
"Masih jam sembilan nih Mas .. Mall belum buka kali, lagian Mas pagi banget berangkatnya" ujar Qeena.
"Ya udah kita nongkrong dulu di coffe shop deket Mall ... tuh ada Ngopi Coffe Shop. Kayanya tempatnya cozy buat habisin waktu. Ya boleh dong Mas pengen weekend ini abisin waktu sama kamu, udah pusing semingguan ini otak dipake buat menganalisa" usul Dafi.
"Oke deh kita masuk, daripada nunggu di parkiran mall" jawab Qeena.
Dafi mengarahkan mobil ke parkiran Ngopi Coffe Shop.
"Uangnya mau Mas transfer ke rekening kamu atau di rekening Mas aja?" tanya Dafi.
"Takut ya kena KPK karena rekeningnya gendut?" ledek Qeena.
"Mas tuh laporan pajak tiap tahun tertib, tiap ada transaksi juga jelas peruntukannya, ada kok surat jual beli tanah, kalo Mas ada kerjaan diluar gaji juga ada semua bukti pembayaran. Lagian Mas mau korupsi apa? semua ada bukti transfernya. Dari kantor kalo survey dan lainnya juga ada bukti transfer dan peruntukkannya kok. Insyaa Allah halal Neng duit yang Mas dapet" jelas Dafi.
"Iya percaya .. " ujar Qeena.
"Jadi mau gimana? dana buat isi rumah masukin ke rekening kamu atau di Mas aja?" tanya Dafi ulang.
"Mas ajalah, Qeena mah belum pernah ngelola uang sebanyak itu, nanti malah kepake buat yang aneh-aneh" jawab Qeena.
"Eh tunggu dulu deh... Mas baru ingat kalo pas malam itu kamu sempet kena beling kakinya, mungkin ga sih Pak Iyus juga yang menghilangkan barang bukti? tapi karena buru-buru jadi ga bersih seratus persen?" kata Dafi tiba-tiba.
"Bisa jadi, toh emang dia pelakunya kan, pasti dia juga yang buang pecahan gelas itu, ya gelas itu pasti isinya obat tidur. Cuma sekarang yang jadi misteri kenapa minuman itu dicampur obat tidur dan diletakkan di meja dekat Mas Rian. Apa sasarannya Mas Rian?" tanya Qeena.
"Bisa jadi, sekarang kuncinya harus ketemu sama Pak Iyus biar jelas .. kita masuk aja dulu yuk, nanti kebanyakan ngobrol di mobil malah ga jadi nongkrong kita" ajak Dafi.
Didalam Coffe Shop tampak suasana yang berbeda dibandingkan Coffe Shop lainnya, benar kalo didepan ada tulisan kalo Coffe Shop ini adalah warkop naik kelas. Bagian kasir dan pemesanan bagi yang akan take away didesain seperti warkop tapi dibuat tampilan kekinian. Dibagian dalam juga ada meja kayu dan kursi kayu panjang seperti di warkop. Bagian luar Coffe Shop ada yang berupa saung dan ada yang berupa payung kecil bagi yang hanya datang berdua.
Dafi dan Qeena memilih duduk diluar. Orderan via layar sentuh yang ada disamping meja. Pembayaran pun langsung dilakukan langsung di mesin EDC yang terletak berdampingan sama layar menu.
"Mau makan atau minum apa?" tawar Dafi.
"Qeena ga terlalu suka kopi, jadi milkshake strawberry aja deh" jawab Qeena.
"Mau makan ga?" tanya Dafi.
"Ga" jawab Qeena.
"Mas mau yang ringan, cappucino sama french toast aja deh" ujar Dafi.
Sepuluh menit kemudian, semua orderan sudah diantar sama pelayan ke meja mereka.
"Hehehe .. resiko ya Mas kalo tempat kaya gini. Tuh Mas order kopi susu persis kaya warkop sampe gelasnya aja modelnya sama, harga lima puluh ribu. Terus ini yang katanya french toast kok mirip sama roti bakarnya Mak Leha .. hehehe" ujar Qeena
"Wajarlah harga segini ditempat kaya gini, namanya warkop naik kelas, ya pasti harganya pun naik kelas" jawab Dafi santai.
"Ini juga milkshakenya rasa perisa aja bukannya real buah .. rasa mirip kaya yang di tukang dagang es kekinian itu, tapi harganya jadi naik berkali lipat" nyinyir Qeena.
