
"Kelemahannya lelaki itu biasanya ada ditangan wanita. Kalo ga Ibunya ya istrinya, karena Pak Dafi kan sekarang udah punya istri, jadi kayanya kita bisa minta bantuan aja sama istrinya buat membujuk agar membatalkan rencana hukum yang akan ditempuh" usul Pak Pramudya.
"Ide bagus, saya pernah ketemu istrinya, mungkin sih istrinya lupa-lupa ingat sama saya, soalnya baru ketemu sekali, itu juga ketemunya cuma di mall. Kata Mas Dafi, sekarang istrinya buka toko kue, apa kita temuin disana aja ya?" tanya Dion.
"Tau tokonya dimana?" tanya Pak Pramudya balik.
"Kita liat aja di medsosnya, saya ngikutin kok, waktu itu Mas Dafi minta kita semua buat ngikutin medsosnya toko kue biar banyak yang liat" jawab Dion sambil mencari nama tokonya Qeena di medsos.
Setelah mendapatkan alamat toko kue, Dion dan Pak Pramudya langsung meluncur ke toko kue. Qeena juga lagi ada disana, lagi hitung-hitungan orderan pekan kemarin dan memesan untuk pengiriman pekan ini sama Pak Shaka.
Begitu sampai di toko kue, Dion memperkenalkan diri, Qeena masih ingat dikit-dikit sama Dion. Sekilas Dion bicara tentang keperluannya bertemu Qeena sekarang ini.
"Ngobrolnya diatas aja Qeena, Bapak temenin, disini kan toko ya, ga enak kalo ada yang dengar urusan pribadi. Jadi kamu ga perlu khawatir timbul fitnah" saran Pak Shaka.
"Saran yang baik Pak, soalnya ini pembicaraan pribadi sifatnya" jawab Pak Pramudya.
Qeena mempersilahkan tamunya naik ke lantai atas. Mereka duduk bareng, kemudian Qeena menyusul membawakan air mineral botol kecil buat tamunya.
"Ada apa ya mau ketemu sama saya?" tanya Qeena basa basi.
"Begini Mba Qeena, pasti tau apa yang sedang terjadi, saya datang mau nawarin jalan damai" jawab Dion.
"Maaf ya Mas, mungkin kalo mau jalan damai, bisa dibicarakan ke Pak Pramudya sebagai kuasa hukum Mas Dafi atau ke Mas Dafinya langsung. Saya hanya sekedar tau aja, Mas Dafi meminta saya untuk ga ikut memikirkan kasus ini demi kesehatan saya" kata Qeena.
"Ini atas saran saya Bu Qeena. Pak Dafi juga sudah saya kasih masukan, tapi rupanya masih ingin melanjutkan, jadi mungkin kalo Bu Qeena yang bantu bicara bisa berubah pikirannya" ucap Pak Pramudya.
"Saya pernah mengemukakan pendapat saya tentang hal ini, ya udah rahasia umum kan kalo menempuh jalur hukum malah bisa keluar uang yang lebih besar dari yang akan didapatkan, tapi Mas Dafi tetap pada pendiriannya. Jadi maaf ya saya ga bisa bantu" potong Qeena.
"Tapi ... kasian orang tua saya Mba, saya kan tulang punggung keluarga. Sebulan lagi juga akan menikah. Bagaimana nasib saya Mba kalo harus berurusan sama hukum?" ucap Dion.
"Ya Bu Qeena .. ini kan permasalahan yang bisa dibicarakan dengan duduk bersama, toh nilainya juga ga banyak" lanjut Pak Pramudya.
"Maaf ya Pak .. Mas .. saya terpaksa angkat bicara. Saya memang ga paham tentang hukum, tapi saya ga buta-buta banget tentang hukum. Kita sama-sama kenal bagaimana karakter Dafi kan? dia ga akan mengambil langkah sejauh ini kalo kalian semua bisa diajak damai sebelumnya" kata Pak Shaka.
"Ini kesalahan pahaman aja Pak .. saya sedang sibuk mengurus pernikahan dan segala macamnya, jadi ga bisa ketemu sama Mas Dafi. Toh semua laporan sudah diurus sama bagian administrasi, Mas Dafi bisa minta kesana laporannya. Ya kan usaha tempat les juga tipis marginnya" ucap Dion.
"Hei boy .. siapa nama kamu tadi deh?" tanya Pak Shaka sambil mikir.
"Dion Pak" jawab Dion.
