakan) .. belum dua puluh tahun tapi udah semester lima. Kita aja masih semester satu" puji kawannya.
"Mana masuk ke sekolah tinggi yang ada ikatan dinas lagi ... otak Lo encer banget" timpal lainnya.
"Selain pintar, nih orang juga vokal banget kalo para ustadz lagi ngajar, bahkan berani protes dia" ucap yang satu lagi.
"Tapi saking gw vokalnya pernah kena gundul sekali ... hahaha" jawab Dafi sambil ketawa, temannya yang ingat pun ketawa ngakak.
__ADS_1
Santri yang bermasalah memang diberikan hukuman buat membersihkan kamar mandi dan digundulin didepan santri lainnya.
⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪⏪
Flashback jaman Dafi di Pesantren.
Jadi ceritanya waktu sholat Jum'at tiba. Ini adalah sholat Jum'at pertama Dafi di Pesantren. Kegiatan belajar kalo hari Jum'at hanya sampai jam sepuluh pagi, agar para santri bisa mempersiapkan diri untuk datang lebih awal saat sholat Jum'at, seperti yg diajarkan Rosulullah, Dafi sholat Tahiyyatul Masjid dan posisi duduknya dapat dekat tiang.
"Astaghfirullah, ini Mesjid Pesantren aliran sesat ya?" tanya Dafi terlonjak kaget karena disentuh sama jama'ah sebelahnya yang ternyata pengawas santri.
"Emang kenapa segala tanya aliran apa?" tanya pengawas tersebut.
"Masa sholat Jum'at tanpa adzan, tanpa khotbah langsung qomat aja (tidak sesuai yang di syari'atkan)" protes Dafi yang membuat banyak orang memperhatikannya dengan heran.
Dafi bingung saat itu, dengan sedikit lemas dan perasaan terpaksa, Dafi berdiri juga untuk menunaikan ibadah sholat Jum'at sampai selesai, dipikirinnya hanya sekadar untuk menghormati aja walaupun ga sreg dihatinya.
Ketika selesai sholat dan mencium tangan para jama'ah yang lebih tua darinya, dengan kepo dia kembali bertanya.
"Maaf Pak ... ini Pesantren aliran apa ya? aneh ajarannya, ini baru urusan sholat Jum'at aja udah ga sesuai syari'at, apalagi pendidikan disini" bisik Dafi yang belum kenal siapa orang disebelahnya.
Orang tersebut terkejut sambil memandangi Dafi.
"Santri baru ya?" tanya Bapak tersebut.
"Iya Pak, baru kemarin masuk kesini. Jangan-jangan disini diajarkan ajaran sesat ya" tambah Dafi masih sambil berbisik.
"Sesat gimana?" tanya balik sang Bapak.
"Ga pake adzan dan khotbah, masa langsung aja sholat ... aneh" papar Dafi.
"Lah sampeyan tadi TIDURRR Mas ... kebiasaan sholat Jum'at carinya berdiri dekat sama tiang biar bisa senderan terus bukannya dengar khotbah malah tidur. Ayo cuci muka dan wudhu lagi sana" kata Bapak tersebut.
"Bapak ini siapa ya? kok marah saat saya tanya aliran apa pesantren ini" tanya Dafi.
Akhirnya Dafi dibawa pengawas dan disidang sama Pak Kyai yang bertanggungjawab mengenai disiplin santri. Dafi ketauan tidur saat jam sholat. Walhasil dia mendapatkan hukuman. Menyesal dan malu saat kejadian itu, tapi salahnya juga begadang mengerjakan soal-soal di buku yang Nenek belikan, karena lupa waktu, dia sampe ga tidur hingga subuh terus langsung ke Mesjid dan sholat subuh, setelah itu dia tilawah sampai jam tujuh pagi.
"Gokil emang teman kita yang satu ini. Siapa sangka dia meraih nilai Ujian Nasional tertinggi di Pesantren dan tingkat Propinsi, padahal hampir semua ustadz yang ngajar di kelas kita banyak yang pusing sama pertanyaannya yang kritis bahkan kadang nyeleneh" ujar temannya Dafi.
"Ya ... pas lulus dapat penghargaan di panggung, semua pengajar sampe bilang ga percuma ya hari kedua di Pesantren udah kena dibotakkin dan nyikat kamar mandi. Hasil akhirnya jos gandos, memecahkan nilai ujian tertinggi sepanjang sejarah pesantren bahkan nilai matematika dan bahasa Inggris sempurna" ingat Dafi, semua kembali tertawa mengingat masa itu
__ADS_1