"Lucu banget deh Neng yang satu ini... please ya, jangan samain lah tukang es sachet sama ini. Kelasnya beda, kayanya fix emang kamu harus banyak main, jadi bisa punya wawasan yang luas. Beda loh yang namanya boros sama biar ga kudet. Terkadang kita perlu juga nongki-nongki ditempat kaya gini buat meet up, biar kekinian dan membuka wawasan dalam pergaulan. Daerah sini tuh adanya Mall mewah, harga sewa pasti tinggi dan mereka juga banyak karyawannya, jadi harga itu sudah dihitung berapa cost yang dikeluarkan. Untung kali ini datangnya sama Mas, coba kalo kamu datang sama orang lain, adanya kamu dikatain norak kalo bahas kaya tadi" jawab Dafi panjang lebar.
"Iya deh .. Mas kan ga kuper kaya Qeena ... ya kan kalo Qeena ga mampu nongkrong ke tempat yang kaya gini. Lah buat bayar menu yang kita pesan sekarang aja bisa buat makan dua minggu" kata Qeena rada tersinggung.
"Manyun kalo dibilangin, Mas kan cuma kasih tau. Mas ga ada niat buat menghina masa lalu kamu dan pamer sama apa yang Mas bisa. Tapi kadang tempat kaya gini kan bisa jadi tempat cari relasi atau peluang baru. Maaf ya kalo menyinggung perasaan kamu, udah nikmatin ajalah apa yang ada, ga usah dibahas panjang lebar. Jangan sampe niat kita buat quality time malah jadinya ribut. Atau kamu mau foto disini? nanti Mas fotoin" bujuk Dafi.
"Ga ..." jawab Qeena hilang moodnya.
Dafi merasa bersalah juga udah ngomong yang terkesan meremehkan Qeena.
"Mas ke toilet dulu ya" pamit Dafi.
"Ya ..." jawab Qeena sambil menikmati milkshakenya.
__ADS_1
Begitu keluar dari toilet, Dafi akan mencuci tangannya, dia ditabrak seorang anak kecil berusia sekitar lima tahunan.
Dafi membantu bangunin anak tersebut.
"Amora ... kan udah Mama bilang jangan lari, Mama ga bisa ngejarnya" kata seorang Ibu hamil dari arah belakang Dafi.
"Makasih ya Mas .. maaf kalo anak saya nabrak Mas tadi" pinta Ulay.
"Gapapa kok Bu .. saya malah khawatir kalo adik ini luka gara-gara tabrakan sama saya" ujar Dafi.
"Ga kok ... Maaf ya Mas sekali lagi, anak saya kangen sama Papanya. Soalnya Papanya baru pulang dari luar kota langsung kesini bukannya pulang ke rumah, jadinya ga sabar" jelas Ulay.
"Gapapa Bu .. santai aja, Ibu kayanya juga udah susah jalan ya .. bisa saya bantu?" tawar Dafi.
"Ga usah Mas .. saya bisa kok jalan pelan-pelan" jawab Ulay.
"Kembar ya Bu?" tanya Dafi sambil berjalan disampingnya Ulay karena khawatir sama jalannya Ulay yang seperti kurang seimbang.
"Ga kembar Mas, tapi baby nya besar, saya kan pendek ya, jadi keliatan tambah bantet dan jadi susah jalan. Ditambah kaki saya bengkak" jelas Ulay.
"Atau gini aja Bu, Ibu duduk disini dulu, terus telpon suaminya buat menemui Ibu disini" saran Dafi sambil menarik sebuah kursi buat Ulay.
"Makasih ya Mas" jawab Ulay sambil duduk.
Amora kembali berlari keluar dari arah Dapur.
"Amora ... jangan lari sayang" ujar Chef Ale.
Chef Ale melihat istrinya tengah berbincang sama lelaki lain, dia menghampiri.
"Ini siapa sayang?" tanya Chef Ale sambil mendekati istrinya.
Ulay mencium tangan Ale dan dibalas dengan ciuman Ale di pipi Ulay.
"Makasih ya" jawab Chef Ale.
"Baik Pak ... Bu... saya permisi dulu" ucap Dafi.
Dafi kembali menghampiri Qeena.
"Lama banget Mas ke toiletnya?" tanya Qeena.
"Kangen ya" goda Dafi.
"Ge er" jawab Qeena.
"Om ... ini Tantenya cantik" tiba-tiba Amora menghampiri Dafi dan Qeena.
"Siapa Mas?" tanya Qeena bingung.
"Anak ini tadi ga sengaja tabrakan sama Mas pas keluar toilet" jawab Dafi.
"Siapa namanya gadis cilik yang satu ini?" tanya Dafi.