"Mas Dion .. inilah bisnis, siapa yang curang pasti akan menanggung akibatnya. Kenapa ga mikir sebelum berbuat curang? saat itu mikir ga kalo sebagai tulang punggung keluarga, harus memberikan nafkah yang halal agar selamat dunia akhirat? mikir ga kalo mau nikah dan pasti resikonya akan terjadi pembatalan pernikahan kalo kamu berurusan sama hukum? mikir ga siapa orang yang kamu curangi?" tanya Pak Shaka dengan tegas.
"Saya khilaf Pak" jawab Dion mengakui perbuatannya.
"Mas Dion pernah bilang khilaf ga ke Mas Dafi?" ujar Qeena ikutan.
"Mas Dafi udah ga mau dengar penjelasan saya Mba, katanya dijelaskan aja ke pihak berwajib" ucap Dion.
"Berapa lama Mas Dafi meminta hak mendapatkan jawaban yang jelas dari Mas Dion? Mas Dafi tuh orang yang bijak, ga akan dia membuat orang jadi susah kalo ga kebangetan" kata Qeena mulai kepancing emosi.
"Ya kan saya cape Mba, Mas Dafi kan hanya terima uang aja tanpa ada sumbangsihnya terhadap tempat les" jawab Dion.
"Inilah sifat tamak manusia, ketika masih ga punya apa-apa dan berjuang dari bawah, semua punya visi dan misi yang sama saling bergandengan tangan. Tapi kalo udah mulai terlihat ada peluang untung, maka akan saling sikut menyikut. Saya ga bilang kalo Mas Dion ini serakah atau gimana ya, tapi menurut cerita suami saya ya Mas Dion ini menyalahgunakan wewenang yang Mas Dafi berikan. Kalo menurut Mas Dion, terasa kerja sendiri karena Mas Dafinya sibuk kerja, kenapa ga duduk bareng membahas ulang kesepakatan awal yang kalian buat. Sekarang Mas Dion coba ingat-ingat, apa bisa seperti sekarang tanpa campur tangan Mas Dafi? apa bisa seperti sekarang kalo ga ada kerja keras Mas Dion juga? Kembali ke niat awal, apa keinginan kalian dulu .. mencerdaskan anak bangsa atau mengkayakan diri dalam usaha ini?" tutur Qeena yang membuat semua mikir.
Semua diam. Pak Shaka bersiap buat menyelesaikan.
"Maaf Pak Pramudya .. Mas Dion .. sebaiknya kalian menemui Dafi langsung aja. Terserah bagaimana caranya. Istrinya tidak diperbolehkan untuk terlibat dalam masalah ini. Saran saya buat kalian, jangan gunakan kelemahan buat menaklukkan seseorang. Jangan kalian pikir, kelemahan Dafi ada di istrinya, kalian salah besar. Justru istrinya ini adalah sumber kekuatan terbesar dia, dengan permasalahan yang saya belum tau duduk persoalannya karena tadi hanya dapat cerita sekilas, saya bisa ambil kesimpulan kalo Dafi hanya mau mengurus hal ini tanpa campur tangan keluarga, apalagi kalo istrinya dilibatkan, siap-siap aja dia akan lebih marah dari sekarang. Dan buat Pak Pram .. Anda kan kuasa hukumnya Dafi ya, kenapa harus susah payah membela lawan klien Anda sendiri, kok kaya ada sesuatu yang saya tangkap. Apa kalian berdua bersekongkol?" kata Pak Shaka dengan gaya santai tapi mematikan.
"Sepertinya kami harus pamit dulu, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan" pamit Pak Pramudya.
"Makasih ya Mba Qeena atas waktunya, semoga pembicaraan kita ini bisa dilanjutkan ke Mas Dafi" harap Dion.
"Insyaa Allah akan sampai Mas, tapi saya ga bisa menjanjikan apa-apa ke Mas Dion. Apapun keputusan Mas Dafi ya saya dukung" jawab Qeena.
Pak Pramudya dan Dion pamit dari toko kue, Qeena dan Pak Shaka mengantarkan hingga parkiran.
"Ada yang aneh kayanya" ucap Pak Shaka.
"Ya Pak .. saya juga merasa ada yang ganjil" jawab Qeena.
__ADS_1
"Nanti laporkan aja ke Dafi semua obrolan siang ini, mungkin Dafi punya pandangan yang berbeda" kata Pak Shaka.
