ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 272, Anak dan orang tua


__ADS_3

Karena Dafi merasa ada yang janggal sama Iyus, akhirnya dia turun tangan memaksa Iyus untuk periksa kesehatan ke dokter. Agar semua jelas apa diagnosanya. Tipe Dafi itu ga bisa nanti, selama bisa sekarang kenapa harus nunggu parah.


Dafi sendiri yang mengantarkan Iyus periksa ke Klinik dekat rumah Nyai. Qeena dan lainnya nunggu di rumah. Iyus awalnya menolak, tapi Dafi malah lebih keras, mau ke dokter atau ga perlu diperhatikan lagi sakitnya, tentu aja Iyus jadi bingung. Kalo Dafi menarik bantuannya, bagaimana nasib dia dan Rida yang kerja sama Qeena, bisa nganggur lagi.


Iyus diperiksa di Klinik yang buka dua puluh empat jam, ga jauh dari rumah Nyai. Iyus juga banyak diam, ditanya aja sama dokter kaya orang linglung. Dafi meminta medical checkup yang sederhana di Klinik tersebut, kebetulan ada laboratorium disana juga, jadi bisa cek darah. Dafi ingin memastikan soal diagnosanya.


"Pak .. sebaiknya dibawa ke psikiater aja, secara fisik saya periksa baik-baik aja. Hasil laboratorium juga masih normal, hanya karena kurang tidur jadi tekanan darahnya agak rendah. Jadi ya diagnosa penyakit sementara ini lebih kegangguan kecemasan " ujar dokter jaga.


"Memang kenapa ya dok sampai perlu ke psikiater? apa rasa cemas juga termasuk penyakit?" tanya Dafi.


"Dari tanda-tandanya mengarah kegangguan kecemasan yang dikhawatirkan adalah malah jadi penyakit fisik. Misalnya susah tidur, lama-lam bisa anemia, thypoid dan sebagainya. Jadi kalo Bapak mau ke psikiater, nanti saya buatkan pengantar konsultasi ya, di Rumah Sakit ga jauh dari sini juga ada psikiater, tapi hanya sekali praktek dalam seminggu. Mungkin lebih jelasnya bisa langsung tanya kesana untuk jadwal praktek dan lainnya" kata dokter.


"Baik, terimakasih dok" jawab Dafi.


Setelah mengantarkan Iyus pulang ke rumah Nyai, Dafi kembali ke Rumah Sakit, dia cari info tentang jam praktek psikiater di Rumah Sakit tersebut. Dafi kebagian informasi.


"Mbak .. beda ya psikiater sama psikolog? bukannya tentang kejiwaan semua ya?" tanya Dafi yang masih awam.


"Ya Pak, tapi beda, Psikiatri adalah ilmu kedokteran yang berfokus pada kesehatan jiwa, sedangkan psikologi adalah ilmu non-kedokteran yang mempelajari perilaku dan perasaan seseorang. Di Rumah Sakit ini ada keduanya, untuk jadwal praktek psikiater ada besok jam delapan pagi, untuk jadwal psikologi tergantung temu janji" jelas bagian informasi.


"Kalo untuk didaftarkan secara manual sekarang bisa? saya mau daftarkan Bapak saya" tanya Dafi.


"Bisa Pak, nanti kebagian pendaftaran yang ada didepan meja ini ya. Akan ada yang Bapak isi dulu" jawab bagian informasi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Alifa merasakan mules dibagian perutnya, usia kehamilan memasuki Minggu ketiga puluh enam, kondisi seperti ini Fajar sudah beberapa kali menghadapi saat masih di stase obsgyn, tapi kenapa malah sekarang dia ikutan panik gegara melihat Alifa yang merasa sakit


Bu Fia yang bergerak cepat meminta Alifa dibawa ke Rumah Sakit buat diperiksa. Karena menurut Bu Fia sepertinya Alifa akan melahirkan.


"Masih belum masuk perkiraan lahir Bun, sekitar dua Minggu lagi" kata Fajar.


"Udah ayo cepetan, nanti lahiran di rumah gimana?" tanya Bu Fia.


"Fajar kan dokter Bun, jadi sedikitnya belajar tentang tanda-tanda Ibu akan melahirkan" ujar Fajar.


"Lah kamu sekarang aja kaya orang linglung gitu kok, udah deh... ntar yang ada Bunda malah ikutan stress .. ayo cepetan" ajak Bu Fia.


