
Kabar yang dinantikan sama keluarga Dafi dan Qeena pun akhirnya terjawab, dua garis biru pada testpack pagi ini membuat semua bahagia. Qeena langsung diminta Dafi untuk mendaftarkan diri ke Rumah Sakit untuk membuat jadwal kontrol. Atas saran dari Fajar dan Alifa, Qeena memilih dokter obsgyn yang sama tapi di Rumah Sakit yang dekat dengan tempat tinggal.
Dikehamilan kali ini, dilalui dengan lebih santai, pada prinsipnya Qeena happy. Tadinya mereka akan pindah kamar kebawah dan Mak Imah akan menempati kamar tamu di rumah Bu Fia, tapi Qeena menolak. Bagi Qeena, kamarnya adalah "markas" paling enak selama ini, Dafi pun ga masalah asalkan Qeena ga bolak-balik naik turun tangga, diatur seperlunya aja.
Secara rutin Dafi menyiapkan vitamin buat Qeena dipagi hari. Bahkan ketika sarapan dan makan malam, Qeena selalu disuapi secara perlahan dengan penuh cinta.
Kehamilan kali ini pun ga merepotkan Qeena, urusan makan sangat doyan, tidur pun nyenyak, bahkan sampe dibawa bikin orderan kue, roti dan selai pun oke-oke aja. Makanya Dafi sangat bersyukur, semua dilancarkan.
Setengah jam setelah minum vitamin, Dafi membuatkan susu buat ibu hamil. Qeena meminumnya perlahan. Walaupun kurang suka baunya, tapi coba dipaksakan demi sang buah hati. Begitu rutinitas Dafi sebelum berangkat kerja. Sekarang dia kerja selalu naik motor biar bisa berangkat agak siang (kalo naik mobil jemputan dari kantor harus jam enam sudah dilokasi pick up) dan bisa pulang lebih cepat juga membelah kemacetan Jakarta.
"Karena udah habisin semua sarapannya, Mas mau kasih hadiah buat istri tercinta" ucap Dafi sambil menyodorkan coklat kesukaan Qeena.
"Bener boleh nih?" tanya Qeena meyakinkan.
"Ini aja ya jangan nambah lagi. Kan kemarin dokter udah bilang jangan kebanyakan coklat dan es krim dulu, biar babynya ga kegedean, soalnya ibunya makan mulu" canda Dafi yang langsung dapat cubitan dari Qeena.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Sabtu ini ada acara arisan keluarga di rumah Pak Shaka, Qeena dan Dafi datang kesana.
"Kirain bakalan bareng Mak, eh ga taunya Emak gastric" canda Dafi.
"Kalian ajalah yang punya anak. Emak udah ga ada tenaga buat urus bayi" jawab Mak Nuha.
"Do'akan lancar ya Mak sampe melahirkan nanti, semua sehat dan selamat" pinta Dafi.
"Iya Mas .. Mak pasti do'akan kalian. Ini Qeena baru empat bulan tapi perut udah gede ya, kembar?" tanya Mak Nuha.
"Satu kok Mak, ya gimana gak embul, Ibunya doyan makan, apa aja dilahap" jawab Dafi.
"Alhamdulillah kalo doyan makan, banyak yang malah susah makan karena mual" sahut Pak Shaka.
"Tipe ga rewel kaya Ibunya nih Pak, kalo ikut dari keluarga saya mah kata Bunda pasti ga doyan makan" ucap Dafi.
"Tuh Qeena.. ada somay juga, sana makan" kata Pak Shaka.
"Udah dua kali nambah ini Pak .. hehehe" jawab Qeena.
"Wahhh... ini mah terlalu doyan namanya" ucap Pak Shaka.
"Nanti Mak bungkusin ya, masih ada kok di kulkas" ujar Mak Nuha.
"Ga Qeena.. ga Erin... pada doyan makan ya .. tuh Erin tinggal nunggu hari aja masih aktif dan doyan makan" kata Pak Shaka.