"Ya .. nanti saya bicarakan langsung aja ke Mas Dafi, ga enak kalo lewat telepon, lagipula sekarang masih jam kerja, biar fokus nyari cuan dulu Pak .. hehehe" canda Qeena.
"Enak ya jadi istri, suami banting tulang, istri tinggal tunggu transferan" ledek Pak Shaka.
"Tapi kan kita ga sekedar kaum rebahan yang nunggu transferan Pak.. harus siap ngelayanin suami dari bangun tidur sampe tidur lagi" bela Qeena.
"Curcol atau suara hati seorang istri nih?" ujar Pak Shaka.
Keduanya pun tertawa kecil sambil kembali masuk kedalam toko kue.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Dafi bisa pulang tenggo hari ini. Begitu jam lima tet, dia langsung naik motor yang dibawa sejak pagi. Membelah kemacetan ibukota dengan motor.
Begitu sampe diujung jalan, motornya sengaja dimatikan. Ada pemandangan aneh didepan matanya. Diletakkan motor di tanah kosong agar ga menghalangi jalan, kemudian menghampiri sebuah mobil yang disamping mobil tersebut ada pasangan sedang berbincang.
"Assalamualaikum ... " sapa Dafi.
"Waalaikumsalam" jawab keduanya.
Izma langsung mencium tangan kakaknya.
"Kok diskusi disini, rumahnya Izma tinggal satu belokan lagi sampe kok" ucap Dafi sambil memandang lelaki disampingnya Izma yang sudah salah tingkah.
"Mas .. kenalin ini temannya Izma, Kak Rully" ujar Izma.
Rully menyodorkan tangannya kearah Dafi.
"Dafi, kakak tertua Izma, walinya yang sah" kata Dafi menohok pasangan ini.
"Maaf Mas .. saya ..." buka suara Rully.
"Ga baik disini, ayo mampir ke rumah aja, ketemu sama keluarganya Izma" ajak Dafi.
"Nanti aja ya Mas .. jangan sekarang" pinta Izma memelas.
"Maaf Mas... saya udah minta berkali-kali buat kenalan, tapi sama Izma ga boleh" adu Rully.
Dafi memandang adiknya.
"Ayo pulang sama Mas, udah mau maghrib. Kamu juga sana pulang" kata Dafi tegas.
Izma mengikuti langkah Dafi menuju motor.
🌺
Selepas sholat Maghrib berjama'ah, mereka tadarus bersama semua orang yang ada di rumah, setelah itu makan malam.
Setelah makan malam, lanjut duduk bareng di ruang tengah. Dafi duduk disebelah Bundanya, merebahkan kepalanya kepangkuan Bu Fia.
"Bun.. tolong pijitin kepala Mas .. pusing banget nih" kata Dafi bermanja.
"Udah punya istri masih kolokan sama Bunda. Enakan juga pijitan istri" jawab Bu Fia sambil memijit kepala anak sulungnya.
"Wah jangan Mas Dafi aja Bun .. Fajar ya abis ini" pinta Fajar.
"Udah gede pada manja, kenapa sih ini anak lelaki Bunda kok tiba-tiba jadi pada lemah gini?" tanya Bu Fia heran.
"Ya pengen manja aja sama Bunda, emang ga boleh?" ucap Dafi.
"Boleh sih.. tapi kalo udah manja kaya gini pasti ada sesuatu" terka Bu Fia.
"Mas pusing gegara sore tadi liat ada cewe diturunin ditengah jalan sama teman dekatnya" celoteh Dafi.
"Terus apa urusannya sama kamu Mas?" ujar Bu Fia.
"Ya ada Bun .. kan cewe itu Izma" jawab Dafi.
__ADS_1
Semua mata tertuju ke Izma.
"Hayooo .. ada apa denganmu kawan? kenapa kamu backstreet sih kawan? apa cowo itu ga seganteng Mas" canda Fajar sambil menyenggol lengan Izma yang duduk disebelahnya.
"Mas Fajar ihhhh" ucap Qeena yang pindah duduk disebelahnya Dafi.
"Mau bikin pengakuan ga kawan? atau mau Mas yang kasih tau ke Bunda?" gumam Dafi sambil merem.
"Ada apa sih?" tanya Bu Fia belum paham.
"Jadi kan Izma lagi deket sama kakak tingkat, dia juga asisten dosen. Kami kenal karena dia ngajar dikelas Izma. Udah dua minggu ini antar jemput Izma kalo ke kampus. Tapi emang belum Izma ajak ke rumah dulu" cerita Izma.