Fajar memapah Alifa menuju mobil. Orang di rumah udah rame, tapi keluarga Dafi masih tidur pulas semua. Ga ada yang terbangun dengan suara yang agak berisik saat ngeluarin mobil dari garasi samping.


"Mas bisa ga bawa mobilnya?" tanya Izma.


"Eh .. yang ngajarin kamu nyetir kan Mas, masa Mas ga bisa nyetir" jawab Fajar spontan.


"Maksudnya tuh Mas tenang ga bawa kendaraan? keliatan banget paniknya, sini Izma aja yang bawa, daripada nanti kenapa-kenapa" pinta Izma.


Fajar menyerahkan kunci mobil ke Izma. Bu Fia dan Alifa duduk di kursi belakang bersama Fajar. Izma dideretan bangku depan sendirian.


"Jangan mengejan disini ... nanti keluar disini" ucap Fajar mengingatkan.


"Sakit Masss..." kata Alifa.


"Ini lagi gimana sih Jar .. kamu kan dokter, katanya udah pernah ngadepin Ibu yang mau melahirkan. Baru gini aja kok panik" oceh Bu Fia yang gemes sama Fajar.


"Bun.. kayanya segala teori di bangku kuliah sama pengalaman di Rumah Sakit langsung lupa deh kalo ngalamin sendiri. Pantes aja Bapak-bapak mukanya kusut kalo istrinya mau melahirkan" jelas Fajar.


"Kamu usap-usap Alifa, biar tenang gitu. Izma .. yang cepet dong bawanya, keburu brojol deh" teriak Bu Fia.

__ADS_1


"Bun.. adanya kita bisa masuk Rumah Sakit bareng-bareng kalo ngebut. Pokoknya santai aja Bun, Izma usahakan secepatnya sampe di Rumah Sakit" ujar Izma.


Begitu sampai di IGD Rumah Sakit tempat Fajar praktek, Alifa langsung diperiksa di kamar bersalin oleh para bidan.


Sebelum tindakan dilakukan, perawat dengan telaten menjelaskan soal form-form yang harus diisi dan tindakan-tindakan yang akan dilakukan, termasuk alternatifnya. Fajar langsung menandatangani karena dia cukup hapal dengan isi form tersebut.


Beberapa waktu kemudian, sakit perut Alifa mulai sering. Denyut jantung bayi juga sudah dicek oleh para bidan, pas masuk masih bagus detak jantungnya.


"Mas, pokoknya arahin buat atur nafas ya nanti kalo melahirkan" pinta Alifa.


"Ya .. sekarang banyak berdo'a, ga usah mikir yang macem-macem" ucap Fajar.


Kira-kira dua jam kemudian, Alifa diperiksa dalam, jari dimasukkan kedalam ****** untuk tahu sudah bukaan berapa. Alifa dipindahkan ke ruang tindakan VK.


Begitu masuk kamar tindakan, Alifa malah muntah. Fajar terus memotivasi Alifa. Fajar meminta Alifa buat mengatur nafas.


Setelah agak tenang, Fajar duduk di kursi yang ada di ruang VK sambil membuka HP nya, tangan kanannya pun tetap mengusap perutnya Alifa. Alifa diminta untuk melepaskan ****** ******** untuk pembersihan jalur lahir.


Tiba-tiba salah satu bidan yang latah malah berteriak.


"Air ... Air.... " ucapnya.


Alifa yang dalam posisi setengah berbaring melihat kearah bawah. Fajar yang setengah ngantuk pun kaget, teriakan bidan tersebut kaya ada bencana banjir atau musibah kebakaran, padahal maksudnya pecah ketuban. Air tertampung didalam ember yang memang sudah dipersiapkan dibawah tempat tidur tindakan.


"Delapan ... sembilan ... sepuluh ... lengkap" kata bidan.


Ada dua bidan yang mendekat kearah Alifa.


"dokter belum datang?" tanya Fajar.


"Lagi pake baju tindakan dok" jawab bidan.


Pasca proses yang lumayan cepat dari mules pertama hanya tiga jam, Alifa dua kali mengejan kemudian ada sebuah kepala manusia muncul. Ya, si rambut lebat memperlihatkan dirinya. Kepala itu diam dan warnanya cenderung abu-abu. Dokter lantas menarik perlahan kepala itu hingga kemudian muncul tangan, perut dan kemudian kaki, kemudian terdengarlah tangisan.


