
Qeena dan Mak Nuha ikut pengajian selamatan rumah baru keluarga Damar. Semua keluarga berkumpul. Para sepupunya Damar jelas aja langsung terpesona oleh kecantikan Qeena.
Hari ini Qeena memakai setelan seperti sari Indian. Atasannya berupa tunik yang panjangnya sedengkul dan dipadukan dengan celana panjang motif senada. Warnanya fuschia, warna lembut yang pas dengan warna kulitnya yang kuning langsat. Baju ini diberikan sama Erin, milik Erin dan baru dipakai sekali saat kondangan sebelum dia menikah, saat badan masih langsing singset. Pak Shaka yang membelikannya.
Kemarin Erin membongkar lemarinya untuk memisahkan baju yang sudah tidak muat dan yang masih muat. Cukup lumayan Qeena dapat bajunya Erin, sampai sepuluh setel. Sebelumnya Erin menanyakan dulu apa Qeena mau atau tidak. Kebetulan selera Erin dan Qeena hampir mirip, suka yang simple. Lagipula perawakannya mirip, hanya Qeena lebih kurus lagi dari Erin saat masih gadis.
"Cewe itu Mar yang Lo taksir? Gilaaa .. selera Lo tinggi banget" puji sepupunya Damar.
"Kenalin lah .. the real village flower..." sahut sepupu yang lain.
"Village flower?" tanya Damar bingung.
"Iya ... villlage flower ... kembang desa" canda sepupunya.
"Bisa ae Lo sok British..." sahut Damar.
"Tapi ini cewe cantiknya kelewatan, matanya pas .. ga gede dan ga kecil, kulitnya bersih, hidungnya mancung, bibirnya pecah delima walaupun kecil, dagunya terbelah ... ahhh ... gilaaakkk ... itu bidadari bukan sih" lanjut sepupunya yang satu lagi.
"Gw aja nih ya sesama cewe .. mengakui kok kalo tuh cewek cantik banget, wajah khas perempuan Indonesia. Cewe mana yang ga insekyur kalo disebelah dia" lanjut yang lainnya.
Pengajian sudah dimulai, Qeena menjadi pembawa acara dalam acara tersebut, Qeena memang menjelma menjadi seseorang yang sudah berani bicara dimuka umum. Saat pertama kali datang ke Ciloto, Qeena adalah gadis yang krisis pede, setelah dua tahun digembleng sama Aa' Zay dan Erin, sekarang sudah berubah dan mulai banyak bicara. Sudah beberapa panggilan menjadi pembawa acara pernikahan dia sudah terima, lumayan buat menambah koceknya.
Siapa yang ga akan fokus mengikuti acara kalo pembawa acaranya Qeena. Paket lengkap secara audio visual, suaranya yang ga cempreng, tata bahasanya bagus ditunjang pula tampilan visual yang tiada duanya di kampung ini.
Sudah banyak pria yang menyerah sebelum bertanding untuk mendapatkan Qeena, karena Damar memang makin intens mendekati dan orang-orang sekitar Damar juga sudah gembar-gembor kalo Qeena akan jadi pendampingnya Damar. Menjadi the next Erin .. wanita biasa yang menikah dengan sultan di kampung ini.
Aa' Zay pun memberikan dukungannya ke Damar, walaupun belum bicara secara langsung. Bagi Aa' Zay dan Erin, Qeena gadis yang baik dan ga neko-neko, jadi akan cocok sama Damar yang bukan tipe playboy. Visual keduanya pun pas tiada tara, bahkan kalo sampe berjodoh pasti anak keturunannya ganteng dan cantik seperti mereka berdua.
Pas acara ramah tamah, banyak yang membicarakan Qeena.
"Itu ya Pak calon mantunya?" tanya salah satu kolega Papanya Damar.
"Iya ... Damarnya suka banget sama dia, ya kita orang tua hanya ikuti aja" jawab Papanya Damar.
"Jangankan Damar .. kita-kita aja kalo masih seusia Damar pastinya juga mau kalo punya pasangan secantik itu" puji lainnya.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Sabtu pagi Dafi datang ke rumah Zahwa, atas undangan Ibunya Zahwa yang ingin menyuguhkan makanan buat Dafi.
