
"Neng... Mas mau ada perlu keluar rumah dulu ya, kalo orderan udah selesai, istirahat aja. Mas masih di Jakarta sampe hari Rabu" pamit Dafi.
Qeena mencium tangan Dafi, tapi menolak dicium pipinya. Mba Mini dan Mba Tinah cuma mesam mesem aja pas liat pasangan ini ribut, malah keliatan lucu.
Jam satu siang semua orderan udah selesai. Setelah itu Qeena makan dan lanjut bobo siang. Baru aja mau merebahkan tubuhnya di sofa bed, sebuah chat dari Dafi masuk.
# Mas pulang agak malam ya. Mau dibawain sesuatu ga? #
Qeena hanya membaca tanpa membalasnya. Matanya sudah ingin terpejam aja karena cape menangis kemarin malam.
"Qeena .. Ayah bahagia liat semua keluarga bisa kompak penuh cinta karena kamu. Bunda yang keras kepala kini udah jauh berubah dan menjalankan agama dengan lebih baik lagi. Rian juga ada peningkatan kestabilan emosi, Izma ga semanja dulu, Fajar udah bisa move on dan lebih dewasa. Semua ini karena kamu. Mas Dafi yang jadi harapan Ayah buat menggantikan peran Ayah pun sudah jauh berubah. Dia menjadi family man, jika dia tersilap perkataan dan perbuatan, mohon kamu bisa lebih bersabar. Banyak beban dipundaknya kini. Percayalah dia bukan tipe lelaki yang bercabang cintanya. Jangan kalah dengan masa lalunya, bukannya sekarang kamu udah mendapatkan hatinya? Mas Dafi ada dalam genggaman kamu, percayalah sama Ayah" Qeena terbangun karena bermimpi bertemu sama Pak Dzul.
Keringatnya mengalir walaupun tubuhnya dekat sama kipas angin model standing AC. Dia segera minum kemudian mengelap keringatnya. Dalam mimpinya ia melihat Pak Dzul memakai koko putih yang biasa dipakainya dan sarung pemberian Qeena. Wajahnya tampak bercahaya dan terlihat bahagia. Semenjak kematian Pak Dzul, inilah kali pertama dia bermimpi tentang Pak Dzul. Kaget juga karena terasa sangat nyata mimpinya.
Qeena kembali duduk di ranjang, ga lama adzan Ashar memanggil. Buru-buru dia berwudhu, setelah sholat Ashar, dia langsung membuka Al Qur'an membacakan surah At-taubah yang setiap hari ga pernah lewat dibaca sama Pak Dzul.
Qeena membaca terjemahan Q.S. At-Taubah (9):24, dibacanya berulang-ulang. Hingga dia dapat meresapi maknanya. Ayat ini merupakan peringatan Allah tentang kemungkinan sikap negatif yang akan terjadi pada orang-orang yang lebih mencintai hal-hal yang bersifat duniawi daripada mencintai Allah, Rasul dan Jihad di jalan-Nya. Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang yang tidak mau hijrah karena mereka lebih mencintai sanak saudara, keluarga dan harta. Mencintai bersifat duniawi adalah sifat manusia dan hal ini tidak dilarang oleh syari’ah selama tidak melebihi kecintaan kepada Allah, Rasul dan Jihad di jalan-Nya.
Qeena menangis, menyadari bahwa Dafi pun salah satu yang dicintainya, buat apa dia harus menggenggam erat hatinya kalo hati itu pun kepunyaan Allah. Banyak hal yang masih perlu ia benahi, sejak menikah sama Dafi, paling ga sholatnya lebih tepat waktu karena begitu adzan diupayakan langsung sholat. Sholat malam pun sudah lebih rutin karena Dafi rajin membangunkannya, kalo dulu masih bolong-bolong sholat malamnya. Dafi pun selalu mengabsennya dengan tilawah bersama selepas Maghrib via sambungan video call. Sesuatu yang ga secara kuat Mak Nuha ajarkan. Mak Nuha memang mengajarkan agama sama dia, tapi pengetahuan Mak Nuha tentang agama ga lah sebanyak pengetahuan Dafi.
Qeena pula yang ga mau ikut Dafi dengan alasan ingin menjaga keluarga, padahal dia punya obsesi punya bisnis sendiri dan menjadi orang sukses agar dunia ga memandang remeh padanya. Akumulasi kesulitan diwaktu kecil dan hanya dapat kasih sayang dari pihak keluarga Nuha membuat dia ingin membantu keluarga besar Mak Nuha secara ekonomi. Obsesi ini ga mau dia dapatkan dengan berpangku tangan aja sama Dafi, walau ujung-ujungnya Dafi juga yang banyak membantunya dalam berbagai hal.
