ROTI BAKAR

ROTI BAKAR
* Slice 224, Malam pertama


__ADS_3

Pintu kamar diketuk oleh bellboy. Dafi yang membukakan pintu sementara Qeena mandi duluan.


"Selamat sore Pak Danish ... ada buket yang datang ke hotel dan berpesan untuk diberikan langsung ke Bapak" ucap Bellboy.


"Woooo a surprise.. thank you" jawab Dafi sambil menerima buket berisi uang seratus ribuan dan bunga.


Dafi merogoh kantongnya dan memberikan tips ke Bellboy.


"Terima kasih Pak, saya mengingatkan kembali ada evening cocktails serta makan malam di lounge sampai jam 19.30 karena Bapak beserta istri terdaftar di honeymoon package hotel" ucap Bellboy dengan sopan.


"Oke, di Towers Lounge kan ya?" jawab Dafi.


"Benar Pak" kata Bellboy.


Salah satu keuntungan menginap di Towers Room, adalah free access untuk ke Towers Lounge yang menyediakan kopi, teh dan camilan secara gratis sepanjang hari.


Ternyata Qeena udah selesai mandi padahal baru aja Dafi bersiap nyusul masuk kamar mandi. Qeena udah pakai kimono handuknya dan rambutnya dibalut handuk juga.


"Sabar... sabar Dafi .... punya istri yang kurang peka tuh ya kaya gini deh. Udah bagus momen biar bisa mandi bareng eh malah dia mandi duluan, ga nungguin" kata Dafi dalam hati.


"Wah ada kiriman angpao kekinian tuh, dari siapa Mas" ledek Qeena.


"Iya .. dari teman Mas di Semarang, kan Mas kasih tau kalo kita nikah, tapi ga Mas undang biar mereka masuk pasca lebaran, bisa aja kan alasan kondangan jadi ga datang. Neng .. besok malam kita udah balik ke Semarang, dijemput sama supir kantor karena Mas cuti cuma dua hari. Banyak yang harus dikerjain disana. Kita akan tinggal di rumah dinas Mas. Teman Mas tinggal di kamar yang ada di kantor, udah rapih deh disana buat kita tinggal" jelas Dafi.


"Emak gimana?" tanya Qeena.


"Mak Nuha dan Mak Imah akan tinggal di ruko bakso dulu selama seminggu, nanti kalo udah seminggu kita jemput buat balik ke Jakarta. Kebetulan Minggu depan kan Mas ada keperluan di Jakarta, jadi sekalian" jelas Dafi.


"Oh gitu ... terus selanjutnya Mak Imah akan terus sama kita?" tanya Dafi.


"Ya .. emang akan terasa canggung awalnya Neng .. tapi beliau kan Emak kamu juga. Daripada malah nanti hilang lagi, mendingan sama kamu. Apa ga kasian sama nasibnya yang juga sendiri, walaupun pihak keluarga bisa menerima, tapi mungkin sudah sama-sama ga nyaman. Mas juga lebih tenang kalo kamu banyak yang jaga. Kalo kita udah di Jakarta, langsung ya daftar kursus ke Chef Ale, waktunya kamu cari duit.. kan tanggungjawab kita nambah.. biar cuan nambah.. hehehe" ledek Dafi.


"Ohhh ... jadi Mas mau kursusin Qeena biar bisa nyari duit ya ... biar bisa bantu Mas cari nafkah? eehhmmm ... ada telur dibalik bolu" jawab Qeena.


"Iya deh mentang-mentang passionnya di kue .. istilahnya pake diganti. Becanda doang Neng, Mas akan penuhin kok kebutuhan lahir batin kamu. Kita kan juga punya keluarga yang harus dikasih juga. Paling ga kalo kamu punya penghasilan, bisa buat keperluan pribadi kamu kaya pengen ke salon, pengen beli skincare atau beli cetakan gitu. Lagipula katanya mau punya usaha sendiri, ya harus kerja keras lah, kalo bukan kamu yang bangun usaha kamu ya siapa lagi? Mas cuma bisa support kursusin kamu dan modal kalo kamu siap bikin toko kue impian kamu. Lebih dari itu ya kamu sendiri yang berusaha" ujar Dafi.


"Sweet banget deh kalo ngomong" jawab Qeena sambil mengambil bajunya di tas dan kembali ke kamar mandi.


Sore ini dihabiskan buat becanda sambil ngobrol ringan aja. Keduanya menikmati kue pemberian dari hotel. Qeena membuatkan kopi buat Dafi serta teh untuk dirinya sendiri.


"Yang penting keluarga jadi prioritas utama. Mungkin dalam waktu dua tiga bulan kedepan ya kita akan tinggal terpisah, Mas ada tanggung jawab di Semarang dan kamu juga harus kursus di Jakarta. Inilah pengorbanan kita sebagai pengantin baru udah jauhan. Pokoknya saling percaya itu harus. Saling terbuka aja sih kuncinya" nasehat Dafi.