Rupanya bukan hanya Zahwa yang tertarik sama Dafi, tapi seluruh keluarga sangat menerima Dafi. Apalagi Ibunya Zahwa, beliau bahkan menaruh harapan besar anaknya bisa bersanding sama Dafi. Memang beliau punya anak lelaki, tapi melihat sosok Dafi, berbeda dengan anak lelaki dan menantunya. Sangat dewasa walaupun diusia yang belum genap dua puluh empat tahun. Sangat sopan kepada orang tua dan bisa mengambil hati orang tua.
Dafi membawakan tanaman hias buat Ibunya Zahwa yang suka bercocok tanam. Untuk Bapaknya Zahwa dia membawakan buku tentang burung karena suka sama berbagai jenis burung.
Kali ini Ibunya Zahwa membuat nasi tutug oncom beserta ayam bakar plus lalapan dan sambal.
"Ibu masih ada turunan Sunda ya? masaknya kaya gini" tanya Dafi sambil menikmati makanannya.
"Bukan ... asli sini kok, tapi kan Bapak dari dulu selalu dapat penugasan ke beberapa wilayah, kebanyakan ya di Jawa Barat, mau ga mau jadi belajar juga deh kuliner daerahnya" jelas Ibunya Zahwa.
"Bisa-bisa saya gemuk nih Bu kalo disajikan makanan lezat terus" ujar Dafi.
"Nanti deh Zahwanya diajarin, biar bisa nanti masakin makanan enak buat kamu" janji Ibunya Zahwa.
"Ya semua kan proses ya Bu, kayanya semua perempuan pasti akan bisa masak dengan sendirinya" ucap Dafi.
"Iya ... dulu ya waktu awal-awal nikah, Papanya Zahwa dimasakin menu yang itu-itu lagi, ga jauh dari sayur asem, sop dan bening bayam. Kalo mau makanan lain ya terpaksa beli. Begitu punya anak kan jadi harus kreatif masak biar anak-anak mau makan, dari situlah lama kelamaan jadi bisa masak" cerita Ibunya Zahwa.
"Emang nih ya Mas Dafi, ga sekedar bisa menaklukkan hati wanita, tapi mampu menaklukkan hati kami para orang tua" puji Ibunya Zahwa.
"Saya hanya berusaha biar lebih blend aja sama keluarga. Kan kalo saya niat serius maka semua keluarganya juga harus kenal sama saya, biar bisa menilai bagaimana saya? bisa ga saya masuk ke keluarganya?" lanjut Dafi.
"Harus begitu ... jangan cuma sekedar mau sama anaknya terus sama orang tuanya ga peduli" kata Bapaknya Zahwa.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Aa' Zay lagi duduk sama Erin di ruang keluarga. Weekend begini, Zayda dan Zavier nginep di Villa sama Pak Shaka, katanya biar bisa berenang lama. Zafran pun udah tidur pulas karena tadi pagi habis terapi.
Quality time mereka ya kadang seperti ini, cukup nonton televisi channel berbayar hanya berdua, ditemani makanan ringan dan minuman segar.
Setelah memiliki anak, waktu seorang istri biasanya terkuras habis untuk mengurusi anak-anak. Kalaupun ada waktu luang sedikit, seringnya mereka bakal menggunakannya untuk istirahat. Aa' Zay dan Erin saling memahami kalo perlu suami istri menyempatkan quality time berdua. Demi lancarnya komunikasi dan terciptanya pernikahan harmonis, mereka berusaha meluangkan waktu berduaan saat anak sudah tidur.
"Edufarm ditangan Damar langsung rame, belum ada setahun ya direnovasi dan dibuka dengan konsep baru, eh malah lumayan hasilnya" ujar Aa' Zay.
"Nyesel udah jual Edufarm?" tanya Erin.