🍒
Jam sebelas malam, barulah Dafi pulang. Dia langsung mandi dulu. Qeena udah ketiduran pas Dafi pulang. Karena Dafi ingin minum air es, dia turun lagi menuju dapur.
Mak Nuha, Mak Imah dan Bu Fia masih ada nonton TV bersama.
"Ini kenapa belum tidur? udah hampir jam dua belas malam loh. Lagian dari Mas pulang kok keliatannya pada manyun semua? Ketularan Qeena ya?" canda Dafi heran.
"Kamu ya Mas emang keterlaluan jadi orang. Bikin Bunda malu aja, kalo ga di adem-ademin sama Nuha dan Imah, udah Bunda jewer deh kuping kamu" semprot Bu Fia emosi.
"Kenapa ya Bun?" Dafi masih bingung.
Bu Fia membuka HP nya dan membuka rekaman suara, ada suara keributan Dafi dan Qeena didalam mobil. Ternyata Rian ga sengaja meninggalkan alat rekam saat main di mobil. Jadi tadi pagi Mas Anto membersihkan mobil dan Rian main didalamnya, ga sengaja jatuh dikarpet belakang tempat duduk supir. Terus mobilnya dibawa sama Dafi dan Qeena pergi. Jadi alat itu dalam posisi menyala.
Pas Dafi pulang, Rian teringat alat tersebut ketinggalan di mobil. Terus meminta Mas Anto ikut mencari alat tersebut. Begitu ketemu, posisinya udah lobet, jadi dicharge sama Rian. Dicharge disebelah TV, pas banget Bu Fia lewat dan iseng mengecek apa aja rekaman yang ada didalamnya. Ga ada rekaman lain selain pembicaraan Qeena dan Dafi. Bu Fia minta Izma memindahkan rekaman tersebut ke laptop dan datanya dikirim ke HP Bu Fia.
"Kenapa sih kok pake ungkit-ungkit kejadian malam itu yang bikin kalian jadi menikah? Mas kan tau kalo itu bukan murni ulah Iyus semata tapi ..." ucap Bu Fia ga bisa melanjutkan karena Dafi memberikan isyarat buat menghentikan pembicaraan.
Rekaman hanya diperdengarkan bagian depannya aja, pas penyebutan nama Bu Fia sengaja dimatikan. Jadi Mak Nuha dan Mak Imah ga tau pembicaraan selengkapnya.
"Bunda.. Mak Nuha... Mak Imah.. Mas kelepasan ngomong, semua diluar kendali, Mas kebawa emosi. Jadi murni ini salah Mas. Semua boleh marah sama Mas, tapi Mas janji ga akan mengulangi perkataan ini lagi. Mas nyesel" ucap Dafi.
"Mas... Mak percaya Mas itu bijaksana, bisa Mak andelin buat jagain Qeena. Mak sempat kecewa tadi pas denger, jangankan Qeena, Mak juga tersinggung. Tapi Mak pikir ini kan rumah tangga kalian. Kalian yang berhak menentukan arahnya kemana tanpa ada campur tangan siapapun. Mak cuma minta jangan pernah sakitin Qeena, hidupnya udah terlalu pahit. Mak juga minta maaf kalo Qeena ga mau ikut Mas ke Semarang, Mak udah nasehatin, tapi kan Mas tau apa obsesinya. Dia tetap pada pendiriannya buat mewujudkan mimpi itu. Mak minta maaf dan minta keikhlasan Mas ya, biar Qeena ga dianggap istri durhaka" ucap Mak Nuha. Dafi memeluk Mak Nuha.
"Mas minta maaf ya Mak, Mas khilaf, teruslah nasehatin Mas ya Mak" pinta Dafi.
__ADS_1
Memang Dafi sangat dekat ke Nuha sejak dulu. Dafi juga memeluk Mak Imah dan Bundanya bergantian dan meminta maaf.
"Minta maaf sama Qeena sana .. jangan ulangin Mas, wanita itu gampang terluka kalo ada kalimat yang sensitif. Jangan mengulangi kesalahan Bunda dengan melukai hatinya. Makanya Bunda legowo kalo dia masih jaga jarak sama Bunda. Kan dulu Bunda selalu menghina dia" kata Bu Fia.
"Iya Bun .. " jawab Dafi.
Mak Nuha dan Mak Imah akan tidur di kamar tamu rumah Bu Fia, mereka ingin Dafi bisa menyelesaikan perselisihan dengan Qeena secara pribadi.
🌺
Dafi menyelimuti tubuh Qeena dengan selimut, tiba-tiba malam ini hujan. Dafi duduk ditepi sofa bed, dia mengeluarkan laptopnya dan mengerjakan sesuatu.
Qeena terbangun.
"Mas ... udah jam berapa?" tanya Qeena.
