
Sebulan setelah pernikahan Fajar, Alifa dinyatakan hamil, rupanya setelah haid dimalam pertama itu, Alifa langsung ga haid lagi.
Pasangan Dafi dan Qeena yang sudah menikah lebih dulu malah belum juga diberikan kepercayaan untuk memiliki anak.
Sekarang usaha Qeena jauh melesat, setiap hari sudah selalu produksi. Bahkan Rida pun ikut membuat kue di rumahnya Qeena. Pagi hari diantar sama Iyus, sorenya diambil sama Iyus. Dafi udah membelikan Iyus motor second tapi kali ini Dafi minta setiap bulan Iyus menyicilnya sebesar dua ratus ribu selama dua tahun. Dafi udah ga mau memberikan secara percuma bantuan ke Iyus. Kadang orderan yang masih bisa terjangkau, diantar sama Iyus dengan ongkos yang sudah disepakati bersama oleh pemesan.
Hampir setiap hari juga produksi selai. Masih jagoannya selai srikaya, kemudian menyusul produk baru dari Qeena berupa strawberry preserved, seperti selai tapi buah masih terlihat sedikit utuh atau potongannya masih besar. Preserved biasanya digunakan pada campuran es krim vanilla, wafel.
Qeena mendapatkan pasokan strawberry segar dari Aa' Zay, jadi setiap dua hari sekali, pihak Bakulan Bunda mengantar ke rumah Qeena atau diambil sama Iyus.
Dafi sedang membuatkan dapur khusus produksi di tanah kosong sebelah kolam renang, selama ini hanya berupa rumput aja. Lumayan ukurannya sepuluh kali lima meter persegi. Dapur yang dibuat sesuai dengan kebutuhan produksi dan hasil konsultasi sama Chef Ale. Malah interiornya dikerjakan oleh rekanan yang biasa Chef Ale pakai saat membuat cafe atau restoran miliknya.
Hampir sebulan pengerjaannya, lumayan menguras kocek, tapi menurut Chef Ale ini adalah investasi jangka panjang. Kalau suatu saat Qeena punya toko kue, maka dapur ini bisa digunakan buat tempat produksi dan toko kue sebagai tempat displaynya aja.
Hubungan Qeena dan Iyus membaik, tapi Mak Nuha dan Mak Imah selalu mencoba menghindar kalo Iyus lagi di rumahnya Qeena.
๐ต๏ธ
Qeena duduk dipangkuannya Dafi yang lagi duduk dimeja kerjanya sambil membuka jendela.
"Makasih ya sayang ... akhirnya dapur impian udah rampung" kata Qeena dari jendela kamarnya yang menghadap kearah dapur.
"Happy?" tanya Dafi.
"Banget" jawab Qeena.
"So .. ga ada makan siang gratis Neng .. Mas bikinin itu ga sekedar bangunan, tau kan habisnya sampe bisa bikin rumah satu petakan. Jadi ga ada deh yang namanya main-main. Ga semua pengusaha kue online punya fasilitas kaya kamu, berarti kamu satu langkah didepan mereka, jadi hasilnya pun harus satu langkah didepan mereka. Mulai rapih bikin pembukuannya. Semua investasi ini harus dicatat. Bikin dua rekening yang berbeda buat para buyer transfer. Bikin lagi satu rekening khusus buat rumah tangga kita yang terpisa dari bisnis kamu. Jadi buat dievaluasi nantinya. Jangan biaya rumah tangga kita pakai uang dari hasil jualan, begitu pula sebaliknya. Udah punya pasukan produksi, jadi hitung juga gaji mereka semua. Harus profesional ya gajinya. Kaya Emak .. ya harus dikasih gaji sesuai kerjanya. Kalo kamu mau kasih lagi itu ambil dari uang yang Mas kasih" nasehat Dafi.
"Pusing Mas ngurusin gitu, percuma dong Qeena punya suami yang lebih paham hal itu. Pokoknya Qeena bikin report manualnya, Mas yang itungin .. hehehe" jawab Qeena yang makin manja memeluk Dafi.
"Bayarannya profesional juga ya" canda Dafi.
"Mau seprofesional apa?" tantang Qeena yang menggoda Dafi.
Jelas aja Dafi sangat tergoda. Mungkin karena perkembangan jaman, Qeena bisa mencari informasi di internet tentang bagaimana melayani kebutuhan batin suami, ditambah sudah dua kali mereka konsultasi buat program hamil. Membuat Qeena lebih punya inisiatif buat memulai. Pekerjaan dan beban kuliah membuat Dafi sudah capek saat pulang ke rumah, jadi kurang berinisiatif buat memulai duluan.
"Woy ... dia manja-manjaan didepan jendela, ga liat-liat tuh banyak para jomblo dibawah" teriak Fajar dari jendela kamarnya yang berhadapan sama kamarnya Dafi.