__ADS_1
"Ngga lah ... itulah kalo mau berusaha keras dan mengikuti perkembangan jaman ditambah karyawannya pun memiliki spirit maju bersama, maka usaha akan maju. Kalo dulu kan dibawah manajemen Aa' semua bergantung sama pemikiran Aa', ditambah pada susah diajak majunya. Alhamdulillah membuka lagi lapangan kerja disini, sempat ketemu Pak Lurah, katanya usaha yang Aa', Ayah Shaka dan sekarang keluarga Damar itu sudah menyerap enam puluh persen usia kerja setelah lulus SMA. Empat puluh persennya karena ingin kuliah dan penawaran yang lebih baik diluar kampung. Mimpi Aa' membuat anak-anak muda membangun daerahnya sendiri pelan-pelan terwujud" kata Aa' Zay.
"Emang nih Aa' selalu berhasil ngeracunin anak muda buat membangun daerah sini. Top deh, sekarang Damar ya yang menunjukkan hasil. Dulu kan udah Mas Agung yang sekarang punya usaha sendiri yaitu peternakan hewan qurban bareng Bang Saino. Walaupun sampe sekarang masih kerja sama Aa'. Next sepertinya Qeena nih" lanjut Erin.
"Kalo Qeena sih bisa ada prospeknya, asal dia tetap stay tinggal disini. Kalo dia keluar dari sini ya ga bisa" jawab Aa' Zay.
"Kan gosipnya lagi rame digadang-gadang sebagai calonnya Damar" ucap Erin.
"Ga jelas kayanya sikap Qeena. Kaya mau-mau nggak-nggak. Kalo dia ga mau kan harusnya bisa langsung aja cut Damar, sama kaya ke Fajar tuh, Kakak angkatnya, udah pada mabuk cinta tuh dua Arjuna, eh Qeenanya malah santai tanpa memberi kepastian. Sok cakep atau gimana sih Qeena? merasa cantik jadinya mudah mendapatkan lelaki? atau mau cari yang lebih kaya lagi dari Damar dan Fajar?" selidik Aa' Zay yang emang belum paham sama sikapnya Qeena.
"Aa' tau kan pandangan dia terhadap lelaki? Ya kayanya itulah yang buat dia kaya begini. Mungkin aja kan Qeena suka sama Damar atau Fajar, tapi terhalang sama kekhawatiran akan disakiti lelaki" bahas Erin.
"Apa dimasa lalu dia pernah disakiti laki-laki? eh tapi kan waktu kesini dia masih remaja ya ... " ucap Aa' Zay.
"Kehilangan role model seorang laki-laki, ya dia besar tanpa sosok Ayah disampingnya. Ditambah hal-hal yang menimpa Mak Nuha dan keluarga yang lain serta pengalaman sekitar, membuat rasa trauma dan penilaian terhadap lelaki itu jelek" ujar Erin.
"Waduh ... sampe begitu ya? jangan-jangan dia menilai Aa' jelek juga ya?" tanya Aa' Zay.
"Ya ... dia bilang Aa' termasuk suami yang membelenggu istrinya, ga ijinin Erin membangun dunia Erin sendiri dan dijebak dalam dunia pernikahan dengan cara punya anak terus" adu Erin.
"Ini curcol apa emang pemikiran Qeena?" ledek Aa' Zay.
"Beneran Qeena yang bilang" bela Erin.
"Sempit amat ya pemikirannya, perlu piknik tuh anak biar bisa lebih luas memandang dunia" ujar Aa' Zay.
"Makanya ... usia tujuh belas tahun tapi pemikirannya udah kaya anak dua puluh tahunan" ucap Erin.
"Coba bantu dia lebih mengenal lelaki yang baik bagaimana, Aa' malah khawatir dia salah langkah dan terjebak sama orang yang cuma bohongin dia dengan cinta" saran Aa' Zay.
"Iya ... Erin jadi kasian sama dia. Traumanya selalu menghantui sampe punya pikiran ga mau nikah karena ga mau berkomitmen dan disakiti" lanjut Erin.
"Padahal kan masih ada ya lelaki kaya Aa' nih contohnya, yang penuh kasih sayang" ucap Aa' Zay mulai tangannya bergerilya kesetiap lekuk tubuh istrinya.
"Ih... kepedean banget sih sampe memuji diri sendiri" kata Erin.
"Tapi kan kamu cinta ... kalo Aa' ga pede ya ga bakalan bisa nikah sama kamu" rayu Aa' Zay sambil mencium pipinya Erin berkali-kali.
__ADS_1