"Paling juga Mas yang akan banyak bolak-balik" ledek Qeena.


"Ya diantara kita yang ga sibuk aja siapa, ya harus ada yang ngalah, kalo ga gitu bisa bablas kita ga ketemu berbulan-bulan" ucap Dafi.


🌺


"Mba Nuha ... saya lega akhirnya bisa ketemu lagi sama semua dalam kondisi yang jauh lebih baik" ucap Mak Imah di ruko lantai atas.


"Alhamdulillah ... Allah masih kasih waktu kita berkumpul" jawab Mak Nuha.


"Mba ... sekali lagi .. Imah minta maaf atas semua yang Imah lakuin ke Mba dulu" ucap Imah tulus.

__ADS_1


"Udahlah Imah .. yang lalu biarlah berlalu, kita tatap masa depan aja" jawab Mak Nuha.


"Mba .. gimana sih awal mulanya Qeena bisa kenal sama Mas Dafi dan mutusin buat menikah? sebagai seorang Ibu kok feeling saya ga enak ya kalo liat Ibu mertuanya" tanya Mak Imah penasaran.


Mak Nuha menceritakan garis besar kisah Qeena dan Dafi.


"Jadi biang keroknya Mas Iyus? parah banget tuh orang .. udah tua juga ga berubah" rutuk Mak Imah.


"Ya gitu deh" jawab Mak Nuha.


"Kemarin waktu ketemu Imah, masa dia bilang buat ngajakin rujuk aja. Segala muji masih cantik kaya dulu dan rayuan gombal lainnya" adu Mak Imah.


"Ya kalo kamu mau rujuk ya rujuk aja" kata Mak Nuha.


"Amit-amit deh Mba Nuha .. mending saya begini aja udah bahagia. Udah ga mau pusingin dia lagi. Bodo amat tuh orang mau jungkir balik kaya gimana juga. Saya ga peduli" sahut Mak Imah.


"Sama .. saya juga ga ada tuh pikiran buat nikah lagi, jangankan sama Mas Iyus, sama yang lain juga ngga, apalagi sekarang Qeena udah nikah. Tinggal tunggu punya cucu aja, mau urusin cucu" ujar Mak Nuha.


"Iya ya Mba .. kita tinggal nunggu punya cucu aja, ga usah mikirin anak orang lagi" sahut Mak Imah.


🤍


Selepas sholat isya, Dafi dan Qeena menuju ke Tower Lounge. Ada lima pasangan yang ada disana, sepertinya ada yang first honeymoon seperti mereka dan ada pula yang second honeymoon.


"Mau minum apa Pak .. Bu?" tawar pelayan Lounge.


"Yang dingin adanya apa?" tanya Dafi.


"Ada milkshake, juice, ice coffee, smoothies dan float" jawab pelayan.


"Ya Pak" jawab pelayan lagi.


"Kalo strawberry yoghurt ada ga? kalo ada mau itu ya" kata Dafi.


"Ada Pak ... Ibunya mau minum apa?" tawar pelayan.


"Hot chocolate yang original without topping" jawab Qeena.


"Baik Bu .. ada lagi?" tanya pelayan.


"Dua botol air mineral" tambah Dafi.


"Baik Pak.. mohon ditunggu" jawab pelayan.


Qeena mengambilkan beberapa cemilan unik buat berdua. Sambil menunggu makanan utama ready.


Qeena mengambil tahu pong, samosa dan spring roll masing-masing satu piece. Memang terakhir makan saat sarapan tadi siang ga sempat makan.


Lima belas menit kemudian.


"Permisi.. Bapak Ibu" pelayan lain menghampiri.


"Ya Mas" jawab Dafi.

__ADS_1


"Kalau sudah siap untuk makan malam, mohon kita diinfokan ya. Karena makan malam akan disajikan diluar ruangan lounge inj" jelasnya sambil menunjuk salah satu bagian ruangan yang terletak diluar dan mempunyai  pemandangan kota dari tempat tinggi.


"Oke kami sudah siap kok" jawab Dafi.


Mereka berjalan mengikuti pelayan menuju tempat makan.


"Saya pesan steak-nya medium rare ya Mas" pesan Dafi, konon katanya kalo daging dipercaya akan meningkatkan vitalitas di malam pertama.


Mereka menikmati makan malam penuh canda karena pihak hotel menghadirkan stand up comedy buat hiburan, menurut pihak hotel, semua pasangan yang ambil paket honeymoon pasti ingin relaks dulu, makanya dihibur biar happy. Setelah makan, semua kembali ke kamar masing-masing.


"Iyesss akhirnya bisa bermesaraan juga sama istri" kata Dafi dalam hati dengan bahagia.


"Mas.." ucap Qeena.