Sang bayi langsung diletakkan dekat ****** untuk Inisasi Menyusui Dini (IMD). Setelah mengurus banyak hal, Fajar memberikan kabar lewat media sosial dan grup chat di HP nya.


keluarga Alifa sudah mulai berdatangan ke Rumah Sakit. Alifa masih dibersihkan dan diganti bajunya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ba'da subuh, Dafi yang baru mengaktifkan HP nya langsung memberitahu Qeena.


"Alhamdulillah... Kok kita ga denger berisik semalam ya Mas?" tanya Qeena.


"Ya .. tidur cepet kita semalam. Sampe lewat tahajudnya" jawab Dafi.


"Cewe apa cowo Mas?" kata Qeena kepo.


"Cewe, cantik deh .. liat nih" ucap Dafi sambil memperlihatkan foto di HP nya.


"Mirip siapa ya?" kata Qeena sambil mikir.


"Mirip kamu" jawab Dafi spontan.


"Iya ya ... kok mirip ya .. rambutnya lebat banget, itu pipi juga kaya bakpao" ujar Qeena bahagia.


Dafi ga bisa langsung ke Rumah Sakit buat menjenguk karena harus kerja. Qeena pun rencananya pagi ini akan mengantar Iyus untuk konsultasi sama psikiater.

__ADS_1


Mereka video call, mengucapkan selamat kepada kedua orang tua baru ini. Izma dan Bu Fia rencananya akan pulang dulu pagi ini karena ga ada persiapan apapun. Baju aja masih pakai piyama dibalut jaket.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Orderan Qukis by Qeena hari ini lumayan banyak, untungnya hanya roti gandum dan Pao premium yang bisa dikukus kembali jika akan dinikmati. Semua produksi dibawah kendali Mak Nuha karena memang resep ini pun Mak Nuha yang kasih tau. Untuk pengiriman akan dibantu sama karyawan magangnya Qukis by Qeena. Nanti Qeena hanya mengecek transferan yang masuk aja.


🌺


Qeena menunggu di ruang tunggu depan kamar konsultasi dokter. Rida juga turut serta, karena Rida yang tau tentang sakitnya Iyus.


"Rasanya kaya orang gila ga sih? liat deh gelar dokternya... dr. SpKJ (dokter spesialis kedokteran jiwa)" ujar Iyus memecah sepi.


Rida dan Qeena melihat kearah papan nama dokter.


"Pak... dokter juga ga akan meminta kita konsultasi kesini kalo ga ada arah ada gangguan kejiwaan. Kan kejiwaan bukan hanya masalah waras apa ngga, tapi apa yang Bapak alami itu gangguan kecemasan yang malah dikhawatirkan bisa mempengaruhi kesehatan Bapak secara fisik. Para dokter ini mencapai gelar dokter umum kemudian melanjutkan studi spesialis, yakni kedokteran jiwa atau yang kerap disebut psikiatri (ilmu yang berfokus pada kesehatan jiwa). Jadi mereka ga akan menjudge kita ga waras begitu aja. Ini yang masyarakat ga tau, disangkanya kalo ke psikiater itu ga waras" jelas Qeena.


"Papa ga cemas kok, Mas Dafi aja kali yang salah liat" ucap Iyus.


"Mas Dafi kan dapat rujukan dari dokter Pak" jawab Qeena.


"Udahlah Mas.. terima aja dulu, ini semua demi kebaikan Mas. Anak-anak sampe bela-belain begini itu karena sayang sama Bapaknya. Lagipula kalo nanti dokternya bilang semua baik-baik aja kan juga malah enak kedepannya udah tau kalo secara fisik dan mental kita itu sehat" tambah Rida.


"Pak .. sebenarnya ada masalah apa? mungkin bisa Bapak cerita ke kami semua. Kalo Bapak diam aja kan ga ada yang tau" tanya Qeena.


Iyus terdiam dan menundukkan kepalanya.


Seorang perawat keluar dari pintu ruang konsultasi bersama pasien.


"Bapak Irfan Yusran .. silahkan masuk, boleh didampingi hanya satu orang saja ya" kata perawat.