"Kenapa ga dikenalin?" tanya Bu Fia.
"Jadi Bun .. Kak Rully ini..." baru aja Izma mau cerita.
"Oh namanya Rullyyyyy" potong Fajar.
"Fajar ... dengerin dulu kalo adiknya mau cerita" saran Bu Fia.
"Kak Rully ini salah satu pelanggan kuenya Qukis by Qeena, dia pernah cerita kalo kuenya enak dan yang punya cantik banget. Keluarganya pelanggan tetap Qukis by Qeena, pasti seminggu sekali order. Kan pernah Izma ngalamin didekati sama cowo karena sekedar mau dekat sama Qeena, jangan sampe dong kejadian dua kali. Jadi mau meyakinkan dulu, kalo Kak Rully emang niat kenal sama Izma, bukan karena ada embel-embel mau dekat sama Qeena" lanjut Izma.
"Ini maksudnya gimana kawan?" tanya Dafi yang langsung duduk.
"Ya begitu Mas .. Izmaa ga mau dong jadi batu loncatan buat kaum lelaki mendekati Qeena" sahut Izma.
"Kamu ga bilang kalo yang punya Qukis by Qeena itu udah nikah?" tanya Dafi.
"Ya ga lah Mas .. kan belum buka rahasia kalo Qeena itu kakak iparnya Izma" jawab Izma.
Dafi mengarahkan pandangannya ke Qeena.
"Qeena ga tau apa-apa loh Mas, selama ini kalo jawab chat ya berhubungan sama orderan aja, ga lebih dari itu" jawab Qeena buru-buru.
"Ga usah cemburu lah bro .. mana ada medsos toko kue yang mencantumkan bio kalo yang punya ini statusnya menikah. Ga ada hubungannya kan?" ledek Fajar sambil nyengir.
"Iya nih Mas .. santai aja dong, boleh Qukis by Qeena dinikmati oleh semua orang, tapi yang penting kan diriku milikmu seorang" jawab Qeena sambil tersenyum.
Rame semua bersorak ea ea. Hanya Dafi yang diam.
"Mas .. ya ampun .. kaku amat kaya tiang listrik, kalo Fajar digituin mah udah pingsan kesenangan" colek Fajar.
"Tau nih Mas .. ga ada peka-pekanya jadi orang. Biasanya juga mesra-mesraan aja didepan orang tanpa prikejombloan" sahut Bu Fia.
"Kaget aja .. pada pernah denger ga sih seorang Qeena ngegombal?" tanya Dafi bingung.
"Kamu tuh Mas .. istri ngegombal juga buat nyenengin suami.. berpahala" lanjut Bu Fia.
"Dia mah gitu Bun .. gengsinya ketinggian, ga mau mengakui kalo Qeena bisa juga ngalahin gombalan dia" sambut Qeena penuh kemenangan.
"Yakin bisa menang Neng? coba tebak .. Tarzan apa yang sukanya bikin baper?" ucap Dafi yang pindah duduk disampingnya Qeena.
"Tarzan apa ya? nyerah deh" ujar Qeena menyerah.
"Lemah kali kau Neng ... Tarzan yang bikin baper itu tarzandung cintamu sampai jatuh hati berkali-kali pada orang yang sama" kata Dafi penuh kemenangan.
"Boleh juga .. sekarang gantian ya Mas ... dari semua menu yang ada di katalog Qukis by Qeena .. hanya ada satu menu yang Qeena suka.. ayo tebak menunya apa?" ucap Qeena sambil menatap Dafi.
"Terus hubungannya apa menu yang kamu suka sama Mas?" tanya Dafi.
"Karena menu itu adalah menua bersamamu" jawab Qeena.
"Bubar yuk bubar ... ga seru banget nih adegan, bikin merinding kaum jomblo" usul Izma yang ngeloyor masuk bersama Bundanya ke kamar Bu Fia.
Mak Nuha dan semuanya juga ikut bubar. Mereka senyum-senyum mendengar pasangan yang saling ngegombal tanpa malu-malu.
"Yang... ga nitipin Kalila ke Bunda aja?" iseng Fajar menggoda.
"Mau ngapain emangnya Mas?" tanya Alifa polos.
__ADS_1
"Mau bikin menu baru buat ngalahin menunya Qeena .. hahahha" canda Fajar.