"Amora ... tadi Mama sama Papaku loh" ujar Amora.
"Oh ya ..." kata Dafi antusias.
"Amora sayang.. ayo makan dulu" ajak Chef Ale.
"Papa ... Tante ini cantik ya" puji Amora lagi.
__ADS_1
Ale terpana melihat kecantikan Qeena dalam balutan jilbab pinknya.
"Bener kan Pa .. Amora mau kaya Tante itu, cantik.." lanjut Amora dengan polosnya.
"Katanya Mama yang paling cantik" ujar Ale sambil menggendong sang putri.
"Mama cantik .. tapi Tante ini lebih cantik" jawab Amora.
"Wah .. pandai liat wanita cantik ya ... nanti Mama marah loh" canda Chef Ale.
"Kata Mama ... Papa itu suka sama wanita cantik, kaya Mama .. Amora ... ya kan Pah?" celoteh Amora.
"Maaf ya .. anak saya agak ceriwis" ucap Chef Ale ga enak hati.
Chef Ale menggendong Amora ke meja tempat Ulay lagi makan, dia pamit sebentar dulu buat ngobrol sama customer.
Rupanya Chef Ale kembali ke meja Dafi dan Qeena.
"Mah .. Tante itu cantik ya .. Papa balik lagi kesana" tunjuk Amora.
Ulay yang melihat Ale duduk sama mereka langsung timbul cemburu.
"Papa kenal sama Tante itu?" tanya Ulay.
"Ga tau Mah" jawab Amora dengan polosnya.
"Papa bilang cantik ga?" tanya Ulay lagi.
"Ga" jawab Amora sambil menikmati susu coklatnya.
Ulay dan Amora menikmati semua yang terhidang di meja.
"Maaf ya mengganggu, saya Ale, bagaimana minuman dan makanan yang diorder?" tanya Chef Ale.
"Bapak kerja disini ya? Store Manager?" Dafi balik bertanya.
"Saya bagian research and development" jawab Chef Ale merendah.
"So far so good, dari beberapa cappucino di Coffe Shop yang pernah saya coba, ini agak berbeda, saya bukan penggemar kopi banget, jadi ga paham jenisnya, tapi emang ini beda ya .. entah kopinya atau susunya" ujar Dafi.
"Lidahnya bagus juga ya walaupun bukan penggemar kopi. Kalo kopi sama aja, hampir semua pakai jenis yang sama. Yang membedakan adalah susunya. Kami ambil dari peternak susu jenis sapi grassfeed" jelas Chef Ale.
"Tapi idenya bagus ini, warkop naik kelas. Benar-benar naik kelas" puji Dafi.
"Makasih .. kalo Mba nya gimana?" tanya Ale sambil tersenyum.
"Ya kalo saya merasa ini sama aja kaya minuman jenis bubble yang sachet itu Pak. Kalo mau konsep next level, ini jangan pake perisa Pak. Mungkin bisa strawberry segar yang dibikin selai, pasti rasanya akan beda. Banyak kok strawberry lokal yang ga kalah kualitas sama buah impor dan pastinya harga miring sedikit" papar Qeena.
"Baik .. terimakasih masukannya. Kalo french toast nya gimana?" tanya Chef Ale.
"Kalo saya bilang rotinya belum next level, masih sama kaya roti bakar yang dijual digerobakan, maaf ya Pak .. ini kan demi kemajuan Coffe Shop juga saya bicara seperti ini" ucap Qeena to the point.
"Gapapa Mba .. saya malah senang dapat input seperti ini, jadinya bisa kami benahi yang kurang" jawab Chef Ale.
"Maaf sebelumnya Pak .. sepertinya wajahnya familier, tadi kalo ga salah dengar namanya Pak Ale ya?" ujar Qeena sambil coba memperhatikan wajah Chef Ale.
Dafi memandang kearah Qeena kemudian minum cappuccino nya, ada rasa cemburu melihat Qeena bisa nyaman ngobrol sama orang baru.
"Ini Chef Ale yang waktu itu di acara Chef Academy bukan ya?" tanya Qeena meyakinkan.
"Alhamdulillah masih ada yang kenal ya, padahal udah empat tahun saya vakum dari dunia pertelevisian" jawab Chef Ale.
__ADS_1
"Ya Allah.. ga nyangka bisa ketemu sama Chef yang fenomenal itu. Sekarang kerja disini Chef?" tanya Qeena antusias.
"Alhamdulillah ini bisnis baru saya, baru sekitar tiga bulan ini berjalan" jawab Chef Ale ramah.