
Semua menjalani kehidupan masing-masing dengan ceritanya. Mak Imah pun makin intens curhat ke Dafi. Pas banget momennya Dafi dinas ke Bali dan sudah meminta alamat Mak Imah tinggal agar bisa mengunjungi rumahnya.
Ketika ada kesempatan selepas kerja, sore harinya Dafi meminjam motor milik temannya menuju tempat tinggal Mak Imah dan Pak Bintang. Mak Imah ga tau kalo Dafi akan kesana, Dafi juga tidak menjanjikan waktunya agar Mak Imah ga nunggu.
Tampilan luar rumah ini sangat minimalis tapi modern. Mungkin karena hanya tinggal berdua saja, jadi mereka memutuskan untuk ga punya rumah yang besar. Terletak disebuah kompleks yang belum terlalu padat rumahnya. Toh kalo anak dan cucu berkunjung ke Bali, pasti mereka akan menyewa sebuah villa milik rekanan Pak Bintang buat sekalian liburan bersama.
Lumayan lama Dafi mengetuk pintu rumah tapi ga ada jawaban, akhirnya Dafi menelpon Mak Imah. Sekitar lima menit kemudian barulah pintu dibuka sama Pak Bintang.
"Assalamualaikum Pak" sapa Dafi sambil mencium tangan Pak Bintang.
"Waalaikumsalam .. Mas Dafi .. mari masuk, Imahnya lagi di kamar mandi. Qeena ga ikut?" jawab Pak Bintang.
"Ga Pak, saya sendiri datangnya" jawab Dafi.
Keduanya masuk kedalam rumah. Cukup apik dan bersih. Pak Bintang mengeluarkan minuman buat Dafi dan diletakkan di meja ruang tamu.
"Arak Bali .. buat ngusir dingin" tawar Pak Bintang.
"Maaf Pak .. saya ga minum" jawab Dafi.
"Dikit mah ga memabukkan, lagipula ini legal kok" jelas Pak Bintang.
Salah satu desa di Bali yang memproduksi arak adalah Desa Les di Buleleng, Bali Utara. Arak Bali ini memiliki kadar alkohol sekitar 30 - 50%.
"Lagi dinas apa sengaja liburan kesini?" tanya Pak Bintang basa basi.
"Dinas Pak, kalo liburan pasti aja keluarga .. kebetulan sekarang kan udah punya orang tua disini, jadi sekalian nengokin orang tua. Maaf ya Pak kalo saya ga bawa apa-apa buat oleh-oleh, tapi saya mau ajak makan malam aja selepas sholat Maghrib" ajak Dafi.
"Boleh ... nanti kita makan nasi tempong khas Banyuwangi aja, kamu pasti agak repot ya disini makannya, banyak yang ga halal dan meragukan. Ini yang punya asli orang Banyuwangi dan muslim, jadi lebih aman deh" jelas Pak Bintang.
"Terserah Bapak yang pilih saja, saya manut" ujar Dafi.
Mak Imah keluar, rambutnya ditutup pakai handuk. Dafi mencium tangannya. Keliatan agak kurusan Mak Imah.
Mak Imah memeluk Dafi sambil menangis.
"Ketemu sama mantu kok malah sedih" ledek Pak Bintang.
"Haru aja Mas.. udah sebulan lebih ga ketemu" jawab Mak Imah berbohong.
"Dulu puluhan tahun ga tau anak mantu dimana ga masalah" sindir Pak Bintang.
"Udah masuk Maghrib .. kita sholat dulu ya, nanti makan malam bareng. Saya naik motor, Bapak dan Mak Imah terserah mau naik apa aja, tapi saya ga mampir kesini lagi ya, langsung balik ke Hotel karena besok pagi harus kerja dan sorenya udah pulang lagi ke Jakarta" kata Dafi.
"Kok mainnya sebentar Mas?" tanya Mak Imah.
__ADS_1
"Iya Mak .. cuma dua hari aja. Maaf ya kalo ga bisa lama-lama ketemu sama Emak. Nanti kalo ada waktu lagi, Mas bawa Qeena kesini buat ketemu sama Emak" janji Dafi.
"Iya ... Mak tunggu loh" ujar Mak Imah.