"Kenapa Neng.." Dafi mendekat ke Qeena yang udah terduduk diatas ranjang, cahaya lampu juga temaram karena lampu utama sama Dafi udah dimatiin.


"Mas..." suara Qeena terdengar lembut merayu.


"Apa sih Neng..." Dafi berbisik perlahan ditelinga Qeena.


"Kita sholat sunnah dulu yuk, biar perjalanan rumah tangga kita lancar" ajak Qeena.


"Siapppp" jawab Dafi semangat.


Mereka pun sholat berjamaah, melantunkan do'a untuk keluarga dan diri mereka sendiri. Khususnya meminta perlindungan agar rumah tangga yang akan dibina bisa terus dalam bingkai agama.


Dafi melepaskan kokonya. Ada telepon masuk dari penanggung jawab wilayah Kota/Kabupaten untuk koordinasi besok. Lumayan lama Dafi memegang HP nya. Qeena udah berganti baju tidur yang diminta sama Dafi untuk dipakai.


Setelah selesai bertelpon ria, Dafi langsung menonaktifkan HP nya. Sebagai tanda dia ga mau diganggu malam ini. Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Saat akan masuk selimut, Dafi menyingkap selimut, agak terpana pemandangan didepannya. Qeena memakai baju tidur tanpa lengan dari bahan satin berwarna putih (bukan lingerie karena Dafi khawatir Qeena menolak untuk memakai), pemberian dari saudaranya Dafi. Bajunya sedengkul dan agak longgar. Wajah manis berlesung pipi, kulitnya pun bersih dan rambut lewat sebahu yang terurai benar-benar menjadi pemandangan eksotis didepan mata Dafi.


"Aduh Neng ... ini mah namanya bangunin macan tidur. Emang udah bersedia melakukannya malam ini?" tanya Dafi yang udah masuk dalam selimut mendekap tubuh Qeena. Qeena berbalik kearah Dafi, wajahnya tepat berjarak sekitar sepuluh centimeter aja dari wajah Dafi. Diusapnya pipi Dafi dengan lembut.


"Makasih atas semuanya ... menjadikan Qeena menjadi seperti wanita lain yang dilamar ke pihak keluarga. Semoga Mas bisa tercapai segala cita-citanya, sehat, bisa menjadi suami yang baik, tetap menjadi anak kebanggaan keluarga. Terus saling mengingatkan ya Mas. Makasih juga udah menjadikan Qeena menjadi salah satu bagian penting dalam hidup Mas. Mulai malam ini, Qeena akan jadi makmum Mas seutuhnya. Kita sama-sama belajar menyayangi satu sama lain sampai ajal menjemput ya Mas" ucap Qeena sambil senyum.


Malam ini merekas dibius oleh suasana yang tercipta, saling menyentuh satu sama lain.


"Ucul (sebutan lain dari lucu) banget sih liat kamu malu kaya gini bikin tambah gemes aja" goda Dafi.


Wajah Qeena udah bersemburat merah jambu di pipi walaupun dalam keremangan cahaya. Jarak keduanya semakin dekat. Qeena malah menunjukkan wajah kekhawatiran saat Dafi mendekat.


"Kenapa?" tanya Dafi lembut.


Qeena menggeleng pelan.


"Kamu sakit?" tanya Dafi sambil meletakkan tangannya di dahi Qeena.


Hati Qeena makin berdebar dan dirinya membeku ga berdaya. Perlahan, bibir Dafi sudah menempel manis dibibir Qeena, memang bukan yang pertama bagi keduanya. Mencoba menikmati tapi masih terasa canggung. Tampak Dafi melakukannya dengan penuh kasih sayang. Dafi pun juga sudah memeluk tubuh Qeena serasa enggan berjauhan. Dafi menyentuhnya dengan kehangatan.


Terdengar gemuruh nafas keduanya memburu. Pelan-pelan mereka melakukannya tanpa ada paksaan, walaupun beberapa kali Qeena merasa sedikit sakit waktu Dafi berusaha melakukannya, sampe Dafi berkali-kali menanyakan tentang kesakitan yang dirasakan oleh Qeena.


Dafi berusaha melakukan dengan santai dan lemah lembut hingga Qeena merasa nyaman. Mereka melakukan ibadah yang dinikmati oleh pasangan suami istri.


Karena masih terbius euforia, mereka melakukannya hingga dua kali. Diakhiri dengan melanjutkan acara berendam bersama yang tertunda tadi sore.

__ADS_1


"Mas... besok bukannya Mas ada panggilan dadakan? udah tengah malam ini, ga ngantuk nanti?" ucap Qeena sambil menggosok punggung Dafi.


"Yang besok ya besok, sekarang menikmati kebersamaan kita aja dulu. Lagian di rumah dinas sama di rumah kita kan ga ada bathtub, jadi ga bisa kaya gini" kata Dafi manja.


__ADS_2