Qeena mempersilahkan Rida yang ikut masuk, ternyata Rida malah meminta Qeena aja yang masuk. Dengan langkah pelan, Qeena ikut masuk menemui dokter bersama Bapaknya.


Buat sebagian besar orang awan, konsultasi ke psikiater mungkin adalah sesuatu yang harus dijauhi dalam kehidupan seumur hidup karena ada stigma yang melekat kuat terhadap gangguan jiwa dan profesi psikiater, maka dianggap orang dengan tingkat kewarasan yang berkurang. Sebagian masyarakat masih memandang gangguan jiwa itu adalah sesuatu yang bisa sembuh sendiri kalo Allah menghendaki, jadi cukup hanya dengan pasrah pengobatannya. Jikalau pun seumur hidup mengalami gangguan kejiwaan berarti udah takdir dari Sang Illahi.


🌺


Iyus dan Qeena dipersilahkan duduk, pasiennya malah diberikan bangku sofa yang super nyaman, jadi bisa sambil tiduran jika mau.


Lima menit pertama, dokter membiarkan pasien menceritakan keluhannya dan latar belakang sakitnya. Tampak sekali sebenarnya Iyus kebingungan untuk memulai pembicaraan, dokter pun membantu mengarahkan Iyus dalam menceritakan apa yang menjadi keluhan dan latar belakangnya. Setelahnya, dokter mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk melengkapi riwayat perjalan penyakit, sehingga nantinya dapat mengarahkan kepada suatu diagnosis tertentu.


Sampai saat ini kebanyakan gangguan kejiwaan belum ditemukan sebabnya, tetapi dokter menerangkan apa yang terjadi didalam otak berkaitan dengan sakit yang diderita.


"Baik Bapak.. Ibu .. saya mendiagnosa awal, Bapak terkena anxiety disorder (gangguan kecemasan)" kata dokter.


"Maaf dok, anxiety disorder apa ya?" tanya Qeena penasaran.


"Rasa cemas adalah hal yang wajar. Namun, jika terlalu merasa cemas secara berlebihan dan tanpa ada alasan yang kuat, besar kemungkinan memiliki gangguan kecemasan. Mengalami gangguan ini akan merasa mudah khawatir terhadap berbagai hal, bahkan ketika sedang dalam situasi normal sekalipun. Gangguan kecemasan ini membuat penderitanya merasakan cemas secara berlebihan yang menetap dalam waktu lama, biasanya hingga lebih dari enam bulan. Mereka overthinking tentang semua hidupnya. Sekarang saya tanya ke Bapak, apa gemetar, keringat dingin, otot tegang, pusing, susah tidur, dada berdebar-debar, sering merasa lelah bahkan sampe sesak nafas dan ingin buang air kecil terus. Nafsu makan pun berkurang .. bagaimana Pak?" tukas dokter.


"Iya dok .. benar semua" jawab Iyus.


"Jadi Pak, sekarang akan diberikan obat-obatan psikotropika atau obat penenang, jika seminggu sudah reda ga perlu balik konsultasi, tapi jika masih mengalami gangguan tersebut bisa dijadwalkan untuk konsultasi lanjutan" saran dokter.


"Baik dok, tapi kenapa bisa muncul sekarang ya dok?" tanya Qeena masih penasaran.


"Bisa muncul karena sesuatu yang kurang menyenangkan yang pernah terjadi dimasa lalu" jawab dokter.


Iyus cukup terkejut dengan apa yang terjadi, walaupun disisi lain merasa lega. Lega karena ternyata masih mempunyai kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi. Memang ga mudah buat menerima kenyataan kalo sudah berbuat sekeji itu terhadap banyak wanita, bahkan tidak menganggap Qeena ada. Disesi konsultasi kali ini, Iyus mulai menyadari bahwa tidak ada gunanya menyalahkan keadaan.

__ADS_1


"Jangan munculkan rasa cemas lagi Pak .. kita bisa berjuang untuk proses penyembuhannya, asalkan Bapak selalu berusaha melatih diri untuk menerima keadaan, meskipun akan bertemu pada fase dimana amat tersiksa dengan proses penerimaan tersebut. Selanjutnya, Bapak bisa mencoba untuk rutin melakukan relaksasi dipenghujung hari sambil bersyukur atas apa yang telah didapatkan hari itu. Intinya kembali ke Tuhan sesuai agama yang Bapak anut" lanjut dokter.


__ADS_2