"Ya udah... tutup dulu ya, nanti bisa panas dingin yang ngeliat" kata Dafi sambil menutup jendela dan tirainya.
"Dasar errorrr ... ada-ada aja tuh pasangan" ujar Fajar sambil geleng-geleng kepala.
"Kenapa sih Mas? biarin aja mereka mau ngapain juga, udah sah mah bebas" kata Alifa.
"Bebas sih bebas, tapi jangan dengan jendela kebuka lebar gitu mereka bermesraan. Ya saling menjaga aja rahasia ranjang" lanjut Fajar.
"Iya sih, tapi ngapain coba Mas perhatiin sampe segitunya" ujar Alifa.
"Kamu dong yang kaya gitu .. masih malu-malu aja kalo bermesraan" pinta Fajar.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Karena sekarang Qeena udah rutin ikut bazaar, akhirnya Dafi membeli mobil yang agak besar guna mengangkut perlengkapan bazaar. Bukan merek yang mahal, standar aja asal bisa menampung banyak.
Jum'at malam, rumah Bu Fia rame karena bisa kumpul full lengkap. Bu Fia bikin mie ayam bakso ceker, request dari bumil. Memang dari siang, Alifa udah makan sampe dua porsi. Terlihat semua keluarga bahagia menyambut penerus di keluarga mereka.
"Jangan cape-cape ya Fa... kuliah juga bawa supir aja, jangan nyetir sendiri, masih usia rawan kandungannya" nasehat Bu Fia.
"Ya Bun" jawab Alifa.
"Neng... bikinin mie ayamnya dong, enak tuh kayanya" pinta Dafi ke Qeena, Fajar pun ikut-ikutan mau juga. Qeena bergegas ke dapur.
"Bunda ga nyangka ya bisa cepet isinya kamu Fa" ucap Bu Fia bahagia.
"Alhamdulillah" jawab Alifa.
"Siapa dulu dong Bun penyumbang sahamnya" kata Fajar menepuk dada.
__ADS_1
"Tuh Mas.. belajar dari adiknya" lanjut Bu Fia.
"Begitu mah ga usah belajar dari dia Bun ... malah somplak nantinya. Do'akan aja kami juga secepatnya bisa diberi kepercayaan sama Allah" ucap Dafi santai.
Qeena datang membawa dua mangkok mie ayam bakso.
"Kamu ga coba Konsul ke dokter lain? Coba ikhtiar ke tempat yang berbeda, cari second opinion gitu. Kita kan orang awam, mungkin ada yang terhambat diantara kalian tapi belum bisa dideteksi sama dokter yang sekarang nanganin kalian" saran Bu Fia.
Qeena rada kaget juga Bu Fia bicara kaya gitu, karena selama ini ga pernah membahas urusan anak ke Qeena. Fajar tau wajah Qeena berubah rada sedih.
"Tenang aja Qeena... belum setahun kan nikahnya, honeymoon lagi aja, habiskan waktu berdua, jangan mikirin kerjaan sama bisnis mulu. Secanggih apapun dunia medis, ga ada yang mampu menyaingi kecanggihan Allah. Kami para medis hanya sebagai perantara aja kok, semua kembali ke Allah" ucap Fajar.
Dafi tau ada sebuah rasa yang sulit buat mendefinisikan perasaan Qeena saat ini, tapi dia mencoba tenang dan menghabiskan makanannya dulu. Setelah makan, semua masuk ke kamar masing-masing.
๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ๐ต๏ธ
"Qeena ga subur kali ya Mas?" tanya Qeena saat Dafi baru keluar dari kamar mandi.
"Tersinggung ya sama ucapan Bunda tadi?" tanya Dafi balik.
"Ya kan kita udah lama kita nikah, udah seatap terus. Kayanya intensitas berhubungan juga amat sering. Usaha udah, konsul ke dokter juga udah .. ada yang ga beres kali sama Qeena" jawab Qeena.
"Tadi Fajar bilang kan... sebaik-baiknya perencanaan manusia, tetap akan kalah sama rencana Allah. Ga usah dibawa beban omongan orang tentang anak. Kemarin-kemarin belum ada Alifa kamu oke aja .. bisa santai kalo ada yang bahas masalah anak. Apa kamu merasa tersaingi sama dia?" ucap Dafi.
"Entahlah..." kata Qeena sambil melihat HP nya.
Segala teori yang ia cari di internet biar cepet dapat momongan udah dia lakuin. Tapi tetap aja tanda-tanda kehamilan belum menyapanya.
"Neng...." kata Dafi merayu.
"Apa sih Mas .. lagi palang merah" kata Qeena mulai putus asa.