"Emang trendnya kali Yah" sahut Aa' Zay.
"Trend apa?" tanya Pak Shaka.
"Trend para bumil doyan makan dan ga rewel, secara anak jaman now kan gitu.. aktif" jawab Dafi.
__ADS_1
"Apa karena bikinnya terlalu aktif, jadi gini ya .. hahaha" sahut Aa' Zay.
"Bisa jadi .. hahhaha" timpal Dafi.
"Mulai deh kalo ketemu berdua pasti ngomongnya ga jauh-jauh dari yang kaya gitu. Yang satu udah mau punya anak empat, yang satu lagi juga kayanya bakalan sama, abis lahir langsung aktif lagi" ujar Pak Shaka.
"Tau aja ini Bapak senior .. kan hiburan Pak, daripada kelayapan diluar rumah" jawab Dafi.
"Orang mah hiburan tuh nonton bioskop, jalan-jalan ke wahana hiburan ... ini mah hiburan bikin anak" ledek Pak Shaka.
"Kan ibadah Yah" jawab Aa' Zay.
"Masih banyak ibadah yang lain" ucap Pak Shaka.
"Kan hiburan iseng-iseng berhadiah Yah ... jadi Alhamdulillah, ga jadi ya nambah" Iqbal ikut nimbrung.
"Nah lengkap deh nih formasi trio nyeleneh, kalo ngumpul ya bahasannya hiburan di kamar" kata Pak Shaka sambil geleng-geleng.
"Kan biar rumah rame Yah .. tuh Erin sebentar lagi empat, Iqbal tahun depan deh bikin yang ketiga. Qeena nyusul nih.. Kan kalo kami repot ada Mbah yang siap bantu urusin para cucu" jawab Iqbal.
"Boleh .. boleh ..." ujar Pak Shaka.
"Kalo sekalian minta tolong beliin susu sama diapersnya boleh Yah?" canda Aa' Zay.
"Ga sekalian bayarin buat sekolah sampe kuliah?" sahut Pak Shaka.
"Ide bagus tuh Pak .. kami yang produksi, Bapak yang nanggung sampe gede" lanjut Dafi.
Mereka tertawa bersama.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Kasus Mak Imah berlanjut keranah hukum, tapi pada akhirnya berakhir damai karena permintaan keluarga dari Pak Bintang dan keluarga Mak Imah. Mak Imah ditawarkan kompensasi atas pencabutan tuntutan, atas saran Dafi silahkan diambil aja rumah dan sejumlah uang yang diberikan untuk Mak Imah, memang ga bisa menutupi luka batin yang ditorehkan, tapi menurut pemikiran Dafi, daripada ga ada sama sekali.
Akhirnya rumah yang diberikan sama Pak Bintang dijual sama Mak Imah. Uangnya didepositokan dulu karena Mak Imah belum ada rencana membeli rumah atau usaha. Semua diurus sama Dafi karena Mak Imah sangat percaya sama menantunya ini.
Mak Imah memutuskan ikut sama Qeena aja, apalagi sekarang sedang menantikan cucu pertamanya. Jadi udah ga inget lagi tentang kisah percintaan yang cuma membuat sesak didada.
ππππππππππππππππ
Dafi selalu mengantarkan Qeena untuk kontrol ke dokter kandungan, hal yang ga pernah dia lewati sejak tau Qeena hamil. Makanya jadwal kontrol hari Sabtu atau kalo hari biasa ambil yang jam malam.
Bahkan sekarang sudah tiap dua Minggu sekali harus kontrol karena memasuki Minggu ketiga puluh dua. Kondisi ibu dan janinnya terpantau sehat, tapi memang Qeena harus bisa memilah makanan manis, karena berat bayi diprediksi sudah melampaui berat normal diusianya.