"Jam dua belas" jawab Dafi sambil serius mandangin layar laptopnya.
Qeena menyenderkan kepalanya ke bahu Dafi dan memeluk tangan kirinya Dafi.
"Mas... kenapa sih masih ga suka sama Bapak?" tanya Qeena.
Dafi menghentikan mengetiknya dan mematikan laptopnya. Laptop diletakkan di meja.
"Banyak hal yang belum bisa berdamai seutuhnya sama Pak Iyus. Neng kan tau dulu Rian dicekoki video porno sampe Mas harus bawa ke psikiater buat sembuhin kecanduannya itu. Bunda juga dicuci otaknya jadi sejahat itu. Setelah kita nikah, kan tau sendiri kalo Bapak selalu minta uang, hampir setiap hari minta uang. Yang bikin makin kesel tuh mengancam akan membuat kamu sama Mak susah" jawab Dafi.
"Maafin Mas juga ya Neng .. Mas ga bisa nahan emosi, Mas nyesel banget Neng" pinta Dafi sambil memeluk Qeena.
"Harusnya Qeena nurut ya sama Mas. Sampe melibatkan Chef Ale dalam persoalan ini" ucap Qeena.
"Udah... ga usah diperpanjang lagi ya Neng. Semua udah clear" jawab Dafi sambil mencium kepalanya Qeena.
"Semua ini karena kasian sama Mba Rida Mas .. kalo keluarganya keras buat nerusin ke jalur hukum, gimana sama nasib anak itu. Qeena ga mau ada Qeena baru yang punya nasib mirip, cukup Mas semua berhenti di Qeena. Mba Rida sama Bapak emang salah, tapi jangan karena kesalahan itu, malah mereka tambah berbuat salah lagi. Qeena ga mau sampe anak itu digugurkan atau paling buruknya Mba Rida ambil jalan pintas buat bunuh diri misalnya" jelas Qeena.
"I know ... kadang heran sama kamu Neng .. tuh hati dibuat dari apa sih? disakiti tapi mampu memaafkan. Mas aja yang banyak dicekoki dalil-dalil di Pesantren, ga bisa sesabar dan sehebat kamu Neng.." puji Dafi.
"Qeena cuma mau hidup damai Mas .. Ga mau ada lagi dendam. Jujur Mas .. itu ngaruh banget buat kestabilan emosi. Qeena mau benar-benar hijrah hati Mas. Kan Mas pernah bilang kita ga bisa ngubah masa lalu tapi bisa ngubah masa depan kan? siapa tau Mas, Allah mempermudah jalan Qeena buat mewujudkan mimpi punya usaha toko kue ketika hati ini udah bisa ikhlas akan masa lalu. Seburuk apapun Bapak .. beliau kan orang tua kandung. Allah menitipkan Qeena melalui Bapak dan Emak" kata Qeena dengan mata berkaca-kaca.
"Masyaa Allah ... makasih Neng atas pelajaran ilmu ikhlasnya. Allah menciptakan hambanya dengan segala kelebihan dan kekurangan, tapi dimata Mas, kamu luar biasa. Sosok wanita tangguh tiada tara. Dari semua manusia yang pernah mengenal kamu, Mas lah justru paling beruntung yang akhirnya memilikimu. Setelah melepaskan beberapa orang yang membuatmu sakit, akan ada seseorang yang selalu menghargai dan merasa beruntung memilikimu, orang itu Mas. Biarkan do'a-do'a kita bertarung dulu, sambil kita sama-sama memperbaiki diri agar selalu bisa bilang kalo Mas beruntung memilikimu dan Neng pun bersyukur memiliki Mas" ucap Dafi sambil menatap wajah cantik Qeena.
"Kalo kata pujangga cinta, carilah dia yang bukan hanya nyaman bersamamu, melainkan beruntung memilikimu. Kini Qeena harus berhenti mencari seseorang yang sempurna buat Qeena cintai karena yang Qeena butuh hanya Mas, orang yang tau betapa beruntungnya Mas memiliki Qeena" kata Qeena sambil mengelus pipinya Dafi yang membuat Dafi jadi "memanas".
"Neng .. ga tahan nih Mas jadinya" rayu Dafi memanja.
"Pelukan Mas akan selalu menghangatkan di segala medan dan kondisi kehidupan yang Qeena akan lalui" bisik Qeena.
"Neng ... udah lah ga usah kebanyakan ngobrol.. mumpung kita cuma berdua nih di rumah .. hajar teruslah sampe pagi" jawab Dafi nakal.
__ADS_1
"Emak kemana?" tanya Qeena bingung.