"Neng ..Keinginan hamil yang ga terbendung itu kadang menimbulkan rasa iri dan sedih saat melihat teman, saudara atau bahkan orang ga kita kenal sedang menggendong bayi mereka. Mas paham perasaan kamu, karena Mas juga merasakan rasa yang sama" Dafi mencoba mengademkan hati Qeena dan saling menguatkan.
"Mas .. nanti kalo Qeena ga bisa hamil, apa Mas mau cari wanita lain?" tanya Qeena.
"Tuh kan Mas begitu .. berarti ada niat nikah lagi" kata Qeena.
"Neng .. Allah pasti punya rencana yang baik buat kita. Toh kita udah ikhtiar, ga diem aja.
Mas juga banyak ditanya sama rekan kerja, sampe Mas tuh berkata dalam hati .. Mas tuh salah ya kalo santai aja menghadapi hal ini? salah ya kalo bahagia-bahagia aja meskipun belum punya anak?. Neng .. Mas paham kamu merasa paling sedih, mungkin banyak dirasakan oleh perempuan diluar sana yang mengalami kondisi serupa. Banyaknya stigma negatif tentang perempuan yang belum punya anak setelah beberapa tahun menikah membuat perasaan bersalah terus menghantui perempuan-perempuan. Toh kita juga lagi belajar, suatu saat Allah kasih titipan anak,
pengalaman kita sewaktu kecil jangan sampe terulang, kita ini lagi berpikir kalau menjadi orang tua harus siap lahir batin agar anaknya kelak akan bahagia" lanjut Dafi.
"Kayanya kita harus pergi berdua deh Mas .. jauh dari kesibukan kita masing-masing" usul Qeena.
"Dua mingguan lagi ya Neng .. Mas kan abis ujian tuh, kerjaan juga lagi ga dikejar deadline. Mas coba ajuin cuti ya besok, biar cepat di ACC sama atasan. Kamu juga harus memastikan stok jualan aman" kata Dafi.
"Ya Mas .. mulai besok juga mau diumumin di medsos, biar semua tau" jawab Qeena.
๐บ
Dafi sama Qeena lagi tidur di kamarnya Dafi di rumah Bu Fia. Dafi kangen aja tidur di rumah orang tuanya.
Dafi bangun mau sholat tahajud, Qeena tampak masih sedih, rupanya dia ga bisa tidur semalaman.
"Neng ... ga tidur ya?" tanya Dafi sambil menghampiri Qeena.
"Ga bisa tidur" jawab Qeena.
"Memang beberapa orang berhasil hamil dalam waktu yang relatif cepat setelah berhubungan, tetapi ada juga yang ga langsung positif hamil padahal sudah berusaha berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pada dasarnya manusia itu punya rasa iri pada orang lain karena mereka merasa gagal meraih sesuatu yang diinginkan, sedangkan sesuatu itu berhasil dicapai oleh orang lain. Kalo semua do'a langsung Allah kabulkan, yakin kita mampu makin bersyukur? Adanya malah kita jadi takabur. Menunggu pun sesuatu yang wajar, mungkin Allah tau kita belum layak jadi orang tua, makanya Allah kasih kita waktu buat memperbaiki diri satu sama lainnya" nasehat Dafi sambil mengusap kepalanya Qeena.
"Tapi Bapak bisa tuh cepet aja dapat anak. Apa artinya Bapak udah layak jadi orang tua? kayanya kita lebih baik dari Bapak" sahut Qeena rada emosi.
"Kok jadi bawa-bawa Bapak... Beliau udah diberi kepercayaan sejak kamu hadir diperut Mak Imah. Allah tau kamu akan jadi penyejuk hati dan jalan menuju taubat buat orang tua kamu kan? makanya kamu dihadirkan. Bukankah kamu harusnya lebih bersyukur, kehadiran kamu di dunia ini membawa kebahagiaan buat Mak Nuha sekeluarga, keluarga besar Mas juga yang sangat respect sama sikap kamu, orang-orang sekitar yang banyak terbantu karena bisnis kamu membawa berkah bagi mereka semua. Hanya karena satu hal kamu belum dikasih anak sama Allah, terus mau menutup mata terhadap berkah lain yang luar biasa yang udah Allah kasih?" tanya Dafi.
Qeena mulai menangis. Dafi memeluknya hangat.
__ADS_1
"Sabar dan ikhlaslah menerima kenyataan Neng. Anak adalah rejeki yang kedatangannya merupakan kehendak Allah. Kita masih punya mimpi buat keluarga besar Mak Nuha, Mak Imah, Pak Iyus dan keluarga Mas. Belum semua punya pekerjaan atau usaha, kita baru punya sawah di kampung yang hasilnya belum seberapa buat kehidupan mereka, usaha bakso pun baru cukup buat makan. Ingat mimpi besar kamu apa? kita harus membalas jasa mereka yang membesarkan kamu. Kalo bukan karena Mak Nuha ... Mas ga akan mendapatkan seorang istri luar biasa seperti kamu. Mungkin ini hikmahnya, rejeki yang kita punya buat membantu keluarga dulu. Kan kalo kita punya anak, belum tentu bisa banyak membantu keluarga" tambah Dafi.