Sepulang dari ke Rumah Sakit, Dafi mengajak Qeena melihat perlengkapan bayi yang belum mereka persiapkan. Memang trio Emak udah mulai beli sesuatu yang lucu kalo pas lagi jalan liat keperluan bayi. Kamar yang biasanya jadi kamarnya Mak Nuha sudah direnovasi dan diperbesar karena dibuatkan kamar mandi dalam. Mak Imah sekarang menempati kamarnya Rian.
Mak Imah ikut sama pasangan ini mencari perlengkapan bayi. Tadi setelah kontrol dari Rumah Sakit memang Qeena lagi ngambek aja sama Dafi karena sebulan terakhir ini banyak keluar kota, jadi jarang ketemu. Ini aja Dafi baru pulang subuh langsung ke Rumah Sakit buat anter kontrol.
Mereka mampir ke sebuah restoran yang ada disebuah Mall. Setelah memesan makanan, Dafi pamit ke kamar kecil dulu.
__ADS_1
"Qeena... mulailah menjadi dewasa. Jangan semua keinginan harus dipenuhi sama Mas Dafi. Dia kan juga punya pekerjaan yang ga bisa ditinggal. Namanya karyawan ya ikut aja aturan kantor. Kalo dia Boss tuh baru bisa atur sendiri kapan kerjanya" nasehat Mak Imah.
"Masa Qeena ngelewatin masa kehamilan sendiri sih Mak, ini kan anaknya juga. Orang lain juga kerja, tapi masih punya waktu buat keluarga" protes Qeena.
"Mak ga sengaja mendengar pembicaraan kalian tadi subuh. Kamu harusnya ga begitu Qeena. Coba pikir, Mas Dafi udah banyak memberikan semua buat keluarga kita semua? Berapa banyak asetnya yang dijual buat bantu keluarga Mba Nuha di Wonogiri, belum keluarga Bapakmu, bahkan Emak juga masih dia urus. Dia kan cari uang juga bukan buat sendiri. Tapi buat kamu, calon anaknya bahkan kami semua. Dia juga capek Qeena. Tiap pulang kerja juga langsung manjain kamu, apa sih yang ga diperhatiin sama dia" ujar Mak Imah mengajak Qeena berpikir lebih rasional.
"Bukan masalah uang Mak, tapi waktu dan perhatiannya itu loh" bela Qeena.
"Kurang waktu dan perhatian kaya gimana lagi coba? Tiap pulang kerja Mas Dafi benar-benar selalu berada disisi kamu. Kamu diperlakukan seperti seorang ratu, disuapin, dibikinin minuman, dipijitin bahkan segala yang kamu mau langsung dia cariin. Kamu harus ingat Qeena, anak laki-laki walau sudah menikah itu masih hak keluarganya, bahkan pernah Emak dengar dia diprotes sama Bundanya karena jarang ngobrol kalo lagi di rumah" nasehat Mak Imah yang membuat Qeena makin diam.
Terkadang Qeena juga merasa aneh sama dirinya yang gampang ngambek kalo sesuatu berjalan ga sesuai kehendaknya. Memang pada dasarnya Qeena juga keras kepala, ditambah dalam kondisi hamil, kondisi hormonalnya kadang membuat dia ga stabil secara emosi. Untunglah orang sekitar memaklumi kondisinya.
"Surgamu berada ditangannya Qeena, kamu hidup penuh cinta dan kasih sayang serta kondisi kehamilan yang ga bermasalah. Buang rasa egois kamu Qeena. Selama suami kamu ga macam-macam dan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami, kamu ga perlu membebani dia lagi. Pernah kamu tanya bagaimana harinya? Pernah kamu tanya dia cape atau ga? Pernah kamu tau bagaimana perasaannya ditengah posisi antara kamu dan pekerjaannya? Mas Dafi hanya manusia biasa Qeena, sebaik-baiknya dia menempatkan posisinya, pasti akan ada pihak yang kurang puas. Keluarga Mas Dzul sudah sangat baik sama kita semua hingga detik ini, apa begini cara kamu membalas kebaikan mereka. Kamu mau menunggu semua meledak seperti bom waktu, kita ga tau kan kalo orang diam itu nantinya justru menjadi pihak yang paling terluka?" beber Mak Imah.