"Para Emak tau kalo anak dan mantunya mau bermesraan, kan jadi kita lebih bebas Neng. Kalo orang ya mau mesra-mesraan cukup kunci pintu kamar, kalo kita harus kunci pintu rumah. Abisnya kamar kita masih blong gini" kata Dafi.
"Selasa deh Qeena ke langganannya Pak Shaka buat rancang ruangan" jawab Qeena.
"Pokoknya terserah Neng mau kaya gimana kamar kita. Yang penting ada privasi buat kita berduaan. Kasian kan para jomblo senior kalo ngeliat kita bermesraan, bisa panas dingin karena ga ada yang bisa diajak goyang .. hehehe" ledek Dafi.
"Massss.... becandanya udah mulai nakal ya" ucap Qeena.
Terkadang dalam hubungan suami istri, menyelesaikan masalah di ranjang bisa membuat kualitas hubungan jadi lebih baik. Rangkaian pun diakhiri dengan mandi bersama. Dafi memang sudah merancang kamar mandi dengan bathtub serta pengatur air panas dengan cara memasang sunroof diatapnya sebagai penyimpan tenaga surya yang mengubah energi cahaya matahari menjadi tenaga listrik untuk memanaskan air.
Saat sedang berendam di bathtub berdua dengan saling memeluk mereka kembali berbincang.
"Oh ya.. tadi Fajar bilang mau nikah loh" ujar Dafi santai.
"Sama yang kemarin dikenalin kesini?" tanya Qeena.
"Bukan... ada anaknya dokter seniornya, dia ditantang ga boleh pake lama. Kalo mau ya nikah secepatnya, kalo ga mau ya ga usah cari perhatian ke cewe itu" jelas Dafi.
"Terus si dokter bucin gimana ditantang begitu?" tanya Qeena makin penasaran.
"Makanya dia lagi ambil shift jaga mulu, buat kumpulin uang. Kayanya dari pembicaraan sama Mas, Fajar tuh lebih sreg sama anaknya dokter. Nah yang dokter kemarin kita dikenalin rupanya udah tau kalo Fajar lagi ada hati sama yang lain, jadinya mereka putus deh" cerita Dafi.
"Playboy juga ternyata ya... Tapi emang ganteng sih Mas Fajar itu, dari dulu juga banyak yang naksir, tapi dianya aja yang ga mau" kata Qeena.
"Wah memuji lelaki lain dihadapan suami ya... tapi emang bener sih, level kegantengan Mas sama Fajar mah jauh. Sama Rian aja Mas masih kalah ganteng" ucap Dafi sadar diri.
"Biar Mas ga ganteng banget, tapi ga malu-maluin lah kalo dibawa kondangan" ledek Qeena menghibur.
"Bisa aja ngerayunya, makanya Mas tuh khawatir kalo Neng dapat kiriman bunga dan coklat. Istri Mas ini kan cantikkk ...banyak penggemarnyaaaa .. apa deh nama fanbasenya .. My Qeena.. ya My Qeena. Kalo buka pendaftaran, Mas jadi pertama yang mau daftar" kata Dafi.
"Ga usah lah daftar.. kan Mas udah ada dihati, ga perlu di medsos" ucap Qeena.
Tumben malam ini Qeena berkali-kali menggoda Dafi, tentu aja Dafi kegoda. Setiap wanita emang punya sisi ingin dimanja dan bermanja, Qeena pun ingin seperti itu, dan Dafilah orang yang sangat bisa memenuhi keinginan Qeena tersebut.
"Mas juga jangan tebar pesona mulu ya sama wanita lain, terutama sama mantan" ujar Qeena.
Dafi langsung mengambil HP nya dan memblokir nomer HP nya Zahwa.
"Kalo Raisha ga bisa diblokir ya, kami rekan sejawat, jadinya pasti akan berhubungan. Jangan takut Neng, sebentar lagi dia juga mau nikah kok. Pokoknya Mas janji, ga ada hubungan sodara ketemu gede lagi sama Zahwa. Mas juga harus menghormati istri Mas kan?" ucap Dafi.
"Tapi jangan memutus tali silaturahim sama keluarganya Mas. Kan kata Mas mereka orang baik" kata Qeena.
"Iya .. eh udah mau subuh, mandi deh yang bener. Jadi begadang nih Mas, padahal jam delapan ada rapat. Minta antar Mas Anto aja ah, biar bisa tidur di mobil, lumayan kan sejam juga. Makasih ya Neng atas transferan energinya, Mas jadi tambah semangat nih nyari uang buat nambahin pundi-pundi tabungan kita" kata Dafi.
"Mas sisa transferan, buat beli perhiasan ya, kan buat investasi juga" pinta Qeena.
__ADS_1
"Iya .. atur aja yang penting semua anggaran yang udah direncanakan harus dilaksanakan dengan baik" kata Dafi.