Mereka bertiga makan sambil ngobrol ngalor ngidul, Dafi banyak memperhatikan bahasa tubuh yang Mak Imah berikan saat ngobrol. Memang tampak sekali Mak Imah disetir sama Pak Bintang.
"Kamu gemukan kayanya ya Fi? jadi kaya Ayahnya, beda agak tinggian aja. Muka mirip banget" kata Pak Bintang.
"Iya nih Pak, dari nikah sampe sekarang udah naik enam kilogram, sampe saya lagi pesen seragam lagi ini karena yang lama kayanya mulai ciut bahannya ... hahaha" canda Dafi.
"Bahan baju ya yang disalahin ... berarti cocok tuh susunya .. nih liat Bapak aja gemukan" sahut Pak Bintang.
"Ga pulang ke Jakarta Pak?" tanya Dafi.
"Lagi proyeknya disini, jadi ya disini dulu aja sampe selesai. Untung sekarang ada teman, jadinya ya ga kesepian" jawab Pak Bintang genit menyolek Mak Imah.
"Ga masalah sama keluarga yang di Jakarta?" tanya Dafi.
"Ya kan udah tua yang di Jakarta, udah ga bisa goyang .. hahhaha" kata Pak Bintang tanpa beban.
"Ada rencana punya momongan Pak sama Mak Imah?" tanya Dafi lagi.
"Ga lah ... kamu aja yang punya anak, kalo diusia kita mah ga mikirin anak, asal happy aja" ujar Pak Bintang.
"Pasti dong kita amat sangat bahagia" kata Pak Bintang.
"Alhamdulillah.. seneng saya dengarnya" jawab Dafi penuh senyuman.
Mereka melanjutkan makan malamnya.
"Pak ... boleh ga saya bawa Mak Imah ke Jakarta dulu, buat ketemu sama Qeena dan keluarganya disana?" tanya Dafi.
"Dunia terbalik dong, dimana-mana anak yang ke rumah orang tuanya, bukan orang tua yang datang ke tempat anaknya" jawab Pak Bintang.
"Sejak nikah kan Mak Imah belum pulang buat jenguk orang tua dan keluarga, kebetulan ada saya, jadi ada barengan ke Jakarta. Insyaa Allah saya antar sampe tujuan Pak, pasti beliau kangen kan sama yang ada di Jakarta" ujar Dafi bernegosiasi.
"Istri itu dimana-mana ya harus ikut suami, masa suami ditinggal sendirian, kamu juga pasti ga mau dong harus pisah tinggal sama istri" kata Pak Bintang.
"Sejak saya nikah, ya banyak ga barengnya, saya kan pindah-pindah tugas dan Qeena jarang bisa ikut tinggal sama saya karena punya kesibukan juga di Jakarta. Yang penting kami punya jadwal ketemu rutin dan saling percaya aja" jelas Dafi.
"Ga baik tuh jauh-jauhan kaya gitu, nanti siapa yang ngurusin kita nih para suami. Masa punya istri udah kaya bujangan, pantes aja ya kalian nikah udah setahunan belum juga dikasih momongan, apa kurang perkasa kali kamunya" ucap Pak Bintang rada ngeledek.
"Anak itu kan titipan Pak, ya mungkin belum saatnya kami diberikan titipan itu. Masih banyak tugas kami yang belum terselesaikan dengan baik. Salah satunya menjadi anak yang baik bagi orang tua. Allah masih melihat kami menjadi anak yang baik dulu sebelum diberikan kepercayaan anak" jawab Dafi rada keki sedikit.
"Jadi lelaki itu ga usah bucin banget Fi, pasti Qeena nih yang belum mau punya anak karena jualannya lagi laris-larisnya, ditambah punya wajah dan badan yang bagus, pasti ga mau dong rusak body goalsnya karena menggendut kalo hamil" canda Pak Bintang yang sama sekali ga lucu.