Dafi sudah kembali duduk disamping Qeena melanjutkan makannya. Qeena dan Mak Imah langsung menghentikan pembicaraan.
Sambil makan, terbayang sejak dia hamil, Qeena memang manja dan kurang memperhatikan Dafi, justru Dafi yang makin memperhatikan dia. Qeena udah ga tanya gimana suasana hati Dafi tiap harinya, apakah dia ada masalah? apakah ada yang perlu didiskusikan? Semua hanya tertuju pada kehamilannya Qeena.
Beberapa kali Qeena mendapati Dafi meneteskan air matanya saat membaca Al Qur'an selepas tahajud. Qeena emang seringnya balik tidur selepas sholat.
Dafi ga pernah mengeluh sama siapapun, tapi dia menumpahkan semuanya diatas Sajadahnya, Sajadah pemberian seseorang yang ga dikenalnya saat dia Umroh bersama keluarga Pak Dzul saat Qeena masih SMP dulu.
Qeena memperhatikan Dafi yang sedang makan dengan tenang. Tampak dia bahagia walau wajahnya letih. Ga banyak yang dia bicarakan, tapi dia banyak mendengarkan cerita Mak Imah tentang banyak hal. Terselip juga nasehat menjadi orang tua yang baik dan tidak seperti Mak Imah dulu.
Terlihat jelas ada sebuah pengharapan besar diwajah Mak Imah saat memberikan nasehat. Betapa semua yang dinasehati Mak Imah, ga pernah didapatkan bahkan dilakukan saat berumah tangga.
Dafi sudah melampaui ekspektasi gambaran Mak Imah tentang sosok seorang suami dan Ayah yang baik, Dafi dengan serius mendengarkan semua sebagai rasa hormatnya sama Mak Imah.
Rasa malu pun muncul dibenak Qeena seketika. Setelah makan, mereka jalan masuk ke toko perlengkapan bayi. Banyak yang mereka beli termasuk tempat tidur. Toko ini menyediakan layanan antar, jadi Dafi meminta besok diantar aja ke rumah.
Tanpa tau sebelumnya, pemilik toko perlengkapan bayi adalah pelanggan selai dan roti produksi Qeena. Sebagai My Qeena tentunya dia mengenali wajah dan suara Qeena yang pernah beberapa kali live di medsos saat produksi agar meyakinkan bahwa produksinya bersih.
"Mba Qeena kan ya? pemilik Qukis by Qeena" tanya pemilik toko.
"Iya" jawab Qeena ramah.
"Ya Allah lebih cantik aslinya ternyata" puji pemilik toko yang berjenis kelamin laki-laki.
Dafi mulai protektif dengan mendekat ke Qeena dan memeluk bahu Qeena.
"Perkenalkan ini suami saya" kata Qeena, kemudian keduanya berjabat tangan.
"Pokoknya Mba Qeena pilih aja, saya kasih harga khusus. Terimakasih waktu itu pernah bikinin kue buat istri saya yang lagi ngidam, mana dadakan lagi ya" lanjut pemilik toko.
"Sama-sama Pak, sepertinya saya mau borong, karena saya belum sempat beli keperluan bayi" ucap Qeena.
"Monggo Mba" jawab pemilik toko.
πππππππππππππππ
__ADS_1
Dafi meminta keatasannya buat tidak dapat dinas keluar kota dulu sampe Qeena melahirkan, karena dia harus berada disisi Qeena jika waktunya tiba untuk melahirkan. Kenapa Dafi sampe sengotot ini harus ada karena Qeena ga punya sosok Ayah yang bisa mewakilkan Dafi untuk mengadzani anaknya kelak. Lagipula ini adalah momen penting dalam hidupnya, dimana dia akan menambah gelarnya sebagai seorang Ayah.