Qeena makin hanyut dalam kesedihannya.
"Tapi Mas mau kan punya anak dari Qeena?" tanya Qeena.
"Ya ... tapi hanya sama kamu, ga mau sama yang lain, jadi jangan pernah punya pikiran kalo Mas akan nikah lagi ya" kata Dafi sambil menghapus air mata Qeena.
Dafi mandi dan sholat tahajud. Baru juga mulai berdo'a, pintu kamar Dafi diketuk. Qeena baru aja tenang Dafi aja baru mandi mau sholat tahajud.
"Kenapa Jar?" tanya Dafi kaget.
"Tengah malam udah mandi aja... Abis olahraga ya" ledek Fajar.
"Gak liat nih pake koko sama sarung? ya tiap sholat malam juga mandi dulu, pikirannya ampun deh ga berubah" sahut Dafi.
"Ngejar setoran ya?" canda Fajar.
"Kaga ngejar setoran, angkotnya masuk bengkel, lagi ganti oli" jawab Dafi asal.
"Hahaha, bisa aja deh Mas... Ntar kalo udah kelar ganti olinya, pepet terus Mas jangan kasih kendor .. haha" Fajar makin senang godain kakaknya.
"Udah malam ngomong begituan mulu.. mau ngapain sih?" kata Dafi.
"Anterin nyari ketimus yuk?" ajak Fajar.
"Ketimus apaan sih?" tanya Dafi sambil keluar kamar. Qeena baru aja tidur.
"itu loh Mas, camilanย yang terbuat dari singkong parut, kelapa sama gula merah terus dibungkus daun bentuknya rada panjang gitu, suka ada ditukang bajigur" ucap Fajar.
"Oh itu bukannya timus?" jawab Dafi.
"Sama aja Mas timus sama ketimus" kata Fajar.
"Kaya ga ada besok aja, udah malam gini mendingan tidur, tukang bajigurnya juga jam segini udah kekepan sama bininya" sahut Dafi dengan enteng.
"Maunya juga gitu Mas... lah kalo yang minta bumil gimana? Ayo dong Mas, Alifa tuh kalo ga kesampean bisa sampe nangis" jawab Fajar.
"Ada-ada aja deh, kalian yang berbuat kenapa Mas yang kena getahnya sih. Ntar ya Mas ganti baju dulu, kita bawa mobil aja ya, dingin kalo abis ujan" kata Dafi.
"Siap Mas.. Fajar nyiapin mobil dulu ya" ucap Fajar bahagia.
Keduanya menyusuri jalan, mencari tukang bajigur buat cari timus, hampir satu jam muter-muter ga ada juga.
"Kenapa kita ga mikir mending bikin aja sih, kita beli deh bahan-bahannya, daripada kita muter sampe subuh, keburu Alifa tambah mewek karena kamu tinggal kelamaan" ide Dafi.
"Emang nih, otak Mas cepet banget mikirnya. Yuk ah.. tuh pasar deket dari sini, pasti ada deh bahan buat bikin timus" jawab Fajar.
Inilah kalo kedua laki-laki yang belum pernah nginjak pasar tradisional, bingung harus kemana dan gimana. Mereka nanya ke orang sekitar dimana cari bahan yang mereka perlukan.
Dafi udah mencatat bahan apa aja yang diperlukan buat bikin timus. Walhasil karena kaga paham takaran plus dikibulin sama penjual yang aji mumpung, mereka membeli lima kilogram singkong, kelapa utuh empat biji, tiga kilogram gula merah dan daun pisang banyak banget sampe lima puluh ribu.
Sampe rumah belum jam empat subuh, karena belum ada yang bangun, keduanya buka internet cari resep bikin timus.
"Ribet amat ya baca resep, segala ada takerannya. Ambil sana timbangan di dapurnya Qeena.. ntar kita timbang" perintah Dafi.
Fajar pun bergegas mengambil timbangan.
"Mas... ini caranya ngupas singkong gimana?" tanya Fajar.
"Mana mas tau, kaya ngupas mangga kali ya?" jawab Dafi.
"Gimana sih.. kan anak pesantren, emang ga pernah makan singkong disana?" tanya Fajar.
"Lah.. namanya pesantren isinya laki-laki semua, adanya tuh singkong bulet-bulet langsung dibakar pake batang-batangnya terus kita makan deh.. boro-boro dikupas, wong tanah aja masih nempel" jawab Dafi.
"Ya udah kita liat dulu tutorial ngupas singkong" ajak Fajar.
__ADS_1