__ADS_1
"Pak .. kalo alasannya bisnis maju, tanpa dia berbisnis, cukup rebahan aja, dia bisa kok hidup enak. Ga usah ngurus rumah karena saya bisa bayar orang buat urus rumah, mau shopping juga tinggal shopping aja, atau mau piknik biar media sosialnya penuh sama foto-foto dia di tempat yang oke pun bisa. Tapi dia memilih menjadi wanita mandiri, bukan sekedar uang yang dia cari, tapi bagaimana dirinya bisa membantu orang sekitar yang membutuhkan pekerjaan, ditambah dia itu orang yang selalu mau mengupgrade dirinya sendiri. Dengan bisnisnya sekarang, dia jadi lebih melek teknologi, lebih bisa berkomunikasi dengan orang dengan berbagai latar belakang, ilmu masaknya pun nambah karena dia berguru ke para ahlinya. Istri itu partner suami, dia bukan pekerja buat kita. Memang surganya berada ditangan kita, tapi jangan lupa kalo do'anya bisa menggetarkan langitnya Allah. Jika istri ikhlas dan ridho terhadap langkah kita, disitulah keberkahan suami ada. Saya hanya pegawai biasa, tapi Allah mencukupkan saya dari bisnis lainnya. Bahkan bisa dibilang, pendapatan total saya sebulan itu udah seimbang sama pendapatan Qeena dibulan yang sama" sombong Dafi.
"Bucin banget sih Fi" sindir Pak Bintang.
"Kita laki-laki Pak .. coba Bapak pikir .. lelaki mana yang ga terbucin-bucin sama seorang Qeena?" tanya Dafi.
"Iya juga sih, udah cantik banget, bodynya bagus, tutur katanya juga teratur, pintar masak .. pastinya oke juga buat teman tidur" papar Pak Bintang.
"Nah kan .. Sekarang saya tanya, apa Bapak ga bucin ke Mak Imah? sampe Mak Imah ga boleh ke Jakarta bareng saya" tanya Dafi.
"Aduh .. apa tuh bucin? ga ada dalam kamus seorang Bintang... hahaha.. adanya kebalik" ucap Pak Bintang dengan pedenya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Qeena masih sibuk berkutat di dapur rumahnya sendirian, Bu Fia yang nemenin tiap Dafi lagi dinas keluar kota, udah ketiduran di sofa depan TV. Memang sofa ini besar dan empuk, bikin orang yang bersandar pasti ketiduran.
Qeena masih manggang orderan roti isi srikaya, orderan dari rekan kerjanya Dafi. Jam tujuh pagi rencananya roti sebanyak dua ratus pieces akan diambil langsung oleh pemesan.
"Kenapa perasaan ga enak ya? ada apa ini .. ya Allah semoga semua baik-baik aja" kata Qeena.
πππππππππππππππ
Keesokan sorenya, Dafi bersama satu rekannya sudah sampai di Bandara Ngurah Rai. Penerbangan masih empat jam lagi, mereka sengaja datang lebih cepat karena langsung dari keliling survei dan tempatnya dekat sama Bandara, jadi ga perlu bolak-balik lagi ke hotel kemudian menuju Bandara.
Mereka sedang menikmati waktu santai disebuah Coffe Shop. HP Dafi berbunyi, dari Mak Imah. Dafi menyebutkan kalo dia ada disebuah Coffe Shop. Mak Imah segera menuju tempat yang Dafi maksud.
"Loh Mak ada apa sampe bawa tas segala, Mak mau kemana?" tanya Dafi bingung.
"Pokoknya Mas .. bawa Emak pulang ke Jakarta, Emak ga mau disini" pinta Mak Imah sambil menangis.
Dafi paham sama maksudnya Mak Imah, dia langsung mencari tiket online di penerbangan yang sama seperti dirinya, begitu dapat langsung dia transfer dan menuju ke maskapai yang dimaksud. Temannya Dafi berinisiatif buat menukar bangkunya, jadi Mak Imah bisa duduk bersebelahan sama Dafi.
πΊ
Didalam pesawat, Dafi mendengarkan Mak Imah bercerita tentang rumah tangganya.
"Jadi semalam Emak berantem hebat?" tanya Dafi meyakinkan pendengarannya.
"Iya .. Mas Bintang curiga Emak ngadu ke kamu, Emak disiksa Mas" adu Mak Imah sambil berbisik.
"Jadi sekarang ini Emak kabur?" tanya Dafi.
"Iya .. pokoknya Emak minta tolong sama kamu, lindungin Emak. Udah ga mau lagi nerusin pernikahan ini" jawab Mak Imah memelas.
"Emak tenang dulu ya, kita coba cari jalan keluar yang baik" kata Dafi mencoba menenangkan.
__ADS_1